
Kartika hanya diam berdiri mematung menatap laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya sehingga dia harus memiliki Bagus. Laki-laki itu Dewa yang tampak diam menatap lama wanita yang dulu menjadi kekasihnya.
"Kartika. " Panggil Bagas yang langsung menhampiri Kartika dan melingkarkan tangannya ke pinggang Kartika.
Dewa yang melihat Bagas melingkarkan tangannya ke pinggang Kartika tampak kesal, dia hanya tersenyum kecut. Selang berapa lama Bagus pun berlari dari jauh langsung menubruk tubuh Kartika.
"Bunda, tadi Bagus main ayunan tinggi itu. " Kata Bagus yang menghampiri Kartika. Dewa yang melihat sepertinya beranggapan bhwa Kartika menikah dengan Bagas.
"Pak Bagas anda...? " Tanya Dewa yang tak melanjutkan perkataannya.
"Yah, seperti yang kau lihat. Aku dan Kartika.. " Kata Bagas yang Dewa sendiri paham.
"Baiklah, kalo begitu saya permisi. Selamat pak.. " Kata Dewa yang pergi meninggalkan.
Kartika menatap punggung Dewa yang sudah tak jauh. Bagas yang mengikuti arah mata Kartika, merasa cemburu dan di langsung menarik pinggang Kartika.
"Apa yang tadi di mobil belum cukup? Hah.. " Kata Bagas yang berbisik di telinga Kartika membuat Kartika menutup mulutnya.
"Hahahahh... " Bagas malah tertawa.
"Om, kenapa ketawa? " Tanya Bagus yang melihat Bagas tertawa.
"Ini bunda kamu lucu banget. " Kata Bagas yang masih tertawa.
Kemudian mereka pulang dan Bagus tertidur karena lelah bermain seharian. Bagas melirik melihat Kartika yang pandangannya datar dan hanya diam saja.
"Kamu, kenapa? Masih memikirkan Dewa? " Tanya Bagas mengusap rambut Kartika dengan tangan kirinya.
"Tidak, aku tidak memikirkan Dewa. Aku hanya merasa sakit jika bertemu dengannya, jika bukan karena dia Bagus tidak akan terlahir. " Kata Kartika.
"Maaf jika aku bertanya hal pribadi kepadamu, siapa ayah Bagus? Dan dimana dia? " Tanya Bagas.
"Aku tidak tau dimana ayahnya, dia meninggalkan aku saat aku hamil. " Jawab Kartika yang tidak ingin mengatakan kejadian sebenarnya pada Bagas.
"Apakah Dewa, ayah dari Bagus? " Tanya Bagas lagi. Kartika hanya menggelengkan kepalanya.
Bagas merasa tenang karena bukan Dewa ayah dari Bagus. Sebenarnya Bagas ingin sekali mengajak Kartika ke hubungan yang lebih serius, Bagas ingin memiliki Kartika seutuhnya dan ingin membahagiakan Kartika juga Bagus.
"Kartika.. " Panggil Bagas.
"Hmmm.. Ada apa? " Tanya Kartika yang menoleh ke arah Bagas.
"Maukah kamu menjadi ibu dari anakku? Menemani aku hingga tua dan dalam keadaan sakit, susah senang bersama? " Tanya Bagas yang memberhentikan mobilnya dan menggeser duduknya menghadap Kartika.
"A-Aku... " Kartika tak tau harus berbicara apa, sungguh Kartika masih takut untuk berhubungan dengan laki-laki.
"Aku akan membahagiakanmu dan juga Bagus, aku sangat mencintai sejak pertama kali aku melihatmu 8 tahun yang lalu. Saat kamu bekerja di kantorku, namun sayangnya kau sudah berpacaran dengan Dewa. " Kata Bagas dan membuat Kartika kaget.
"Anda, mencintaiku sejak aku pertama kali masuk kerja? " Tanya Kartika yang kini wajahnya berhadapan dengan wajah Bagas.
"Iya, dan apakah kamu merasakan hal yang sama denganku saat ini? " Bagas menggenggam tangan Kartika lalu meletakkannya di dadanya.
"Dengarkan detak jantungku, dan hembusan nafasku, aku mencintaimu. Apakah kamu juga mencintaiku? " Tanya Bagas yang mengusap wajah Kartika.
"Sejujurnya, aku pun sudah jatuh cinta padamu. Namun rasa takut ku untuk berhubungan dengan laki-laki mengingatkan ku dengan rasa sakit ku dulu. " Kata Kartika.
"Percayalah aku akan membahagiakanmu dan Bagus, walaupun dia hanya anak sambungku. Aku akan menyayangi nya seperti anakku sendiri. " Kata Bagas yang menatap intens Kartika.
"Aku mau menjadi istrimu, dan ibu dari anakmu dan menghabiskan sisa hidupku denganmu. " Kata Kartika yang tersenyum.
Bagas pun tersenyum bahagia mendengar pernyataan Kartika. Wanita yang dulu dia gilai dan wanita yang mampu membuatnya berubah dalam sekejap, kini sebentar lagi akan menjadi pendamping hidup yang selamanya akan menemaninya.
Bagas melepaskan Pagutan itu lalu mencium keningnya dan dengan tersenyum Bagas membersihkan bekas saliva di bibir Kartika. Kartika tersenyum menatap Bagas dan mengusap wajah Bagas yang terlihat tampan. Dan seketika Kartika merasa wajah Bagas mirip dengan Bagus.
"Aku sangat mencintaimu, sayang. " Kata Bagas yang mencium tangan Kartika.
"Aku juga. " Jawab Kartika.
"Ayo kita pulang, kasihan Bagus sepertinya dia sangat kelelahan. " Ujar Bagas yang melihat ke jok belakang melihat Bagus tertidur.
"Iya, dia sangat senang sekali. Sulit baginya untuk dekat dengan orang lain, jangankan mengajaknya bermain, berbicara pun jika dia tidak mengenal orang tersebut dia enggan. Dia hanya akan bicara padaku dan Gayatri. " Kata Kartika.
Kemudian Bagas menyalakan mesin mobilnya kembali dan beberapa menit kemudian mobil Bagas sudah sampai di depan rumah Kartika. Lalu Bagas menggendong Bagus dan diletakkan di ranjangnya.
Setelah selesai meletakkan Bagus, Bagas keluar kamar dan menghampiri Kartika yang ada di dapur. Kemudian Bagas memeluk Kartika dari belakang mencium aroma wangi tubuh Kartika yang membuat Bagas ingin segera memiliki Kartika. Bibir Bagas menciumi leher Kartika, dan Kartika hanya pasrah menerima perlakuan Bagas.
Kemudian Bagas membalikkan tubuh Kartika dan Bagas mencium kembali bibir Kartika dengan sangat lembut membuat Kartika tak bisa menahan hasrat. Bagas mulai tak kuasa menahan gairahnya, dan hampir saja dia terlena dengan suasana yang membuatnya khilaf. Kemudian Bagas melepaskan bibir dan dia tersenyum lalu mencium kening Kartika.
"Aku ingin segera menikahimu, agar aku bisa bebas mencumbuimu, dan memakanmu. " Kata Bagas yang melepaskan pelukannya. Kartika hanya tersenyum mendengar Bagas seperti itu.
"Kalau tidak kuat, aku akan melayanimu. Kebetulan Gayatri sedang pulang ke Bandung. Jadi kamu bebas melakukan sesuka hatimu. " Kata Kartika yang memang ingin menyerahkan dirinya pada Bagas.
"Tidak, sayang. Kamu bukan seperti perempuan lain yang ku kenal, kamu adalah wanita yang aku cintai. Dan aku ingin melakukannya setelah kita sah sebagai suami istri. " Kata Bagas.
"Baiklah, aku percaya kamu laki-laki yang mampu menahan hasratmu demi sebuah kehormatan seorang perempuan. " Kata Kartika.
"Sayang, aku pulang dulu. Ah... Sebenarnya aku tidak ingin pulang aku masih ingin bersamamu setiap menit, detik dan setiap waktu. Tapi aku harus pulang. " Kata Bagas yang melihat ponselnya yang begitu banyak panggilan dari Hary.
"Pulanglah, kamu seharian tidak ke kantor dan hanya menemani aku dan Bagus. " Kata Kartika.
"Baiklah, sayang aku pulang dulu. Besok aku akan kesini lagi, dan aku ingin mengenalkanmu pada mami juga aku ingin kamu kenalkan aku dengan orang tuamu. " Kata Bagas. Kartika terdiam saat Bagas ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
Apa kabar mereka? Sudah lama Kartika tak mengunjungi rumah kedua orang tuanya semenjak Kartika hamil di luar nikah.
"Sayang, ada apa? " Tanya Bagas.
"Tidak ada apa-apa, sudah sana pulang. Nanti kamu kena omel sama asistenmu. " Ujar Kartika.
Bagas berjalan sambil menggandeng tangan Kartika, lalu di depan pintu Bagas kembali mencium bibir Kartika sekilas lalu dia melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobilnya.
Dalam perjalanan Bagas terus tersenyum, cintanya kini tersambut dan dia akan ingin secepatnya menikah dengan Kartika. Senyumnya terus mengembang hingga sampai dirumah.
"Ingat pulang, lo? " Tanya Hary yang berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
"Ada apa lo telepon gue terus? Gak tau orang sedang pacaran. " Kata Bagas.
"Enak lo ya pacaran, lah gue kelimpungan kerjaan di kantor. " Kata Hary yang mengekori Bagas yang masuk ke dalam rumah. "
"Alah.. Lebay lo, baru juga sehari lo gantiin gue udah berisik aja tuh mulut. " Kata Bagas yang duduk disofa.
"Gas, lo boleh pacaran. Tapi ingat kerjaan. " Kata Hary yang duduk di depan Bagas.
"Gue ingat makanya gue balik, kalo lo gak nelepon gue terus mungkin gue sama Kartika sudah khilaf. " Kata Bagas yang hampir saja melakukan hubungan yang belum sah.
"Lo jangan macam-macam, Gas. Ingat cukup sekali lo melakukan hal gila saat Kartika kamu tidurin. " Kata Hary.
"Ya makanya gue pengen cepat nikahin dia. " Kata Bagas dengan santai.
"Apa? Secepat itu lo. " Kata Hary yang kaget.