
Pagi telah merambah dengan cahaya sinar matahari yang mulai memasuki di celah-celah jendela kamar Kartika. Bagas dan Kartika yang semalam telah menunaikan kewajiban mereka sebagai suami istri sungguh nikmat yang tiada tara. Bagas mengerjapkan kedua matanya, dia menatap wajah Kartika yang sangat cantik dan dia terus mengecup wajah Kartika.
Kartika pun bangun dan melihat Bagas sedang tersenyum sambil memandangi wajahnya yang yang tak pernah Bagas bayangkan sudah menjadi istrinya.
"Hai, selamat pagi sayang. " Kata Bagas yang memeluk Kartika.
"Hai, sayang. Jam berapa sekarang, aku harus ke restoran Diena. " Kata Kartika.
"Masih pagi jam 7,sayang. " Kata Bagas.
"Ah... Apa? Jam 7, aduh sayang kenapa kamu tidak bangunkan aku, sih? " Kata Kartika yang bangun dan turun dari ranjang dengan berbalut selimut di tubuhnya. Dan langsung menuju kamar.
"Ada apa, sayang. Kenapa kamu buru-buru? " Tanya Bagas yang duduk menyandarkan dirinya di tembok ranjang.
Tak lama kemudian Kartika keluar dan duduk di meja riasnya, merias wajahnya dengan make up natural dan mengeringkan rambutnya. Kemudian dia melihat Bagas yang sedang menatap dirinya dengan senyuman. Lalu Bagas mendekati Kartika dan mencium pucuk kepalanya.
"Kamu wangi sekali, emangnya mau kemana? " Tanya Bagas yang memeluk Kartika dari belakang.
"Hari ini aku mau ke restoran Diena, untuk kasih resep dessert baru yang aku buat, Mas. " Kata Kartika yang sudah siap berangkat.
"Aku antar ya, sekalian aku ke kantor. " Kata Bagas.
"Kalau begitu aku keluar ke kamar Bagus dulu ya. " Kata Kartika yang di angguki Bagas yang masuk ke kamar mandi.
Kartika keluar kamar dan dia masuk ke kamar Bagus, Kartika melihat Bagus sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Kartika tersenyum melihat putranya semakin mandiri dan dewasa.
"Anak bunda sudah rapi. " Kata Kartika yang merapikan rambut Bagus.
"Ya, bun. Kan hari ini kak Gayatri tidak ada jadi Bagus gak boleh manja. " Kata Bagus dan Kartika tersenyum mendengar ocehan anaknya.
"Ya sudah, bunda siapin sarapan ya. " Kata Kartika. Lalu keluar dari kamar Bagus untuk menyediakan sarapan.
Tak lama kemudian Bagus dan Bagas keluar dari kamar mereka. Kartika tampak bahagia melihat Bagus yang berjalan beriringan dengan Bagas. Mereka seperti anak kembar yang berwajah sama. Lalu keduanya duduk di meja makan dan sarapan bersama
Bagas tampak bahagia melihat pagi ini berkumpul dengan keluarga kecilnya. Rasa bahagia ini tak bisa di ukur dengan apapun. Bibirnya terus mengulas senyum yang menatap Bagus dan Kartika bergantian.
"Ayah, kenapa tidak di makan? " Tanya Kartika yang melihat Bagas tak menyentuh sarapannya.
"Ayah, bahagia sekali. Pagi ini terasa sangat hangat, melihat kalian berdua. Bagus dan bunda membuat ayah merasa bahagia menjadi seorang pria di dunia ini. Mempunyai anak laki-laki tampan dan pintar, istri yang cantik juga pintar. Sungguh rasa bahagia yang tak bisa di tukar dengan apapun di dunia ini. " Kata Bagas dengan senyuman yang memgembang.
"Ayah, bunda juga bahagia mempunyai suami seperti ayah. Dan anak seperti Bagus. " Kata Kartika juga dengan senyuman di bibirnya.
"Bagus apalagi bahagia banget, mempunyai ayah dan bunda yang hebat. " Kata Bagus yang memberikan dua jempol pada Kartika dan Bagus.
"Sudah sekarang habiskan sarapannya dan bunda sudah terlambat. " Kata Kartika.
Kemudian Hary datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Pagi semuanya. " Sapa Hary yang masuk menuju meja makan.
"Pagi, Har. Apa sudut sarapan? " Tanya Kartika menatap Hary.
"Ah, lo Har. Masuk kerumah orang itu pake ketuk pintu dulu, main nyelonong aja lo kaya kucing. " Kata Bagas yang sudah selesai dengan sarapannya.
"Bagus berangkat sama ayah atau sama bunda? " Tanya Kartika yang sudah siap berangkat.
"Bagus ikut sama ayah aja, bun. Jawab Bagus yang menenteng tasnya lalu berjalan menunggu ayahnya.
" Eits... Bunda berangkat sama siapa? "Tanya Bagas yang mencekal tangan Kartika yang sudah siap menenteng tasnya.
" Bunda mau berangkat naik ojeg online aja, yah. "Jawab Kartika.
"Bunda berangkat bareng kita semua. Ayo kita berangkat, Bagus sudah menunggu di depan. " Kata Bagas.
Hary menyalakan mesin mobil, Bagas duduk di belakang bersama Kartika dan Bagus duduk di depan. Hary yang melihat Bagas yang asik berdua dengan Kartika merasa dirinya di cuekin.
"Ish... Lo tuh ya, ganggu aja orang pacaran. " Kata Bagas.
"Ingat ada anak kecil di depan, gak baik melakukan di depan anak kecil. " Kata Hary.
"Maaf, Hary. Ini mas Bagas masih kurang aja, padahal semalam sudah Kartika kasih tapi masih kurang aja. " Kata Kartika.
"Wah, ternyata istrinya lebih parah daripada suaminya. " Gumam Hary.
"Apa lo bilang? " Tanya Bagas yang sedikit mendengar gumaman Bagas. Dan Hary hanya cengengesan. Kartika yang melihat dia sodara itu hanya menggelenkan kepalanya dan tersenyum.
Mereka sampai di sekolah Bagus, dan Bagus keluar mobil setelah berpamitan dengan orang tuanya. Lalu Hary melanjutkan menjalankan mobilnya ke restoran Diena tempat Kartika bekerja.
"Sayang, nanti kalau sudah selesai telepon aku. Jangan pulang naik ojeg atau taksi online, hmm
" Kata Bagus yang begitu posesif.
"Iya, sayang. Kamu hati-hati ya semangat ya, sayang. " Kata Kartika sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
Dalam perjalanan Bagas terus mengulas senyuman bahagia yang dia rasakan di pagi ini. Hary sangat senang melihat saudaranya itu bahagia.
"Kayaknya ada semalaman lembur, nih. " Ledek Hary sambil melirik Bagas yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.
"Ah.. Lo, Har. Bikin ngerusak mood aja lo, Har. " Kata Bagas yang menatap ke arah jendela.
"Gue, senang lihat lo happy dengan keluarga lo, dengan istri dan anak lo. Apalagi Bagus adalah anak kandung lo sendiri, gue senang lihatnya. Selamat, bro. " Kata Hary yang tersenyum melirik Bagas yang tersenyum padanya.
"Thanks, bro. Lo emang saudara gue terbaik, sahabat gue yang is the best lah. " Kata Bagas memukul lengan Hary sambil tersenyum.
"Semoga lo dan Kartika bisa terus bersama, hingga kakek nenek dan hingga maut memisahkan kalian. " Ucap Hary.
"Aamiin, thanks, Hary. " Kata Bagas.
Bagas tersenyum kala mengingat kejadian dulu yang membuatnya memendam rasa cintanya kepada Kartika. Kini cintanya telah di sambut, dan kebahagiaan datang di hatinya. Rasa bahagia menyelimuti hatinya, dan Bagas berubah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab serta laki-laki yang beruntung memiliki Kartika yang cantik dan pintar.
"Gue gak nyangka aja bisa nikah sama Kartika. " Kata Bagas yang sudah sampai di ruangan kerjanya.
"Kenapa gak dari dulu ya, Har? " Tanya Bagas yang melihat Hary sedang membereskan berkas yang akan buat rapat siang ini.
"Karena dulu Kartika masih milik orang, Gas. Udah ah, kita siap-siap buat rapat siang ini. Jangan mentang-mentang lo lagi happy lo lupa kali siang ini ada rapat. " Kata Hary.
"Ck... Iya gue gak lupa. Lo mah gak bisa liat gue seneng. " Kata Bagas menggerutu.
"Sorry, bro. Bukan gue mau ngerusak kebahagiaan lo, tapi ini sudah masuk jam kerja. " Ucap Hary.
"Iya, gue paham. Nanti gue naik mobil sendiri aja buat jemput anak dan istri gue. " Kata Bagas.
"Lah, gue nanti pulangnya naik apa? " Tanya Hary menatap Bagas.
"Kalo itu mah terserah lo, Har. " Jawab Bagas santai.
"Gila lo, tega bener. Dasar bucin akut lo. Kata Hary.
" Bodo. " Kata Bagas yang pergi meninggalkan Hary sendiri di ruangan kerjanya.
*Hai... Author sudah merevisi bab 1-15..Sabar sedikit ya pasti semua bab author revisi kok..
Tapi jangan lupa komen dan likenya ya reader.
*Tapi mohon maaf ada kesalahan author di bab ke 3 mungkin reader agak bingung ya.. maaf itu adalah kesalahan author. 😁😁
*Semoga bab revisi ini kalian semua suka.
*Selamat ya baca ya reader ku yang cantik dan sholehah... 😘