
"Sherin!" teriak Bagus yang berlari menghampiri Sherin yang menunggu Bagus di dekat taman.
"Hai, Bagus. Kamu hari ini berangkat dengan siapa?" tanya Sherin.
"Aku diantar supir, kenapa?" Bagus balik bertanya.
"Ah, tidak. Aku ingin minta sama om Bagas boneka," kata Sherin.
"Boneka? Kenapa kamu minta boneka sama ayahku?" tanya Bagus yang mengerutkan keningnya.
"Karena om Bagas sudah janji akan mau memberikan boneka buat aku," jawab Sherin.
"Janji? Ayah ku janji mau berikan kamu boneka?" tanya Bagus yang di angguki Sherin.
Bagus kemudian langsung berlari ketempat parkir dan dia langsung masuk ke mobil dan menyuruh supirnya menyuruh jalan. Bagus menyuruh supir pribadinya melajukan mobilnya ke kantor ayahnya, perkataan Sherin yang akan di berikan boneka oleh ayahnya terngiang di telinga Bagus. Bagus cemburu karena wanitanya menyukai laki-laki lain, mobil CR-V hitam milik Bagus berhenti di basemant kantor ayahnya. Bagus pun keluar dan langsung berlari masuk naik lift menuju ruangan ayahnya, semua karyawan membungkuk pada Bagus karena mereka tahu siapa Bagus. Anak pemilik perusahaan itu tak memperdulikan keadaan sekitar hatinya sedang dilanda cemburu yang besar.
Brak
Bagus membuka pintu dengan keras dan melihat ayahnya sedang menelepon seseorang, lalu Bagus duduk di sofa menunggu sang ayah selesai menelepon. Bagas melihat putranya duduk dengan wajah yang emosi persis seperti dirinya jika sedang marah. Bagas menutup teleponnya lalu kemudian mendekati anaknya yang masih dengan wajah yang cemberut.
"Sayang, kamu tidak sekolah?" tanya Bagas.
"Ayah, kenapa ayah mau memberikan boneka pada Sherin? Ayah tahu aku suka sama Sherin, nanti kalau sudah besar aku akan menikah dengan Sherin," kata Bagus yang marah.
"Wait, maksudnya apa? Ayah tidak mengerti?" tanya Bagas.
"Ayah suka kan sama Sherin? Ayah sadar diri dong, ayah itu sudah punya bunda dan punya aku juga adik bayi. Kenapa harus menyukai perempuan yang aku sukai?"
"Bagus, siapa yang menyukai Sherin? Sherin itu juga anak ayah," ujar Bagas dengan lembut.
"Lalu kenapa ayah janji akan memberikan boneka pada Sherin?" tanya Bagus dengan menyilangkan tangannya ke dadanya.
"Dengarkan, waktu itu Sherin sedang menangis di makam ibunya, karena dia ingat dengan ibu kandungnya dan om Randi juga Tante Freya tidak bisa membujuk Sherin untuk pulang. Lalu ayah mengajaknya pulang dan berhenti menangis dengan memberikannya boneka, Bunda juga tahu kok, dan ikut waktu itu," kata Bagas.
"Jadi ayah gak suka sama Sherin," ujar Bagus.
"Tidak, Sayang. Ayah kan sukanya sama bunda terus ayah juga suka sama abang Bagus dan adik bayi. Sudah jangan marah, lalu kenapa gak sekolah?" Bagas berbalik tanya.
"Aku tuh marah karena Sherin suka sama ayah dan ayah mau membelikan boneka buat Sherin," kata Bagus yang mengerucutkan bibirnya. Bagas terkekeh melihat anaknya sedang cemburu.
"Sekarang ayah antar kamu ke sekolah ya," kata
Bagas.
"No, nanti Sherin akan ketemu sama ayah!" seru Bagus dengan ketus.
"Oh...Oh...Sejak kapan anak ayah jadi pencemburu seperti ini?" tanya Bagas tersenyum.
"Ayolah, Ayah. Aku sangat menyukai Sherin dan akan menikah jika aku sudah dewasa nanti," kata Bagus.
"Ayah setuju, nanti ayah akan bicara pada bunda tentang Sherin yang suka sama ayah. Biar bunda yang bicara padanya, hmm," ujar Bagas.
"Ayah janji jangan suka sama Sherin,ya. Sherin itu milik Bagus, gak boleh ada yang miliki Sherin selain Bagus titik!" seru Bagus yang keluar dari kantor ayahnya dan berjalan ke lift untuk kembali ke sekolah.
Dalam perjalanan ke sekolah Bagus membelikan Sherin sebuah boneka yang Bagus tau bahwa boneka itu kesukaan Sherin. Bagus tersenyum melihat boneka itu dan membuatnya malu membayangkan wajah Sherin yang suka mendapatkan boneka. Bagus terus memainkan boneka itu dengan senyuman yang sumringah, Bagus begitu menyukai Sherin sejak pertama dia kenal dengan gadis itu yang sangat cantik pasti kelak ketika dewasa Sherin pasti begitu cantik. Ya, Sherin berambut panjang, kulit putih dan mata yang bulat serta hidung yang mancung. Randi sebagai ayahnya merasa Sherin seperti alm istrinya ibu kandung Sherin yang tiada saat melahirkan Sherin. Bagus sampai di sekolah dia melihat Sherin yang mondar-mandir di depan kelas, melihat Bagus yang datang Sherin langsung berlari menghampiri Bagus.
"Bagus, kamu darimana?" tanya Sherin yang terlihat panik.
"Beli ini buat kamu," jawab Bagus yang memberikan boneka kepada Sherin dan Sherin tersenyum senang.
"Buat Sherin?" tanya Sherin dan Bagus mengangguk juga tersenyum.
"Ini lucu sekali, aku suka sekali. Terimakasih,Gus," jawab Sherin.
"Masuk kelas, yuk," ajak Bagus yang menggandeng tangan Sherin. Sherin pun mengangguk pelan sambil tersenyum dan tangannya memegang boneka dari Bagus.
Bagus berhasil dia sangat bahagia membelikan boneka untuk Sherin, senyum Bagus terus mengembang ketika dia menggandeng tangan Sherin masuk ke kelas. Usia Bagus masih kecil tapi dia sudah menyukai lawan jenis, Sherin yang terlihat menyukai Bagus juga sangat senang diperlakukan Bagus dengan sangat istimewa.
"Nanti kalau kita sudah dewasa aku akan menikah denganmu, kamu tunggu aku ya," kata Bagus membuat pipi Sherin memerah karena malu.
"Bagus," panggil Sherin dengan lirih.
"Nanti pulang aku ikut kamu ya," ujar Sherin.
"Loh, kamu tidak di jemput sama om Randy?" tanya Bagus.
"Hmmm, jemput sih sama supir ayah.Tapi aku mau pulang denganmu," kata Sherin.
"Boleh, kamu mau aku antarin kamu pulang?" tanya Bagus. Sherin mengangguk pelan.
"Yess, Sherin aku mau tanya sesuatu boleh," kata Bagus.
"Kamu mau tanya apa?" tanya Sherin.
"Kamu suka dengan ayahku?" Bagus berbalik bertanya. Sherin hanya tersenyum menatap Bagus.
"Loh kok malah senyum sih. Jawab Sherin, aku gak mau ayahku jadi saingan aku untuk bisa bersama kamu," ujar Bagus.
"Kamu itu lucu, jadi begini kalo lihat laki-laki cemburu," kata Sherin yang terkekeh.
"Ish, kamu itu. Membuat aku penasaran saja, ayo katakan," ujar Bagus.
"Bagus, usia kita masih 10 tahun dan kita masih sekolah dasar mana mungkin aku suka sama ayahmu. Dia itu, ayah yang baik selalu membuat orang menjadi tenang jika di dekat ayahmu, sama seperti ayahku," kata Sherin.
"Jadi kamu gak suka sama ayahku dan juga aku?" tanya Bagus.
"Aku suka sama kamu, tapi nanti ya kalo kita sudah dewasa. Sekarang kita masih sekolah dasar dan aku akan tunggu kamu ko, Gus," kata Sherin dan Bagus tersenyum.
"Sekarang kita teman dulu, ya. Karena kita masih kecil dan masih belum bisa mencari uang sendiri," ujar Sherin yang seperti orang dewasa.
"Ya, aku paham. Aku akan jagain kamu dan aku akan bersama kamu sampai dewasa aku akan terus di sisimu," kata Bagus.
"Ya sudah, sepertinya bu Rahma sudah masuk kelas kita belajar dulu ya," ajak Sherin dan Bagus mengangguk setuju.
Pulang sekolah, Bagus dan Sherin keluar gerbang bersama disana sudah ada dua orang supir yang menunggu anak majikannya yang tampan dan cantik. Bagus menatap Sherin terus memperhatikan wajah cantik Sherin, yang sangat mempesonanya. Sherin yang merasa ada yang memperhatikan lalu dia melirik ke arah Bagus.
"Kenapa?" tanya Sherin.
"Kamu cantik, kamu benar-benar cantik. Pasti jika dewasa kamu akan lebih cantik," ujar Bagus.
"Ah, kamu masih kecil sudah menggombal," kata Sherin tersenyum malu.
"Iya, aku masih kecil. Usiaku masih 10 tahun dan belum boleh pacaran," kata Bagus yang membuang pandangannya. Sherin hanya tersenyum melihat tingkah Bagus yang lucu menurutnya.
"Pak, aku pulangnya ikut mobil Bagus ya," kata Sherin pada supirnya.
"Tapi, nona. Kalau ibu tanya saya jawab apa?" tanya sang supir.
"Bilang saja aku pulang sama Bagus, ibu gak akan marah," jawab Sherin.
"Oke, nona. Kalau begitu saya kembali ke kantor bapak saja," kata supir itu yang langsung masuk kedalam mobil.
"Yuk, kita pulang," ajak Bagus yang membuka pintu mobil untuk Sherin.
"Terimakasih," ucap Sherin.
"Sama-sama," jawab Bagus tersenyum.
Dalam perjalanan Sherin dan Bagus saling bercerita waktu masa kecil mereka. Dan Sherin juga menceritakan ibunya yang sudah tiada, Bagus jadi kasihan dengan Sherin yang kehilangan sosok seorang ibu dari bayi. Sherin tidak tahu wajah ibunya seperti apa, dia hanya melihat dari foto yang selama ini ayahnya simpan. Sosok Freya yang mampu menggantikan ibu kandung Sherin yang sangat menyayangi Sherin. Sherin sangat menyayangi Freya dan calon adiknya yang ada di perut ibu sambungnya itu, Bagus menyimak setiap perkataan Sherin dan Bagus semakin bertekad ketika dewasa dia ingin memiliki Sherin.
"Sherin," panggil Bagus.
*****
Hai...Reader maaf author up sedikit karena author sedang tidak enak badan.
InsyaAlloh jika sudah sehat kembali author akan up lebih banyak lagi.
Silahkan like,komen dan hadiah juga votenya.
Salam ByYou