
Malam hari Kartika mengadakan acara makan malam keluarga, mami Ammar yang masih ada di Jakarta sengaja menunda kepulangannya ke LA untuk merayakan kebahagiaan dari putranya. Kartika juga mengundang Randi juga Freya yang sudah mereka anggap seperti keluarga, Harry dan Wina yang hadir di acara sang kakak sepupu.
"Sherin," panggil Bagus yang menggunakan celana cargo dan kaos berkerah. Bagus terlihat tampan dan wajahnya yang semakin mirip dengan Bagas.
" Bagus, kamu terlihat tampan sekali," puji Sherin membuat Bagus memerah pipinya.
"Kamu juga cantik, Sher," ucap Bagus yang membuat Sherin tersipu malu.
"Eh, aku ke ayahmu dulu ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah yang aku bawa untuk ayahmu," kata Sherin yang berjalan menghampiri Bagas. Dengan wajah yang menahan cemburu dan juga marah melihat wanita yang dia sukai lebih memilih mendekati ayahnya sendiri.
"Ternyata sainganku adalah ayahku sendiri," gumam Bagus yang mengepalkan kedua tangannya.
Bagas yang sedang berbincang dengan Randy dan Harry kemudian merasa tangannya ada yang narik lalu Bagas memutarkan kepalanya menghadap ke arah perempuan yang usianya 10 tahun tersenyum padanya. Bagas tau dia adalah Sherin perempuan yang di sukai putranya, Bagas lalu melirik menatap sang putra yang sedang menatap tajam pada ayahnya. Sementara Bagas hanya terkekeh melihat kecemburuan dan keposesifan putranya yang mirip dengan dirinya.
"Om, ini kado dari Sherin," kata Sherin menyerahkan bungkusan yang berwarna pink dengan pita yang sangat lucu.
"Thank you, Girl," ucap Bagas yang mengelus rambut Sherin.
Sherin yang berharap Bagas mencium pipi atau keningnya pun hilang, karena Bagas hanya mengelus pucuk kepalanya saja. Sherin mengagumi sosok Bagas karena Bagas terlihat begitu perhatian pada keluarga, Sherin ingin suatu hari nanti ketika dia dewasa dia bisa mendapatkan laki-laki yang begitu bertanggung jawab kepada keluarga seperti Bagas.
"Om, Sherin mau main sama Bagus dulu ya," kata Sherin dan di angguki Bagas dengan senyuman.
Sherin tersenyum karena hadiah yang dia siapkan untuk Bagas sudah di berikan dan dia menghampiri Bagus yang duduk sendiri sambil memanyunkan bibirnya.
"Hai, kamu kenapa?" tanya Sherin.
"Tidak apa," jawab Bagus datar.
"Bagus, kita kesana yuk," ajak Sherin dan Bagus menggelengkan kepalanya. Namun Sherin menarik tangan Bagus dan akhirnya Bagus menurut mengikuti langkah kaki Sherin yang ingin menaiki ayunan di taman belakang.
"Sherin," panggil Bagus yang mendorong ayunan yang dinaiki Sherin.
"Ehmmmm," Sherin hanya mendehem dengan ketus.
"Galak banget sih," jawab Bagus dan Sherin tersenyum.
"Apa!" seru Sherin.
"Kamu suka sama ayah aku?" tanya Bagus.
"Hahahaha," Sherin tertawa dan Bagus merasa bingung.
"Kok ketawa sih?"
"Habis kamu lucu deh, masa aku suka sama ayahmu. Aku tuh hanya kagum sama ayahmu, dan kelak aku dewasa aku ingin mempunyai seseorang yang mendampingiku seperti ayahmu dan ayahku yang hanya mencintai satu orang wanita saja. Kamu kok mikirnya aku suka sama ayahmu, masa aku anak kecil suka sama bapak-bapak," jawab Sherin terkekeh. Bagus menggaruk tekuknya yang tak gatal dia tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
Acara makan malam merayakan ulang tahun Bagas sudah selesai semua orang telah pamit pulang dan Bagas melihat putranya sedang duduk sendiri di ruang tamu sambil tersenyum sendiri. Bagas mendekati putranya itu dan duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bagas mengusap rambut Bagus.
"Maafkan Bagus, Yah," ucap Bagus yang memeluk Bagas.
"Why, Boy?" tanya Bagas yang bingung dengan putranya sendiri.
"Bagus cemburu sama ayah, karena Sherin yang selalu ingin dekat dengan ayah," kata sang putra membuat Bagas terkekeh dan mengusap rambut anaknya itu.
"Iya, Bagus tau itu. Ternyata Sherin hanya kagum pada ayah seperti dia kagum pada ayahnya," jawab Bagus yang terisak-isak.
"Sudahlah, jangan menangis. Masa laki-laki cengeng begini," ledek Bagas.
"Maafkan Bagus, Yah. Bagus sempat berpikir ayah adalah saingan Bagus dan Bagus harus lebih hebat dari ayah," kata Bagus.
"Kok Bagus berpikiran seperti itu?" tanya Bagas.
"Karea Bagus tidak ingin ada yang memiliki Sherin selain Bagus," jawab Bagus.
"Jika Bagus ingin mendapatkan Sherin, Bagus buktikan pada Sherin bahwa Bagus pantas untuk Sherin dan Bagus bisa seperti ayah dan om Randy yang membuat Sherin kagum," kata Bagas tersenyum.
Sungguh putranya itu sangat bersemangat untuk mendapatkan Sherin putri dari sahabatnya itu. Bagas seperti bercermin melihat Bagus yang sangat gigih dalam mendapatkan sesuatu, Bagas berharap Bagus tidak mewarisi sifatnya seperti dulu yang suka one night dengan beberapa wanita. Kartika melihat dua laki-laki yang sangat dia cintai asik ngobrol, lalu Kartika menghampiri mereka di ruang tamu sambil membawa teh hangat untuk suaminya dan beberapa cemilan.
"Para jagoan bunda sepertinya asik sekali," kata Kartika yang duduk di samping Bagas.
"Bagus, Bun. Dia cemburu pada ayah dan menganggap ayah adalah saingannya," jawab Bagas terkekeh.
"Cemburu?" tanya Kartika, "Apa yang membuat Bagus cemburu sama ayah?"
"Sherin, selalu mendekati ayah dan ternyata Sherin ingin kelak Bagus seperti ayah yang mencintai satu orang wanita," ujar Bagas.
"Ya ampun, Nak. Segitu sukanya kamu sama Sherin?" tanya Kartika dan Bagus hanya
tersenyum. "Tapi bunda ingin kamu belajar dulu yang rajin dan sekolah yang tinggi, karena kamu akan menggantikan ayahmu dan kamu belajar bertanggung jawab kepada Sherin kelak."
"Pasti bunda, Bagus akan belajar dengan giat dan akan menggantikan ayah di perusahaan Wirayudha. Dan Bagus akan buktikan pada ayah dan bunda Bagus itu laki-laki bertanggung jawab," kata Bagus yang menepuk dadanya membuat kedua orangtuanya tersenyum.
"Itu baru anak ayah dan bunda, sekarang kita semua istirahat. Bagus jangan lupa tidur dan baca do'a agar semua cita-cita dan impianmu tercapai," ujar Kartika yang tersenyum bangga pada anaknya.
"Baik bunda, Bagus ke kamar dulu. Selamat malam ayah dan bunda," ucap Bagus yang pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
"Selamat malam, Sayang," jawab Bagas dan Kartika bersamaan.
Kartika tersenyum menatap Bagas suaminya yang duduk saling berhadapan, Bagas menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
"Terimakasih, sudah menjadi bagian dalam hidupku," ujar Bagas.
"Aku juga terimakasih sudah memberikan kebahagiaan ini. Terimakasih sudah menjadi suami dan juga ayah yang hebat," kata Kartika.
Lalu mereka menyatukan bibir mereka hingga mereka berakhir di ranjang, entah siapa yang memulai yang pasti Bagas dan Kartika menikmati segala sesuatu yang berhubungan dengan mendapatkan pahala.
Bagus yang duduk di tepi ranjangnya, berharap kelak dia dewasa akan menjadi pendamping Sherin yang hanya satu-satunya di hatinya.
****
Maaf reader kelamaan ya up extra part nya.. hehehe...maklum author pejuang receh di dunia nyata..
Tadinya author ingin membuat cerita Bagus dan Sherin ketika dewasa, tapi author lanjut disini saja ya...
Setelah ini akan ada cerita Bagus dan Sherin dewasa... happy reading reader..
Salam ByYou 😘