
Sudah lima bulan baby Karina usianya, Bagus yang tidak ingin adik perempuan akhirnya dia bisa menerimanya. Baby Karina sudah bisa di ajak bercanda bahkan mengobrol dengan abangnya Bagus, Bagus sangat senang karena baby Karina sangat cantik.
"Bunda, baby Karina sangat cantik ya. Nanti pasti kalo sudah besar pasti banyak yang suka dengan baby Karina. Hidungnya Yang mancung, bola mata warna biru dan rambut agak sedikit pirang," kata Bagus membelai rambut dan mengusap pipi baby Karina.
"Abang, nanti jagain ya baby Karina kan, katanya kalo sudah besar banyak yang suka," ujar Kartika.
"Bagus akan jagain Karina, dan tidak boleh ada laki-laki yang boleh mendekati baby Karina," kata Bagus.
"Makasih ya, Abang," ucap Kartika tersenyum mengusap rambut Bagus.
Kartika menatap wajah Bagus yang mirip seperti Bagas dan sekilas wajah Kartika mirip dirinya, Bagus yang mirip ayahnya namun berharap kelakuannya tidak mirip ayahnya yang dulunya seorang cassanova.
"Sayang, bunda ingin pergi ke kantor ayah. Bagus mau ikut, Bunda?" tanya Kartika.
"Hmmmmm, ikut. Nanti baby Karina biar Bagus yang jaga ya, Bun," ujar Bagus.
"Baik, Abang. Yuk siap-siap," kata Kartika yang melangkahkan kakinya menuju kamar untuk berganti baju.
Siang ini Kartika mengajak Bagus dan Karina ke kantor sang ayah, Kartika ingin memberi kejutan pada suaminya karena hari ini dirinya ulang tahun. Kartika sudah membuat bolu dan beberapa bungkus kue untuk para karyawan di sana, Kartika sudah siap begitu juga dengan anak-anaknya. Kartika membawa beberapa bungkusan kue dan bolu untuk surprise, Kartika mengulas senyum saat dia mulai menyalakan mesin mobilnya. Bagus duduk di depan, sedangkan Karina bersama si bibi duduk di belakang. Satu jam perjalanan, Kartika telah sampai di gedung perkantoran milik suaminya yang megah, PT. Wirayudha Pratama berdiri menjulang keatas dan kemudian Kartika masuk sambil mendorong stroller Karina.
"Pagi, Bu?" sapa Frida sekretaris baru yang menggantikan Wina yang sedang hamil.
"Pagi, bapaknya ada?" tanya Kartika balik.
"Bapak masih meeting di luar bu, mungkin sebentar lagi pas jam makan siang beliau kembali ke kantor lagi, Bu," kata Frida.
"Baiklah, saya dan anak-anak tunggu di dalam saja. Oia, tolong ini bagikan pada yang lain," ujar Kartika yang memberikan bungkusan pada Frida untuk di bagikan kepada karyawan yang lain.
Kartika dan Bagus masuk kedalam ruangan suaminya, lalu Kartika duduk di sofa sambil membaca majalah. Tiba-tiba terlintas di otaknya ingin mendekorasi ruangan suaminya.
"Frida." Panggil Kartika yang keluar dari ruangan Bagas.
"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin minta bantuan darimu, bantu saya menghiasi ruangan suami saya karena hari ini dia ulang tahun," kata Kartika.
"Hiasannya ada, Bu?" tanya Frida.
"Kebetulan ada di lemari, masih saya simpan waktu Bagus kuliah," ujar Kartika.
"Baik, Bu. Saya bantu mendekor ruangan bapak," kata Frida.
Kartika dan Frida mendekor ruangan dengan Frida, Bagus menjaga Karina bermain sedangkan bibi ikut membantu Kartika dan Frida mendekor ruangan Bagas. Hampir satu jam Kartika menghias ruangan kerja Bagas. Kartika tersenyum membayangkan surprise yang dia berikan untuk suaminya.
Tak lama kemudian Bagas dan Hary datang setelah meets dengan klien di hotel. Setelah sampai di kantor dia melihat mobil istrinya di parkir di dekat mobilnya, Bagas tersenyum dan mempercepat langkah kakinya dengan senyum yang mengulas di bibirnya. Setelah sampai di depan ruangannya Bagas terkejut melihat dekorasi di dalam ruangannya yang membuatnya terharu.
"Happy birthday, Ayah," ucap Kartika yang membawa kue tart lengkap dengan lilin dengan angka yang sudah tak lagi muda.
"Sayang ini?" tanya Bagas dengan mata yang berkaca-kaca melihat semuanya. Dan Kartika mengangguk tersenyum lalu meniup lilin dan memeluk istrinya.
"Thank you, Boy. Where my baby Karina?" tanya Bagas.
"Itu dengan bibi, Yah," jawab Bagus yang menunjuk ke arah bibi yang menggendong baby Karina.
Bagas menghampiri bibi lalu mencium Karina dan menggendongnya, Karina tampak tertawa lalu memainkan bulu halus di pipi ayahnya. Kebahagiaan Bagas yang telah sempurna memiliki sepasang anak yang cantik dan tampan juga pintar dan tak lupa istri yang sangat cantik. Tak henti-hentinya Bagas mengucapkan syukur atas hadiah di hari ulang tahunnya adalah baby Karina.
"Terimakasih, Sayang," ucap Bagas yang mencium kening Kartika dan memeluknya.
"Semoga sehat dan menjadi ayah kebanggaan kami," ujar Kartika tersenyum.
"Terimakasih, sudah menemani aku sampai detik ini. Dan terimakasih sudah memberikan dua malaikat yang cantik dan tampan," kata Bagas.
"Maaf, aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu juga menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anak kita," kata Bagas lagi.
"Mas, sudah menjadi suami dan ayah yang terbaik untukku dan anak-anak kita. Aku bersyukur memiliki suami hebat seperti mu, Sayang," kata Kartika lalu memeluk suaminya.
"Gas, happy birthday wiss you all the best," ucap Harry yang memeluk saudara sekaligus sahabatnya itu.
"Thanks, Bro," jawab Bagas membalas pelukan Harry.
"Ayo, kita makan yuk. Aku udah pesan makanan untuk kita dan seluruh karyawan di kantor ini," ajak Kartika ketika makanan sudah datang.
Para karyawan semua berkumpul di ruangan Bagas untuk merayakan ulang tahun Bagas yang sederhana dan surprise dari istri tercintanya. Para karyawan dan juga satpam semua menikmati makanan dan kue yang di berikan istri dari atasan mereka, mereka bersyukur melihat Bagas yang banyak berubah setelah menikah dan memiliki anak. Bagas yang dulu terkenal killer,dingin dan perfect, kini menjadi atasan yang baik dan tak suka marah juga bisa menerima maaf dari karyawan yang salah.
"Terimakasih untuk kalian yang selalu bersama saya membangun perusahaan ini, terimakasih juga sudah membuat surprise ini. Sungguh saya kaget dengan semua ini, terimakasih untuk istriku tercinta yang sudah menyiapkan surprise ini semua," kata Bagas mencium dan memeluk istrinya. Dan semua karyawan berteriak melihat keromantisan atasannya dan istrinya.
"Yang jomblo jangan iri," ledek Bagas yang kembali mencium bibir Kartika sekilas.
"Gas, ada anak lo!" seru Hary menatap Bagas dan Bagas hanya tersenyum melihat anaknya yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kartika tersenyum malu dengan para karyawan Bagas yang bersorak menggoda mereka. Bagas memeluk Kartika dengan erat sambil tersenyum bahagia.
"Terimakasih, Sayang. Aku bahagia sekali hari ini," kata Bagas. Kartika membalasnya dengan senyuman dan pelukan hangat yang membuat Bagas makin mencintai istrinya itu.
Acara makan-makan di kantor Bagas telah selesai, para karyawan kembali bekerja dan Bagas asik bermain dengan kedua anaknya. Kartika dan bibi juga Frida membereskan sisa piring dan makanan di bantu OB yang membersihkannya.
"Ayah," panggil Bagus.
"Iya, Nak," jawab Bagas.
"Nanti malam Sherin dan om Randi akan kerumah, katanya ingin makan malam di rumah," ujar Bagus.
"Iya, nanti ada Oma juga," jawab Bagas.
"Ayah, jangan dekati Sherin ya," kata Bagus terlihat menatap tajam ayahnya.Sontak Bagas terkekeh mendengar perkataan anaknya itu.
"Are you jealous, Boy?" tanya Bagas terkekeh.