Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Praweding Harry


Akhirnya acara praweding Harry dan Wina siap di gelar, Kartika yang sibuk menyiapkan pakaian untuk suaminya dan juga dirinya. Tak lupa dia menyiapkan untuk Bagus.Harry yang sudah berada di rumah Bagas merasa kelelahan menunggu Kartika keluar kamar. Tak lama kemudian Kartika keluar kamar dengan Bagas yang menarik beberapa koper.


"Sebenarnya disini yang akan melakukan praweding itu siapa, ya?" tanya Harry memicingkan matanya.


"Sudahlah, Har. Istri gue sedang ngidam jadi apapun yang dia inginkan akan aku lakukan semuanya untuk Kartika," ungkap Bagas.


"Dasar bucin akut," ledek Harry yang memasukkan koper milik Bagas di dalam bagasi mobilnya.


Mereka semua berangkat menuju villa milik Bagas, namun sebelumnya Harry menjemput calon istrinya yang sangat dia cintai. Wina tampak bahagia mendapatkan laki-laki baik seperti Harry yang baik dan pekerja keras.


"Sayang, tahu tidak pagi ini keluarga Bagas sibuk sekali. Yang mau praweding kan kita, ini malah Kartika yang sibuk bawa ini, bawa itu," ujar Harry Wina hanya terkekeh mendengar Harry bercerita.


"Kok kamu malah tertawa?" tanya Harry.


"Mba Kartika kan lagi ngidam jadi dia begitu karena keinginan anaknya, bang," jawab Wina tersenyum.


"Nanti kalau kamu hamil jangan ngidam yang aneh-aneh ya, pusing aku, apalagi lihat Bagas yang bucin sekali sampai dia juga ikutan merasakan mual dan pusing," kata Harry.


"Itu bukan bucin, bang. Tapi sayang sama istri jadi yang mengalami mual suaminya, nanti kalau aku hamil abang gantiin aku ya," ujar Wina dengan mata yang berkedap-kedip.


"Tidak, aku nanti gak bisa kerja," kata Harry, lalu Wina memukul lengan Harry.


"Aww, kenapa?" tanya Harry mengelus lengannya.


"Abang gak sayang dan gak cinta sama Wina, masa gantiin Wina mual-mual aja gak mau," rengek Wina yang membuang pandangannya sambil cemberut.


"Iya, kan belum hamil. Apa mau abang bikin hamil sekarang?" tanya Harry menyerikan.


"Iihh.. Pengennya, ogah belum sah," jawab Wina. Harry sangat gemas dengan tingkah calon istrinya. Wina pun tersenyum menatap Harry dengan penuh cinta dan ada rasa bahagia di hatinya.


Sementara di dalam mobil Kartika tak henti-hentinya mengeluarkan semua isi perutnya, dan Bagas terus memijit tekuk Kartika. Untung Bagas membawa supir jadi dia tidak kesulitan saat istrinya mengalami mual-mual. Bagas dan Kartu duduk di bangku belakang, sedangkan Bagus duduk di depan bersama robot kesayangannya Dennis. Bagus menutup hidungnya karena bau yang menyengat.


"Aku sudah katakan kita tidak usah ikut Harry dan Wina praweding, lihat kamu mual-mual terus. Aku tidak tega melihatnya," ujar Bagas yang memijat kepala Kartika yang bersandar di bahu suaminya.


"Bunda, jorok. Bagus gak suka baunya bikin Bagus mual juga," kata Bagus.


"Bagus mual juga?" tanya Bagas pada Bagus yang duduk di samping supir.


"Sedikit, ayah. Tapi sekarang sudah hilang, kira-kira masih lama tidak villa milik opa, yah?" tanya Bagus.


"Sebentar lagi sampai, sayang," jawab Bagas.


"Bunda, kalau sakit mending tadi tidak usah ikut. Kita liburan di rumah saja main dengan Bagus dan Dennis," ujar Bagus.


"Bunda, tidak sakit ini mual karena dede bayi," kata Kartika.


"Dede bayi jangan nakal ya," ujar Bagus dan membuat Kartika juga Bagas terkekeh.


"Bagus kalau sudah besar masih mau gendong Dede bayi jika Dede bayinya perempuan?" tanya Kartika masih dengan kepala yang bersandar di bahu suaminya.


"Mau dong, bunda," sahut Bagus.


"Bunda, kenapa?" tanya Bagas mengecup pucuk kepala istrinya.


"Tidak, yah. Bunda hanya khawatir nanti ketika Bagus dewasa di sibuk dengan robotnya," kata Kartika.


"Tidak, bunda. Jangan khawatir Bagus pasti akan sayang sama adik Bagus dan juga ayah dan bunda tentunya," ujar Bagus.


Kartika memeluk Bagus dan tersenyum melihat anak yang dulu ia lahirkan seorang diri tanpa seorang suami yang mendampinginya hingga 8 tahun Kartika baru bisa merasakan kebahagiaan bersama Bagas yang merupakan ayah biologis Bagus.


"Kamu lihat kan, yang mau menikah siapa mereka yang heboh," ujar Hary dengan kesalnya dan Wina hanya tersenyum mengusap punggung Harry.


"Sayang, nanti kalau kamu lelah aku akan menggendongmu," ujar Bagas.


"Dasar bucin," Harry yang mencibir yang masih kesal,


"Iri, bilang boskuh," ledek Bagas.


"Cih, buat apa aku iri. Sebentar lagi aku juga akan memiliki istri," jawab Harry.


"Kalian, selalu saja ributin masalah sepele," Kartika.


"Bunda, om Harry sama ayah mereka berantem?" tanya Bagus yang melihat ayah dan om nya itu sedang beradu mulut.


"Mereka bercanda, sayang. Nanti kalau adik Bagus keluar kalian Jan ikuti tingkah konyol om dan ayahmu," ujar Kartika mengusap pucuk kepala Bagus.


"Bagus tidak akan seperti ayah dan om yang suka berantem,Bagus akan sayang sama adik Bagus. Walaupun adik Bagus perempuan,Bagus akan jagain adik Bagus kalau ayah bunda kerja.


" Anak pintar, kesayangan bunda sama ayah,"kata Kartika mencium pucuk kepala Bagus.


Acara praweding sudah mulai, Harry dan Wina mengikuti arahan sang photograper dan melakukan gaya yang berbeda. Kartika dan Bagus juga Bagas melakukan sesi foto keluarga dengan tema happy family. Bagas sangat senang bisa melakukan foto bertiga, Kartika memakai pakaian yang sama dengan anak dan suaminya.


"Sayang, cape?" tanya Bagas yang menghampiri Kartika.


"Aku tidak apa², " jawab Kartika tersenyum.


"Duduklah, mas ambilkan aku minum," kata Bagas yang mengambil minum.


"Ini,minumlah.Sayang, kalau cape bilang," lanjutnya.


"Sedikit,mas," jawab Kartika.


"Kita balik lagi ke villa, ya. Istirahat, aku tidak mau ada apa-apa dengan kandunganmu," ujar Bagas.


"Tapi, Kartika masih mau di foto," sahut Kartika dengan manja.


"Sayang, please. Kita bisa lanjutkan besok," ujar Bagas yang khawatir dengan keadaan istrinya.


"Permisi, pak. Sudah siap?" tanya sang fotografer.


"Maaf, kita lanjut besok saja. Istriku kelelahan dan kami akan kembali ke villa," kata Bagas.


"Oke, baiklah, pak. Saya permisi, terimakasih," ucap sang fotografer yang pergi meninggalkan mereka.


Bagas masih duduk di samping Kartika yang sedang kelelahan, Bagus sedang asik bermain dengan robotnya. Kartika masih ingin berpose di depan kamera, namun kondisinya tak menentukan. Bagas lalu mengusap dan membelai rambut panjang istrinya.


"Sayang, kita kembali ke villa dan istirahat kasihan debaynya," kata Bagas mengusap perut Kartika.


"Bunda, kita pulang yuk. Bagus, lapar," kata Bagus mendekati kedua orang tuanya.


"Mas, kita pulang ke villa yuk. Sepertinya aku juga lapar," kata Kartika yang berdiri lalu di susul Bagas lalu mereka masuk ke dalam mobil dan jalan sedikit sudah sampai.


Didalam villa, Bagas menyuruh para art menyiapkan makanan untuk anak dan istrinya, Bagas juga menyuruh para art mengupas buah-buahan untuk dirinya yang sejak usia kandungan Kartika 12 minggu, Bagas menjadi menyukai buah.


"Aduh," pekik Kartika.