
Bagas turun dari mobilnya, kalu kemudian dia menarik tangan dan Kartika terpaksa turun dari mobil. Dia mengikuti langkah jaki Bagas yang panjang dengan tangannya yang ditarik okeh Bagas. Kartika dengan kesal dan merasa sakit pada pergelangan tangannya.
"Sekarang jelaskan padaku, siapa laki-laki itu? " Tanya Bagas yang melepaskan tangannya.
"Dia sepupuku yang datang dari KL, kebetulan kami bertemu dengannya di restoran. " Jawab Kartika.
"Alah bisa saja kamu berakting. " Ujar Bagas.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, terserah aku juga sudah tidak peduli lagi apa yang kamu lakukan dikantor. " Kata Kartika yang masuk ke dalam rumah meninggalkan Bagas sendiri yang mematung.
Bagas pun ikut masuk kedalam rumah dan menuju kamar. Bagas masuk kedalam kamar dan melindungi Kartika sedang duduk sambil menatap layar televisi yang berukuran 37' Inchi. Bagas lalu mematikan televisi dan duduk di samping Kartika.
"Kamu salah paham, apa yang terjadi di kantor itu hanya salah paham. " Kata Bagas yang sabar menahan emosinya.
"Salah paham? Aku sudah tak perduli lagi, Mas. " Kata Kartika yang berdiri dan meninggalkan Bagas lagi.
"Natalie itu partner kerja, dia itu sudah menikah. Natalie datang ke Indonesia untuk tanda tangan kontrak kerja sama. " Kata Bagas sebelum melihat Kartika keluar kamar.
"Apakah aku juga harus menjelaskan bahwa laki-laki itu sepupuku yang datang dari KL. Kebetulan dia sedang makan di restoran dan melihat aku lalu kami ngobrol. " Kata Kartika yang sudah memegang gagang pintu.
"Jika tidak percaya, terserah saja. Aku bicara jujur apa adanya, tidak seperti apa yang mas pikirkan. " Kata Kartika yang keluar kamar menuju dapur.
Bagas menyandarkan kepalanya di sofa fans dia memejamkan matanya. Entah ada rasa tak percaya dan rasa bersalah karena sudah membuat Kartika melihat kejadian di kantor. Kemudian Bagas keluar kamar dan melihat Bagus duduk di meja makan, dia sedang makan siang. Perut Bagas merasa lapar, namun dia tidak mau meminta makan pada istrinya.
"Ayah, mau kemana? " Tanya Bagus yang melihat ayahnya yang berjalan menuju pintu depan.
"Ayah masih banyak kerjaan di kantor, sayang. " Kata Bagas yang tersenyum pada Bagus.
"Apakah ayah tidak makan dulu? " Tanya Bagus lagi.
"Tidak, Nak. Ayah buru-buru karena mau ada meeting dengan om Hary. " Kata Bagas yang mencintaimu kepala namanya.
"Baiklah hati-hati, Ayah. " Kata Bagus dan Bagas pun langsung keluar naik mobilnya.
Di dalam mobil Bagas merasa kesal dia memukul setir dan menundukkan kepalanya di setir itu. Tiba-tiba Bagas menelepon seseorang untuk mencari tau siapa laki-laki yang di anggap sepupu oleh Kartika. Kemudian Bagas menyalakan mesin mobilnya.
Setelah sampai di kantornya, Bagas langsung duduk di kursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya. Bagas merasa pusing bagaimana caranya agar Kartika percaya bahwa dia tak ada hubungan dengan Natalie.
Kemudian Hary masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Hary melihat bosnya sedang melamun sambil memijit pelipisnya.
"Kenapa, Gas? " Tanya Hary yang duduk di hadapan Bagas.
"Pusing gue. " Jawab Bagas.
"Pusing kenapa? Bukannya lo habis ketemu mantan. " Ledek Hary.
"S*****l lo, Kartika sedang marah. " Kata Bagas yang melemparkan pulpen ke wajah Hary, untung saja tidak kena. Harus hanya tertawa melihat saudara dan sahabatnya itu marah-marah.
"Kenapa, Kartika bisa marah? Apakah dia cemburu? " Tanya Hary.
"Waktu dia masuk ke ruangan gue, gue sama Natalie seperti orang sedang berpelukan. Padahal gue itu menyelamatkan Natalie yang hampir jatuh, dan posisi Natalie itu sedang memeluk gue. Masuklah Kartika salah pahamlah dia. " Kata Bagas dan Hary hanya tertawa melihat Bagas yang begitu bucin akut pada Kartika.
"Lo udah jelaskan pada Kartika? " Tanya Hary.
"Sudah, tapi Kartika sepertinya orangnya sulit untuk di beri penjelasan. " Kata Bagas.
"Lo tau, Gas. Kartika dulu pernah melihat pacarnya selingkuh. Jadi wajarlah dia bersikeras seperti itu. " Kata Hary.
"Oh iya ya, aku baru ingat dulu dia pernah melihat pacarnya selingkuh. " Kata Bagas.
"Sudah biarkan diamkan saja. " Kata Hary.
"Berarti gue gak dapat jatah dong, bro. " Kata Bagas.
"Gila lo, masih memikirkan hal seperti itu. " Kata Hary yang kesal dengan Bagas.
"Tapi, Har. Ketika gue ke restoran gue melihat Kartika sedang ngobrol dengan seorang laki-laki, yang lebih parahnya lagi. Kartika berpelukan dengan laki-laki itu, makin sewotlah gue, Har. " Kata Bagas.
"Lo udah selidiki siapa laki-laki itu? " Tanah Hary.
"Sudah, gue suruh Gana menyelidiki siapa laki-laki itu. " Kata Bagas.
"Coba lo selidiki terlebih dahulu, siapa laki-laki itu dan lo jangan marah dulu sama Kartika. " Kata Hary.
Sementara itu Kartika diam duduk di balkon kamarnya dia menatap jalanan sekitarnya, lalu kemudian dia melihat mobil Bagas yang masuk garasi. Bagas melihat Kartika di balkon rumah namun Kartika langsung masuk membuang wajahnya ke sembarang arah.
Bagas masuk dan melihat makanan di atas meja makan, rupanya Kartika sudah menyiapkan makanan untuk dirinya. Bagas hanya menarik napas panjang.
Kartika hanya diam dan seolah Bagas tak ada. Perang dingin Bagas dan Kartika adalah yang pertama setelah menikah. Bagas diam dan Kartika juga diam tak ada yang bicara. Bahkan tidur pun Kartika membelakangi Bagas. Malam ini Bagas harus bisa menahan diri demi gengsi.
Pagi hari Kartika dan Bagus sudah rapi dan siap-siap akan berangkat ke sekolah. Bagas yang keluar dari kamar melihat dan menghampiri Bagus yang sedang sarapan. Bagus tersenyum melihat ayahnya yang duduk di sampingnya.
"Ayah tidak ingin sarapan? " Tanya Bagus.
"Tidak nanti saja di kantor. " Kata Bagas yang melihat Kartika diam sambil memakan roti panggangnya.
"Bagus sudah siap, ayo kita berangkat nanti kamu terlambat. " Kata Kartika yang menenteng tasnya.
"Bagus mau berangkat sama ayah, Bun. " Kata Bagus yang menatap Kartika.
"Kalo sama ayah nanti Bagus terlambat. " Kata Bagas.
"Tidak akan terlambat, Yah. " Kata Bagus.
"Bagus, ayo bunda sudah kesiangan. Dan jangan buat bunda marah. " Kata Kartika dengan nada sedikit marah.
"Sudah, sana berangkat dulu sama bunda. Besok sama ayah, cepat sana. Hati-hati ya, sayang. " Kata Bagas yang mengusap rambut anaknya. Kemudian Bagus mencium tangan Bagas dan pamit.
Bagus akhirnya menurut dia berangkat dengan taksi online bersama Kartika. Bagas pun berangkat ke kantor dengan malas dan tak bersemangat. Tiba-tiba Bagas menerima telepon dari Gana anak buahnya yang mengatakan bahwa laki-laki itu memang sepupu Kartika dari KL yang kebetulan makan di restoran Diena.
"Aarggggghhhhh..... B***o, gue udah salah sama Kartika. " Kata Bagas yang memukul setir mobilnya sambil marah-marah.
Sedangkan di restoran Kartika pun memikirkan ucapan Bagas yang mengatakan bahwa perempuan itu hanya rekan bisnisnya. Kartika merasa bersalah sudah mendiami Bagas.
Satu minggu sudah berlalu pasangan ini saling menjaga gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Bagus yang mengetahui kedua orang tuanya saling diam, dia mempunyai ide untuk membuat orang tuanya kembali bersama.
"Bunda, di panggil ayah tuh di taman belakang. " Kata Bagus yang melihat bundanya sedang melamun.
"Ayah, dipanggil bunda di taman belakang. " Kata Bagus yang melihat ayahnya di ruang kerja.
Kartika dan Bagas menurut saja apa yang di perintahkan oleh Bagus anaknya. Sesampainya di taman Bagas yang melihat Kartika dan begitu sebaliknya, membuat kedua pasangan itu mengenyritkan dahinya.
"Sayang, maafkan aku sudah salah paham padamu. " Kata Bagas yang berdiri persis berhadapan dengan Kartika.
"Aku juga, sayang. Aku salah paham dengan mu. " Kata Kartika juga.
Kemudian Bagas memeluk Kartika dan ketika Bagas dan Kartika berciuman. Bagus datang bersorak, sontak mereka kaget dan keinginan hasrat selama satu minggu tertahan lagi karena putra mereka. Dan mereka pun saling tertawa bersama.