Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Bagas Bagus


"Mas,kenapa? Dari tadi kita pulang mas cemberut?" tanya Kartika yang melihat Bagas yang duduk di sofa dengan wajah cemberut.


"Tidak apa-apa, aku hanya kesal dengan kerjaan di kantor," jawab Bagas.


"Ayah, kita main game ini," ajak Bagus yang membawa game baru yang dibeli.


"Ayah, sedang banyak kerjaan nanti lagi ya," ujar Kartika.


"Emang ayah mau ke kantor?" tanya Bagus sambil memainkan puzzle.


Bagas yang duduk sambil memainkan ponselnya, dia terus menelepon sekertarisnya untuk mengirimkan laporan. Kartika tak berani untuk bertanya karena melihat raut wajah Bagas yang seperti singa yang ngamuk. Kemudian Kartika mengajak Bagus bermain sendiri dan Kartika pun masuk kedalam kamarnya, dia tidak ingin mengganggu Bagas yang sepertinya ada problem di kantornya. Jika hati Bagas sudah dingin baru doa akan bercerita pada Kartika.


"Sudah saya katakan, kamu urus masalah pajak dan jangan sampai kita berurusan dengan orang-orang yang sulit dan hanya mau uang saja. Kamu bisa kerja tidak?" tanya Bagas yang dengan marah, Kartika yang masuk membawa teh hangat langsung berhenti.


Sebenarnya Kartika ingin langsung tidur, namun dia ingin memberikan minuman dan cemilan untuk Bagas. Kartika masuk lalu meletakkan cangkir teh dan cemilan di meja kerja suaminya.


"Sayang," panggil Bagas yang menepuk pahanya agar Kartika duduk di pangkuannya.


Kartika lalu mendekati Bagas dan lalu duduk di pangkuan Bagas dan kemudian Bagas mencium tekuk Kartika mencium bau harum tubuhnya seakan candu baginya. Bagas memejamkan mata dan semua penatnya, masalahnya hilang ketika memeluk sang istri.


"Ada masalah?" tanya Kartika.


"Sedikit, sudahlah aku tidak ingin mengingatnya, " ujar Bagas yang memeluk Kartika dari belakang mengelus perut buncitnya.


"Sayang, jangan lagi-lagi melihatkan wajahmu didepan Bagus dia akan ketakutan nantinya," kata Kartika.


"Iya, aku minta maaf. Aku tadi kesal dengan orang-orang di kantor yang mengabarkan bahwa bagian untuk urus bayar perpajakan mereka kabur membawa uangnya. Dan aku harus berurusan dengan kantor pajak karena masalah izin," ungkap Bagas.


"Sudah, jangan di ingat-ingat. Sekarang kita istirahat yuk, aku sudah ngantuk," ujar Kartika.


"Main dulu, boleh?" tanya Bagas dan Kartika mengangguk.


Seperti biasa mereka berdua sangat mesra setiap malam mereka berlanjut hubungan yang mendapatkan pahala. Walaupun usia Bagas yak lagi muda tapi Bagas masih menjalankan kewajibannya sebagai suami.


Bagus bersiap-siap untuk berangkat kesekolah dan akan mengikuti latihan membuat robot untuk mengikuti lomba di Jepang. Bagus duduk sambil makan sandwich buatan Kartika.


"Sayang, tolong pasangkan dasiku," ujar Bagas yang keluar kamar sambil memegang dasi.


"Bagus, ini jangan lupa di bawa. Bunda mau pasangan dasi ayah dulu," kata Kartika.


"Ayah manja, masa pasang dasi saja tidak bisa," ujar Bagus.


"Tuh, dengar tidak anaknya bilang apa," kata Kartika terkekeh.


"Bagus juga manja sama bunda," jawab Bagas tidak mau kalah.


"Bagus kan masih kecil, sudah tua," kata Bagus membuat Bagas terdiam.


"Mmmmmphh," Kartika menahan tawa mendengar perkataan Bagus.


"Enak saja ayah sudah tua, ayah masih muda dan ini bisa buat adik buat Bagus," kata Bagas yang menunjuk perut Kartika.


"Memang pakai apa ayah buatnya?" tanya Bagus. Lalu Kartika memukul lengan Bagas.


"Mulai nih mulut, pagi-pagi udah ngomong ngelantur gak ada remnya," kata Kartika dan Bagas tersenyum.


"Bunda, memang yang bikin dede bayi ada di dalam ayah?" tanya Bagus.


"Sudah, ayo habiskan sarapannya terus berangkat dan jangan lupa kotak bekalnya di bawa," kata Kartika yang selesai memasang dasi suaminya. Bagas terkekeh melihat Kartika jika sedang marah.


"Sayang, aku berangkat siang saja ke kantornya," kata Bagas yang duduk lalu mengambil roti dan selai.


"Kenapa? Bukannya ada masalah di kantor?" tanya Kartika.


"Aku tidak kuat melihat kamu memakai daster membuat yang di bawah turn on," bisik Bagas dengan menyeringai. Kartika langsung melotot ke arah Bagas dan Bagas menaik turunkan alisnya. Kemudian Kartika mencubit pinggang Bagas.


"Awwww.. Sakit, sayang," ujar Bagas sambil mengusap pinggangnya.


"Pagi-pagi udah mesum."


"Sudah nanti kamu terlambat," ujar Kartika.


"Baiklah, nanti malam jadi double," bisik Bagas lagi.


"Ayah sama bunda dari tadi bisik-bisik terus, ada apa?"tanya Bagus yang melihat kedua orang tuanya yang sedari tadi bisik-bisik terus.


"Ini, ayah mau ajak bunda main ular-ularan," kata Bagas tersenyum ke arah istrinya.


"Ular-ularan? Apa tuh?" tanya Bagus lagi. Bukan namanya Bagus jika dia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan maka dia akan banyak bertanya terus.


"Ayah, kebiasaan omonganya gak gitu banget deh," kata Kartika yang kesal dengan Bagas yang asal ngomong.


"Itu main game, sayang," jawab Bagas.


"Oh game yang baru punya Bagus," jawab Bagus.


"Betul sekali, ayah bunda pinjam ya," kata Bagas.


"Boleh, tapi mainnya tunggu Bagus pulang sekolah saja, yah. Semalam Bagus ingin main sama ayah, tapi ayah sibuk kata bunda," ujar Bagus.


"Sudah... Sudah... Kalian tidak berangkat, lihat sudah pukul berapa sekarang. Cepat berangkat kalian ini ngobrol saja, gak anak gak bapak kalau sudah ngobrol persis kaya emak-emak rumpi," kata Kartika.


"Bunda jangan marah, nanti cepat tua kaya ayah. Hahhaha," ucap Bagus yang tertawa melirik ayahnya.


"Baguuuusss!!!!" seru Bagas yang marah di katakan tua, dan Kartika hanya terkekeh. Bagus uang sudah duluan berlari menuju mobilnya sendiri.


"Lihat, anak itu semakin besar semakin gak sopan sama orang tua. Masa aku di bilang tua," kata Bagas.


"Memang kamu sudah tua, sayang. Ingat umur, sayang. Jangan genit kalau sedang diluar," kata Kartika.


"Ck, kamu sedikitpun tak membela aku. Aku berangkat," ujar Bagas yang mencium kening Kartika lalu tangannya yang di cium Kartika.


"Hati-hati ya, ayah sayang nanti malam triple bonus buat cinta," kata Kartika dan Bagas langsung memeluk Kartika lalu mencium keningnya.


"Terimakasih, cintaku. Makin cinta deh," ujar Bagas dengan mata yang berbinar dan senyum yang mengembang.


"Kalau ada maunya saja, baik. Dasar laki-laki," kata Kartika dan Bagas melambaikan tangan ya lalu kemudian berangkat kerja.


Di sekolah Bagus dengan serius mengikuti pelatihan merakit robot dan begitu antusias menjalaninya. Bagus analis yang cerdas jadi arahan sang guru bisa langsung diterima oleh otaknya, dan semua gitu sangat senang jika harus mengajar Bagus karena kepintaran Bagus yang melebihi rata-rata.


"Bagus, dirumah nanti kamu latihan lagi. kata ibu guru Bagus.


"Baik, bu. Nanti Bagus akan latihan lagi buat persiapan lomba diJepang." kata Bagus.


"Semangat, ya Bagus. Kita harus menang lomba di Jepang," ujar ibu guru.


"Baik, bu. Bagus pamit pulang ya bu, assalamu'alaikum," pamit Bagus pada ibu gurunya.


Kartika menjemput Bagus di sekolah dan melihat anaknya berlari menghampirinya. Kartika tersenyum melihat anaknya yang berlari lalu memeluknya.


"Bunda, baru datang?" tanya Bagus.


"Iya, sayang. Maaf tadi bunda ke toko dessert terlebih dahulu," jawab Kartika mengusap rambut Bagus.


"Bagus, mau cepat pulang Bagus ingin belajar untuk lomba di Jepang, bun. Kita cepat pulang yuk," ajak Bagus menggandeng tangan Kartika.


*****


Hai.. Reader.. maaf ya author baru Up..


Silahkan Like, komen, Hadiah dan Votenya.


Terimakasih masih setia membaca karyaku..


Terimakasih juga untuk semua author senior yang selalu memberikan support buat aku author kacangan.


Salam ByYou ❤❤❤😘😘😘