
Setelah perjalanan panjang, Kartika dan Bagas juga Karina sudah sampai di rumah sakit dimana putranya dirawat. Kartika yang langsung memeluk Bagus yang terbaring lemah dan mata yang terpejam, Bagas menyimpan koper di sofa dan duduk menyandarkan tubuhnya karena lelah setelah perjalanan panjangnya.
Kartika langsung duduk di samping putranya dan mengusap keningnya lalu menciumnya. Dengan hati yang sakit melihat putranya terbaring lemah, namun Kartika mencoba kuat.
"Karin, kamu hubungi kak Sherin dan katakan padanya maaf bunda sama ayah terburu-buru jadi tidak bisa mengajaknya," kata Kartika yang menyuruh Karin menelepon Sherin yang pasti khawatir dengan keadaan putranya.
"Iya, bunda. Karin keluar sebentar," ujar Karin.
"Sayang, depan kamar aja jangan jauh-jauh," kata Bagas.
"Iya, ayah," jawab Karin.
Tak lama kemudian Bagus membuka matanya dan tersenyum melihat bundanya ada dihadapannya dan Kartika juga tersenyum menatap wajah putranya.
"Bagus gak lagi mimpi kan," kata Bagus tersenyum.
"Bagus tidak sedang bermimpi, bunda ada disini untuk menjaga Bagus," jawab Kartika mencium kening Bagus.
"Bagus, bagaimana keadaanmu?" tanya Bagas yang mendekati Bagus lalu duduk di sampingnya.
"Masih lemah, Yah," jawab Bagus.
"Ayah dan bunda akan menjaga kamu sampai kamu sehat," kata Bagas memijat kaki Bagus.
Bagus tersenyum melihat ayah dan bundanya begitu menyayangi dirinya, hingga rela meninggalkan pekerjaannya.
"Sherin, ikut bunda?" tanya Bagus.
"Maaf, Sayang. Ayah dan bunda begitu panik ketika temanmu memberi kabar padanya, jati bunda tidak mengajaknya. Maafkan bunda ya, Sayang," jawab Kartika yang merasa bersalah pada putranya.
"Kamu rindu Sherin?" tanya Bagas yang mengetahui putranya tengah merindukan Sherin.
"Bunda," panggil Karin.
"Iya," jawab Kartika menengok ke arah suara.
"Ini, kak Sherin vicall," kata Karin yang menyerahkan ponsel pada Kartika.
"Sayang, maafkan bunda yang tak mengajakmu menemui Bagus," ucap Kartika pada layar yang terpampang gambar Sherin.
"Tidak apa-apa, bunda. Sekarang Bagus bagaimana keadaannya, bunda?" tanya Sherin.
"Nih, silahkan tanya sendiri sama orangnya," kata Kartika yang menunjukkan wajah Bagus.
Bagus tersenyum melihat wajah kekasihnya yang dia rindukan. Akhirnya Sherin bisa melihat wajah kekasihnya.
"Bagaimana keadaanmu, Gus?" tanya Sherin.
"Aku sudah baikan, apalagi kalo ada kamu disini mungkin aku langsung pulang," jawab Bagus tersenyum.
"Kamu, malu ada bunda," ujar Sherin yang malu.
"Bunda juga tau kok, jadi gak usah malu," kata Bagus terkekeh.
"Bagus, sudahlah aku malu," kata Sherin.
"Aku rindu," ucap Bagus. Sherin terdiam menatap wajah Bagus di layar 5 inchi itu.
"Aku rindu kamu, Sherin. Kamu gak merindukanku?" tanya Bagus dan Sherin menganggukkan kepalanya kemudin Bagus tersenyum.
"Cepat sehat ya, Beib," ucap Sherin.
"Iya terimakasih, Sayangku," ujar Bagus.
Mereka berdua saling menatap meluapkan semua kerinduan hanya lewat ponsel dan terbentur jarak yang jauh. Bagus mengusap wajah Sherin di layar ponsel begitu juga Sherin.
Kartika melihat putranya hanya tersenyum, Kartika tahu Bagus sangat mencintai Sherin sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Hingga sekarang mereka masih bisa saling mencintai.
"Bunda, ini ponselnya," kata Bagus yang menyerahkan ponselnya pada Kartika.
"Sudah kangennya?" tanya Kartika yang berjalan menghampiri Bagus dengan tersenyum.
"Sudah," jawab Bagus. " Ayah dan Karin kemana, Bun?" sambungnya.
"Mereka ke kantin beli makanan, sekarang kamu istirahat ya," kata Kartika merapikan selimut lalu menaikan hingga ke dada Bagus.
"Iya bunda, terimakasih," ucap Bagus.
Sementara itu Sherin tengah bahagia karena akhirnya dia bisa mengobrol dan mengetahui keadaan Bagus. Ingin sekali Sherin terbang kesana menemui sang pujaan hati, namun besok dan lusa dia ada kegiatan di kampusnya sehingga tak bisa di tinggalkan.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Sherin?" tanya Randi yang masuk ke kamar Sherin terbuka.
"Bagus, Yah," jawab Sherin.
"Kenapa, dia sudah menghubungimu?" tanya Randi kembali.
"Sakit? Sakit apa, dia?"
"Typus, Yah. Om Bagas sekeluarga sudah ada disana tadinya mau ajak Sherin tapi ayah tau sendiri bunda Kartika orangnya panikan dan terburu-buru jadi lupa ajak Sherin," ujar Sherin memberikan penjelasan pada ayahnya.
"Apakah kamu juga ingin kesana? Nanti ayah antarkan kamu ke sana menemui Bagus dan kamu bisa pulang dengan mereka," kata Randi yang menawarkan Sherin untuk pergi menemui Bagus.
"Inginnya Sherin kesana, Yah. Tapi seminggu ini Sherin sedang banyak tugas kuliah takutnya Sherin tertinggal," jawab Sherin.
"Baiklah, jika tugas kamu sudah selesai dan ingin pergi menemui Bagus ayah siap antar," kata Randi mengusap rambut putrinya.
"Antar kemana?" tanya Freya yang masuk dan membawa makanan ringan untuk Sherin.
"Antar Sherin menemui Bagus yang sedang sakit dan Bagas sekeluarga ada disana," jawab Randi dan Freya duduk disamping suaminya.
"Ayo kita pergi menengok Bagus, bunda juga mau ikut," kata Freya.
"Sherin gak bisa, bunda," ujar Sherin dengan manja.
"Kenapa?" tanya Freya mengerutkan keningnya.
"Sherin ada tugas kuliah minggu ini dan semua harus deadline minggu ini," jawab Sherin.
"Yaaah, padahal bunda ingin sekali ke Amrik," ujar Freya dengan sedih.
"Bagaimana kalau Sherin menyelesaikan tugas dulu," kata Randi.
"Maksudnya?"
"Setelah Sherin selesai dengan tugasnya kita semua kesana menemui Bagas juga Bagus, bagaimana,"
"Ayaaahh, Sherin sayang sama ayah," Sherin langsung memeluk sang ayah.
"Baiklah," ujar Freya tersenyum.
"Ikuttttt!" teriak Shena dan Sheila yang masuk kedalam kamar kakaknya.
"Ish, kalian bisanya nguping pembicaraan orang dewasa saja," kata Sherin yang mengerucutkan bibirnya. Randi dan Freya tersenyum melihat ketiga putrinya saling menyayangi.
Sementara kondisi Bagus semakin membaik karena Kartika merawat putranya dengan telaten dan Bagus langsung membeli obat herbal yang dikirim oleh Harry dari tanah air.
"Sayang, Sherin dan keluarganya akan kemari," kata Bagas yang menyiapkan obat herbal untuk Bagus.
"Kak Sherin akan kesini, Yah?" tanya Karin yang dengan antusias mendengar Sherin akan datang.
"Iya, semalam telepon ayah," jawab Bagas.
"Yeeeeaayyyy, kak Bagus pasti langsung sehat ketemu kak Sherin," kata Karin dengan nada meledek kakaknya.
"Hussstt," Bagus yang menutup mulutnya dengan satu jarinya. Karin pun langsung menjulurkan lidahnya.
"Sayang, minum dulu obat herbal yang," perintah Kartika yang mengambil gelas dari Bagas.
"Terimakasih, bunda" ujar Bagus yang langsung meminumnya.
Seminggu kemudian Bagus sudah kembali ke apartemennya dan Sherin datang sebelum Bagus keluar dari rumah sakit. Dengan kondisi yang masih lemah Sherin mendorong kursi roda yang di naiki Bagus sedangkan keluarga mereka ada di belakang.
Gauri datang membawa bunga dan beberapa makanan untuk Bagus. Sherin melihat Gauri yang begitu genit pada Bagus merasa cemburu. Bagus tau kekasihnya itu sedang cemburu dan kesal melihat Gauri yang sangat sok perhatian.
"Siapa?"
"Apa?"
"Cewek tadi?"
"Yang mana?"
"Ah, pura-pura lupa,"
"Gauri,"
"Entahlah, aku tidak tahu,"
"Dia teman kerjaku, cemburu?"
"Tidak, biasa saja,"
"Sherin, dia hanya sebatas partner kerja aku. Hatiku hanya ada kamu," kata Bagus mengedipkan matanya.
"Alah, ngerayu. Jauh-jauh ke sini hanya ingin melihat kamu dan wanita itu saling cipika-cipiki,"
"Ya ampun, Sherin," Bagus menepuk jidatnya.