
Sherin meletakkan gawainya di ranjangnya, sudah hampir tiga hari Bagus tidak menghubunginya, ada rasa kesal dalam hatinya dan rasa khawatir karena tak ada kabar dari sang pujaan hati. Kemudian Sherin mengambil kembali gawainya itu dan di buka kembali melihat apakah ada pesan dari Bagus, dan. ternyata tidak ada.
"Kamu kemana sih, Gus. Sudah hampir tiga hari kami tak memberikan aku kabar," ucap Sherin menatap layar ponselnya.
Sementara Freya masuk kedalam kamar putri sambungnya itu dan melihat Sherin yang termenung sambil menatap gawainya.
Tok..Tok...
Ceklek
"Boleh, bunda masuk?" tanya Freya yang berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.
"Eh, bunda. Masuk bunda tidak apa-apa," jawab Sherin yang turun dari ranjangnya.
Kemudian Freya duduk disampin putrinya dan menyisir rambut Sherin yang panjang. Sherin menjadikan paha Freya sebagai bantal, lalu Freya mengusap rambut Sherin dan bahunya.
"Kamu kenapa, Sayang?"
Sherin mendongakkan kepalanya menatap ibu sambungnya, " Bagus tidak ada kabarnya, bunda," jawabnya.
"Mungkin dia sibuk terus lupa memberikan kabar sama kamu," kata Freya mencoba menenangkan putrinya.
"Tapi biasanya selalu kasih kabar dan tak pernah sekalipun dia lupa," ujar Sherin
"Kamu sudah mencoba telepon dia?"
"Sudah tapi tidak diangkat," jawabnya.
"Ya sudah kamu sabar, mungkin memang Bagus sibuk dan jangan berpikiran yang negatif," kata Freya.
"Iya, bunda," ucap Sherin.
"Sekarang kamu makan dulu ya," kata Freya dan Sherin langsung bangun kemudian mengangguk pelan.
Freya tersenyum dan mencium pucuk kepala putri sambungnya yang sudah dia anggap seperti putri kandungnya sendiri. Freya tak pernah membedakan antara Sherin dan Sheila juga Shena putri kandungnya sendiri.
Freya keluar dari kamar Sherin lalu menyiapkan makanan untuk Sherin yang sedari tadi belum makan. Freya membuat soto ayam kesukaan Sherin, dan Sherin sangat menyukai masakan wanita tomboy yang sudah menjadi ibu sambungnya itu. Walaupun usia Freya dan Randi sang ayah terpaut sangat jauh, namun Freya berubah menjadi seorang wanita yang sangat menyayangi Sherin sebagai seorang ibu sambung.
Sementara di kediaman keluarga Wirayudha Bagas dan Kartika mendapatkan kabar bahwa Bagus sakit dan dia dirawat di rumah sakit. Mereka mendapatkan kabar dari rekan Bagus yang langsung membawa Bagus ke rumah sakit, karena melihat Bagus pingsan di kantor.
"Bun, kita berangkat jam 10 malam ini," kata Bagas yang membantu memasukan pakaian ke dalam koper.
"Karina boleh ikut, Yah?" tanya Karina yang masuk kedalam kamar ayah dan bundanya.
"Sayang, ayah sama bunda hanya ingin menengok kakakmu bukan ingin jalan-jalan," Bagas tersenyum pada putrinya.
"Bunda, Karin ingin ikut menengok kakak," Karina yang merengek pada Kartika.
"Bereskan pakaianmu, kita akan berangkat jam 10 sekarang kamu siap-siap ya," ujar Kartika.
"Yeeeeaayyyy, makasih bunda. Mmmmmuuuuaccchhh," Karina mencium pipi Kartika dan berlari keluar kamar Bagas dan Kartika dengan riangnya.
" Sayang, kamu ajak Karina?" tanya Bagas yang duduk di samping istrinya yang sedang sibuk merapikan pakaian.
"Sudahlah, Mas. Kasihan nanti siapa yang akan mengurusnya," kata Kartika.
"Kita titip Karina pada Wina dan Hary," jawab Bagas.
"Sudahlah, biarkan saja Karina ikut. Mungkin dia juga merindukan kakaknya," ujar Kartika.
"Baiklah, aku juga sebenarnya tak tega meninggalkan putri kecilku itu dengan orang lain. Walaupun Hary adalah saudaraku sendiri," kata Bagas.
Tiba keberangkatan keluarga Bagas ke negeri Paman Sam dimana Bagus putra sulungnya tengah dirawat di rumah sakit, Kartika yang merasa khawatir dengan kondisi Bagus terus berkomunikasi dengan rekan Bagus yang juga orang Indonesia sehingga memudahkan Kartika berkomunikasi. Bagas hanya tenang, meskipun hatinya sangat mengkhawatirkan Bagus.
"Bagaimana keadaan Bagus?" tanya Bagas yang melihat Kartika menutup obrolannya dengan rekan Bagus.
"Sudah di lab dan katanya Bagus terkena Typus," jawab Kartika.
"Sama persis kamu, yang gila kerja," Kartika terkekeh ketika Bagas menyalahkan Bagus tanpa sadar dirinya seperti itu.
"hehehehe," Bagas hanya menampilkan giginya lalu memeluk sang istri.
"Ish, ayah sama bunda kalo berpelukan di kamar dong disini ada anak yang belum dewasa," protes Karina yang melihat ayah dan bunda nya masih mesra walaupun usia mereka sudah hampir setengah abad.
"Aduh, bunda lupa," kata Kartika yang menepuk keningnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Bagas.
"Ada apa sih, Nda?" Karina juga ikut bertanya.
"Bunda lupa memberi tahu Sherin kalo Bagus sedang sakit, dan bunda tidak mengajaknya ikut menemui Bagus," jawab Kartika menatap Bagas dan Karina.
"Ah, bunda Karin kira ada apa," ujar Karina.
"Ayah juga lupa," kata Bagas.
"Jadi bagaimana, Yah?" tanya Kartika menatap Bagas.
"Nanti saja kalau sudah sampai kita telepon Sherin agar dia tidak khawatir pada Bagus. Ayah tau dia pasti khawatir pada Bagus," ujar Bagas.
"Apa Sherin akan kecewa karena kita tidak mengajaknya?"
"Sherin pasti mengerti, Sayang. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan sekarang kita istirahat saja perjalanan masih lama," Bagas yang mencoba menenangkan Kartika agar tidak banyak pikiran.
Kartika mengangguk dan kemudian dia istirahat di kamarnya bersama Bagas. Perjalanan yang hampir 25 jam 45 menit membuat Kartika harus beristirahat agar kondisinya akan lebih fresh ketika pesawat landing.
Sherin yang masih belum memejamkan matanya karena rasa khawatirnya pada Bagus dan Sherin mencoba mendial no Karina dan ternyata ponsel Karina tidak aktif, begitu pula no Kartika.
"Apa mungkin mereka semua sudah tidur? Tapi ah, tidak waktu itu saja aku telepon malam bunda Kartika belum tidur. Tapi kemana mereka semua?" tanya Sherin saat memandang ponselnya.
"Sherin," panggil Randi yang baru saja tiba dari kantor.
"Iya, Yah!" sahut Sherin dari dalam kamar lalu dia keluar menemui sang ayah.
Sherin duduk di samping ayahnya dan mencium punggung tangan sang ayah. Sherin tersenyum melihat ayahnya yang sudah tak lagi muda namun masih saja gagah dan tampan.
"Kenapa, kok senyum liat ayah?" tanya Randi mengelus kepala Sherin.
"Ayah masih tampan walaupun usia ayah sudah tak lagi muda," jawab Sherin membuat Randi sang ayah tertawa.
Sherin mengerutkan dahinya, " Kok malah ketawa sih?"
"Kamu itu pasti sedang merayu ayah," Sherin menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kamu mau minta uang jajan?" tanya Randi dan Sherin kembali menggelengkan kepalanya.
"Sherin berkata jujur ayah," jawab Sherin.
"Iya iya, anak ayah memang paling jujur," ujar Randi mencium pucuk kepala Sherin.
"Oia, sudah ada kabar dari Bagus?" tanya Randi yang membuat Sherin mengingat kembali sang pujaan hati.
"Sherin belum dapat kabar dari Bagus, Yah. Bahkan bunda Kartika dan Karina ponselnya tidak aktif," jawab Sherin.
"Mungkin mereka sudah tidur dan kamu bisa besok lagi bisa pergi kerumahnya," ucap Randi dan Sherin mengangguk pelan lalu tersenyum.
*****
Hai....sambil menunggu Author up lagi...
ini ada rekomendasi novel bagus nih... mampir ya reader...