Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Terpesona


"Bagus, ayo cepat nanti kamu terlambat. " Teriak Kartika di membereskan meja makan.


"Memang jam berapa lombanya? " Tanya Bagas yang menyesap kopi yang masih panas.


"Jam 8, mas. Kamu bener nih gak mau lihat Bagus lomba sains? " Tanya Kartika merapikan pakaiannya yang berantakan.


"Aku ada meeting pagi ini dengan Randi. " Jawab Bagas.


"Sudah bilang sama Bagus, mas tidak ikut melihat dia lomba? " Tanya Kartika.


"Sudah semalam. " Jawab Bagus.


"Hmmm... Baiklah, aku dan Bagus pergi nanti kita berteman pas makan siang di kantormu. " Kata Kartika.


"Bagus, cepat sedikit nanti kamu terlambat. " Kartika lagi-lagi berteriak.


"Sayang, aku berangkat dulu. " Ujar Bagas yang menenteng tas kerjanya.


"Aku antar sampai pintu, sayang. " Kata Kartika yang menggandeng lengannya Bagas berjalan menuju pintu untuk mengantarkan Bagas pergi kerja.


"Kamu hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa hubungi aku. " Kata Bagas dengan posesifnya.


"Iya, sayang. " Jawab Kartika yang tersenyum menampilkan giginya.


Bagas lalu mencium kening Kartika dan dia lanjut naik mobil lalu melajukan mobil itu. Kartika menatap mobil suaminya itu hingga takt terlihat. Kartika kembali masuk dan melihat putranya sudah siap.


"Ayo, bun. " Kata Bagus yang juga menenteng tasnya.


Kartika dan Bagus berangkat ketempat lomba sains di sekolah dasar dua lima, Bagus terus menghafal soal-soal yang di berikan oleh gurunya. Dalam perjalanan Kartika tak hentinya tersenyum melihat putranya yang sudah tumbuh menjadi anak yang mandiri dan anak yang pintar. Dia sangat bangga memiliki Bagus yang sudah banyak memenangkan lomba.


"Bunda, sudah sampai? " Tanya Bagus yang melihat di depan banyak anak-anak yang berlalu lalang.


"Sudah, itu ibu Mia sudah datang. Sepertinya dia menunggumu, sayang. " Kata Kartika yang menunjuk ke arah guru sains Bagus.


"Ayo turun. " Ujar Kartika yang turun dari mobil.


Bagus turun dan berjalan menemui ibu Mia guru sains di sekolah Bagus. Kartika tersenyum kalau ibu Mia menatap Kartika dan Bagus menghampiri perempuan yang berusia 38 tahun itu.


"Pagi, bu Mia. " Sapa Kartika yang mengulurkan tangan pada Mia.


"Pagi, bu. Halo Bagus apakah sudah siap? " Tanya Mia dengan memakai blazer abu-abu dan rambut yang di cepol.


"Bagus sudah siap bu guru. " Jawab Bagus bersemangat, Mia dan Kartika tertawa.


"Ayo masuk kita daftar ulang. Semoga kita juara, ibu yakin kamu pasti menang. " Ujar Mia yang merangkul Bagus sementara Kartika di belakangnya.


Di dalam ruangan, Kartika duduk di dekat dengan jendela karena ruangan yang begitu panas dan hanya memakai kipas angin di atasnya plafonnya.


Ketika lomba akan mulai, Kartika menangkap sosok laki-laki yang dia kenal di kantor suaminya. Randi yang sedang mendampingi putri semata wayangnya mengikuti lomba. Randi yang memakai jas warna hitam serta rambut yang rapi. Laki-laki itu menggandeng seorang perempuan seusia Bagus berambut panjang dan ikal.


Randi pun melihat Kartika yang duduk sendiri, sedangkan Mia memberi arahan pada Bagus. Randi mendekati Kartika lalu duduk di sampingnya.


"Nyonya Wirayudha, bagaimana kabarmu? " Tanya Randi yang berbasa-basi.


"Panggil saya Kartika saja, namaku Kartika. " Jawab Kartika dengan sedikit ketus. Randi tersenyum melihat Kartika.


"Sorry, apakah anakmu ikut lomba ini? " Tanya Randi yang sepertinya terpesona dengan kecantikan Kartika.


"Iya, itu dia disana bersama gurunya. " Jawab Kartika yang menunjuk ke arah Bagus.


"Aku juga mengantar putriku mengikuti lomba ini. " Kata Randi. " Itu putriku, Sherrin namanya. "Kata Randi lagi yang menunjukkan putri cantiknya.


Kartika dan Randi hanya diam dan tak ada lagi perbincangan antar kedua. Mereka hanya diam dan tak ada yang memulai bicara. Kartika yang menjaga jarak agar tak begitu berdekatan dengan Randi.


Randi yang terpesona dengan Kartika tak hentinya menatap Kartika. Sesekali Randi mencuri pandang melirik ke wajah Kartika yang begitu menggemaskan.


" Aduh, Randi ada apa denganmu? Dia istri sahabatmu, ingat kamu punya Sherrin. "Batin Randi.


Randi seorang duda beranak satu, istrinya meninggal ketika melahirkan Sherrin, hampir 9 tahun Randi betah menyendiri. Dia sibuk bekerja dan mengurus putrinya dan tak ada waktu untuk mencari pengganti istrinya.


" Bunda.. "Teriak Bagus yang berlari dari arah podium membawa piala.


" Wah, anak bunda hebat. " Kata Kartika yang memeluk Bagus.


"Sudah saya katakan, bu. Kalau Bagus pasti menang. " Ujar Mia tersenyum.


"Selamat ya Bagus. " Kata Randi yang merangkul Sherrin dan tersenyum menatap Bagus.


"Om, disini. " Sahut Bagus yang melihat Randi.


"Iya, om antar anak om ikut lomba juga. Ini anak om, Sherrin kenalkan ini anak teman papa. " Kata Randi yang menyuruh anaknya berkenalan dengan Bagus dan Kartika.


"Sherrin. " Kata gadis kecil itu menyalami tangan Kartika dengan mencium punggung tangannya.


"Bagus, namaku Bagus. " Ujar Bagus yang juga mengulurkan tangan pada Sherrin.


"Setelah ini kalian mau kemana? " Tanya Randi sambil berjalan beriringan dengan Kartika sedangkan anak-anak di depan mereka.


"Kita mau ke kantor mas Bagas dan mau makan siang disana. " Jawab Kartika. "Bukannya kamu ada meeting dengan suamiku? " Tanya Kartika menghadapkan wajahnya persis didepan Randi. Membuat Randi menjadi kikuk dan salah tingkah.


Jantung Randi seakan ingin lepas dari tempatnya. Wajah Kartika yang cantik mampu menghipnotis Randi yang menatap kagum.


"Ehemmm.. " Randi langsung berdeham dan memalingkan wajahnya mencoba menetralisir jantung dan hatinya.


"Kenapa? " Tanya Kartika yang sangat aneh dengan sikap Randi.


"Kenapa gue jadi bodoh begini ya? Stop Randi di sudah bersuami, jangan jadi pebinor. " Gumam Randi yangh hampir terdengar oleh Kartika.


"Kamu bilang apa? " Tanya Kartika menghentikan langkahnya.


"Ah, tidak. Aku hanya ingin bilang tadi yang meeting asistenku saja, karena aku tidak ingin mengecewakan Sheerin. " Kata Randi.


"Baiklah, aku pergi dulu. Terimakasih sudah mengantarkan kami sampai ke parkiran. " Ujar Kartika dengan senyuman.


"Sama-sama, salam untuk Bagas. " Ujar Randi yang membalas senyuman Kartika.


Kartika dan Bagus naik ke dalam mobil dan melajukan kendaraan roda empatnya. Dalam perjalanan Kartika menangkap sinyal aneh dari Randi yang diam-diam mencuri pandangan dan menatap intens dirinya.


Satu jam Kartika telah sampai di kantor Bagas. Bagus langsung berlari menuju ruangan ayahnya setelah lift telah sampe.


"Ayah.. " Panggil Bagus yang langsung berlari menghampiri Bagas yang sedang berdiri sambil menelepon lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Anak ayah, bawa apa ini? " Tanya Bagas yang mencium pucuk kepala Bagus.


"Bagus menang juara 1 lomba sains. " Kata Bagus dengan bangga.


"Wah, anak ayah hebat. Mau hadiah apa sekarang? " Tanya Bagas yang melihat piala yang di bawa Bagus.


"Oia, yah. Tadi ada om Randi yang antar anaknya ikut lomba. " Kata Bagus.


"Randi? " Ucap Bagas yang memandang istrinya dengan mengerutkan dahinya.


"Dia antar anaknya, mas. " Ucap Kartika yang tidak ingin Bagas salah paham pada dirinya.


"Oh iya, dia mempunyai putri aku lupa. " Jawab Bagas dengan menampilkan gigi jejeran giginya.


"Anak om Randi juara 2, yah. " Kata Bagus.


"Anak ayah hebat, siang ini kita makan dulu sambil jalan-jalan. Sekalian ayah mau kasih hadiah untuk Bagus. " Kata Bagas yang memeluk bangga pada putranya.


*Hai... Readers... Yang masih setia menunggu cerita Babang Bagas dan adek Bagus juga Bunda Kartika.


*Maafkan author yang hanya bisa up 1 bab sehari.. maklum dunyat Author masih sibuk..


*Author kasih visual babang Bagas dan adek Bagus,, Entah masuk tidak karakternya tapi author suka aja sama mereka.


*Silahkan like, koment, hadiah dan votenya ya..


*Salam 'ByYou'


Abang Bagas



Adek Bagus



Semoga reader suka sama visualnya.. Author bingung cari visualnya.. jadi idola author aja nih... ☺