Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Randi Alvaro


"Bunda... " Panggil Bagus yang keluar dari gerbang sekolah sambil berlari.


"Sayang, bagaimana di sekolah mu? " Tanya Kartika yang mengusap puncak kepala anaknya.


"Bagus, senang sekali hari ini ikutan lomba cerdas cermat menang juara 1. " Kata Bagas yang mendongak menatap wajah Kartika lalu tersenyum.


"Anak bunda hebat ya ternyata. " Ucap Kartika yang mencium puncak kepala Bagus.


"Kita ke kantor ayah, Bun? " Tanya Bagus yang sudah masuk ke mobil.


"Iya, Sayang. Kita makan siang bersama ayah. " Kata Kartika yang menyalakan mesin mobilnya yang mulai membelah jalanan yang sedikit macet.


"Bunda, bulan depan sekolah Bagus akan mengadakan perlombaan sains. Terus ibu guru meminta tolong agar Bagus ikut lomba. " Kata Bagus yang menggeser duduknya menjadi menghadap Kartika.


"Memangnya Bagus siap mempelajari sains? " Tanya Kartika menatap dengan senyuman.


"Bagus, bisa tadi di kasih pertanyaan sama ibu guru Bagus bisa jawab. " Ujar Bagus tersenyum.


"Syukur kalo Bagus bisa, kapan lombanya? " Tanya Kartika yang menatap kedepan jalan.


"Bulan depan, Bunda. Tadi bunda gak dengar Bagus ngomong. " Kata Bagus memasang wajah yang marah.


"Oia, maaf. Bunda tidak konsentrasi. " Jawab Kartika tersenyum.


Satu jam perjalanan, sampailah mereka di gedung tinggi yang bertuliskan PT. Wirayudha corp. Kartika dan Bagus masuk dan banyak karyawan yang menyapa dan tersenyum pada mereka sambil menundukkan kepala mereka.


Kartika dan Bagus naik ke dalam lift menuju lantai 25 dimana tempat sang ayah berada. Kemudian dari jauh Kartika melihat sosok laki-laki yang berlari mengejar lift yang akan segera tertutup. Kartika menekan tombol agar lift tidak tertutup, dan akhirnya laki-laki itu masuk sambil tersenyum pada Kartika.


"Terimakasih. " Ucapnya.


"Sama-sama, anda mau ke lantai berapa? " Tanya Kartika saat lift tertutup.


"Lantai 25. " Jawab laki-laki itu sambil membereskan dasi yang terikat di lehernya.


"Kita satu arah. " Kata Kartika yang menekan tombol disamping pintu lift.


Kartika mencium bau parfum laki-laki itu sangat harum dan belum pernah melihat seorang laki-laki yang ada di depannya di kantor suaminya itu. Mungkin dia klien suaminya dan mungkin dia datang untuk rapat.


"Bunda, Bagus lapar. " Kata Bagus yang menggoyangkan lengan Kartika.


"Sebentar lagi kita sampai, Sayang. " Jawab Kartika.


"Maaf, ini om punya coklat buat kamu. " Kata laki-laki itu yang memutarkan badannya menghadap Bagus.


"Terimakasih, Om. " Jawab Bagus yang menerima coklat yang ada di tangan laki-laki itu.


"Bagus, gak sopan. " Kata Kartika.


"Bagus lapar, Bunda. " Celoteh Bagus yang membuka coklat dan memakannya.


"Tidak apa. " Jawab laki-laki itu dengan datar.


"Emmm... Terimakasih, maaf anakku merepotkan. " Ucap Kartika.


"Tidak apa. " Jawab laki-laki itu.


Kemudian pintu lift terbuka dan mereka keluar bersama. Laki-laki itu langsung berjalan dengan terburu-buru, Kartika hanya menatap punggung laki-laki itu yang sudah menjauh dari pandangannya.


"Bagus, cepat jalannya. " Perintah Kartika yang melihat Bagus berjalan agak lambat.


"Sebentar, Bun. Bagus sedang makan coklat. " Jawab Bagus yang mulutnya penuh dengan coklat.


"Sayang, kita ke toilet dulu. Lihat mulutmu yang kotor karena makan coklat, lain kali jangan sembarangan menerima pemberian orang yang kita tidak kenal. Nanti ayah akan marah jika tahu Bagus tidak menurut. " Kata Kartika dengan tegas.


"Tapi om itu terlihat baik, Bunda. Lihat saja penampilannya mirip dengan ayah. " Jawab Bagus yang dengan banyak alasan menjawab perkataan Kartika.


"Tapi kita tidak tahu niat di balik kebaikan seseorang, Sayang. Sudah kamu jangan banyak bicara, sini mulutnya bunda bersihkan. " Kata Kartika yang masuk kedalam toilet wanita dan membersihkan mulut Bagus.


Setelah selesai membersihkan mulut Bagus, Kartika kembali berjalan menuju ruangan Bagas. Kartika melihat laki-laki itu masuk kedalam ruangan Bagas bersama Hary dengan senyum yang manis.


Tak lama kemudian pintu terbuka, lalu Kartika melihat Bagas keluar bersama Hary dan laki-laki itu. Bagas tersenyum melihat istrinya yang berdiri menyambut dirinya.


" Sayang. " Panggil Bagas yang menghampiri Kartika lalu menarik pinggangnya lalu mencium keningnya.


"Aduh, Mas malu banyak orang. " Bisik Kartika di telinga Bagas.


"Aku rindu kamu. " Bisik Bagas pula yang membuat Kartika bergidik.


Laki-laki itu menatap sambil tersenyum melihat Bagas yang begitu posesif dengan perempuan yang bertemu di lift. Randi Alvaro laki-laki itu dia memiliki perawakan tinggi, rambut sedikit cepak, hidung mancung dan dengan sedikit bulu halus di rahangnya. Randi sahabat Bagas dan Hary sewaktu kuliah di London, sepertinya Randi mengagumi sosok Kartika istri sahabatnya.


"Sayang kenalkan, ini Randi teman aku sewaktu kuliah. " Kata Bagas.


"Om, teman ayah ya? " Tanya Bagus yang muncul dari balik tubuh orang tuanya.


"Iya, Sayang. " Jawab Randi yang mensejajarkan dengan tubuh Bagus.


"Kalian sudah kenal? " Tanya Bagas memandang Kartika lalu Randi bergantian.


"Iya, Yah. Om ini baik kasih Bagus coklat. " Kata Bagus. Randi pun tersenyum memadan Kartika.


Kartika menjadi salah tingkah ketika Randi memandangnya dengan senyuman yang membuat semua wanita pasti akan jatuh cinta. Bagas pun mengetahui arah pandangan sahabatnya itu, dan melihat istrinya mengalihkan wajahnya ke sembarang arah.


"Jangan pandangin istri gue terus, lo. " Kata Bagas dengan tegas dan sedikit galak.


"Sorry, bro. " Ucap Randi yang berdiri dan tersenyum.


"Kita sudah selesai dan besok lo tinggal tanda tangan kontrak saja. Nanti lo akan banyak berurusan dengan Hary, karena dia yang menghandle proyek ini. " Kata Bagas yang tangannya masih setia memelum pinggang istrinya.


"Mas, aku masuk ke dalam ruanganmu, ya. " Pinta Kartika yang tak ingin terus lama-lama Randi menatapnya.


"Baiklah, gue masuk dulu. Bagus ayo kita kedalam ruangan ayah. " Ajak Bagas yang mengulurkan tangannya pada Bagus. Sementara tangan satunya tetap memeluk pinggang Kartika.


Bagas masuk dan Kartika langsung membuka paperbag yang dia bawa untuk makan siang bersama anak dan suaminya. Bagas melihat istrinya yang sedang membereskan meja yang masih penuh dengan berkas.


"Dimana kamu bertemu Randi? " Tanya Bagas menginterogasi Kartika.


"Di lift, Mas. Waktu itu dia berlari terburu-buru dan masuk ke lift yang sama. " Jawab Kartika sambil menata makanannya.


"Aku tidak suka dia menatapmu seperti itu. " Ujar Bagas dengan ketus.


"Kamu cemburu? Lagian aku juga tidak suka dia terus menatap aku. " Kata Kartika.


"Bagus.. " Panggil Bagas yang berjalan menuju tempat Kartika sudah siap menyiapkan makanannya.


"Ayah, om itu baik sekali. " Kata Bagus yang menceritakan pertemuannya dengan Randi.


"Lain kali, kalau Bagus belum mengenal seseorang jangan diterima pemberiannya itu. Paham. " Kata Bagas dengan tegas dan rahang yang mengeras.


"Baik, Ayah. " Jawab Bagus dengan sedih, lalu Kartika mengusap punggung anaknya. Kartika tahu Bagas sedang cemburu karena ada laki-laki lain yang mencuri perhatian anak dan istrinya.


"Sudah, Mas. Kasihan Bagus jadi sedih, lebih baik ayo kita makan. Bagus, ayo makan ini makananmu. " Kata Kartika dengan lembut memberikan piring dengan lauk dan nasi.


"Aku sudah tidak selera. " Ujar Bagas yang berdiri berjalan kembali ke kursinya lalu kembali bekerja. Kartika menghembuskan nafasnya melihat kelakuan suaminya yang kekanak-kanakan.


*Hai... Reader.. Terimakasih masih setia menunggu dan membaca karya author.


*Maaf selalu author ucapkan karena up selalu telat dan hanya satu bab.


*Maaf juga author masih belum bisa memberikan tokoh visual untuk karakter Bagas, Kartika dan Bagus. Tapi kalo abang Randi author sudah punya visualisasi nya..


Silahkan komen, like dan hadiahnya ya.. juga vote jangan lupa.


Abang Randi... Siap mengobrak-abrik hati Bunda.. ☺