
Hari ini Kartika sangat tidak bersemangat, tubuhnya seakan remuk dan lelah melanda dirinya. Sudah seminggu ini Kartika merasa pusing dan badannya rasanya lelah, dan mudah mengantuk. Sementara Bagas mengalami mual dan pusing setiap pagi.
"Sayang, kitatas periksa kerumah sakit? Aku tidak tega melihatmu seperti ini, setiap makan pasti keluar semuanya." Kata Kartika.
"Tidak, sayang. Aku baik-baik saja,mungkin hanya kelelahan." Jawab Bagas yang bersandar di pintu kamar mandi.
"Sayang, hari ini tidak usah ke kantor lagi. Kamu istirahat saja," ujar Kartika.
"Hari ini aku mau meeting dengan Randi," kata Bagas.
"Tapi lihat kondisimu? Wajahmu sangat pucat dan juga keringat dingin keluar semua." Ucap Kartika yang memberikan air jeruk hangat plus madu.
"Nanti juga aku baikan,kamu masih lemas?" tanya Bagas.
"Jangan pikirkan aku, yang penting pikirkan kondisimu sendiri." Jawab Kartika.
Bagas duduk di tepi ranjang lalu menatap istrinya yang pagi ini begitu menggoda, Bagas lalu mendekati dan memeluk istrinya dari belakang.
"Mas, Bagus masih dirumah." Jawab Kartika.
"Sebentar saja, sayang. Janji aku gak akan lama,"
Kartika tidak bisa menolak keinginan suaminya yang sudah berkabut gairah, terjadilah pergumulan panas di pagi hari Bagas yang sudah melupakan bahwa dirinya sedang mual dan pusing, seketika mendadak sehat.
Satu jam mereka beraktivitas pagi, dan mereka pun keluar dari kamar. Bagas melihat Bagus duduk di meja makan sambil menikmati sarapan yang di buat Kartika.
"Ayah sama bunda lama," ujar Bagas.
"Ayah sakit, Nak." Jawab Kartika.
"Sakit? Ayah sakit apa?" tanya Bagus.
"Tidak apa-apa hanya mual saja," ujar Bagas sambil tersenyum.
"Bagus, tidak mau kesekolah bunda." Kata Bagus.
"Loh, kenapa?" tanya Kartika. "Bukannya hari ini kamu ada ulangan? "
"Bagus mau menunggu Ayah dirumah saja," jawab Bagus.
Bagas tersenyum mendengar penuturan putranya. "Ayah, tidak apa-apa, sayang. "
"Tapi wajah ayah pucat dan Bagus mau menunggu ayah dirumah," ujar Bagus.
"Bagus,nanti ketinggalan ulangannya."
Bagus masih merajuk, dia tetap tidak mau sekolah karena ingin menemani ayahnya. Bagas sangat senang melihat anaknya yang begitu menyayangi dirinya.
Bagas tersenyum dan mengusap punggung Bagus. "Ayah, tidak apa-apa. Sekarang ayah ingin berangkat ke kantor, "
"Kita berangkat bersama, ya. Hmm.." ucap Bagas dan Bagus mengangguk pelan.
"Baiklah, Bagus siap-siap sudah waktunya berangkat." Kata Kartika yang mengambil tas dan kotak bekal untuk Bagus.
Bagas dan Bagus berangkat bersama, Bagus yang sedari tadi mengoceh membuat Bagas senang, Putranya sungguh aktif dan pintar, terbukti banyak perlombaan yang diikuti Bagus pasti akan menang.
"Nah, sudah sampai. Belajar yang rajin," ucap Bagas yang memberhentikan mobilnya di depan gerbang sekolah Bagus.
"Bagus, masuk ya. Ayah hati-hati di jalan," kata Bagus yang turun dari mobil.
"Belajar yang rajin," kata Bagas yang membuka kaca mobil dan langsung berteriak. Bagus hanya memberikan tanda dengan kedua jarinya yang membentuk huruf O.
Sementara itu, Kartika yang merasa pusing dan lemas dia duduk di sofa. Hari ini Kartika memperkerjakan seorang art, karena Bagas tidak ingin Kartika kelelahan mengurus dirinya, rumah dan juga toko dessertnya.
"Ibu,kenapa?" tanya Mirna art baru yang usianya sudah masuk 50 tahun.
"Hanya pusing dan lelah,bi." Jawab Kartika.
"Mau saya buatkan teh manis hangat, bu."
"Tidak, aku cuma pingin makan mangga muda." Kartika tiba-tiba ingin makan mangga muda yang sudah dia bayangkan.
"Mangga muda? Apa ibu sedang hamil?" tanya Mirna.
"Hamil?" Kartika mengetuk-ngetuk dagunya.
"Iya, apa ibu sedang ngidam? Tadi pagi saya lihat bapak juga mual-mual," ujar Mirna.
"Bi, coba tolong ambilkan tespack di laci lemari depan." Kata Kartika yang begitu bahagia jika memang dirinya hamil.
"Ini, bu." Mirna memberikan sebuah alat tes kehamilan. Dan Kartika mencobanya di kamar mandi.
Betapa terkejutnya dia saat melihat dua garis biru. Bahagia langsung merasuki hati Kartika, berapa tahun dirinya menanti kehadiran seorang anak lagi, kini Tuhan memberikan kepercayaan lagi untuk menjadi orang tua.
Senyum Kartika tersimpul dan bibirnya yang terlihat jelas kebahagiaan yang tengah dirasakan Kartika. Mirna yang masih baru seminggu kerja di rumah Kartika, juga ikut merasakannya.
"Bi, aku hamil lagi. Terimkasih Tuhan," ucap Kartika yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Alhamdulillah, bu. Bapak mau di kasih tahu bu? " tanya Mirna.
"Nanti saja kalau pulang dari kantor," ujar Kartika tersenyum bahagia membayangkan reaksi wajah suaminya.
"Jadi mangga mudanya, bu?" tanya Mirna.
"Jadi, bi. Aku mau makan itu, sepertinya enak sekali. Aduh membayangkan mangga muda saja air liur ku menetes," ucap Kartika yang mengusap bibirnya.
"Baik, bu. Saya ambilkan di pohon belakang rumah," kata Mirna.
"Kalau tidak bisa, bibi suruh saja pak Dodo." Sahut Kartika.
Sore hari Bagas pulang dengan kondisi yang sudah acak-acakan. Dasinya sudah kendur dan kemeja sudah kusut bahkan rambutnya sudah acak-acakan. Kartika menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman yang manis dan menggoda.
"Sayang,ada apa denganmu? Aku lihat kamu senyum-senyum terus." Bagas yang bertanya karena melihat perubahan pada istrinya."
"Ada berita bahagia, sekarang mas mandi dulu. Nanti makan malam aku ingin memberikan surprise pada mas dan Bagus." Kata Kartika.
"Surprise?"
"Iya, sayang." Sahut Kartika yang sudah menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Makan malam, Bagas masih penasaran surprise apa yang akan di berikan istrinya. Bagas tidak sabar, begitu juga Bagus yang sedari tadi tak menyentuh makanannya.
"Bunda, ayo katakan katanya bunda ingin memberikan surprise untuk Bagus." kata Bagus.
Kartika tersenyum lalu mengeluarkan alat te kehamilan pada Bagas. Kemudian Bagas melotot kerarah Kartika yang tersenyum bahagia. Bagas seketika bersujud syukur atas nikmat yang Tuhan berikan pada dirinya. Sungguh Bagas tak menyangka hidupnya akan lurus mempunyai keluarga dan anak yang pintar, juga calon anak yang di dalam rahim Kartika.
"Bagus akan punya adik," ujar Kartika yang terlihat bahagia.
"Adik?" Bagus masih tidak percaya. "Masih diperut bunda adiknya?" tanyanya yang di angguki oleh Kartika dan Bagas.
"Yes, Bagus punya adik." Bagus yang melompat kegirangan. Bagas mencium kening Kartika dengan penuh cinta.
"Terimakasih, sayang. Karenamu aku bahagia bisa menjadi seorang ayah kembali." Ucap Bagas memeluk Kartika.
"Sama-sama, mas. Kamu yang selama ini memberikan support dan membuat aku harus bersabar," jawab Kartika.
"Sementara kamu jangan ke toko dulu, banyak istirahat dan makan yang banyak. Besok kita periksa ke dokter kandungan." Kata Bagas.
"Baik, tuan aku akan menuruti semua keinginan tuan."
"Sungguh aku bahagia sekali," ujar Bagas.
"Bagus juga senang sekali, bunda." Kata Bagus yang mengusap perut Kartika yang masih rata.
"Nanti, adiknya laki-laki atau perempuan?" tanya Bagas pada putranya.
"Apa saja yang penting Bagus punya adik," jawab Bagus.
"Anak bunda hebat, nanti kalau adiknya sudah keluar Bagus ajak mainnya," kata Kartika.
"Pasti, bunda. Bagus akan ajak main dengan Dennis," jawab Bagus tersenyum.
*Hai... Readers setiaku.. Maaf ya author baru up.
*Kesibukan Author membuat author mengetik cerita.
*Semoga cerita yang author up banyak memberi like juga komen.
*Karena komen para reader memberikan semangat untuk author.
*Salam hangat 'ByYou'
Love seladang untuk author... ❤❤❤❤❤