Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
EXTRA PART 5 " Perpisahan Dengan Bagus"


Sherin dan Bagus sedang menikmati makan malam berdua di sebuah cafe, Sherin dan Bagus sudah jadian dan mereka adalah sepasang kekasih yang sangat serasi. Bagas yang tampan namun tegas dan sangat dingin pada wanita, kecuali pada Sherin dan ibunya saja dia mau bicara dan juga adik perempuannya yang cerewet.


"Gus, kapan kamu akan berangkat ke New York mengikuti olimpiade?" tanya Sherin yang menyesap minumannya.


"Dua minggu lagi, kenapa? Kamu ingin ikut denganku?" tanya Bagus balik, dia menatap sang kekasih dengan senyum.


"Ah, tidak. Aku hanya bertanya, tapi kami malah bertanya kembali," jawab Sherin.


"Aku pikir kamu akan kangen sama aku," ujar Bagus tersenyum.


Bagus yang terkenal dingin pada cewek dan tak pernah dekat dengan perempuan sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan hanya Sherin cewek satu-satunya yang membuat Bagus dekat dan akrab. Bagus tidak dekat dengan cewek yang lain selain Sherin dan ibunya juga Karin adiknya.


"Sher, kalo aku pergi ke New York. Kamu jaga hatimu untukku ya," kata Bagus.


"Kamu kan cuma dua minggu disana, Gus," jawab Sherin.


"Tapi nanti, kalo menang aku bakalan langsung di rekrut di tempat perusahaan yang mengadakan perlombaan tersebut," ujar Bagus.


"Berapa lama?" tanya Sherin dengan sedih.


"Aku tidak tau," jawab Bagus.


"Aku akan menyusul kamu disana, biar tidak ada yang menggodamu disana," ujar Sherin membuat Bagus terkekeh.


"Segitu cintanya kamu sama aku,Sherin?" tanya Bagus yang terkekeh menatap Sherin yang matanya berkaca-kaca.


"Aku sangat mencintaimu, Bagus Wirayudha. Dulu bukannya kamu berjanji akan menikah dengan ku ketika kita sudah dewasa," kata Sherin.


"Iya, aku ingat. Kalo aku sudah sukses aku hanya akan menikah denganmu," jawab Bagus.


"Apakah kamu tidak mencintai aku?" tanya Sherin.


"Aku sangat mencintaimu, sejak pertama kali melihatmu menjadi murid baru sewaktu kita sekolah dasar," kata Bagus.


Sherin tampak malu, pipinya tiba-tiba menjadi merah seketika mendengar penuturan Bagus yang memang sejak kecil dia sudah jatuh cinta pada Sherin. Bagus yang berkata didepan kedua orangtuanya dan orang tua Sherin bahwa dirinya akan menikahi Sherin ketika dewasa akan diwujudkannya beberapa tahun kedepan.


"Kita pulang, yuk. Aku antar kamu pulang ya," kata Bagus yang di angguki Sherin.


Bagus dan Sherin keluar dari cafe lalu Bagus mengantar Sherin pulang. Didalam mobil Bagus dan Sherin hanya diam. bagai orang asing, Sherin yang tampak malu hanya menatap lurus ke depan. Bagus menengok kearah Sherin yang menatap lurus, kemudian tangan Bagus menggenggam tangan Sherin dan Sherin melirik Bagus. Bagus hanya tersenyum dan Sherin pun membalas senyuman Bagus.


"Kamu kenapa?" tanya Bagus.


"Ah, tidak apa-apa," jawab Sherin.


"Kamu ingin ikut aku?" tanya Bagus terkekeh.


"Jika kamu menang, berarti langsung kontrak dengan perusahaan tersebut," tanya Sherin dengan penasaran.


"Iya, sebelumnya aku sudah bilang ayah dan bunda dan mereka yang awalnya tidak setuju akhirnya setuju. Aku ingin menjadi seorang yang ahli di robotik," kata Bagus.


"Kenapa kamu tidak meneruskan perusahaan om Bagas?" tanya Sherin.


"Aku tidak berbakat untuk menjadi pengusaha," jawab Bagus.


"Lalu siapa yang nanti akan meneruskan usaha om Bagas yang sudah berkembang sangat maju?" tanya Sherin lagi.


"Mungkin Karin," jawab Bagus yang pandangannya lurus kedepan.


"Tapi apakah kamu benar tidak tertarik dengan menjadi pengusaha dan membangun perusahaan ayahmu sendiri?"


"Mungkin sekarang aku tidak terpikirkan untuk menggantikan ayah, mungkin jika tidak ada lagi yang bisa menggantikan ayah. Terpaksa aku yang akan menggantukannya" jawabnya.


Sherin menatap kagum Bagus yang sedang fokus menyetir mobil yang ayahnya berikan saat usianya 17 tahun. Bagus kini berusia 18 tahun dan sudah menjadi anak muda yang tampan mirip Bagas sewaktu muda.


Tak lama mobil Bagus berhenti di depan gerbang rumah Sherin. Bagus menyandarkan punggungnya di jok mobil sambil menatap Sherin.


"Kamu rindukan aku tidak, jika aku jauh dari kamu?" tanya Bagus yang menatap sekilas ke arah Sherin.


"Tunggu aku ya, nanti setelah kontrak dengan perusahaan itu selesai aku akan langsung menikah denganmu," kata Bagus yang menggenggam tangan Sherin.


Sherin menatap Bagus dan kini mereka berjarak hanya beberapa meter saja. Tangan Bagus menyelipkan rambut Sherin ke belakang telinganya, lalu mata mereka saling memandang dan Bagus tersenyum melihat Sherin menutup matanya. Kemudian Bagus hanya mencium kening Sherin lalu kembali ke posisi sebelumnya menyandarkan punggungnya.


"Sudah, sana masuk. Nanti om Randi dan tante Freya menunggumu," kata Bagus tersenyum. Sherin yang malu tak menyangka Bagus akan mencium keningnya.


"Baiklah, kapan kamu berangkat ke bandara?" tanya Sherin.


"Lusa, aku harap kamu bisa mengantarkan aku ke bandara karena aku ingin melihatmu yang terakhir kalinya," ujar Bagus.


"Apakah kita akan berpisah?"


"Kita berpisah untuk sementara, Sayang,"


"Aku akan selalu merindukanmu, Bagus,"


Kemudian Sherin mencium pipi Bagus dan langsung keluar dari mobilnya dan melambaikan tangannya pada Bagus lalu masuk kedalam rumahnya. Bagus tersenyum sambil memegang pipinya dan lalu menjalankan mobilnya.


Sesampainya dirumah, Bagus masuk kekamarnya dan melihat semua keperluannya sudah disiapkan oleh sang bunda.


"Semua sudah bunda siapkan, dan kamu tinggal berangkat saja," kata Kartika yang masuk kekamarnya Bagus.


"Terimakasih, Bun. Bagus akan merindukan bunda dan Karina juga ayah," ucap Bagus yang memeluk bundanya.


"Bunda juga pasti sangat merindukanmu, Sayang. Oia, bagaimana Sherin?"


"Bagus janji setelah selesai kontrak dengan perusahaan itu Bagus akan langsung menikahi Sherin, bunda setuju kan Bagus menikah dengan Sherin?"


"Sangat setuju, sejak dulu bunda ingin sekali Sherin jadi menantu bunda," jawab Kartika mengusap punggung anaknya.


"Apa om Randi dan tante Freya juga setuju kalo Bagus jadi menantunya?"


"Oh, pasti. Mereka pasti sangat setuju, Sayang,"


"Terimakasih ya, Bun," ucap Bagus mencium kening Kartika lalu memeluknya.


"Kamu sudah makan?" tanya Kartika lalu Bagus hanya mengangguk pelan.


"Ya sudah kamu istirahat, besok kamu akan kesekolah untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan disana," kata Kartika.


Bagus merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang sejak kecil masih sama. Pemandangan dikamarnya pun masih sama persis dia sewaktu kecil. Robot yang dia buat pun masih ada, walaupun sudah rusak.


"Ah, aku pasti akan merindukan kamar ini dan kamu Dennis," gumam Bagus mengusap robot kesayangannya.


Hari yang ditunggu sudah tiba, Bagus yang sudah siap di depan pintu masuk boarding pass. Dia menunggu Sherin datang dan menemuinya untuk terakhir kalinya. Tak lama kemudian sosok gadis cantik dengan rambut yang panjang tergerai berjalan tergesa-gesa karena sudah terlambat dia datang. Bagus tersenyum melihat gadis itu datang menghampirinya.


"Sherin, akhirnya kamu datang," kata Bagus


"Aku menepati janjiku, untuk mengantarkan kamu pergi. Dan aku akan menunggumu, Bagus," ujar Sherin.


"Terimakasih, Sherin,"


Bagus dan Sherin saling menggenggam tangan mereka lalu Bagus mencium kening Sherin di hadapan keluarganya. Sherin sangat malu dan lalu memeluk Bagus. Perpisahan dengan seseorang yang sangat dia cintai sungguh menyakitkan.


Sherin menatap punggung Bagus yang sudah masuk dan melambaikan tangannya. Sherin meneteskan airmata.


"Kalian kan bisa video call, Sayang," kata Kartika mengusap punggung Sherin.


*****


Hai.. sambil menunggu Author up extra part Abang Bagus dan Sherin...


Mampir yuk ke karya Author yang keren nih...Ceritanya bagus keren loh...