
Pernikahan Bagas dan Kartika adalah pernikahan yang paling ramai, ribuan undangan serta wartawan yang datang begitu menyoroti berita tentang pernikahan termegah. Bagas melihat Kartika yang kelelahan dan melihat wajah perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu terlihat lelah.
"Capek? " Tanya Bagas menggenggam tangan Kartika.
"Sedikit, mas. Kaki rasanya pegal semua. " Kata Kartika yang duduk sambil memijat kakinya.
"Heels nya bisa kamu lepas saja. Jika itu membuatmu lelah, sayang. " Kata Bagas yang berjongkok membuka sepatu heels Kartika.
"Mas, tidak usah aku malu masih banyak tamu dan lihat ada ibu dan bapa juga mami. " Ujar Kartika yang tengak tengok melihat kiri kanan.
"Sudah tidak apa-apa. Biar aku bantu buka. " Ucap Bagas.
Kartika hanya pasrah ketika Bagas membuka heels nya dan memijat kakinya. Seluruh tanu undangan merasa sangat iri melihat kemesraan pasangan itu. Bagas yang di perhatikan para tamu hanya bersikap cool saja, sedangkan Kartika tampak malu dan pipinya memerah ketika para tamu bersorak pada Bagas.
Malam semakin larut dan pesta pernikahan sepertinya sudah mulai sepi, seluruh tamu sudah tak lagi berdatangan. Bagas dan Kartika duduk sambil makan di meja khusus pengantin.
"Ibu besok saja pulangnya, nanti di antar supir mas Bagas. " Kata Kartika yang melihat ibunya sudah lelah.
"Iya, nak. Oia Bagus sudah tidur tadi do bawa sama Gayatri. " Ujar ibu Hani.
"Bapa kemana bu? " Tanya Kartika yang mencari ayahnya yang sudah tak lagi muda.
"Bapamu sedang ke kamar mandi. " Jawab ibu Hani.
"Nak Bagas, Ibu titip nak Kartika dan Bagus. Bimbing dia menjadi istri yang sholehah, bahagiakan dia. Ibu sudah menyakitinya dulu ketika dia kerumah dengan keadaan hamil di tinggal suaminya ibu sudah mengusirnya dan menyakitinya. Tolong jangan sakiti dia, jika nak Bagas menyakitinya tolong kembalikan pada kami selaku orang tuanya. " Kata ibu Hani.
"Bagas tidak akan buktikan dengan janji tapi Bagas akan buktikan dengan katanya dan sikap Bagas. Akan selalu Bagas bahagiakan Kartika dan Bagus, ibu dan bapa tak usah khawatir. " Kata Bagas yang menggenggam tangan Kartika dengan sangat mesra dan tatapan yang penuh cinta.
"Gas, Mami sama Hary pulang dulu ya. Sekali lagi mami ucapkan selamat ya sayang, jangan terlalu keras di gempurnya, ya. " Kata Mami Ammar yang menggoda Bagas dan Kartika.
"Sip, Mi. Don't wory Bagas akan hati-hati. " Ucap Bagas yang di pukul lengannya oleh Kartika.
"Kartika Mami pulang ya, nikmati malam pertamanya ya. " Ledek mami Ammar pada Kartika yang tersenyum malu.
"Terimakasih ya mi untuk pestanya, Kartika bahagia sekali, mi. " Kata Kartika yang memeluk mertuanya. Mami Ammar membalas memeluk Kartika dan kemudian berpamitan pada kedua orang tua Kartika.
"Bro, selamat ya. Akhirnya lo enak-enakkan lagi, pelan-pelan ya bro jangan main kasar. " Bisik Hary sambil memeluk sahabat sekaligus sodaranya itu.
"Sip.. Thanks ya, bro. " Bagas membalas pelukan Hary.
Seluruh keluarga sudah kembali kerumah, sementara orang tua Kartika menginap di hotel. Begitu juga Bagus yang sudah tertidur bersama Gayatri.
Di dalam kamar pengantin, Kartika tampak gugup jantungnya terus berdetak kencang. Bagas keluar dari kamar mandi dia hanya memakai handuk di pinggangnya. Kartika menatap tubuh Bagas yang profesional dengan lengan yang kekar dan perut kotak-kotak. Bagas mengetahui Kartika sedang menatapnya dengan kekaguman.
"Kenapa, mau? " Tanya Bagas yang melihat Kartika masih memandang kagum Bagas.
"Apa sih, mas. " Jawab Kartika yang malu karena aksinya ketahuan oleh Bagas.
"Kamu tidak mandi? " Tanya Bagas yang mendekati Kartika yang sedang menahan malu. Bagas yang menggunakan boxer tanpa memakai baju, mendekati Kartika yang masih memakai baju pengantin.
Kartika berdiri dia akan beranjak menuju kamar mandi, lalu Bagas mencekal tangannya dan menatap wajahnya.
"Aku mandi dulu, mas. " Kata Kartika yang tersenyum.
"Aku hanya ingin membantumu membuka sleting belakang bajumu, sayang. " Kata Bagas yang membuka sleting baju pengantin Kartika.
Bagas menelan salivanya melihat kulit mulus, putih dan bersih. Bagas mengecup punggung Kartika dan terus menyelusuri leher dan telinganya. Kartika merasa ada desiran yang menusuk jantungnya. Kartika menggigit bibirnya menahan hasrat.
"Mas, aku mandi dulu. Bau keringat akunya. " Kata Kartika yang melepaskan pelukan Bagas dan langsung memasuki kamar mandi.
Tak lama kemudian Kartika keluar memakai baju tidur yang begitu s***i membuat Bagas makin panas dingin melihat tubuh Kartika yang menggodanya. Bagas mendekati Kartika dan langsung memeluk lalu mencium bibir Kartika.
Bagas langsung mengajak Kartika melakukan malam pertama yang sah menjadi suami istri.
Pagi hari matahari mulai memasukkan cahayanya lewat celah-celah kamar pasangan pengantin baru. Bagas yang mengerjapkan matanya menatap wajah cantik di pagi hari. Bagas mengelus setiap inci wajah Kartika.
Kemudian Kartika pun mengerjapkan matanya dan menatap Bagas yang tersenyum.
"Morning kiss. " Kata Bagas yang mencium sekilas bibir Kartika.
"Terimakasih, Mas. Sudah mau menerimaku dan Bagus menjadi bagian dalam hidupmu. " Kata Kartika.
"Kalian adalah hidupku dan aku tak bisa jauh dari kalian. " Kata Bagas yang mencium kening Kartika.
"Aku mandi dulu ya, Mas. Pasti Bagus akan mencarimu, dia sepertinya sangat menyayangimu. " Kata Kartika.
"Satu kali lagi ya, sayang. " Pinta Bagas menyeringai.
" Semalam kurang? " Tanya Kartika. Ya semalam Bagas terus menyentuh Kartika hingga waktu menjelang shubuh, dan tak memberi Kartika istirahat.
"Hmmm.. Ini kan pagi, aku ingin merasakan hangat dipagi hari. " Kata Bagas dan di angguki Kartika. Mendapat lampu hijau dari Kartika Bagas langsung melancarkan aksinya, hingga Kartika benar-benar lelah.
Tok.. Tok..
"Bunda, ayah. " Panggil Bagus yang mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
"Sayang, Bagus sudah mengetuk pintu. " Kata Bagas yang masih mendekap tubuh polos Kartika.
"Aku mandi, mas buka pintunya ya. " Ujar Kartika yang bangun dan menggulung selimut di tubuhnya.
"Aku buka pintu dulu, sepertinya Bagus sudah tidak sabar untuk masuk. " Kata Bagas yang mengenakan celana boxer dan kaos oblong. Kartika langsung berjalan ke kamar mandi dan Bagas membuka pintu.
"Ayah, lama sekali sih buka pintunya. " Kata Bagus dengan tangan di sedekapkan di dadanya dan bibir yang cemberut.
"Anak ayah kok marah? Kak Gayatri mana? " Tanya Bagas yang mensejajarkan tubuhnya dengan Bagus.
"Kak Gayatri sama nenek dan kakek sudah ada di bawah makan, Bunda mana? " Bagus menongolkan kepalanya ke dalam melihat bundanya tidak ada.
"Bunda sedang mandi, sayang. Bagus mau masuk? " Tanya Bagas yang menuntun Bagus masuk ke kamarnya.
Tak lama kemudian Kartika keluar dengan pakai dress maroon dengan lengan pendek. Rambutnya yang basah dan wangi membuat Bagas makin tak bisa jauh dari istrinya. Wangi tubuhnya seperti morfin yang membuatnya kecanduan.
"Hei, anak Bunda udah ganteng. " Kata Kartika yang mencium pipi Bagus.
"Aduh Bunda, kenapa sih ciumin Bagus terus? Baguskan udah besar malu kalo di ciumin terus, Bunda cium ayah aja tuh, kan sekarang Bunda punya ayah. " Kata Bagus yang mengusap jejak ciuman Kartika.
"Kenapa? Siapa yang mau di cium? " Tanya Bagas yang menenteng handuk.
"Bunda, mau di cium sama ayah. " Kata Bagus menunjuk pada Kartika dan Kartika tersenyum.
"Anakmu gak mau di cium, mas. " Ujar Kartika yang duduk di meja rias.
"Nanti, ayah mandi dulu baru bunda ayah cium. " Kata Bagas memeluk Kartika.
"Mas, badanmu kan kotor. " Ujar Kartika.
"Aku tak bisa jauh darimu, sayang. " Kata Bagas mencium pipi Kartika.