
Di kantor perusahaan Wirayudha, Bagas dan Kartika sibuk mencari Bagus. Wina dan Hary pun membantu mencari Bagus, Kartika mulai menangis sambil menggandeng tangan Bagas. Bagas dan Kartika turun ke lobby bertanya pada receptionist dan satpam. Bahkan Bagas menyuruh satpam dan beberapa bodyguard mencari pewaris tunggal Wirayudha.
"Mas, bagaimana ini? Aku takut Bagus di culik lagi. " Kata Kartika menggenggam tangan Bagas.
"Sabar, Bagus masih ada di sini. " Kata Bagas.
Kemudian Bagas melihat Hary dan Wina datang sambil berlari. Hary memberi kabar sepertinya dia belum menemukan Bagus. Bagas kesal lalu mencoba kembali ke ruangannya. Hary dan Wina berjalan di belakang suami istri yang tersenyum senyum.
"Kenapa kalian, senyum-senyum? " Tanya Bagas yang menoleh kebelakang melihat Wina dan Hary tersenyum dan menahan tawa mereka.
"Tidak, Bos. Kami hanya teringat waktu mencari Bagus dengan pak Hary. " Jawab Wina.
"Ck.. Kalian itu cocok jadi pasangan, pasangan gila. " Kata Bagas yang jalan sambil menggandeng tangan istrinya. Sementara Hary dan Wina saling pandang.
Setiba di ruangan Bagas, Kartika minta izin untuk ke toilet sebentar. Dia ingin membersihkan wajahnya yang sembab karena menangis mencari Bagus. Bagas menunggu Kartika di depan toilet, dia khawatir istrinya yang masih trauma atas penculikan Bagus. Tak lama Kartika keluar dari toilet dan menatap Bagas. Dengan sabar Bagas menggandeng tangan Kartika sambil mengangguk pelan.
Kartika dan Bagas membuka pintu, seketika Kartika kaget melihat ruangan kerja sang ayah berubah menjadi ramai dengan hiasan. Bagus yang berdiri di depan dengan membawa bolu di tangannya sambil tersenyum.
"Surprise, Bunda. Happy birthday " Kata Bagus yang bernyanyi lagu happy birthday di iringi tepuk tangan Hary dan Wina.
Kartika menutup mulutnya tak percaya anaknya yang dikira hilang tiba-tiba memberikan surprise ulang tahun dirinya. Air mata Kartika menetes seketika, dan langsung mendekati Bagus yang membawa bolu di tangannya.
"Tiup lilinnya, Bunda. " Kata Bagus. Kemudian Kartika meniup Lilin yang tersusun banyak dengan warna warni. Bagas hanya tersenyum dan langsung mencium istrinya.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Aku tidak tahu hari ini kamu ulang tahun. " Kata Bagas yang merangkul pinggang Kartika.
"Kamu yang merencanakan ini semua? " Tanya Kartika pada anaknya.
"Di bantu sama om Hary dan tante Wina juga para OB disini. " Jawab Bagus.
"Jadi tadi lo senyum-senyum karena ini. " Kata Bagas yang kesal dengan sikap Hary dan Wina, namun Bagas langsung tersenyum.
"Heheheh... Maaf, Bos. Ini permintaan Bagus yang waktu datang minta tolong buat mengatur surprise buat ibu. " Kata Wina yang menampilkan jejeran giginya yang berkawat.
"Tapi lo senang kan, kita bikin surprise begini? " Tanya Hary yang menepuk bahu Bagas.
"Yang ulang tahun kan bini gue, tanyalah sama dia. " Kata Bagas.
"Terimakasih, Mas Hary, Wina dan anakku yang pintar juga hebat. " Kata Kartika yang memeluk Bagus dan sambil tersenyum.
"Kamu bahagia, Sayang? " Tanya Bagas yang duduk sambil merangkul bahu Kartika yang duduk dengan Bagus.
"Aku bahagia sekali, Mas. " Kata Kartika yang menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
"Sayang, kamu tahu ini ulang tahunnya bunda darimana? " Tanya Bagas.
"Dari kartu yang berwarna biru, tadi di sekolah waktu bunda bayar bakso kartunya jatuh lalu Bagus liat. " Kata Bagus.
"Pantas saja Bagus lihat dari kartu tanda kependudukan kamu, Sayang. " Ujar Bagas.
Kemudian Hary datang membawa banyak makanan yang baru saja Bagas pesan di restoran Diena. Lalu Bagas menyuruh di bagikan pada seluruh karyawan di kantornya.
"Bos, semenjak menikah sama ibu jadinya bucin ya, Bang. " Kata Wina yang memanggil Hary dengan sebutan abang, karena Bagas tidak tahu kalo Hary dan Wina diam-diam berpacaran.
"Aku juga, Sayang. Aku akan bucin sama kamu. " Kata Hary yang mengedipkan matanya pada Wina, lalu Wina memukul lengan Hary.
Di dalam ruangan Bagas melihat anaknya sedang menatap jendela yang dimana akan terlihat langsung jalan raya. Bagas sangat antusias dengan kantor ayahnya itu.
"Sayang, lihat apa? " Tanya Bagas yang menghampiri Bagus.
"Suatu hari nanti kamu pasti bisa membuat gedung pencakar langit yang terkenal di seluruh negeri. " Jawab Bagas yang mengusap rambut anaknya.
Bagas sangat bangga memiliki anak yang cerdas di usianya masih 8 tahun. Kartika pun tersenyum menatap dua laki-laki yang di cintainya. Surprise yang Kartika belum pernah dia dapatkan dari siapapun. Bagus anak yang pertama memberikan surprise itu.
"Sayang, masih betah di kantor ayah? " Tanya Kartika yang membereskan meja yang penuh dengan makanan.
"Nanti, Bun. Pulangnya sama ayah saja, Bagus masih ingin lihat kantor ayah dulu. " Kata Bagus yang melirik ke arah Kartika.
"Baiklah, bunda mau istirahat dulu. " Ucap Kartika yang melangkahkan kakinya ke kamar di belakang lemari Bagas.
"Sayang, kita bikin surprise buat Bunda lagi saja " Ujar Bagas.
"Bagus sudah, sekarang gantian ayah yang memberi suprise. " Kata Bagus.
"Iya, ayah mau bikin surprise buat Bunda. " Kata Bagas yang duduk di kursi kerjanya.
"Belikan Bunda berlian. " Kata Bagus yang mengetuk-ngetuk dagunya.
Sore hari keluarga Bagas pulang, dalam perjalanan Bagas sengaja tidak banyak bicara dengan Kartika. Dan itu membuat Kartika merasa aneh dengan sikap suaminya. Bagas yang tahu rencana sang ayah hanya tersenyum.
"Ayah.. " Panggil Kartika yang memulai bicara.
"Hmmmm... " Jawab Bagas yang fokus nyetir.
"Kenapa, Ayah diam saja? " Tanya Kartika sambil melirik Bagas.
"Hmmmm... " Bagas hanya berdehem.
"Ck.. Ayah nyebelin. " Kata Kartika yang membalikkan badannya menghadap jendela dengan cemberut.
Bagas kemudian melirik melihat istrinya marah makin tak tahan ingin tertawa. Bagas ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun istrinya itu dengan membelikan sebuah perhiasan yang sudah lama ingin membelinya untuk Kartika.
Mobil Bagas sampai di sebuah mall dan Bagas juga Bagus turun dari mobil. Kemudian Bagas membuka pintu mobil Kartika yang masih cemberut. Dengan enggan turun Kartika mengikuti langkah kaki suami dan anaknya. Bagas berhenti di sebuah toko perhiasan yang besar di mall tersebut.
Bagas melihat Kartika berdiri sambil menyedekapkan kedua tangannya di dadanya. Bagas tersenyum lalu mendekati Kartika.
"Bunda sayang, maaf ayah mendiami bunda tadi di mobil. Ayah, mau memberikan bunda surprise... " Kata Bagas tersenyum yang membuka kotak perhiasan yang sebelumnya sudah di pesan oleh Bagas.
"Surprise, Bunda. " Kata Bagus juga yang tersenyum.
Kartika menatap suaminya sambil menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca lalu memeluk suaminya. Kartika menangis karena rasa bahagia yang menyelimuti dirinya. Dua laki-laki yang sangat dia cintai sudah memberikan kejutan yang sangat indah.
"Terimakasih, Yah. Bunda tidak menyangka akan mendapatkan surprise dari ayah. " Kata Kartika dengan senyuman yang mengembang di bibirnya
"Maafkan, Ayah ya. " Kata Bagas yang mencium kening Kartika.
"Uuhhh... Ayah kalo sudah sama bunda, Bagus di lupakan. " Rengek Bagus yang melihat kemesraan kedua orang tuanya. Bagas dan Kartika tertawa melihat Bagus. Kemudian mereka memeluk Bagus bersamaan.
"Kita sekalian makan malam saja disini, bagaimana? " Tanya Bagas pada istri dan anaknya.
"Hmm... Baiklah, aku mau shoping boleh? " Tanya Kartika.
"Boleh, Sayang. " Kata Bagas yang sangat bahagia bisa memanjakan istrinya.
"Asik.. Bagus juga mau beli mainan ya, Yah. " Kata Bagus yang loncat kegirangan. Bagas hanya mengangguk pelan.