
Bagus menatap kepergian sang kekasih yang sudah akan kembali ke tanah airnya, rasanya Bagus Ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menikah dengan Sherin. Bagus menarik nafas panjang ketika sudah berada di dalam mobilnya. Bagas uang melihat putranya sedih terkekeh kemudian menepuk bahu anaknya.
"Cinta itu harus sabar," ucap Bagas tersenyum.
"Apaan sih, yah," jawab Bagus
"Segera selesaikan tugasmu disini dan segera pulang agar bisa menikah dengan Sherin," kata Bagas.
"Pastinya, yah," ujar Bagus.
Bagas tersenyum dan lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya. Bagus menatap jalanan yang begitu ramai, dia membayangkan saat bersama Sherin walaupun hanya sebentar.
Dalam hati Bagus ingin segera pulang ke tanah air agar dia bisa setiap hari bersama Sherin.
"Sayang, sudah sampai," ujar Kartika yang menepuk bahu Bagus karena dia tidak mendengar Kartika memanggil namanya.
"Eh, iya bunda," sahut Bagus yang tersenyum menatap bundanya.
Bagus berjalan memasuki lift yang sudah terbuka, dan disana sudah ada Gauri yang rencananya ingin mengunjungi apartemen Bagus. Kartika dan Bagas yang melihat gadis cantik itu merasa agak kurang suka karena selalu mendekati Bagus.
"Gauri," sahut Bagus yang kaget ketika Gauri langsung memeluk lengan Bagus yang tiba-tiba.
"Aku ingin ketemu kamu," ujar Gauri yang bergelayut manja di lengan Bagus. Bagus berusaha melepaskan tangan Gauri.
"Ehemmmm," Kartika yang membuat Gauri tersenyum menatap Kartika dan Bagas yang ada di belakang mereka.
"Maaf tante, kenalkan aku Gauri teman satu kantor Bagus," kata Gauri yang mengulurkan tangannya pada Kartika dan Bagas.
"Maaf, sepertinya nona Gauri harus pulang karena tidak baik seorang wanita bertamu di apartemen laki-laki yang masih sendiri," kata Kartika yang berdiri di tengah-tengah Bagus dan Gauri.
Bagus hanya tersenyum melihat sang bunda yang begitu over protected dan melihat wajah Gauri yang tiba-tiba cemberut.
"Ini bukan di Indonesia tante, ini negara bebas jadi tidak ada aturan seorang wanita bertandang ke tempat si pria," ujar Gauri.
"Tapi kami orang tua Bagus jadi masih menjunjung adat timur kami," ucap Kartika.
Gauri terlihat tidak suka dengan Kartika yang sudah membuat dia jauh dari Bagus, Kartika juga tidak menyukai Gauri yang terlihat arogan dan memakai pakaian yang bisa membuat laki-laki tergoda padanya.
"Gus, aku lebih baik pulang saja. Aku tidak bebas berdua denganmu," bisik Gauri yang melirik pada Kartika dan Bagas juga Karin.
Bagus hanya mengangguk dan menghindar ketika Gauri ingin mencium pipinya. Gauri lalu pergi tanpa berpamitan dengan Kartika dan Bagas.
"Bunda tidak suka dengan teman wanitamu itu," ucap Kartika yang merapikan buah dan makanan yang baru saja di belinya.
"Ayah juga, dia itu tak punya tata krama sopan santun," sambung Bagas.
"Namanya juga hidup di negara bebas," jawab Bagus.
"Tapi banyak wanita yang hidup dalam negara bebas mereka juga menjaga kehormatan mereka dan tidak genit dengan laki-laki," kata Kartika.
"Memangnya juga asli Indonesia kan?" tanya Kartika lagi.
"Iya, Bun. Ayahnya diplomat disini, dia lahir disini dan dia itu anak broken home," jawab Bagus.
"Iya bunda mana berani Bagus selingkuh dari Sherin, bisa-bisa Bagus di bunuh sama bunda," ujar Bagus.
Kartika tersenyum mendengar penuturan Bagus, Kartika memang tidak menyukai Gauri yang terlalu menggoda Bagus secara terang-terangan. Bagas pun demikian dia tidak menyukai wanita yang seperti itu, ya walaupun Bagas dulu sewaktu kuliah adalah mantan casanova tapi semenjak bertemu dengan Kartika dia berubah menjadi laki-laki yang hanya mencintai satu wanita.
"Untung Bagus tidak seperti ayah dulu yang suka gonta-ganti cewek," kata Kartika.
"Kata siapa ayah suka gonta-ganti cewek, Sayang?" tanya Bagas yang menarik pinggang istrinya.
"Siapa lagi kata Harry yang menceritakan semua sewaktu ayah masih kuliah," jawab Kartika.
"Salah mungkin Harry, ayah itu tipe setia," ujar Bagas yang mencolek dagu Kartika.
"Ayah, bunda!" teriak Karin yang melihat ayah bundanya sedang bermesraan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Bagas.
"Karin tidak suka ya kalau ayah dan bunda berduaan seperti anak muda saja," kata Karin dengan wajah yang cemberut.
Bagus yang melihat adiknya sedang marah pada ayah dan bundanya yang selalu menampilkan kemesraan pada kedua anaknya.
Karin selalu marah ketika ayah dan bundanya sedang berdua saling bermesraan atau berciu*an.
"Karin, sudah jangan marah ayah sama bunda kan sedang berduaan," kata Bagus.
"Tidak boleh."
"Kenapa, Sayang?" tanya Bagas.
"Nanti Karin punya adik," jawab Karin dengan cemberut.
"Memangnya Karin tidak mau punya adik lagi?" tanya Bagas meledek putrinya.
"Tidak mau!"
"Tapi ayah sama bunda ingin punya baby lagi, nanti kalau Karin kuliah jauh ayah sama bunda kesepian," ujar Bagas yang masih menggoda Karin.
"Ayaaaaahhh!!!" Karin berteriak lalu memukul ayahnya.
Bagas tertawa bahagia lepas dia terus menggoda putri bungsunya itu yang masih remaja. Kartika tersenyum melihat kedekatan Bagas dan putrinya itu, dulu Kartika tak sedekat Karin dan Bagas.
****
Maaf ya reader lama tidak up...
Banyak tugas negara dan dunia nyata yang harus aku selesaikan...
Maaf juga aku up sedikit ini untuk mengurangi rasa rindu kalian dan rinduku pada Abang Bagus dan Sherin...
reader tercinta... apakah ada rekomendasi visual Sherin, Bagus dewasa serta Karin yang masih usia 13 tahun...
jika ada silahkan di kolom komentar ya....