
Bagus memenangkan perlombaan untuk kesekian kali, nama Bagus sudah melanglang buana di negara ini. Bahkan Bagus ada yang meminang sebuah perusahaan raksasa di dunia, mereka ingin Bagus ikut ke negaranya untuk membantu membuat sebuah robot pekerja di perusahaannya. Karena Bagus masih kecil, Bagas dan Kartika tidak mengizinkannya.
"Bunda, senang sekali hari ini. Kamu jadi juaranya, tadi bunda sempat deg-degan karena takut kamu kalah. " Kata Kartika yang menengok ke kursi belakang mobil.
"Bagus pasti juara, Bunda. Bagus yakin bisa menjuarai lomba ini, karena Baguskan anak pintar. " Jawab Bagas dengan jumawa.
"Ish.. Ayah gak boleh sombong. " Kata Kartika yang memukul pelan lengan Bagas.
"Sayang, hari ini mau hadiah apa dari ayah dan bunda? " Tanya Kartika sambil tersenyum.
"Bagus gak mau hadiah apa-apa, Bun. Bagus hanya berdo'a semoga Bagus bisa menjadi anak ayah bunda terus selamanya. " Kata Bagus yang menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Pasti dong, Sayang. Selamanya Bagus anak ayah dan bunda. " Kata Kartika yang melihat Bagus lelah dan mulai memejamkan mata.
"Dennis juga ingin jadi anak bunda selamanya. " Kata robot Dennis yang tiba-tiba dia bicara. Bagus langsung memeluk robot buatannya sendiri.
"Dennis, akan jadi adik Bagus. Tenang saja ayah dan bunda dan juga Bagus jadi keluarga Dennis. Iya kan, Bun, Yah. " Kata Bagus desa senyum di bibir nya.
Kartika sejenak terdiam karena Kartika belum bisa mewujudkan keinginan Bagus untuk memiliki seorang adik yang nyata. Bagas yang melihat istrinya mengahadap ke jendela mengusap rambutnya.
Tak terasa air mata Kartika menetes di pipi dan Kartika langsung mengusapnya dan tidak ingin Bagas dan Bagus melihatnya. Dalam perjalanan Bagus dan Kartika tertidur sampai dirumah. Bagas yang tau istrinya sedang sedih setiap ada yang menyinggung kapan punya bayi lagi, maka Kartika akan langsung bersedih.
Tak lama mereka telah sampai di rumah, Bagus membuka matanya dan langsung keluar mobil bersama Dennis. Robot itu sudah seperti manusia yang selalu mengikuti kemanapun Bagus pergi.
Bagas yang tidak tega membangunkan sang istri lalu membopong ala bridal Kartika hingga ke kamar. Bagas meletakkan Kartika si ranjang yang besar tempat peraduan cinta mereka.
Kartika membuka matanya dan Bagas yang masih menatap wajah istrinya sambil tersenyum.
"Mas, mau apa? " Tanya Kartika.
"Aku, sedang menatap wajah cantik istriku ini. " Kata Bagas dengan senyuman yang sangat manis.
"Mas, bikin aku malu saja. " Kata Kartika yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu Bagas membuka tangan Kartika dan langsung memakan bibir Kartika dengan lahap.
Kartika pasrah ketika Bagas mulai menyentuhnya dan mereka melakukan ibadah di siang hari. Kartika tidak pernah menolak ketika Bagas menyentuh dirinya, Kartika berharap ada yang hidup di rahimnya.
Setelah acara di ranjang yang membuat mereka puas, Bagas memeluk istrinya yang masih polos berbalut selimut. Begitu juga Kartika yang memeluk Bagas dan mereka masih di dalam satu selimut.
"Mas, aku masih berharap ada yang hidup disini. " Kata Kartika yang mengusap perutnya.
"Iya, Sayang. Aku tau kamu sangat menginginkan seorang anak lagi, tapi ingat jangan menyiksa dirimu sendiri dengan beban yang berat. Kita ikuti saja seperti air mengalir. " Kata Bagas yang mengecup kening Kartika.
"Iya, Mas. Tapi apa aku salah ingin dia hadir di sini? " Tanya Kartika.
"Tidak salah, Sayang. Hanya kita pasrahkan saja yang sudah menjadi takdir dari yang kuasa. Kita bersyukur mempunyai anak yang begitu tampan, pintar dewasa pula. " Kata Bagas.
"Dulu sewaktu Mas menyentuhku, bulan depan aku langsung hamil. Ini sudah hampir setahun aku tak kunjung hamil lagi. Mas, sih yang kerjanya di porsir. " Kata Kartika dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kok, Mas sih yang di salahkan? " Tanya Bagas yang tidak mengerti.
"Ya jelas salah, setiap hari Mas melakukan hubungan suami istri, dan Mas akan berhenti jika aku sedang masa periodeku. " Kata Kartika yang kesal suaminya itu selalu melakukan dimana dan kapanpun.
"Itu kan salah satu usaha untuk membuat dede bayi. " Kata Bagas yang menyeringai.
"Tapi kan tidak bisa tiap hari. " Kata Kartika.
"Sayang, mungkin saja setiap kita berhubungan ada salah satu kecebong Mas yang jadi di sana. " Kata Bagas.
"Ish.. Ada saja jawabannya, dasar punya suami yang hobby maunya di ranjang. " Kata Kartika.
"Hahahaha.. " Bagas tertawa dN mengeratkan pelukannya.
"Mas sakit. " Kata Kartika yang mencoba melepaskan pelukan Bagas.
"Sakit apa enak. Hmmm? " Kata Bagas yang menaik turunkan alisnya.
"Sekali lagi ya, Sayang. " Pinta Bagas yang mulai menggerakkan jarinya ke tubuh Kartika.
Hingga pergumulan itupun karena Kartika tidak tidak bisa menolak saat Bagas memberikan sentuhan yang membuat Kartika juga menyukai sentuhan Bagas. Hingga masuk waktu asar mereka selesai berhubungan.
Malam hari Kartika pun berkumpul di ruang keluarga, seperti biasa mereka bersantai sambil menikmati cemilan dan teh hangat. Kartika sangat menikmati quality time bersama anak dan suaminya.
"Bagus, tadi sewaktu perlombaan selesai ada dari perusahaan besar yang terbesar di dunia ingin mengajak Bagus ikut bekerja di perusahaannya, untuk membuat robot untuk pabrik. " Kata Bagas yang melihat Bagus sedang memainkan lego bersama Dennis.
"Memangnya, perusahaan itu dimana? " Tanya Bagus sambil merakit lego.
"Jauh, Sayang. Di negara adi daya Amerika, nanti kalau Bagus ke sana tidak bisa bertemu dengan ayah dan bunda. " Kata Kartika.
"Benar, Yah. Amerika? Naik pesawat terbang ya, Yah. " Kata Bagus yang menatap ayah bundanya dengan tersenyum.
"Iya, memangnya Bagus ingin kesana? " Tanya Bagas.
"Ayah sama bunda ikut tidak? " Tanya Bagus kembali memandangi wajah ayah fans bundanya bergantian
"Ayah sama bunda tidak ikut, Sayang. Bagus disana Bagus sendirian. " Kata Bagas.
"Bagus tidak mau, Yah. Bagus ingin disini sama ayah dan bunda. " Kata Bagus yang mulai berkaca-kaca matanya.
"Tadi ayah sudah tolak bos perusahaan itu, ayah bilang nanti perusahaan itu bahwa Bagus masih kecil dan belum bisa tinggal sendiri. " Jawab Bagas.
"Bunda juga gak ingin pisah dari Bagus. Cukup kasus penculikan kemarin membuat bunda jadi stress pikiran bunda. " Kata Kartika.
"Bagus tidak akan meninggalkan bunda lagi, Bagus janji dehhh.. " Kata Bagus yang langsung memeluk Kartika.
"Bagus sayang saman bunda. " Kata Bagus di sela-sela pelukannya.
"Bagus gak sayang sama, Ayah? " Tanya Bagas.
"Ayah, Bagus juga sayang kok. " Kata Bagus yang berganti memeluk sangat ayah.
"Ayah juga sayang kalian semua. " Kata Bagas yang memeluk anak dan istrinya.
"Bunda, Bagus minta maaf ya, mungkin bunda tersinggung dengan ucapan Bagus. Jika Bagus ingin punya adik, tapi Bagus tidak memaksa karena adik kan pemberian yang kuasa. " Kata Bagus yang seperti orang dewasa.
Kartika tersenyum dan mengangguk pelan lalu memeluk kembali anaknya yang selalu membuat bahagia juga membuat bangga. Bagas juga tersenyum melihat ibu dan anak saling pelukan.
"Pelukan terus kaya teletubies. " Kata Bagas yang menggeser duduknya menjadi dekat dengan Kartika dan Bagus.
"Ayah, kok kaya teletubuies. Apa gak ada yang lain? " Tanya Kartika.
"Kan yang suka berpelukan itu teletubies, Bunda. Jadi Bagus sama Bunda teletubies dong, Yah? " Tanya Bagus.
"Iya benar, Bunda yang warna ungu lalu Bagus yang warna kuning. " Kata Bagas yang tertawa.
"Ayah yang warna hijau. " Ujar Bagus.
Mereka semua tertawa menikmati malam yang berkualitas untuk berkumpul bersama keluarga. Bagas dan Kartika menyempatkan diri untuk keluarga prioritas utama.
*Belum.. Tamat ya reader masih lanjut.
*Nanti selanjutnya akan ada cerita Gayatri dan Dewa juga Hary yang jatuh cinta pada janda muda Gayatri yang bercerai dengan suaminya.
*Cerita Bagus akan tetap lanjut... Cerita Hary, Dewa dan Gayatri hanya sebagai selingan saja... pusat cerita ada pada Bagus yang sangat genius.
*Silahkan like, komen dan hadiahnya dong...
*Happy Reading.. 😘☺