
Sejak tahu Kartika mempunyai toko kue, Bagas sering datang hanya karena ingin pdkt dengan Kartika dengan berpura-pura membeli kue buatan Kartika. Bagas sangat senang walaupun hanya melihat wajahnya yang cantik saat pagi hari.
Pagi-pagi Bagas sudah rapi dengan setelan jas dan kemeja dan juga dasi warna senada, rambutnya disisir dengan rapi. Aroma semerbak parfum Bagas membuat Hary menggelengkan kepalanya melihat sahabat sekaligus sodaranya.
"Tumben lo udah rapi, mau kemana lo? " Tanya Hary yang menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Bagas.
"Kemana lagi menemui sang pujaan hati. " Jawab Bagas yang masih bercermin menatap dirinya.
"Gila, lo mau jualan parfum? Satu botol lo habiskan semuanya, Gas. " Kata Hary yang berjalan mendekati meja Bagas dan melihat parfum Bagas langsung habis.
"Bisa beli lagi, bro. Harga parfum tak sebanding dengan pertemuan dengan Kartika. " Ujar Bagas yang siap untuk berangkat.
"Baru jam 7 Kartika juga masih tidur kali, Gas. " Ledek Hary yang keluar dari kamar Bagas.
"Ck.. Ngiri lo ya ama gue. " Kata Bagas yang berjalan keluar kamar mengekor Hary ke ruang makan.
Di ruang makan, sudah ada mami Ammar yang duduk sambil makan roti lapis buatannya. Bagas dan Hary duduk di samping mami Ammar dan mengambil roti untuk sarapan.
"Tumben sudah rapi, Gas. Ada meeting pagi ini, kok mami gak tau ya. Mami kan dewan direksi pemilik perusahaan. " Kata Mami.
"Gak, Mi. Bagas mau PDKT sama cewek dia cewek yang bikin Bagas suka marah di kantor 8tahun yang lalu. " Kata Hary yang masih dengan mode ledekannya.
"Anak mami punya pacar? " Tanya mami Ammar.
"Yoi, Mi. Cantik orangnya dan juga sudah punya anak. " Kata Hary yang memasukkan roti ke mulutnya.
"Itu mulut lemes banget ya. " Ujar Bagas yang melemparkan tissue ke wajah Hary.
"Apa? Wanita itu janda anak satu? Bagas memangnya gak ada wanita lain ya. " Tanya Mami Ammar yang menatap wajah Bagas dengan wajah yang seperti butuh penjelasan dari anaknya.
"Bagas sudah terlalu cinta, Mi. 8 tahun Bagas menanti dan sekarang Bagas gak mau dia di ambil orang lagi. " Kata Bagas berusaha membuat mami nya mengerti.
"Tau gak, Mi. Dulu dia itu kerja di perusahaan Bagas tapi sudah punya pacar. " Kata Hary.
"Bagas, kamu mau jadi pebinor? " Tanya Mami Ammar.
"Mi, Bagas gak tau dia sudah pisah atau masih jadi istri orang. Sekarang Bagas mau lesanaau mastiin apa dia sendiri atau tidak. " Kata Bagas.
"Sekalian pdkt, Mi. Kalau nyatanya sudah pisahkan Bagas langsung tancap gas. " Ledek Hary dengan tersenyum.
"Mulut lo ya, Har. Mau lo gue deportasi ke pedalaman. " Kata Bagas yang marah dengan Hary.
"Hahahah... Hati-hati mungkin saja Dewa ada di rumah Kartika. " Ledek Hary yang tertawa lepas.
"S*********n lo, Har. Awas lo gue bikin lo nyesel jadi sodara gue. " Kata Bagas yang melemparkan buah apel ke wajah Hary.
Buuughs
"Sakit b***o. Lo mau menghancurkan masa depan gue ya, dengan merusak wajah tampan gue. " Kata Hary yang mengelus wajahnya yang terkena lemparan apel yang mengenai jidatnya.
"Lebay... " Ujar Bagas yang terlihat santai.
"Lo ya, awas aja gue balas. " Hary yang membalas melemparkan buah jeruk ke wajah Bagas.
Buuugggh
"S*******n lo, Har. " Bagas mengusap kepalanya yang juga terkena Lemparan buah jeruk.
"Sudah!!! Apa-apaan sih, kalian kaya anak kecil. Bagas udah sana kalau kamu mau pergi. Hary cepat ke kantor, kalian mau mami ambil lagi jabatan kalian. " Kata mami Ammar yang membuat Bagas dan Hary langsung beranjak bangun dan pergi dari ruangan makan.
Melihat mami Ammar marah, Bagas dan Hary langsung takut mereka di copot jabatannya. Namun perseteruan mereka belum selesai. Di depan mobil mereka masih berdebat yang tidak tau apa yang mereka ributkan perdebatkan.
"Gas, kalau sudah PDKT dengan Kartika langsung balik ke kantor ya. " Pinta Hary yang ingin Bagas datang ke kantor.
"Memangnya kenapa? Aku mau ajak Bagus dan Kartika jalan-jalan sekalian pendekatan. " Kata Bagas yang masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Gue tau lo manusia, siapa bilang lo dedemit. " Kata Bagas tertawa.
"Ck.. Gue butuh hiburan juga, emang lo aja yang enak-enakkan. " Kata Hary dengan raut wajah yang kesal.
"Tenang saja nanti kalau gue sama Kartika nikah, lo gue kasih libur satu minggu. Sudah gue buru-buru. " Kata Bagas yang menutup pintu mobilnya.
"Ck... Bagas gila lo. " Teriak Hary yang mengumpat Bagas.
Sementara di rumah Kartika akan mendaftarkan Bagus sekolah yang dekat dengan rumah dan toko kue Kartika. Sewaktu mereka keluar dari rumah dan akan menaiki taksi online. Bagas datang dan langsung keluar ketika melihat Kartika dan Bagus ingin pergi.
"Kartika.. " Panggil Bagas dan Kartika menoleh ke arah suara yang tak asing baginya.
"Pak Bagas, ada apa? " Tanya Kartika yang melihat Bagas begitu tampannya.
"Om ganteng.. " Sapa Bagus dengan senyum.
"Hai jagoan, ayo kita toss. " Ajak Bagas yang merentangkan kelima jarinya untuk bertos ria.
"Kalian mau kemana? Aku antar ya. " Kata Bagas yang berdiri di depan Kartika.
"Aku mau daftarkan Bagus sekolah, pak. " Jawab Kartika yang menatap Bagas dengan jarak yang begitu dekat.
"Aku antar ya... " Kata Bagas dan lagi-lagi jantung Bagas tak karuan berdetak dengan sangat cepat.
"Tidak usah, pak. Bapak sibuk pasti akan ke kantor. " Kata Kartika yang tak ingin merepotkan Bagas.
"Tidak aku free hari ini. Jagoan mau kan kalau om antar? " Tanya Bagas yang berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Bagus.
"Mau, Om. Bunda Bagus mau di antar om ganteng ini. " Rengek Bagus yang menarik kemeja Kartika. Sedangkan Bagas hanya menyeringai.
"Sayang, om nya sibuk dan harus ke kantor. Kita naik taksi online saja ya. " Kata Kartika yang mencoba memberikan penjelasan pada putranya.
"Om ganteng memangnya sibuk? " Tanya Bagus dan Bagas menggelengkan kepala pelan lalu dia tersenyum menatap Kartika.
"Sayang.. " Kartika hanya pasrah melihat Bagus yang tampak bahagia dekat dengan Bagas.
"Boleh ya, bunda. " Kata Bagas yang masih merengek. Kartika pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Yess... Om ganteng kita berangkat yuk. " Kata Bagus yang menggandeng tangan Bagas.
Hup...
Bagas menggendong Bagus dengan senyuman yang terus mengembang. Sementara Kartika hanya tersenyum melihat putranya. Kartika kini sadar bahwa Bagus butuh sosok seorang ayah tapi Kartika tidak tau siapa ayah dari Bagus.
Di dalam mobil Bagas merasa terhibur dengan Bagus yang terus mengoceh dan membuat Bagas menjadi senang dengar ocehan Bagus. Entah kenapa hati Bagas begitu bahagia jika Bagus adalah putranya. Sementara itu Bagas melihat dari spion, Kartika yat sedang melamun.
"Kamu kenapa? " Tanya Bagas yang melihat wajah cantik Kartika dari spion karena Kartika duduk di belakang.
"Ah.. Tidak ada apa-apa, terimakasih sudah mau mengantar kami. " Kata Kartika dengan senyuman yang membuat Bagas semakin merindu.
"Hmmm.. Kartika aku mau tanya sesuatu yang bersifat pribadi, boleh? " Tanya Bagas yang memberhentikan mobilnya di area parkiran sekolah Bagus.
"Bapak mau bicara? Bicara apa? " Tanya Kartika.
"Kamu antarkan dulu Bagus dan daftarkan dia. " Kata Bagas yang hendak turun dari mobil.
Kartika dan Bagus turun dari mobil Bagas, lalu menuju ruang kepala sekolah. Kartika mendaftarkan Bagus di sekolah. Bagas berharap Bagus adalah jembatan untuk mendekati Kartika bunda.
*Hai... Hai... karya anak genius sudah direvisi satu persatu semoga masih membeli like dan komennya ...
*Bagas akhirnya PDKT dengan Kartika apa berhasil ya...
*Yuk... Like, komen dan vote serta dukungannya.. untuk karya ku ini...