
Setelah pulang dari sekolah, Kartika masuk kamar Bagus dan menangis memeluk Dennis yang menjadi teman Bagus. Bagas masuk ke dalam kamar dan duduk di samping istrinya, mengusap punggung Kartika yang menagis memeluk Dennis.
"Sayang, sudahlah kita akan mencari Bagus. " Kata Bagas yang menenangkan istrinya.
"Maafkan aku, Mas. Jika aku tidak terlambat untuk menjemput mungkin Bagus tidak akan di culik. " Kata Kartika.
"Sudahlah, bukan salahmu. Kita sama-sama mencari Bagus, ya. Hmmmm. " Kata Bagas kemudian Kartika memeluk Bagas dan mengusap air mata Kartika.
"Aku ingin tidur di kamar Bagus, Mas. " Kata Kartika.
"Iya, aku temani ya. Sudah tidurlah. " Kata Bagas yang menyelimuti tubuh Kartika dengan selimut. Bagas menghapus jejak airmata dan mengecup kening Kartika.
Bagas keluar dari kamar Bagus dan menuju ruang kerjanya, disana sudah ada Hary yang sudah menunggu bersama Letnan Mayor Deni sahabat Hary dan Bagas sewaktu masih SMP. Bagas melangkahkan kakinya masuk dan melihat Hary sedang memperhatikan rekaman CCTV yang Hary minta di sekolah.
"Gas, lihat ini. Gue curiga dengan kepala sekolah. " Kata Hary yang memperlihatkan sebuah CCTV yang dimana pak Iman sedang berbicara dengan seorang dengan ciri-ciri seperti satpam katakan.
"Coba gue lihat, Har. " Kata Bagas yang mendekat ke arah laptop di meja kerja Bagas.
"Itu jangan sampai hilang, Har. Buat bukti jika memang kepala sekolah terlibat penculikan anak lo, Gas. " Kata Deni.
"Benar tuh apa yang Deni katakan. " Ujar Hary.
"Har, coba sini lo lihat. Orang ini gue pernah lihat deh. " Kata Bagas yang memutar laptop ke arah Hary dan Deni.
"Bukannya ini adalah penjahat kelas kakap ya. Gue pernah ngejar orang ini, dia itu penjahat yang sulit di tangkap. " Kata Deni.
"Berarti dia sudah keluar masuk penjara dong, Den. " Kata Hary.
"Seperti itu, dia sudah jadi langganan kita para tentara dan polisi. " Ujar Deni.
"Jangan-jangan anak lo di bawa sama orang ini, Gas. Anak lo kan genius mungkin dia mau gunakan anak lo buat memakai kepintarannya. " Kata Hary.
"Mungkin juga, Har. Tapi kita cari kebenarannya kalo kepala sekolah terlibat dalam penculikan anak gue. " Kata Bagas.
"Den, elo tau tu penjahat suka ngapain? " Tanya Hary.
"Dia suka meretas akses negara lalu menjualnya ke negara lain. " Kata Deni.
"Waah... Betul apa yang gue pikirkan, sepertinya dia menggunakan Bagus untuk membuka akses pemerintahan. Karena Bagus anak yang pintar. " Kata Hary.
"Kita lebih baik selidiki dulu, bagaimana pak kepala sekolah itu kenal dari mana dengan penjahat itu. " Kata Deni dan di anggukiv keduanya.
Bagas, Hary dan Deni bekerja sampai malam, Deni pulang karena dia sudah mempunyai anak dan istri sedangkan Hary menginap di rumah Bagas. Bagas masih penasaran dengan kepala sekolah yang misteri apa hubungannya dengan penjahat itu.
Hari sudah larut Bagas masih belum memejamkan matanya. Dia melihat Dennis yang masih dengan mode off, Bagas pun menetas air mata. Kemudian Kartika bangun dari tidurnya dan melihat Bagas belum tidur.
"Kenapa sayang? " Tanya Bagas yang mendekati istrinya.
"Bagus dimana, Mas? " Kartika menangis dan tangisnya makin tak tertahan lagi.
"Sabar, sayang. Aku dan Hary sedang berusaha mencari Bagas. " Kata Kartika.
"Bagus, dimana kamu? Apa sudah makan atau belum? " Kartika menangis dipelukan Bagas.
Di suatu tempat yang tak jauh dari kota, Bagus sedang duduk sambil menatap langit. Bagus tak bisa memejamkan matanya karena dia teringat akan ayah dan bundanya.
"Ayah, bunda. Bagus kangen. " Kata Bagus yang menatap langit yang penuh dengan bintang dan dengan bulan yang bulat menyinari.
Bagus sekarang berada di sebuah rumah yang mewah, Bagus di bawa oleh seorang laki-laki suruhan seorang penjahat kelas kakap untuk meretas sebuah akun negara yang akan di jual ke negara lain.
" Tapi sudah kau beri dia makan? " Tanya sang atasan.
"Sudah, bos. Bahkan dia tidak memakannya. " Jawab laki-laki itu.
"Paksa di suruh makan, kalo dia tidak makan bagaimana dia bisa bekerja besok. " Kata bos mereka.
"Siap bos. " Jawab laki-laki itu lagi.
Bagus di bawa oleh segerombolan penjahat yang dimana mereka semua adalah penjahat yang sedang di buru oleh kepolisian negara. Mereka tahu bahwa Bagus anak yang cerdas, kepala sekolah Bagus pak Iman merupakan kaki tangan mereka yang memberitahu bahwa Bagus mampu meretas akun dan sangat ahli dalam pembuatan robot.
Keesokan harinya, Bagas tak bisa berangkat ke kantor karena Kartika sakit. Semalam dia terus mengigau memanggil nama Bagus. Bagas dengan telaten mengurus Kartika dan memasakkan bubur untuknya. Mami Ammar begitu di beritahu oleh Hary pun langsung datang ke rumah Bagas.
"Sayang, makan dulu ya buburnya. " Kata Bagas yang menyuapi Kartika.
"Bagus mana, Mas? " Tanya Kartika.
"Sabar ya sayang, aku dan Hary akan mencarinya. " Ujar Bagas yang meniup bubur yang masih panas. Kemudian mami Ammar masuk membawa susu hangat.
"Sayang, ini mami buatkan susu hangat. " Kata Mami yang meletakkan di atas nakas.
"Mami... " Kartika langsung bangun dan memeluk mami Ammar.
"Sabar, Nak. Bagus pasti ketemu. " Kata mami mengelus punggung Kartika. Mami melonggarkan pelukannya dan merapikan rambut Kartika yang berantakan.
"Sekarang kamu makan agar tubuhmu kuat, bagaimana kamu mencari Bagus kalau kamu sakit. " Kata mami.
"Bagus ada dimana, Mi? " Tanya Kartika.
"Bagas dan Hary akan mencarinya. Sabar dan berdo'a jangan menangis lagi, ya. " Kata mami.
Kartika duduk di ranjang dan dia melihat foto Bagus yang sedang tersenyum lalu dipeluk nya foto itu sambil menangis. Bagas tak tega melihat istrinya terus menangis.
"Sayang, sudah jangan menangis terus. " Kata Bagas yang memeluk istrinya dari samping.
"Kalau saja aku tidak terlambat menjemput Bagus, mungkin Bagus tidak akan di culik. Aku terlalu sibuk aku bukan ibu yang baik, Mas. " Kata Kartika yang menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
"Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah terjadi, sekarang kamu makan dan aku pergi bersama Hary mencari Bagus. " Kata Bagas.
"Aku ikut, Mas. " Ujar Kartika.
"Kamu sama mami ya, aku gak mau kamu sakit. Percayalah Bagus pasti akan kembali pada kita. " Kata Bagas yang mencium kening istrinya.
"Mas, maafkan Kartika ya. " Kata Kartika yang menatap wajah Bagas.
"Sudahlah, Mas sudah maafkan kamu. Sekarang kamu makan dan istirahat, mami akan menjagamu di sini. " Kata Bagas dengan senyum.
Bagas keluar dari kamar dan langsung berangkat bersama Hary mencari bukti bahwa kepala sekolah Bagus terlibat dalam penculikan Bagus. Bagas dan Hary berangkat bersama Deni menuju sekolah Bagus untuk mengintai kepala sekolah. Tak lupa anak buah Deni dan juga Bagas pun mengintai di rumah sang kepala sekolah. Mereka yakin akn menemukan titik terang dimana Bagus berada.
*Hayooo... Masih penasaran kan.
*Tunggu Bab selanjutnya ya..
*Silahkan like dan komen nya terlebih dahulu..
*Terimakasih... ☺☺