
Satu bulan kemudian..
Keluarga Bagas dan Kartika sangat harmonis dan mereka masih berharap ada yang hidup di rahim Kartika. Bagas ambruk di atas tubuh Kartika setelah hampir dua jam mereka melakukan pergumulan yang merupakan ibadah. Bagas berguling di samping Kartika dan kemudian memeluk sang istri sambil mencium keningnya.
" Mas.. " Panggil Kartika dengan manja.
"Hmmm.. Aku masih lelah sayang. " Kata Bagas yang memejamkan mata.
"Ish... Aku juga lelah, Mas. " Kata Kartika yang memukul dada Bagas dengan pelan.
"Kenapa? " Tanya Bagas yang tidak ingin istrinya merasa sedih jika Bagas tak menanggapi.
"Sudah hampir satu tahun kita menikah, namun aku tak kunjung hamil lagi. " Kata Kartika.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita kan masih punya Bagus yang masih butuh perhatian kita. Sayang, bukannya besok Bagus ada perlombaan robotik ya. " Kata Bagas yang memeluk Kartika yang tubuhnya masih polos hanya di tutupi selimut.
"Ck.. Mas, aku kan minta solusi bagaimana agar aku bisa hamil lagi. Ini malah ngomongin yang lain. " Kata Kartika yang membalikkan badannya membelakangi Bagas. Bagas langsung memeluk Kartika dari belakang dan mencium bahunya yang terbuka.
"Sayang, jangan ngambek dong. Kita sudah berusaha, sudah ke dokter, alternatif, minum ini, minum itu. Tapi yang kuasa belum memberikannya pada kita, jangan terlalu di pikiran nanti kalau sudah rezeki tidak akan kemana. Kuncinya kita harus sabar dan tawakal. " Kata Bagas, lalu kemudian Kartika membalikkan badannya lagi menghadap Bagas.
"Mas, tidak akan berpaling jika aku belum hamil juga? " Tanya Kartika yang sangat takut kehilangan Bagas. Di usapnya wajah Bagas dengan jarinya, kemudian Bagas mengecup jari Kartika.
"Aku tidak akan meninggalkan mu, Sayang. Karena service yang kamu berikan lebih baik dari pada yang diluar. " Kata Bagas menyeringai.
"Ish.. Apaan sih? " Kata Kartika yang malu memukul dada Bagas, dan Bagas pun tertawa lalu mencium kening Kartika.
Selama menikah hampir satu tahun Bagas tak pernah absen untuk menyentuh Kartika. Setiap malam, bahkan dimanapun ketika ingin Kartika selalu melayani suaminya dengan baik. Bagas akan libur tidak menyentuh Kartika jika Kartika datang masa periode. Itu yang membuat Bagas makin mencintai Kartika yang penurut dan tak pernah boros dalam keuangan.
Pagi ini, Kartika menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anaknya. Kartika pagi ini membuat nasi goreng seafood yang sedikit udang, karena Bagas tak menyukai udang.
"Sayang, kapan perlombaan di mulai? " Tanya Kartika yang mengambilkan nasi untuk Bagas.
"Besok, Bunda. Nanti ayah sama bunda hadir ya. " Kata Bagus yang kini sudah berusia 9 tahun dan semakin pintar juga dewasa.
"Ayah dan bunda pasti akan datang melihat Bagus lomba. " Kata Bagas dengan tersenyum.
"Apa Dennis akan ikut? " Tanya Kartika yang melihat Dennis sedang berdiri di samping Bagus.
"Dennis akan selalu ikut kemanapun Bagus pergi. Dennis kan adiknya Bagus. " Kata Bagus yang membuat Kartika terdiam seolah sakit ketika mendengar Bagus mengatakan adik.
"Jam berapa mulai lombanya? " Tanya Bagas yang mengalihkan agar Kartika tidak sedih.
"Jam 10 pagi, ayah sama bunda datang sebelum lomba di mulai ya. " Ucap Bagus.
"Siap, sekarang sudah selesai sarapannya. Ayo kita berangkat, nanti siang sebelum bunda atau ayah jemput jangan pulang dulu. Jika ada yang mengajak pergi kemanapun jangan mau. Tunggu di pos satpam, dan ponsel terus di aktifkan. Agar ayah dan bunda bisa menghubungi, oke mengerti jagoan. " Kata Bagas yang begitu posesif pada anaknya.
"Siap, Kapten. " Kata Bagus yang jarinya membentuk huruf O lalu memberi hormat.
Kartika hanya tersenyum kecut, akhir-akhir ini sikap Kartika lebih sensitif ketika ada yang menyinggung masalah anak. Entah itu suami atau orang tua murid teman Bagus. Bagas yang memahami sikap istrinya yang berubah mencoba tak menyinggungnya.
"Bunda, Bagus berangkat ya. " Kata Bagus mencium tangan Kartika dan lalu mencium pipi Kartika.
"Ayah juga berangkat, Sayang. Jangan cemberut saja nanti malam kita ritual lagi. " Bisik Bagas sambil menyeringai. Spontan Kartika melotot menatap Bagas.
Kartika pun bersiap-siap akan pergi ke toko, walaupun ada karyawan namun Kartika tidak ingin jadi atasan yang selalu datang terlambat. Kebetulan Kartika ingin membuat kue baru, untuk toko dessertnya dan restoran milik Diena.
Kartika sudah siap berangkat, lalu dia melihat Dennis yang masuk ke kamar Bagus. Kartika mengikuti langkah Dennis yang kemudian masuk ke kamar Bagas. Kartika melihat Dennis sedang membereskan tempat tidur Bagus.
"Dennis.. " Panggil Kartika pada robot besi ciptaan anaknya. Robot besi itu menengok dan mendekati Kartika.
"Ada apa, Bunda? " Tanya robot dengan bahasa robot tentunya.
"Bunda, ingin pergi kamu bunda off kan dulu ya sistem milik kamu. " Kata Kartika yang menekan tombol on/off yang ada di belakang punggung Dennis. Seketika robot Dennis langsung berhenti dan Kartika mengangkat ke tempatnya.
"Bagus, sampai membuat robot karena ingin mempunyai adik. " Kata Kartika yang hatinya semakin sedih karena tak kunjung hamil.
"Semoga bulan depan aku tidak lagi keluar masa periode ku. " Gumam Kartika yang berjalan menuju garasi mobil.
Kartika menjalankan mobilnya, Kartika memakai dress selutut di padu cardigan panjang hingga menutupi kaki jenjangnya. Rambut panjangnya di kucir ke atas dan di sisakan sedikit rambut di samping telinganya.
Kartika sudah sampai di toko dessert dan dia melihat tokonya sudah dibuka oleh Sina karyawan kepercayaan Kartika. Sina tersenyum melihat Kartika yang lehernya penuh dengan kissmark. Kartika tak mengetahui banyak kissmark di lehernya. Sina hanya tersenyum melihatnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum terus? " Tanya Kartika yang sedari tadi melihat Sina tersenyum.
"Itu bu, kissmark ibu banyak. " Kata Sina menunjukkan ke arah leher Kartika dengan pelan. Kemudian Kartika mengambil cermin dan melihatnya, Kartika langsung membuka kucirannya dan menutupnya dengan syal. Lalu tersenyum pada Sina.
Kartika ingin sekali marah pada suaminya yang tak pernah memberi kissmark di lehernya. Namun Kartika juga menyukainya, sambil tersenyum Kartika berjalan ke dapur untuk membuat kue.
"Bapak ganas ya, Bu? " Tanya Sina yang membantu membuat kue.
"Hust.. Anak kecil jangan mikir yang aneh-aneh. " Kata Kartika pada Sina.
"Sina sudah dewasa, Bu. Sudah 18+ sudah mau menikah. " Kata Sina yang membuat Kartika geleng-geleng kepala.
"Sudah kerja, jangan bahas kissmark saya. " Kata Kartika yang terkekeh mendengar ocehan Sina.
Keesokan harinya, hari perlombaan Bagus dimulai. Bagas dan Kartika juga Dennis sudah berada di tempat perlombaan. Bagus menengok ke belakang melihat ayah bundanya juga Dennis sudah ada di bangku penonton. Bagas mengepalkan tangannya memberikan semangat pada Bagus dan Bagus tersenyum.
"Mas, semoga Bagus bisa menang ya. " Kata Kartika yang berbisik di telinga Bagas.
"Sayang, menang atau kalah yang penting Bagus punya keberanian untuk mengikuti perlombaan. " Ujar Bagas.
"Iya juga, tapi selama ini Bagus tidak pernah kalah dan selalu menjadi juara. " Kata Kartika.
"Sekarang kan perlombaan antar kota, Sayang. Pasti ada yang lebih dari Bagus, tapi kita berdo'a saja agar Bagus bisa juara. " Kata Bagas tersenyum pada Kartika.
Beberapa jam kemudian perlombaan sudah selesai dan Bagus diam dengan wajah yang dingin dan datar juga kaku, Bagus sangat percaya diri dengan hasil yang dia buat. Bagus sudah terkenal seperti seorang artis yang sudah memenangkan lomba robotik.
"Siapa yang jadi juara ya, Mas? " Tanya Kartika yang deg-degan. Secara begitu banyak saingan yang sangat pintar dan yang selalu jadi saingan Bagus adalah Ibnu, teman sekelas Bagus yang sombong.
*Hayoooo.... Siapa ya yang menang???
Bunda Kartika deg-degan tuh...
*Silahkan like, komen dan hadiahnya... Biar author semakin semangat untuk Up...