Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
CLBK


Bagas memarkirkan mobilnya di depan sekolah Bagus dan dia melihat Kartika sedang bernegosiasi dengan putra nya. Setelah setengah jam berlalu Kartika kembali ke mobil Bagas. Kartika mengetuk jendela pintu Bagas.


"Ada apa, Tika? " Tanya Bagas yang membuka jendela mobilnya.


"Bapak tidak usah menunggu Kartika pulang, hari ini Kartika mau ketemu klien yang mau kerjasama di bidang makanan. " Kata Kartika.


"Aku antar boleh? " Tanya Bagas yang berusaha dekat.


"Tidak usah, pak. Kartika naik taksi online saja. " Ujar Kartika yang kemudian berjalan dan meninggalkan mobil Bagas.


"Eits... Kartika tunggu. " Bagas keluar dari mobil lali mengejar Kartika.


"Ada apa, pak? " Tanya Kartika berhenti membalikkan badannya.


"Biarkan aku antar kamu, sekalian aku berangkat ke kantor. Please.. Aku mohon. " Kata Bagas dengan wajah yang memelas.


"Baiklah, Kartika tunggu di sini. " Kata Kartika yang melihat wajah Bagas yang memelas membuat Kartika merasa iba.


"Baik, aku ambil mobil dulu. " Kata Bagas yang tersenyum lalu kemudian berlari menuju mobilnya dan menyalakan mesin lalu mengantar Kartika ke sebuah restoran tempat dimana dia akan bekerja sama dengan sang pemilik restoran.


"Kartika turun disini saja. " Kata Kartika yang menyuruh Bagas berhenti.


"Kamu mau apa ke restoran ini? " Tanya Bagas yang memandang arah kedepan restoran itu.


"Sang pemilik restoran ingin aku menjadi koki untuk menu dessertnya. Kita ketemu di Bandung dan beliau ingin aku menjadi koki yang menyediakan menu dessert. " Kata Kartika.


"Ooh.. Pemilik restoran adalah sahabatku dan Hary, aku boleh temenin kamu gak? Sekalian mau silahturahmi. " Kata Bagas.


"Ibu Salsa beliau sahabat bapak? "Tanya Kartika yang tak percaya bahwa Salsa adalah sahabat Bagas.


" Dia sahabat terbaik aku, dia selalu ada setiap aku ada kesusahan. " Kata Bagas tersenyum menatap Kartika.


Kemudian keduanya turun dan masuk ke dalam restoran itu. Kartika berjalan di depan dan Bagas berjalan di belakang Kartika, pada saat Kartika akan duduk dan tiba-tiba sepatu heels nya terpleset karpet. Sehingga Kartika akan terjatuh, namun dengan sigap Bagas menahan tubuh Kartika. Hingga Kartika dengan posisi menatap Bagas, begitu pula Bagas menatap wajah Kartika.


Deg


Jantung Bagas terasa berdetak kencang saat menangkap tubuh Kartika, lama keduanya saling tatap dan saling pandang tiba-tiba karyawan restoran membuyarkan pandangan mereka.


"Ekhemm.... " Bagas menetralkan suasana jantungnya. Kartika yang berdiri lalu merapikan rambut dan bajunya.


"Maaf, pak, bu. " Kata pelayan restoran itu yang melihat wajah mereka berdua tampak merah.


"Iya, ada apa? " Tanya Bagas dengan dingin.


"Apakah anda ibu Kartika? " Tanya pelayan yang menatap Kartika.


"Iya, aku Kartika. " Jawab Kartika yang masih terlihat malu.


"Anda sudah di tunggu ibu Diena di ruangannya, mari saya antar ke ruangannya. " Kata pelayan itu yang berjalan menuju ruangan Diena. Kartika berjalan di belakanya dan Bagas dengan setia berada di belakang Kartika.


"Aduh, kenapa aku jadi mikirin pak Bagas sih. " Batin Kartika yang masih membayangkan kejadian tadi.


"Kenapa jantung gue gak mau berhenti berdetak ya? Ah... Perasaan gue jadi gak karuan. " Batin Bagas yang menjadi tak tentu saat kejadian tadi.


Bagas dan Kartika terbuai dalam pikiran masing-masing. Bagas yang masih memiliki perasaan cinta pada Kartika seakan terbuai dengan kecantikan Kartika yang membuat cinta lamanya pada Kartika bersemi kembali.


Kemudian mereka sampai di ruangan Diena sang pemilik restoran yang bertemu Kartika saat di Bandung dan mengajak Kartika bekerja sama dengannya.


Tok... Tok...


"Iya masuk. " Kata perempuan yang memakai setelan jas dan hijab yang menutupi kepalanya. Pelayan itu masuk di susuk dengan Bagas dan Kartika.


"Bu, ini ibu Kartika. " Kata pelayan itu.


"Baik, bu. Saya permisi. " Kata pelayan itu di angguki Diena dan kemudian keluar dari ruangan itu.


"Hai, apa kabarnya? " Tanya Diena yang bersalaman dengan Kartika.


"Baik, bu. " Jawab Kartika yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Diena.


"Loh.. Bagas Wirayudha. Lo, Bagas kan? " Tanya Diena yang kaget saat melihat wajah Bagas di samping Kartika.


"Iya, gue Bagas. Biasanya aja dong liat wajah guenya, ya memang gue ganteng sih dari dulu gue udah terlahir ganteng. " Kata Bagas yang mendapat tonjokan kecil dari Diena.


"Gila lo, narsis lo itu gak pernah berubah. Kenapa lo bisa sama Kartika? Jangan-jangan lo.. " Tanya Diena yang langsung di potong Kartika.


"Tidak-tidak, aku dan pak Bagas hanya teman kok, bu. " Ucap Kartika yang memotong pertanyaan Diena yang berpikir dirinya adalah kekasih Bagas.


"Teman, Dien. Calon teman hidup. " Kata Bagas yang kemudian Kartika melotot ke arah Bagas dan Bagas tersenyum.


"Hahaha, lo bisa aja. Silahkan duduk, maaf jika penyambutan ku seperti ini, bu. " Kata Diena yang masih formal memanggil Kartika.


"Kartika, bu. Panggil Kartika saja, aku ingin kita lebih akrab. " Kata Kartika.


"Oke, kalau begini panggil Diena saja. " Ujar Diena yang tersenyum.


"Baiklah, Diena. Bagaimana kalau kita mulai kerja samanya saja, karena sebentar lagi waktu aku menjemput anakku. " Kata Kartika yang tak ingin lama-lama berdekatan dengan Bagas.


"Bagaimana kalau aku yang jemput Bagus? Kamu tidak usah buru-buru melakukan kontrak kerja dengan Diena. " Kata Bagas yang menatap Kartika dengan intens begitu juga Kartika.


"Ah.. Kenapa jantung gue kembali berdetak kencang ya? Tuhan ternyata rasa cinta gue pada Kartika kini bersemi kembali. Kartika gue cinta sama lo. " Bathin Bagas yang masih menatap wajah Kartika.


"Ekhem... Di sini ada orang, kalian ini seperti dua orang yang sedang jatuh cinta. " Kata Diena terkekeh melihat Kartika dan Bagas yang saling pandang lalu membuang pandangan mereka masing-masing.


"Jangan, pak. Biarkan aku saja yang menjemput Bagus, bapak juga kan harus ke kantor. Dari kemarin aku lihat tidak ke kantor. " Kata Kartika yang merasa gugup dengan hatinya sendiri.


"Tidak, apa-apa. Nanti setelah aku jemput Bagus aku akan lebih kantor sebentar. Kamu lanjutkan pekerjaanmu, aku pergi dulu menjemput Bagus. " Kata Bagas yang berdiri dari kursinya.


"Terimakasih, pak. Maaf merepotkan bapak jadinya. " Kata Kartika.


"Tidak apa-apa aku suka direpotkan olehmu. " Kata Bagas yang mengusap rambut Kartika dan tersenyum.


"Aduh.. Senyum pak Bagas manis sekali. " Batin Kartika.


"Dien, gue titip calon masa depan gue ya. Awas lo jangan bikin dia kesulitan. " Kata Bagas yang tak sadar mengatakan itu dan Kartika hanya diam saja tanpa sadar.


"Siap bos. Lo tenang aja, masa depan lo aman sama gue. Sana pergi jemput anak lo. Kata Diena yang tiba-tiba Kartika sadar dengan ucapan Bagas. Bagas keluar dari ruangan Diena berjalan menuju mobilnya untuk menjemput Bagus di sekolah.


" Maaf, Diena aku sama pak Bagas tidak ada hubungan apapun. Dia dulu mantan bos di tempat aku bekerja. "Kata Kartika mencoba menjelaskan bahwa dirinya dan Bagas tak ada hubungan apapun.


" Kartika, aku kenal dan tahu siapa Bagas. Dia tidak akan seperti itu jika dia tidak jatuh cinta dengan perempuan itu. "Kata Diena tersenyum.


Kartika diam tak menjawab dan dia pun merasakan sikap Bagas yang memang seperti menyukai dirinya.


Lama mereka berbincang antara pekerjaan dan pribadi masing-masing, akhirnya Kartika setuju untuk bekerja sama dengan restoran Diena yang dari awal menyukai dessert Kartika sewaktu dirinya di Bandung.


Sementara di perjalanan menuju sekolah Bagus, Bagas masih memikirkan kejadian dimana dia menatap wajah Kartika begitu dekat. Cinta Bagas yang dulu ada kini mulai tumbuh kembali dan Bagas makin mencintai Kartika dan ingin memiliki dirinya seutuhnya. Namun Bagas belum tahu apa status Kartika.


Sesampainya di sekolahan Bagus, Bagas melihat banyak anak-anak berkerumun di lapangan sekolah, dan dirinya kaget melihat Bagus...


*Yuk like koment nya..


*Satu-satu bab sudah di revisi ya readers..