
Hary yang kaget mendengar sahabat serta sodara nya mengatakan dia akan menikahi Kartika. Hary mengikuti langkah kaki Bagas yang berjalan masuk lalu duduk di sofa, Bagas dengan santai menyalakan televisi lalu meminum sebuah minuman yang ada di depannya.
"Gas, lo yakin mau menikah dengan Kartika? " Tanya Hary yang duduk di samping Bagas.
"Yakinlah, emang kenapa? Ada masalah sama lo. " Kata Bagas.
"Bukan begitu, elo tau Kartika itu punya suami atau tidak terus itu anak siapa. Jangan sampe lo jadi pebinor, Gas. " Kata Hary.
"Gila, lo. Gak ada kamus dalam hidup gue jadi pebinor, lo seenaknya aja kalo ngomong. " Kata Bagas yang marah.
"Sorry, bro. Tapi lo udah siap kalo nanti Kartika balik sama suaminya, bagaimana? " Hary semakin tak ingin membuat sahabatnya sekaligus sodaranya itu merasakannya kecewa.
"Kartika itu masih sendiri, ayah Bagus pergi meninggalkan dirinya saat hamil Bagus. " Kata Bagus.
"Besok aku akan mengenalkan pada mami, aku yakin kalo mami pasti akan menyukai Kartika. " Ujar Bagas.
Sementara itu, Kartika ingin sekali pergi ke kampungnya, meminta maaf dan akan membawanya dan tinggal bersama dirinya. Namun dirinya bingung, karena dirinya dulu di usir oleh ayahnya. Dulu sewaktu Kartika hamil Bagas, dia pulang dan menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Namun seketika ayahnya marah dan mengusir Kartika, pada akhirnya Kartika tidak lagi tau keadaannya.
Jika Bagas akan menikahi dirinya, maka dia akan datang dan mencari ayam dan ibunya. Kartika ingin minta maaf dan ingin kedua orang tuanya merestui hubungannya dengan Bagas.
"Bunda... " Panggil Bagus yang membuyarkan lamunan Kartika.
Kartika tersenyum kala melihat putranya yang sangat Kartika sayangi, Bagus adalah semangatnya untuk hidup sampai detik ini.
"Ada apa, nak? " Tanya Kartika yang melihat putranya duduk di samping Kartika.
"Bunda, om Bagas pulang kok gak bilang Bagus sih? " Tanya Bagus yang kepalanya tertidur di paha Kartika.
"Itu tadi Bagus sedang tidur dan om Bagas mau ke kantor. " Kata Kartika yang mengelus rambut anaknya.
"Bunda, Bagus ingin deh punya ayah seperti om Bagas. " Kata Bagus mendongakkan kepalanya menatap sang Bunda.
"Bagus ingin om Bagas jadi ayah Bagus? Berdo'a ya sayang semoga keinginan Bagus terkabul. " Kata Kartika tersenyum menatap Bagus.
"Emang, bunda ingin menikah dengan om Bagas? " Tanya Bagus yang di angguki Kartika.
"Asyik... Bagus akan punya ayah. " Teriak Bagus yang bangun langsung memeluk bundanya.
"Tapi sebelum bunda menikah dengan om Bagas, bunda mau pergi ke rumah kakek dan nenek. " Kata Kartika.
"Memang, kalo kita kerumah nenek kakek bunda langsung menikah dengan om Bagas? " Tanya Bagus.
"Iya, setelah bunda dapat restu dari kakek sama nenek, bunda langsung menikah dengan om Bagas. " Jawab Kartika membuat anak itu semakin senang.
Keesokan harinya, Bagas sudah datang ke rumah Kartika. Dia di sambut dengan senyuman manis Kartika yang membuat Bagas semakin ingin segera menikahi Kartika.
"Hai, sayang. " Sapa Kartika yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan senyum yang manis.
"Hai, sayang. Kamu tambah cantik saja. " Ucap Bagas yang memeluk Kartika lalu mencium sekilas bibirnya.
"Ish.. Kamu pagi-pagi udah ngegombal. " Kata Kartika yang mendorong dada bidang Bagas.
"Benar, sayang. Kamu itu cantik aku gak bohong dan gak lagi menggombal. " Kata Bagas tersenyum yang kedua tanganya mengalungkan ke pundak Kartika.
"Sudahlah ayo masuk. Aku siap-siap dulu, hari ini aku mau ke restoran Diena ingin membuat dessert baru. " Kata Kartika yang berjalan menggandeng tangan Bagas.
"Jadi kerja sama dengan Diena? " Tanya Bagas dan di angguki Kartika.
"Ayah... " Panggil Bagus yang berlari kearah Bagas.
Hup
Bagas menangkap Bagus yang menabraknya. Bagas tersenyum mendengar Bagus memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Om Bagas kan mau menikah dengan bunda, jadi Bagus ingin memanggil om Bagas ayah, boleh kan om. " Kata Bagus yang mengalungkan tangannya ke leher Bagas, karena Bagas mensejajarkan dirinya dengan Bagus.
"Boleh, sayang. Om malah senang Bagus memanggi om dengan sebutan ayah. " Jawab Bagas yang tersenyum dan lalu mencium kening Bagus.
"Emang iya, sayang? " Tanya Bagas pada Kartika.
"Iya, Mas. Aku ingin menemui ayah ibuku di kampung, sudah hampir 8 tahu aku tak pulang. Terakhirnya mereka marah padaku. " Kata Kartika yang duduk dengan wajah yang sedih.
"Kamu berangkat jam berapa, biar aku antar? Sekalian aku ingin minta restu pada kedua orang tuanmu. " Kata Bagas.
"Setelah aku pulang dari restoran dan Bagus pulang sekolah. " Kata Kartika.
"Baiklah, aku akan mengantarkan mu. Bagus sudah siap kita berangkat? " Tanya Bagas pada anak sambungnya itu.
"Siap bos. Let's go to school. " Ucap Bagus yang membuat Bagas tersenyum. Bagas mengantar Kartika juga Bagus ke sekolah dan ke restoran.
Dalam perjalanan Bagas merasa terhibur dengan ocehan Bagus yang sangat membuatnya merasa bahagia. Bagas tersenyum kala melirik dan menatap perempuan yang sebentar lagi akan menjadi miliiknya. Tak pernah Bagas menduganya, bahwa dia bisa bersama Kartika.
"Jagoan sudah sampai, ayo turun. " Kata Bagas yang membukakan pintu untuk Bagus. Lalu Bagus turun dan dia mencium kedua tangan Bagas dan Kartika.
"Oke siap, bos. Bagus masuk dulu. " Kata Bagus yang kemudian masuk ke dalam sekolah. Kemudian Bagas dan Kartika melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerja Kartika.
"Sayang, terimakasih. " Kata Kartika.
"Untuk? " Tanya Bagas yang menoleh ke arah Kartika.
"Sudah mau menerimaku dan Bagus, mau mencintaiku perempuan yang hidupnya tak jelas. " Kata Kartika, lalu Bagas memberhentikan mobilnya dan menggeser duduknya agar bisa menatap wajah sang kekasih.
"Sayang, aku sangat mencintaimu dan sudah seharusnya aku menerus segala kekurangan dan kelebihanmu. " Kata Bagas yang jarinya mengusap wajah Kartika.
"Entah awalnya bagaimana aku bisa mencintaimu, sayang. " Kata Kartika yang menggenggam tangan Bagas.
Bagas mendekatkan wajahnya kepada wajah Kartika, sehingga tak ada jarak. Bagas memandang Kartika dan kemudian Kartika menutup matanya, lalu Bagas menarik tekuk Kartika dan mencium bibir Kartika dengan begitu lembut dan membuat Kartika terpesona.
Bagas tersenyum dan membersihkan siaa saliva di bibir Kartika dan lalu mencium kening Kartika.
"Sudah nanti kamu terlambat. " Kata Kartika tersenyum dan mengusap dada bidang Bagas.
"Sayang jangan menggodaku dengan senyuman manismu itu, atau kamu mau aku makan kamu di mobil. " Kata Bagas menyeringai.
"Dasar mesum. " Kata Kartika yang membuat Bagas tertawa. Mereka pun tertawa dan melanjutkan perjalanan menuju restoran.
"Baiklah aku akan jemput kamu. Hubungi aku jika kamu sudah selesai. " Kata Bagas yang lagi-lagi mencium bibir Kartika walaupun sekilas.
"Oke. " Jawab Kartika yang membentuk bulat jarinya. Bagas tersenyum dan dia melanjutkan perjalanannya ke kantor dan akan menyelesaikan kerjaannya agar bisa mengantarkan Kartika ke rumah orang tuanya.
Setelah Bagas menyelesaikan pekerjaanya, dia tampak buru-buru, dan ketika di lift Bagas menabrak Hary yang akan menuju ruangan Bagas.
Bruk
"Aduh. Lo kalo jalan liat-liat dong. " Kata Bagas yang mengusap bahunya.
"Yeee.Lo yang nabrak kenapa lo yang sewot. " Kata Hary.
"Lagian kenapa sih lo buru-buru? " Tanya Hary.
"Gue mau antar Kartika ketemu kedua orang tuanya, sekalian gue minta restu untuk nikah sama anaknya.
" Ooh.. Ya sudahlah, semoga lancar bro. "Kata Hary menepuk bahu Bagas.
" Thanks, bro. Lo emang sahabat dan sodara yang baik buat gue. "Kata Bagas yang menepuk bahu Hary juga dan Hary tersenyum.
Bagas langsung pergi menuju restoran menjemput Kartika juga Bagus berangkat ke rumah orang tuanya Kartika yang letaknya di pinggiran kota Bandung. Setelah lama perjalanan dan ngobrol-ngobrol, Bagas dan Kartika mendapat restu dari kedua orang tua Kartika. Dan juga Bagas mendapat restu dari sang Mami.
Akhirnya Bagas dan Kartika melangsungkan pernikahan di hadiri kedua orang tua Kartika dan mami Ammar dan Hary yang menjadi saksi dari pihak Bagas. Bagas banyak mengundang kolega dan rekan bisnisnya, tak lupa mami Ammar yang mengundang hampir seluruh teman-temannya. Sungguh bahagia Bagas bisa bersanding dengan wanita yang dia cintai.
Namun di seberang sana berdiri seorang laki-laki yang terlihat sangat sedih melihat keromantisan pasangan itu dan hatinya sangat sakit. Andaikan dulu dia tak menyakiti Kartika.