
Satu minggu sudah kasus penculikan Bagus, Kartika semakin lebih posesif pada Bagus. Dan setiap jemput Bagus sekolah Kartika memilih untuk meninggalkan pekerjaannya untuk menjemput Bagus. Seperti siang ini, Kartika sudah satu setengah jam menunggu di kantin sekolah Bagus sambil menikmati bakso.
"Permisi, bu. " Kata seorang pelayan yang mengantarkan juice pesanan Kartika.
"Oh, terimakasih. Bu. " Kata Kartika yang mengusap bibirnya karena kuah bakso.
Tak lama kemudian Bagas menelepon istrinya dia seperti abg yang setiap menit video call dengan Kartika. Bibir Kartika mengulas senyum ketika melihat nama yang tertera adalah 'my husband'
"Ya, Sayang. Ada apa? " Tanya Kartika dengan senyuman yang merekah.
"Kamu ada dimana, Sayang? " Tanya Bagas yang melihat di belakang Kartika banyak gerobak dagangan.
"Aku sedang di sekolah Bagus, Mas. Nunggu Bagus keluar dari kelas. " Jawab Kartika sambil menyesap juice.
"Sayang, ini kan baru jam 11. Kamu datangnya kecepatan. " Kata Bagas yang menepuk jidatnya.
"Heheheh... Sekalian aku makan bakso dulu di sini, enak tau baksonya, Mas. " Kata Kartika yang menampilkan jejeran giginya.
"Aku mau, Sayang. Nanti pulang bawakan aku dan antar ke kantor ya. " Kata Bagas tersenyum.
"Mas, kepingin juga ya. " Ujar Kartika terkekeh.
"Jangan lupa ya, Sayang. Satu bungkus pedas, oke. " Kata Bagas dengan menampakkan jarinya berbentuk huruf O.
"Baik, Mas. Nanti aku mampir ke kantor dengan Bagus. Daah... " Kata Kartika yang mencium layar ponselnya. Begitupun Bagas mencium layar ponselnya.
Satu jam kemudian Bagus menghampiri bundanya dan melihat bundanya makan bakso membuat Bagus menjadi kepingin juga.
"Bunda, Bagus mau bakso. " Kata Bagus menggoyangkan lengan Kartika.
"Bunda pesankan, tapi nanti makannya di kantor ayah ya. Ayah juga ingin makan bakso. " Kata Kartika.
"Kita mau ke kantor ayah, Bun? " Tanya Bagus yang di angguki Kartika.
"Yes, asik. " Sahut Bagus tersenyum.
Kartika memesan Bakso tiga bungkus untuk Hary, Bagas dan Bagus. Kemudian Kartu menyalakan mesin mobilnya menuju kantor Bagas bersama Bagus. Tampak kebahagiaan yang terpancar di wajah Kartika yang terus mengulas senyum. Kejadian seminggu yang lalu sudah membuat dirinya trauma takut akan kehilangan Bagus putra satu-satunya.
Mobil Kartika sudah sampai di parkiran kantor Bagas, disana Bagus dan Kartika di sambut oleh para karyawan yang sudah mengenal Kartika sebagai istri seorang CEO yang tampan dan gagah namun masih bersikap dingin pada karyawan.
Kartika melangkahkan kakinya menuju lift yang khusus untuk Bagas dan Hary sebagai petinggi perusahaan. Bagus yang sangat antusias ketika berada di kantor ayahnya, Bagus ingin cepat dewasa agar bisa memimpin perusahaan ayahnya. Pintu lift terbuka, Kartika dan Bagus berjalan menuju ruangan Bagas.
"Siang, bu. " Sapa Wina sekretaris Bagas yang masih muda namun dirinya sudah menikah.
"Siang, Win. Pak Bagas ada di dalam? " Tanya Kartika.
"Ada, Bu. Kebetulan tidak ada tamu, dan beliau sudah menunggu ibu di dalam. " Jawab Wina.
"Baik terimakasih, Wina. " Kata Kartika yang berjalan ke ruangan Bagas.
Kartika membuka pintu dan tersenyum kala melihat suaminya sedang duduk sambil menatap istrinya datang bersama anak kesayangannya.
"Ayah.. " Panggil Bagus yang langsung lari memeluk ayahnya yang sudah berdiri dengan merentangkan tangannya.
"Hup.. Anak Ayah sudah besar. " Kata Bagas yang menggendong Bagas.
"Ayah, kantor ayah besar dan bagus sekali. Nanti besar Bagus ingin seperti ayah memimpin perusahaan yang besar seperti ini. " Kata Bagus yang masih di gendong Bagas sampai ke sofa. Sementara Kartika mengambil mangkuk untuk tempat bakso yang dia beli di kantin sekolah Bagus.
"Ayah, ini bunda bawakan pesanan ayah. Ayo di makan dulu mumpung masih panas. " Kata Kartika yang sudah masuk kembali ke ruangan Bagas.
"Banyak sekali, Bun. Ini untuk siapa? " Tanya Bagas yang melihat satu mangkuk bakso.
"Oia, ini untuk Mas Hary. Apa dia ada di ruangannya? " Tanya Kartika.
"Mungkin ada, tapi nanti suruh dia makan di ruangannya saja. " Kata Bagas yang ketus dan Kartika hanya terkekeh melihat suaminya seperti cemburu.
"Ish.. Jangan cemburu sama Mas Hary, dia kan saudara kita. Jika tidak ada Mas Hary kita tidak akan berkumpul dengan Bagus. " Kata Kartika yang mencolek dagu suaminya.
"Suruh, Wina yang memanggil Hary. " Kata Bagas yang melihat Kartika keluar menuju ruangan Hary dan Kartika pun mengangguk dengan senyum.
Kartika kembali masuk dan duduk di antara laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta. Laki-laki yang sangat dia cintai, laki-laki penyemangat hidupnya. Lalu Hary masuk melihat keharmonisan keluarga saudara sekaligus sahabatnya itu.
"Eits.. Main nyomot aja lo. Emang itu buat lo? " Tanya Bagas dengan ketus menarik mangkuk bakso yang ingin di ambil Hary.
"Ck.. Kartika lihat nih suamimu, sungguh kejam sekali. " Kata Hary yang mengadu pada Kartika. Dan Kartika hanya tersenyum melihat mereka berdua berdebat.
"Alah bisanya ngadu aja lo, dari dulu lo bisanya ngadu. " Ucap Bagas melepaskan mangkuk itu.
"Kalian itu malu ada Bagus tapi masih saja meributkan hal yang sepele. " Kata Kartika yang menggelengkan kepalanya.
"Tau tuh Bagas dari dulu gek pernah berubah, badboy, casanova. " Kata Hary yang langsung keluar sambil membawa bungkus dan juga mangkuk bakso keluar.
"Hary, awas lo ya. " Teriak Bagas yang melemparkan sendok ke arah Hary namun Hary langsung menutup pintu.
"Ayah, apa-apaan sih kaya anak kecil deh. " Kata Kartika yang marah dengan sikap Bagas.
"Heheheh... Maafkan ayah, Bun. " Jawab Bagas yang cengengesan.
"Malu sama anak. " Ujar Kartika yang berjalan mengambil sendok yang dilempar Bagas.
"Ayah, kenapa selalu ribut sama om Hary? " Tanya Bagus.
"Tuh, anaknya tanyakan lihat kelakuan ayahnya. " Kata Kartika
"Om Hary itu selalu bikin ayah kesal, tapi om Hary baik kok sama ayah. Karena om Hary adik ayah yang baik, pintar dan bisa di andalkan. " Jawab Bagas.
"Bagus, juga ingin seperti om Hary pintar bisa bantuin ayah kerja. " Kata Bagus yang tersenyum.
"Bagus itu juga pintar dan sudah membantu ayah waktu ayah sedang kesulitan mengakses kerja sama dengan perusahaan besar. " Kata Bagas mengusap rambut anaknya.
Kartika memandang anak dan suaminya bercengkerama sangat bahagia. Sungguh bahagia itu sederhana, melihat dua laki-laki yang dia cintai tersenyum itu membuat Kartika bahagia. Tak bisa di tukar apapun kebahagiaan yang di rasakan Kartika saat ini.
"Bunda, bakso Bagus sudah habis. " Kata Bagus yang memperlihatkan mangkuknya kosong.
"Ayah juga habis. " Bagas juga memperlihatkan mangkuk kosongnya.
"Tunggu, Bunda ke pantry dulu ambil minum ya. " Kata Kartika yang membereskan mangkuk sisa makan anak dan suaminya.
"Bun, biar Wina saja yang ambil minum. Bunda sini duduk di samping ayah. " Kata Bagas yang menepuk sofa di sampingnya.
"Tapi, Yah. " Kata Kartika.
"Sudah, sini duduk. " Ujar Bagas.
Kemudian Wina masuk setelah di telepon Bagas yang menyuruhnya membereskan mangkuk bakso sisa makan bos dan anaknya. Juga Bagas menyuruh membuatkan minuman dingin untuk mereka.
"Wina, maaf ya merepotkan kamu. " Kata Kartika.
"Tidak apa-apa, Bu. Dengan senang hati saya lakukan. " Jawab Wina sambil senyum.
"Anakmu usia berapa, Win? " Tanya Kartika yang membantu Wina membersihkan meja.
"Baru dua tahun, Bu. " Jawab Wina.
"Wah.. Lagi lucu-lucunya itu. " Kata Kartika.
"Sudah bu, saya permisi dulu. " Kata Wina yang keluar dari ruangan Bagas.
Bagas menatap Kartika yang sangat baik dan tidak memandang dirinya istri bos pemilik perusahaan besar. Kartika tetap rendah hati dan tidak sombong. Bagas bangga pada nya, beruntung dia menikahi Kartika.
"Mas, Bagus mana? " Tanya Kartika yang menengok ke arah Bagas yang duduk menatap Kartika. Bagas kaget ketika di sampingnya Bagus tidak ada.
"Bagus.. " Panggil Bagas.
*Hayooo... Kita tebak-tebakan lagi yuk..
*Kemana kira-kira Bagus pergi..
*Silahkan like dan komen juga hadiahnya ya...