
Pagi ini Bagas dan Hary terburu-buru karena Deni dan pasukannya akan menggerebek rumah mewah yang sudah menjadi target operasi satu tahun yang lalu. Kartika membantu suaminya berpakaian dan mengantarkannya ke depan pintu.
"Do'akan hari ini misi kita berhasil ya, sayang. Agar Bagus bisa kembali kerumah ini. " Kata Bagas yang memeluk dan mencium kening Kartika.
"Ya, Mas. Aku do'akan semoga kalian baik-baik saja dan Bagus cepat kembali lagi. " Kata Kartika.
Bagas langsung masuk kedalam mobil dan mobil itu mulai melaju dengan kencang, karena waktu sudah mepet untuk berkumpul di titik temu dengan Deni sebagai Komando Pasukan Khusus. Hary fokus menatap ke depan begitu juga Bagas yang jantungnya berdetak seakan tak sabar ingin bertemu dengan anaknya.
Hary sampai di titik penggrebekan bersama tim kopassus yang di pimpin oleh Deni. Deni memberikan kode pada Bagas dan Hary untuk tidak turun dari mobil, karena mereka bisa ketahuan sedang di kepung.
"Har, gue kok deg-degan ya. " Kata Bagas yang memegang dadanya.
"Ah.. Lo mah kaya anak cewek mau ketemu ama pacarnya. " Jawab Hary yang tersenyum. Kemudian Bagas menjitak kepala Hary dan Hary pun mendengus kesal sambil mengusap kepalanya.
"Gila lo, sakit tau. " Kata Hary yang mengusap kepalanya.
"Gue serius tau, Hary. Lo malah bercanda. " Kata Bagas dengan ketus.
"Hei, Gas. Lihat itu Deni mulai bergerak. " Kata Hary yang menunjuk ke arah Deni dan pasukannya ke arah rumah itu.
"Kita turun kesana yuk, Har. " Kata Bagas yang hendak ikut turun.
"Tunggu aba-aba dari Deni, Gas. Jangan sampai kita celaka. " Ujar Hary. Lalu radio kontrol di mobil Hary berbunyi dan suara Deni mengatakan agar Bagas dan Hary diam di mobil saja.
"Tuh, lo denger biar Deni yang bergerak. Pasukan Deni juga cukup banyak. " Kata Hary.
"Eh.. Har.. Lihat kepala sekolah sudah tertangkap tuh. Pingin gue hajar tuh muka yang sok khawatir anak gue hilang. " Kata Bagas yang geram melihat kepala sekolah Bagas di tangkap oleh anak buah Deni.
"Jangan elo, Gas. Gue juga mau pites tuh orang yang udah jual keponakan gue. " Kata Hary yang mengelintir tangan Bagas.
"Awww.... Sakit b****o. " Teriak Bagas.
"Sorry, habisnya gue geram sama tuh pak tua. Bukannya cari akherat malah cari mati tuh pak tua. " Seloroh Hary.
"Nah, itu anak lo, Gas. " Kata Hary yang menunjuk ke arah Deni yang membawa Bagus keluar. Bagas pun langsung keluar dari mobilnya.
"Ayah... " Teriak Bagus yang berlari menuju Bagas.
"Bagus, anak ayah. " Bagas langsung memeluk Bagus dan menciumi wajah anaknya.
"Bawa masuk mobil, Gas. Cepat!! " Perintah Deni yang dengan serius. Bagas pintu langsung membawa masuk Bagus ke dalam mobil dan memberinya minum.
"Bagus, kamu tidak apa-apa? " Tanya Hary yang di jawab dengan hanya menatap mata tajam Bagus seperti Bagas.
"Sayang, ada yang sakit? " Tanya Bagas yang melihat di seluruh tubuh Bagus.
"Gak ada, Yah. Mereka hanya menyuruh Bagus membuka sebuah jaringan yang di blokir. Akses jaringan yang untuk merusak negara. Tapi Bagus gak bisa karena kodenya terlalu sulit, Bagus bilang aja untuk membuka akses jaringan nya sedang error butuh waktu sampai 3 hari. " Kata Bagus yang menceritakan kan pada ayahnya.
"Anak ayah emang pintar. Bunda pasti senang ketemu kamu lagi. " Kata Bagas mengusap wajah anaknya.
"Bunda gak ikut, Yah? " Tanya Bagus sambil meminum air yang di berikan Bagas.
"Nanti kita pulang dan ketemu sama bunda juga Dennis. Apa kamu kangen sama bunda dan Dennis.
" Bagus kangen banget sama bunda dan Dennis. "Jawab Bagus.
" Sabar, ya. Kita pasti ketemu sama bunda. "Kata Bagas.
" Gas, ini Deni bilang kita langsung pulang saja. "Kata Hary.
" Baiklah, Har. Ayo jalankan mobilnya. "Jawab Bagas.
Kemudian Hary menjalankan mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Bagas duduk di belakang dengan Bagus yang tertidur di pahanya. Di usapnya rambut anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hary yang melihat saudaranya yang sudah kembali bertemu dengan anaknya.
Beberapa jam perjalanan, akhirnya sampai dirumah Kartika. Bagas melihat Kartika sudah menunggu di teras rumahnya bersama mami Ammar. Kemudian Bagas membangunkan Bagus yang tertidur di pangkuannya.
" Sayang, sudah sampai. Itu bunda sudah menunggu, ayo bangun. " Kata Bagas yang menggoyangkan tubuh anaknya. Lalu Bagus bangun dan melihat bundanya sedang berdiri bersama oma nya. Kemudian Bagus membuka pintu dan keluar berlari ke arah Kartika.
"Bunda... " Teriak Bagus yang langsung menubruk tubuh sang ibu.
Dari kejauhan Bagas dan Hary saling menatap dan tersenyum. Bagas menghampiri anak dan istrinya lalu Bagas juga memeluk mereka, mencium kepala anaknya dan juga istrinya.
"Maafkan bunda ya, sayang. Kalau bunda tidak terlambat menjemputmu mungkin Bagus tidak akan di bawa pergi. " Kata Kartika yang menangis.
"Sudahlah, bun. Yang penting Bagus sudah kembali. " Kata Bagas.
"Iya bunda jangan menangis lagi. Bagus baik-baik saja, mereka tidak menyakiti Bagus. " Kata Bagus yang seperti orang dewasa.
"Ayo sekarang masuk, Oma sudah masak makanan kesukaannya Bagus. " Kata mami Ammar.
" Ayo bunda, Bagus lapar. "Kata Bagus yang menggandeng tangan ayah bundanya.
Bagus duduk di samping ayahnya dan juga bundanya. Hary dan mami Ammar tersenyum bahagia melihat Bagas dan Kartika tersenyum kembali. Bagas dan Kartika pun bahagia Bagus sudah kembali di tengah-tengah mereka.
" Sayang, mau ayam goreng? " Tanya Kartika pada Bagus.
"Mau, bunda. " Jawab Bagus.
"Ayah, mau tidak? " Tanya Kartika pada Bagas.
"Mau dong, bun. Masa Bagus yang di kasih ayah tidak. " Kata Bagas yang tertawa dan semua tersenyum.
"Akhirnya, Oma bisa melihat cucu Oma lagi. " Kata mami Ammar yang tersenyum pada Bagus.
"Terimakasih, Oma. " Jawab Bagus juga tersenyum pada mami Ammar.
"Gas, nanti kalau sudah selesai makan kita ke ruang kerja ada yang penting. " Kata Hary.
"Baik, kalau lo udah selesai tunggu saja dulu disana. " Kata Bagas yang masih mengunyah makanan di mulutnya.
"Oke, gue duluan ya. " Kata Hary.
Bagas masih ingin bersama anaknya dan menghilangkan rasa rindunya pada Bagus. Setelah selesai makan, Bagas menuju ruang kerjanya dan dia duduk di kursi di depan Hary.
"Ada apa, lo? " Tanya Bagas yang menyandarkan kepalanya di belakang sofa.
"Deni memberitahu bahwa dia sudah menangkap para penjahat itu dan sekarang mereka semua sudah ada di penjara. " Kata Hary.
"Besok gue mau ketemu dengan kepala sekolah Bagus dan ingin mengajukan pergantian kepala sekolah yang baru agar tidak ada lagi Bagus yang kedua dan yang ketiga. " Kata Bagas.
"Oke, tapi besok lo ngantorkan? " Tanya Hary.
"Iyalah, pasti banyak kerjaan yang menumpuk besok. " Kata Bagas.
"Oke, gue pamit pulang ke apartemen ya. " Kata Hary.
"Tumben lo pulang ke apartemen? Awas lo jangan bawa masuk cewek lo. " Kata Bagas yang melotot ke arah Hary.
"Heheh... Lo kaya gak tau gue aja, sok polos lo. " Ujar Hary.
"Eh.. Jadi bener lo mau bawa cewek ke apartemen gue? Apes tuh nantinya apartemen gue. " Kata Bagas yang melemparkan bolpoin ke arah Hary.
"Lo, mah enak ada tempat penyaluran. Lah gue, kemana. " Kata Hary yang berdiri dari sofa yang dia duduki.
"Makanya nikah, dan cari perempuan baik-baik. " Kata Bagas. Hary keluar tanpa mendengar ocehan saudara sekaligus sahabatnya. itu.
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Bagas dan Hary yang bekerja dari pagi sampai siang hari dalam mencari Bagus. Tapi sekarang Bagus sudah kembali dan Bagas sudah bisa melihat senyum di bibir Kartika.
*Tenang... Masih ada lanjutannya kok..
*Maaf author janji malam akan up tapi pagi author upnya.. karena semalam author tertidur sambil mencari sesuatu untuk novel ini.
*Sebelum lanjut bagaimana kalo kasih like, koment dan hadiahnya biar author makin semangat nih buat lanjut...
*Terimakasih...Untuk para reader ku semoga Alloh membalasnya dengan seribu kebaikan...
Love you all reader... 😘