Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Sangat Manis


"Ayah." teriak Bagus yang sudah sampai di rumah dan melihat ayahnya sedang duduk di teras rumah.


"Anak ayah, sudah pulang," kata Bagus.


"Mas, kok sudah pulang?" tanya Kartika yang duduk di samping suaminya.


"Tadi di telepon mami katanya minta kita datang kerumah malam ini," jawab Bagas.


"Mami, sudah pulang?Kapan? Kok aku tidak di kasih kabar?" tanya Kartika bertubi-tubi.


"Sayang, pertanyaannya satu-satu dong," ujar Bagas.


"Mami kapan pulangnya?" tanya Kartika pelan-pelan.


"Semalam, mami baru saja datang," jawab Bagas terkekeh.


"Kita kapan kerumah mami, sayang?" tanya Kartika.


"Nanti malam, sayang. Kita makan malam disana, bulan depan pernikahan Harry dan Wina. Mami pulang untuk menghadiri pernikahan anak kesayangannya," ujar Bagas.


"Aku kangen sama mami," ujar Kartika.


"Bagus juga mau ketemu sama oma, yah," sahut Bagas.


"Bagus mau ketemu sama oma,sekarang ganti baju lalu makan dulu. Nanti malam kita kerumah oma, nanti ada om Harry dan tante Wina disana," kata Bagas.


"Asik!" seru Bagus yang lari kegirangan.


"Ck, senang sekali dia mau ketemu sama Harry saja," ujar Bagas.


"Itu karena Harry lebih dekat dengan Bagus daripada ayahnya," kata Kartika.


"Memang apa hebatnya dia, hingga anakku tergoda dengan Harry?" tanya Bagas.


"Mas, ada anak yang merasa nyaman ketika dekat dengan seseorang bisa jadi Bagus merasa nyaman dengan Harry karena Harry lebih bisa mengerti dirinya daripada kamu," kata Kartika.


"Ck, semoga yang ini lebih nurut sama aku.


" Semoga, ya mas. Ayo kita masuk, mas sudah makan siang?"tanya Kartika pada suaminya.


"Aku sengaja menunggu kalian untuk makan siang bersama," jawab Bagas.


"Baiklah, ayo," ujar Kartika yang menggandeng lengan Bagas.


Malam hari, keluarga Bagas pergi kerumah mami Ammar yang baru saja datang dari Paris. Mami Ammar mempunyai bisnis disana, dan melebarkan sayapnya sebagai seorang disainer yang handal. Mobil Bagas sampai di depan gerbang lalu kemudian satpam membuka gerbang dan masuk kedalam, Bagas juga melihat mobil Wina sudah datang kerumah mami Ammar.


"Assalamu'alaikum," sapa Kartika yang masuk sambil membawa dessert dari tokonya.


"Kartika," panggil mami Ammar yang turun dari tangga. Kemudian memeluk menantunya dan mereka cipika-cipiki.


"Kartika, kangen deh sama mami," ujar Kartika yang memeluk mertuanya.


"Mami juga, kapan kalian akan ke Paris?" tanya mami Ammar.


"Sepertinya masih lama, karena 4 bulan lagi ini keluar," jawab Kartika sambil mengelus pelit buncitnya.


"Kamu hamil lagi?" tanya mami dan Kartika mengangguk sambil tersenyum.


"Selamat ya, sayang. Semoga sehat sampai lahir," ujar mami.


"Wina dan Harry mana, mam?" tanya Kartika yang mencari Wina.


"Ada di taman, sayang. Oia, kamu bawa apa?" tanya mami.


"Dessert kesukaan mami yang Kartika buat sendiri tadi siang. Begitu tahu mami pulang, Kartika langsung membuat kue kesukaan mami," jawab Kartika.


"Wah, sepertinya enak. Kamu memang pintar," puji mami Ammar pada menantunya.


"Mi, apa kabarnya?" tanya Bagas yang mencium punggung tangan maminya lalu memeluknya.


"Mami sehat berkat do'amu, sayang," jawab mami Ammar.


"Bagus, salam dulu sama oma," kata Kartika menyuruh anaknya menyalami mertuanya.


"Bagus, sudah besar. Oma kangen sama Bagus," kata mami Ammar yang mencium Bagus dan mengusap rambutnya.


"Bagus juga kangen sama oma," ujarnya.


"Bagus ini juara sains juga lomba merakit robot di sekolahnya," kata Bagas.


"Oiya, wah. Cucu oma hebat ya," ujar mami Ammar dengan senang.


"Nanti tahun depan Bagus akan ikut lomba merakit robot di Jepang," kata Bagas.


"Wow, hebat sekali anakmu. Mami bangga kalian bisa mendidik anak bisa menjadi sehebat ini," ujar mami.


"Bro!" seru Harry yang baru masuk kedalam bersama calon istrinya.


"Darimana, lo?" tanya Bagas.


"Pacaran lah ngapain lagi," jawab Harry yang menggandeng tangan Wina.


"Belum sah, mojok terus," ledek Bagas.


"Iri, bilang. Lagian udah tua, udah mau punya anak lagi. Masih aja iri liat orang lain pacaran," kata Harry.


"Iih, siapa yang iri sama lo. Jangan geer ya, gue gak pernah tuh iri sama lo," sahut Bagas yang memutar bola mata malas melihat Harry.


"Kalian itu sudah punya anak dan istri masih saja ributin hal yang gak penting," ujar mami Ammar.


"Bagas tuh mam, bisanya ngomel terus kayak emak-emak," jawab Harry yang kemudian duduk di sofa depan TV.


"Enak aja gue, lo kali."


"Lo, Gas. Lo, yang mulai jangan lempar batu sembunyikan kesalahan lo,"


"Ck, lo tu ya sama kakak gak pernah ngalah," kata Bagas.


"Seharusnya lo yang ngalah sama adik, dasar kakak gak ada akhlak," cibir Harry.


"Eh, lo bilang apa?" tanya Bagas yang melotot ke arah Harry.


"Sudah.. Sudah.. Kalian tidak malu, Bagas kamu sudah mau punya anak 2 masih aja seperti anak kecil," kata mami Ammar.


"Mampus lo," ujar Harry yang tertawa melihat Bagas di marahi mami.


"Abang, sudah. Kamu itu kalau ketemu sama mas Bagas pasti ribut," kata Wina.


"Lo, ngetawain gue lo?" tanya Bagas yang melihat Harry tertawa melihat Bagas di marahi mami.


"Siapa, gua ketawa sendiri," jawab Harry tersenyum menang.


"Mas, sudah malu ada Bagus di sini," ujar Kartika.


"Kalian itu, kalau ketemu pasti ribut. Kalau tidak ketemu saling mencari, mami pusing lihatnya. Dari dulu selalu saja ribut, makanya mami tidak mau pulang ke Indonesia karena dirumah seperti ini." kata mami Ammar.


"Memangnya dari dulu ya, mi?" tanya Kartika.


"Iya, dari kecil mereka itu berantem gak jelas. Tapi kalau salah satu tidak ada mereka nyariin," kata mami.


"Sangat manis sekali ya, mi. Mereka itu lucu juga," ujar Kartika yang terkekeh melihat sikap suaminya.


"Mami apa sih bongkar rahasia," kata Bagas.


"Tau nih, mami," sahut Harry.


"Tuh, lihat kan mereka akur lagi," kata mami.


"Wina, hati-hati Harry itu banyak mantannya secara dia itu mantan playboy cap kacang, hahaha," Bagas tertawa meledek adiknya itu.


"Jangan percaya sayang, yang mantan cassaova disini siapa? Dulu setiap hari selalu ada banyak perempuan yang datang kerumah mencari Bagas. Betul, mi," kata Harry.


"S****l lo, cari mati lo sama gue!"


"Mas, apa sih. Harry, emang mas Bagas banyak yang pacarnya?" tanya Kartika.


"Suda, sudah. Ayo kita makan, Bagus.."


Mami Ammar melerai perdebatan anak laki-lakinya yang selalu berdebat tak penting. Namun mereka saling menyayangi sarung sama lain, Bagas dan Harry meskipun bukan saudara kandung tapi mereka tetap saling sayang, dan menjaga mami Ammar yang usianya sudah tak lagi muda. Makan malam terasa sangat special, tak ada suara yang berbicara hanya dentuman suara sendok dan garpu. Setelah makan malam, mereka kembali mengobrol masalah pernikahan Harry dan Wina yang menghitung beberapa hari lagi. Mami Ammar yang seorang desainer membuatkan gaun pengantin dan kebaya untuk akad nikah.


"Sepertinya cocok deh denganmu, Win," kata Kartika yang membantu Wina mengenakan kebaya buatan mertuanya..


"Iya, kak. Bagus lagi, aku beruntung bisa memakai ini," ujar Wina yang memandang dirinya di cermin.


"Cantiknya, calon menantu mami," kata mami Ammar yang masuk kedalam kamar Harry yang melihat Wina menggunakan kebaya rancangan maminya.


"Ah, mami bisa saja," jawab Wina dengan malu.


"Iya, sayang kamu cantik. Betul,Tika?" tanya mami pada Kartika yang sedang menutup bagian belakang kebaya Wina.


"Betul, Wina. Kamu cantik sekali memakai kenyataan ini. Ayo kita turun biar mas Harry melihat cantiknya calon istrinya," kata Kartika.


"Aku malu, kak. Jangan deh, biar abang Harry penasaran," ujar Wina tersenyum.


"Benar juga, ya sudah kamu jangan turun. Biar anak mami itu penasaran seperti apa calon istrinya itu," kata mami yang mendengar percakapan menantunya.


Lalu ketiga wanita beda generasi itu saling tertawa. Sementara Harry dan Bagas juga Bagus yang sedang menonton balap motor, mereka asik menonton Valentino Rossi beradu kecepatan dengan Pedrosa yang membuat tegang keduanya.


"Ya, kalah deh Pedrosa. Gue bilang juga apa


pasti yang menang Rossi lagi," kata Harry mengambil cemilan di meja.


"Bagus juga udah tau, om. Yang menang pasti idola Bagus Rossi," ungkap Bagus.


"Eh, Har. Wina gak keluar-keluar cobain gaun pengantinnya?" tanya Bagas yang melihat keatas.


"Iya, juga. Aduh kok gue jadi deg-degan ya, Gas."


"Ah, lo kaya abege aja deg-degan," ujar Bagas.


Kemudian tak lama, Kartika dan Wina juga mami turun dari atas kamar Harry. Harry dan Bagas saling tatap bengong, karena Wina tidak memakai gaun dan kebaya buatan maminya.


"Loh, ko gak pakai gaun, sayang? Di coba belum gaun dan kebayanya?" tanya Harry.


"Udah, tapi aku gak mau kamu lihat aku pakai gaun atau kebaya," jawab Wina.


"Kenapa?" tanya Harry mengerutkan keningnya.


"Biar kamu penasaran dengan penampilan aku," kata Wina tersenyum.


"Ish, udah mulai nakal nih," ujar Harry menarik hidung Wina dan memeluknya.


"Cieeee, om Harry dan tante Wina pacaran kaya bunda dan ayah pacaran terus." goda Bagus membuat Wina malu.


"Memangnya ayah sama bunda sering pacaran ya?" tanya Harry..


"Sering pacaran, emang Bagus pernah lihat ayah dan bunda pacaran?" tanya Harry.


"Sering, Om. Tadi mau kerumah oma ayah dan bunda pacaran dulu," kata Bagus.


"Bagus, emang gak boleh ayah pacaran sama bunda?" tanya Bagas yang merangkul pundak Kartika.


"Lo, Gas. Udah ngeracunin otak anak lo sendiri, ck, ck. " kekeh Harry.


"Bagus lihat tadi kita mau ke rumah oma, ayah," kata Bagus


"Bagus, lihat apa?" tanya Bagas.


"Ayah, cium bunda," jawab Bagas.


"Itu, ciuman sayang. Ayah, sayang sekali sama bunda jadi ayah cium bunda. Bagus mau ayah cium?" tanya Bagas.


"Gak ah, Bagas kan sudah besar masa dicium kaya anak kecil," ujar Bagus.


"Bagus, ayah selain cium bunda ngapain aja?" tanya Harry menggoda Bagas.


"Jangan macam-macam lo, Har," kata Bagas yang melempar buah apel kewajah Harry.


"Mas, Bagas jangan lempar apel ke wajah abang Harry dong, kasihan," kata Wina yang apelnya hampir mengenai wajah Harry.


"Ck, sama anak barongsai saja kasihan. Kamu akan tahu wajah aslinya," ujar Bagas.


"Wina udah lihat ganteng wajah calon imam Wina," kata Wina bergelayut di pundak Harry.


"Ueeek,ganteng apanya?" tanya Bagas seperti mau muntah meledek Harry.


"Bagus, ayo cerita Bagus tau gak ayah sama bunda pacaran," Harry terus bertanya dan dia ingin meledek Bagas.


"Ayah sama bunda kalau sudah di kamar lama sekali, sampai Bagus cape ketuk-ketuk pintu kamar ayah bunda," kata Bagus.


"Memang ngapain di kamar lama?" tanya Harry.


"Kata ayah, ayah itu sedang menengok adek bayi," jawab Bagus dengan polosnya.


"Waah.. Waah.. Bagas lo emang sudah meracuni otak anak lo, Gas. Lo, bisa di laporkan," kata Harry.


"Waah, kecebong gue ngomongnya asal aja," kata Bagas.


"Mas, kok kecebong sih," ujar Kartika memukul lengan Bagas.


"Itu, apalagi kalo bukan kecebong. Anakan?"


"Ayah, Bagus kan anak ayah bukan kecebong. Memangnya Bagus anak kodok?"


"Hhahahhaha... " Harry tertawa melihat wajah Bagas yang bingung.


"Puas lo ya, Har. Awas lo, gue balas kalo lo udah punya anak," kata Bagas.


"Mmmphhh," Harry terdiam menahan tawanya.


"Ayah, kalau Bagus kecebong berarti ayah kodoknya dong. Iya akan om, Harry,"


"Betul-betul, ayahmu kodok budug. Hahahhaha..." Harry mengeraskan ketawanya.


"S****l lo. Bagus kok bilang ayah kodok sih?" tanya Bagas.


"Makanya kalo ngomong itu jangan asal keluar aja, lihat jadinya," ujar Kartika.


"Gara-gara Harry gak bener nih," kata Bagas.


Harry masih tertawa dengan keras dan Wina juga hanya senyum-senyum saja melihat Bagas dan Harry yang saling meledek. Mereka saling menyayangi dengan cara mereka sendiri, walaupun sering berantem dan berdebat tapi Bagas dan Harry tim yang solid di kantor. Dan Wina baru melihat tingkah Bagas, bos yang terkenal galak, perfect juga tak mentolerir kesalahan karyawan, sekarang sikap bosnya itu seperti anak kecil yang saling meledek.


Kartika juga tersenyum melihat Bagas dan Harry, suasana malam yang penuh kebahagiaan. Kartika dan Bagas menginap di rumah mami Ammar, karena Kartika masih kangen dengan ibu mertuanya. Harry mengantarkan Wina pulang dan Bagus sudah tidur di kamar karena lelah bermain dengan Harry.


"Sayang, Bagus sudah tidur?" tanya Bagas yang bersandar di tembok ranjang.


"Sudah," jawab Kartika yang mengambil daster kesayangannya lalu mengganti baju di hadapan Bagas.


Bagas tergoda dengan keindahan yang terpampang nyata di depannya. Bagas langsung memeluk dan m*******u Kartika dengan lembut. Kartika pun tak tahan menahan hasrat, dia pun m********h, lalu Bagas mengangkat istrinya dan mereka berakhir melakukan hubungan suami istri yang halal dan mendapatkan pahala.


Hampir dua jam Bagas dan Kartika berolahraga malam di kamar Bagas yang luas dan kedap suara, sehat suara-suara mengenakkan tak terdengar di luar. Bagas memang paling bisa membuat istrinya seperti terbang ke langit. Dari awal menyentuh Kartika hingga sekarang rasanya belum puas dengan satu kali berhubungan. Pasti mereka akan berhubungan sampai pagi dan Bagas benar-benar puas.


"Mas," panggil Kartika membuat Bagas terbangun.


****


Hai.. Reader.. Maafkan author yang baru up..


Mulai bulan ini bab nya author buat panjang ya... Semoga suka dan makin banyak kasih like.


Yuk.. dukung dan support terus karya Anak genius author.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan Votenya.. Reader..


love you sekebon kacang ❤❤❤❤


Salam ByYou