Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Like Father Like Son


Sudah 1 minggu Bagus dirawat, dan sudah 1 minggu Bagas bolak-balik bergantian menunggu Bagus. Hari ini kondisi Bagus sudah lebih baik dan dokter memperbolehkan Bagus pulang. Bagas membereskan pakaian Bagus dan memasukkannya kedalam koper sementara Kartika sedang menyuapi Bagus sarapan.


"Sayang, hari ini tidak ke kantor?" tanya Kartika yang menengok suaminya yang sedang merapikan baju.


"Hari ini aku ingin menemani kalian, jadi aku menyuruh Hary dan Wina yang mengatur semuanya," ujar Bagas. " Nah, sudah selesai. Kapan dokter akan datang?" tanya Bagas meletakkan kopernya dekat sofa agar tidak lupa membawanya.


"Ayo, Bagus sedikit lagi, habiskan makannya biar kamu cepat sehat." Kata Kartika yang mengangkat sendok ke mulut Bagus.


"Sudah kenyang, bunda," jawab Bagus menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Sedikit lagi, sayang." Ujar Kartika. Bagus menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, jika memang sudah kenyang jangan di paksakan." Sahut Bagas.


"Hufftt.. Anak sama ayah sama saja," ujar Kartika yang mendengus kesal menyimpan piring ke nampan dan meletakkan nampan itu di meja.


"Like father like son,sayang." Kata Bagas menyeringai, Kartika hanya memutar bola mata malas.


"Ayah, hari kita pulang?" tanya Bagus.


"Iya, kita tunggu dokter untuk memeriksa ulang dirimu, boy." Kata Bagas.


"Nanti jadi belikan Bagus mainan baru, yah?" tanya Bagus.


"Jadi, sayang." Sahut Bagas.


"Mas,jangan terlalu sering membelikan Bagus mainan. Sudah banyak mainannya, "


"Tak apa, bunda. Aku senang jika Bagus meminta banyak mainan. Lagipula aku bekerja untuk kalian." Kata Bagas tersenyum menatap Bagus.


"Terserah, kamu saja," ujar Kartika.


Tak lama kemudian laki-laki paruh baya masuk dan mulai memeriksa Bagus. Laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu tersenyum melihat Bagus yang aktif dan terlihat segar.


"Jagoan, hari ini sudah bisa pulang dan istirahat dirumah. Ingat jangan telat makan ataupun terlalu lelah." Kata Dokter yang menyimpan alat-alat periksanya.


"Bagus sudah boleh pulang, dok?" tanya Bagus pada dokter yang sudah selesai memeriksa dirinya.


"Iya, Bagus sudah boleh pulang." Jawab dokter dengan senyuman.


"Terimakasih, dokter," ujar Bagus membalas senyuman dokter tersebut.


"Bapak Bagas, nanti tolong di jaga untuk makannya juga jangan terlalu lelah," kata dokter pada Bagas.


"Baik, dok. Saya pasti kan Bagus akan saya lebih jaga pola makannya." Jawab Bagas yang bersalaman dengan dokter.


Setelah dokter keluar, Bagus bangun di bantu oleh Kartika dan duduk di kursi roda. Kartika mendorong kursi roda dan Bagas membawa koper dan berjalan di belakang Kartika. Lalu mereka masuk kedalam mobil, Bagus duduk dibelakang sendiri sambil bersandar di jok belakang.


"Ayah, kita mall dulu." Ujar Bagus.


"No, kita pulang kerumah dulu istirahat. Kamu kan baru sembuh dan harus banyak istirahat," kata Kartika.


"Ayah... " Rengek Bagus yang menarik lengan ayahnya.


"Turuti apa kata bunda, boy." Kata Bagas, dan Bagus akhirnya menurut lalu dia memasang wajah cemberut.


"Kamu, itu jangan terlalu keras sama Bagus." kata Bagas yang menjalankan mesin mobil lalu melajukan dengan sedikit kencang.


"Mas selalu manjain Bagus, jadi dia seperti itu manja." Jawab Kartika.


"Terus aku harus manjain anak tetangga gitu?" tanya Bagas sambil tersenyum melihat istrinya marah.


"Ya, bukan seperti itu. Hanya saja jangan terlalu berlebihan, anak jika terlalu sering dimanja dia akan jadi sosok yang cengeng." Ujar Kartika.


"Ya sudah mulai besok aku manjain anak paijo." seloroh Bagas.


"Iih.. Ya sudah aku mau manjain Sherrin saja, dia kan tidak punya ibu," ujar Kartika yang tersenyum menatap ke jendela.


"Eh.. Enak saja, biar kamu bisa deket sama Randi! Rupanya senang ya di perhatikan dan di pandangin Randi?" ucap Bagas mulai emosi.


"Iya, aku suka kalau Randi pandangin aku." Kata Kartika yang senang bila suaminya cemburu. Kartika hanya cekikikan melihat raut wajah suaminya.


"Ish.. Kamu tuh memang genit." Kata Bagas.


"Lagian, mas punya anak sendiri masa mau manjain anak tetangga." Kata Kartika.


"Kamu kan melarang aku untuk manjain Bagus, jadi ya aku manjain saja anak tetangga." Kata Bagas.


"Bunda sama ayah tidak ribut, hanya sedang berdiskusi untuk program punya adik buat Bagus." Kata Bagas.


"Mas.. " Kartika langsung menutup mulut Bagas dengan kedua tangannya.


"Apa sih, mas jadi gak bisa nafas." Kata Bagas.


"Lagian ngomong itu gak di saring dulu." Ujar Kartika.


"Aku ngomong apa?" tanya Bagas.


"Tadi mas bilang mau bikin adik buat Bagus." Sahutnya.


"Iya memangkan kita ada rencana mau bikin adik buat Bagus." Kata Bagas.


"Tapi jangan di depan Bagus, dia kan masih anak-anak." Kata Kartika.


Sementara Bagas dan Kartika berdebat, entah apa yang di debatkan. Berbeda dengan Randi pria yang sudah berusia 35 tahun itu semakin matang itu sudah melupakan rasa kagumnya pada Kartika, karena ketika mencuri pandang pada Kartika mata elang Bagas langsung melorot padanya.


Kini Randi sedang melamun memikirkan gadis yang di tabrak motornya, Randi memikirkan sikap bar-bar gadis yang super cuek itu. Randi perlahan menyukai gadis itu dan membuat ingin bertemu kembali.


"Permisi, pak." Panggil seorang sekretaris Randi Milea yang masuk kedalam ruangan.


"Ada apa, Milea?" tanya Randi yang tersadar dari lamunannya.


"Ini dari bagian finishing, pak," kata Milea yang menyerahkan beberapa contoh piring melemin yang sudah jadi.


Randi membolak-balikkan piring buatan pabriknya, Randi merasa puas dan langsung menyuruh Milea untuk segera kebagian packing. Kemudian Randi keluar dari ruangan untuk melihat packing piring melamin. Tiba-tiba dia menabrak seorang gadis dengan seragam pabrik miliknya.


"Awww... " Gadis itu meringis kesakitan karena kepalanya membentur dada bidang Randi.


"Heh.. Kalau jalan itu pake mata, dong! " teriak Freya yang mengusap kepalanya.


"Kamu.. " Tunjuk Randi pada Freya.


"Oh.. Ternyata om om cabul, lo ikutin gue ya." Kata Freya dengan ketus dan emosi.


"Freya, kamu tidak sopan. Dia.. " Milea tak meneruskan perkataannya karena Randi melarangnya berbicara.


"Memang siapa dia? Dia itu om om cabul, mesum." Ucap Freya dengan kesal.


"Jadi kamu kerja disini?" tanya Randi tersenyum dengan licik.


"Ya, aku kerja disini. Memangnya kenapa? Hah.. " Tanya Freya yang berkacak pinggang dan mendongak ke atas. Karena Randi lebih tinggi dari Freya.


"Kamu tahu siapa pemilik pabrik ini?" tanya Randi menyeringai.


"Mana gue tahu pemilik pabrik ini siapa, gue itu kerja disini dan gak perlu tahu siapa pemilik pabrik." Kata Freya.


"Kalau pemilik pabrik ini aku, apa kamu tidak takut jika kamu akan di pecat," kata Randi menundukkan wajahnya sehingga wajahnya dan Freya hanya berjarak satu jengkal.


"Hahahah... Jangan ngelawak lo." Kata Freya tertawa menatap Randi.


"Milea.. " Panggil Randi pada sekretarisnya.


"Iya, pak," jawab Milea yang melotot pada Freya.


Freya yang tadi berani menantang Randi kini nyalinya menciut.


"Kenapa? Takut di pecat?" ledek Randi yang menyeringai.


"Tidak siapa takut, jika di pecat dari sini masih banyak pekerjaan yang aku jalani." Kata Freya.


"Baiklah, Milea antarkan nona ini. Hmmm,,, siapa namamu?" tanya Randi dengan gaya coolnya.


"Freya, pak. Dia bagian packing." jawab Milea.


"Aaa.. Freya, kamu tunggu si ruanganku secepatnya." Kata Randi yang penuh penekanan.


Randi berjalan melewati Freya dan Milea, Freya mengusap wajahnya dengan kasar. Sementara Milea melotot seakan marah pada dirinya.


Sementara itu Bagus dan Bagas yang tertidur di sofa, karena Bagas menemani Bagus bermain menyusun balok yang di belikan oleh Hary siang tadi. Kartika hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar, like father like son." ujar Kartika sambil tersenyum.