
Bagus sudah terlelap dan tidur di kamarnya karena seharian dia mengikuti lomba dan pulangnya di ajak Bagas jalan-jalan. Kartika keluar dari kamar mandi yang dibalut dengan handuk saja. Bagas yang melihat pemandangan indah di depannya, langsung saja Bagas mengajak istrinya menggapai surga.
Setelah selesai pergumulan panas, itu Bagas selesai mandi dia langsung dudul disofa dengan laptopnya. Kartika juga selesi membersihkan diri dan langsung membuatkan kopi untuk suaminya.
"Mas, aku mau tanya. " Kata Kartika yang duduk di samping suaminya.
"Apa? " Jawab Bagas melirik Kartika yang wangi shampo menyeruak hidungnya.
"Randi itu seorang single parents? " Tanya Kartika.
"Kenapa kamu tanya soal Randi? " Bagas balik bertanya.
"Ah.. Tidak hanya saja laki-laki mapan dan ganteng seperti dia masa tidak ada wanita yang ingin. " Jawab Kartika membuat mata Bagus melotot ke arah Kartika dan Kartika hanya menampilkan giginya.
"Aku gak suka kamu bilang laki-laki ganteng. Cukup aku yang ganteng ya. " Ujar Bagas dengan ketus.
"Dih... Marah, cemburu. " Kata Kartika dengan menahan tawa.
"Aku tidak marah ataupun cemburu. " Kata Bagas.
"Ya aku kan cuman bertanya karena kamu itu kan temanmu. " Kata Kartika.
"Ya tapi aku gak suka kamu menyebutkan laki-laki lain ganteng, mapan, keren. Aku gak suka. " Bagas makin meradang.
"Iya... Iya.. Maaf jangan marah marah nanti cepat tua. " Ujar Kartika.
"Terus kenapa kamu tanya soal Randi? " Tanya Bagas.
"Nanti kamu marah lagi. " Ujar Kartika.
"Aku tidak marah jika kamu mengatakan laki-laki lain ganteng. " Sahut Bagas.
"Kenapa laki-laki seperti Randi tidak menikah lagi? " Tanya Kartika yang melihat suaminya kembali ke layar laptopnya.
"Aku tidak tahu tentang kehidupan pribadinya, yang kita tahu Randi sudah menikah dan memiliki seorang anak. " Kata Bagas yang masih betah memainkan jarinya di atas laptopnya.
"Nanti jika suatu hari nanti aku yang tiada, Apakah kamu akan setia pada Istrinya yang tiada? " Tanya Kartika memintanya.
"Kamu ngomong apa sih, ngaco. " Jawab Bagas.
"Seperti Randi yang setia sampai 9tahun dia tidak menikah lagi. " Ujar Kartika.
"Sudahlah, pertanyaanmu semakin lama semakin ngaco saja. " Kata Bagas.
"Mas, aku serius. Kenapa Randi tidak mau mencari pasangan lagi? " Tanya Kartika.
"Kamu seperti intel yang menyelidiki seorang penjahat. " Kata Bagas.
"Tidak, aku hanya salut saja. Seorang laki-laki yang menjadi singel parents selama 9 tahun. Belum tentu suamiku ini seperti itu, pasti dia sudah mencari wanita lain di luar sana. " Kata Kartika yang mengerucutkan bibirnya.
"Hei.. Aku juga akan seperti Randi akan terus mencintai istriku walaupun sudah tiada. " Jawab Bagas.
"Masa. " Sahut Kartika yang menyipitkan matanya dan tersenyum.
"Aku akan menjadi single parent dan akan terus mencintai kamu, sayang. " Kata Bagas lalu mencium pucuk kepala Kartika.
Mereka pun kembali melakukan hubungan suami istri yang penuh dengan kenikmatan, di tengah malam yang terus mencari kenikmatan masing-masing dan mencari keringat yang membuat mereka merasa puas.
Pagi hari, Kartika yang bangun menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Kartika membuat makanan kesukaan Bagus nasi goreng dan telur mata sapi.
"Pagi, bunda. " Sapa anak laki-laki tampan dengan pakaian seragam sekolah duduk di kursi sambil tersenyum.
"Hari ini ceria sekali, ada apa? " Tanya Kartika.
"Tidak ada, hanya hari ini Bagus akan kedatangan murid baru di kelas. " Jawabnya sambil tersenyum ceria.
"Laki-laki atau perempuan? " Tanya Kartika kembali.
"Hmmmm.. Perempuan dan sangat cantik. " Jawabnya.
"Siapa yang cantik. " Terdengar suara bariton dari belakang Bagus.
"Itu ada murid baru di kelas Bagus dan sangat cantik. Anakmu itu persis ayahnya, kalau sudah lihat perempuan cantik langsung bersemangat. " Kata Kartika yang menaruh kopi untuk suaminya di meja.
"Eits... Aku tidak seperti itu, bagiku hanya kamu yang paling cantik. " Ujar Bagas yang menyesap kopi buatan Kartika.
"Bunda yang paling cantik untuk Bagus. " Ujar Bagus dan membuat Kartika terenyuh hatinya.
"Sudahkan lama-lama pelukannya. " Kata Bagas yang menarik lengan Kartika untuk melepaskan pelukannya.
"Ish.. Sama anak sendiri saja masih posesif. " Gerutu Kartika.
"Ayo Bagus ayah antar kamu kesekolah. " Kata Bagas.
"Bagus sama bunda saja berangkatnya, yah. " Ujarnya.
"Baiklah, ayah pergi dulu. Sayang aku berangkat. " Kata Bagas yang mencium pucuk kepala Kartika.
Kartika mengantar Bagus kesekolah dengan mobil jass miliknya sebelum menikah dengan Bagas. Kartika turun dari mobil dan melangkah bersama Bagus kedalam sekolah. Seorang laki-laki memperhatikan Kartika yang begitu anggun, dengan dress selutut dan di padu blazer panjang hingga menutup bagian belakangnya.
Laki-laki itu menatap kagum kecantikan istri dari sahabatnya itu, entah rasa apa yang saat ini di rasakan. Namun melihat Kartika terasa berbeda. Kartika menangkap ekor mata yang tengah menatapnya, dan pandangan mereka saling bertemu dan mengunci.
"Bunda, itu murid baru yang Bagus ceritakan. " Kata Bagus membuyarkan lamunan dan pikiran Kartika.
"Eh.. Iya, mana? " Tanya Kartika yang mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Itu disana, ternyata dia anak om Randi. " Ujar Bagus yang menunjukkan jarinya ke arah seorang laki-laki yang berdiri di badan mobil dengan menggunakan jas hitam sambil mengisap rokok.
"Sherrin. " Ucap Kartika yang melihat kearah Randi.
"Iya, cantik kan teman Bagus. " Kata Bagus tersenyum dan Kartika hanya mengangguk pelan lalu membalas senyuman Bagus.
"Nanti kita makan siang di kantor ayah, bun? " Tanya Bagus.
"Iya, sayang. Kalau tidak makan siang di kantor ayah nanti marah ayahnya. " Jawab Kartika.
"Oke, Bagus masuk dulu ya. " Kata Bagus yang mencium tangan Kartika lalu masuk kedalam kelas.
"Belajar yang rajin. " Ucap Kartika, kemudian Kartika berjalan keluar sekolah dan dia mencoba menghindari Randi yang sepertinya ingin mengobrol dengannya.
Siang hari seperti biasa Bagus dan Kartika mendatangi kantor Bagas untuk makan siang disana. Bagas sudah memesan makanan di restoran Diena yang menjadi langganan keluarga Bagas.
Kartika masuk kedalam lift dan melihat Randi yang sudah ada di dalam lift itu. Rasa canggung dan tak enak membebani Kartika, saat Randi yang menatapnya dengan rasa kagum akan kecantikan Kartika.
"Om Randi. " Sapa Bagus ketika masuk kedalam lift sementara Kartika hanya diam.
"Hai.. Kamu mau ke ruangan ayah? " Tanya Randi.
"Iya, om mau makan siang. " Jawab Bagus menampilkan giginya.
"Kebetulan om juga mau kesana, keruangan ayahmu. " Kata Randi.
Sesampainya di ruangan Bagas, Randi duduk di sofa dengan Hary yang sudah menunggunya. Bagas ternyata mengajak Randi dan Hary juga Wina yang kini sudah kembali menerima Hary untuk makan siang bersama.
"Ayah.. " Teriak Bagus yang berlari menghampiri Bagas.
"Hup.. Anak Ayah makin besar saja. " Ucap Bagas.
"Sayang. " Sapa Kartika yang tersenyum menghampiri suaminya lalu memeluknya.
Randi yang melihat keromantisan suami istri itu malah membuat hatinya sakit. Randi tak tahu rasa kagum pada istri sahabatnya itu semakin menyiksanya.
"Sayang, kok bisa dengan Randi? " Tanya Bagas yang menyelidiki seperti seorang detektif.
"Tadi kita ketemu di lift, Gas. " Jawab Randi duduk di samping Hary.
"Baiklah, aku mengundang kalian makan siang bersama karena merayakan kemenangan tim kita dalam memenangkan tender besar, juga kemenangan Bagus kemarin juara lomba sains. Mari kita nikmati makanan ini. " Kata Bagas yang di hujani tepuk tangan dari rekannya.
Sementara itu Randi masih curi-curi pandang pada Kartika, hati Randi sedikit sakit melihat Bagas yang begitu romantis pada Kartika. Begitu pula Kartika yang bersandar di bahu Bagas. Entah perasaan apa ini yang membuat Randi tak henti menatap dengan intens istri Bagas.
"Kenapa aku merasa sakit melihat mereka begitu mesra? " Tanya Randi pada Batinnya sendiri.
*Hai... Reader.. Terimakasih masih setia dengan abang Bagas dan bunda.
*Abang Randi perasaanmu itu salah terlarang, dan jangan ganggu kebahagiaan bunda dan abang Bagas.
*Maaf masih up 1bab dulu ya reader..
*Silahkan like, komen dan Hadiah juga vote nya..
*Happy Reading.. salam 'ByYou'