Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Canggung


"Bagus, ayo kita pulang. " Ajak Kartika pada Bagus yang sedang asyik merakit balok mainan yang Bagas berikan untuk putra tersayangnya.


"Sebentar bunda lagi asyik ya, om. " Kata Bagus yang asyik bermain dengan Randi.


"Iya, om juga suka main merakit balok jadi sebuah bangunan. " Kata Randi yang tersenyum pada Bagus.


"Om, suka main juga dengan Sherrin? " Tanya Bagus.


"Iya, Sherrin juga suka permainan yang menguras otak. " Jawab Randi.


"Sepertinya, Bagus cepat akrab sama lo. Biasanya dia itu sangat sulit akrab dengan siapapun. Terkadang sifatnya lebih dingin dari gue. " Kata Bagas.


"Gue kan punya caranya buat cairin es yang lebih dingin. Hahahah.. " Kata Randi tertawa yang kemudian matanya melirik ke arah Kartika. Kartika menatap canggung, Bagas yang mengekori arah pandangan Randi kemudian menarik istrinya yang berdiri di dekat mejanya.


"Aduh, Mas bikin kaget saja. " Ujar Kartika yang duduk di pangkuan Bagas.


"Aku tidak suka, Randi liatin kamu terus." Kata Bagas berbisik di telinga Kartika membuat Kartika bergidik.


Randi yang melihat pasangan itu begitu mesra, membuat dirinya canggung akan keadaan. Kartika bangun dari pangkuan Bagas, karena dia ingin ke pantry. Kartika ingat membuatkan kopi untuk Bagas.


"Bunda, aku ingin jus mangga ya. " Kata Bagus yang masih menyusun balok hingga berbentuk robot.


"Baiklah, sayang. " Kata Kartika yang keluar dari ruangan Bagas.


Kartika sampai di pantry ingin membuatkan kopi untuk suami, tiba-tiba Kartika kaget melihat sosok tinggi yang menyandarkan punggungnya di kitchen set sambil bersedekap.


"Ya, ampun. Kamu bikin kaget saja, untung kopi mas Bagas tidak tumpah. " Ujar Kartika yang canggung dengan situasi ini.


"Maaf, jika mengagetkan dirimu. " Kata Randi yang berjalan melewati Kartika.


Wangi parfum khas laki-laki membuat Kartika menjadi salah tingkah, dan Kartika mencoba sadar bahwa dirinya sudah menikah. Randi berdiri di sebelah Kartika dan membuat kopi untuk dirinya sendiri. Aroma parfum milik Randi masih menusuk hidung Kartika yang sebelumnya tak pernah seperti ini.


"Ya ampun ada denganku ini. Jantungnya kok gak berhenti berdetak keras. " Batin Kartika yang mencoba menenangkan dirinya.


"Kamu sudah selesai membuat kopinya? " Tanya Randi.


"Ah.. Iya, maaf." Kata Kartika yang pergi meninggalkan Randi di pantry.


Kartika masuk ke ruangan Bagas dan lalu melihat Bagus seperti biasa tertidur di sofa dan Kartika hanya menghembuskan nafas saat melihat anaknya tertidur sangat pulas.


"Bagus, bangun kita pulang." Kartika menggoyangkan tubuh Bagus.


"Sudahlah, biarkan dia tidur sebentar. Kasihan mungkin dia lelah sehabis main balok." Kata Bagas yang menyesap kopinya.


"Mas sibuk hari ini?" Tanya Kartika menatap Bagas.


"Sore nanti ada meeting dengan Randi dan Hary." Jawab Bagas.


"Kalau begitu aku pulang saja, aku tidak ingin mengganggu Mas bekerja." Kata Kartika.


"Sayang, Bagus masih tidur biarkan dia tidur sebentar." Ujar Bagas.


"Hah.." Kartika menarik nafasnya lalu mendudukkan dirinya di samping Bagus.


"Kamu kenapa?" Tanya Bagas yang berjalan menghampiri Kartika.


"Mas, aku mau ke toko untuk membuat dessert baru. Sudah 3 hari aku tidak ke toko." Kata Kartika.


"Besok bisa ke toko dessert kamu, tapi kalau sekarang kasihan Bagus sedang tidur. Nanti sakit kalau kamu bangunkan dia sekarang." Kata Bagas.


Kartika kemudian menyandarkan kepalanya kedalam dada Bagas sambil memainkan jarinya di dada Bagas. Bagas mengusap kepala Kartika dan mencium pucuk kepalanya.


"Jangan di mainkan seperti itu, aku tak tahan." Kata Bagas memejamkan mata.


"Mas, aku mau punya anak lagi." Ujar Kartika tiba-tiba.


"Sabar, nanti kita pasti akan punya anak lagi." Jawab Bagas.


"Kapan? Usiaku makin tua nantinya, dan kehamilan akan rawan." Ucap Kartika.


"Kita kan sudah berusaha dan kita pasrahkan saja pada yang diatas." Kata Bagas.


Kartika mendongakkan kepalanya dan menatap Bagas lalu Kartika mencium bibir Bagas sekilas, namun Bagas langsung menarik tekuk Kartika dan ciuman itu makin dalam dan memanas. Tanpa mereka sadari Randi melihat adegan suami istri itu saling bercumbu.


Entah kenapa ada rasa sakit di dada Randi melihat Kartika dan Bagas berciuman mesra. Randi duduk di sofa dekat meja Wina, lalu dia mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya. Menghilangkan rasa nyeri di dadanya.


"Ran, udah ke temui Bagas?" Tanya Hary dengan suara keras yang mendekati Randi.


"Ini, nanti jangan lupa dokumen untuk lo tanda tangani. Dan besok sepertinya lo sudah bisa bekerja dikantor lo sebagai pimpinan." Kata Hary menyerahkan dokumen kerjasama dengan perusahaan Randi yang hampir gulung tikar.


"Jam berapa kita meeting, Hary?" Tanya Randi.


"Sebenarnya meeting kita sore hari, tapi aku majukan jam sekarang karena aku mau ngedate dengan Wina." Kata Hary menyeringai melihat Wina yang malu menatap Hary.


"Hah, dasar bucin lo." Ujar Randi menatap malas.


"Makanya cari pasangan lo, betah amat ngejomblo sampai anak lo udah usia 9 tahun." Kata Hary meledek Randi.


"Ah.. Gue masih mencintai almarhum istri gue, Har." Jawab Randi sambil melihat dokumen.


Kemudian pintu ruangan Bagas terbuka, Kartika dan Bagus akan pulang mengingat waktu mereka yang sudah lama dikantor Bagas. Randi yang melihat Bagas dan Kartika yang dengan mesra terus menggandeng tangannya, membuat Randi tak tahan dengan perasaan aneh itu.


"Gue masih mencintai, Jennie." Gumam Randi dalam hatinya.


"Bagus mau pulang?" Tanya Hary yang melihat Bagas berjalan akan masuk lift.


"Iya, om. Bagus capek." Jawab Bagus.


"Ran, gue bisa minta tolong sama lo." Tanya Bagas.


"Iya, ada apa." Jawab Randi.


"Bisa tidak lo antar anak bini gue pulang?" Tanya Bagas kembali Randi hanya diam menatap Kartika yang membuang pandangannya.


"Sorry, sepertinya tidak bisa, Gas. Hary bilang meeting sebentar lagi di mulai." Jawab Randi berusaha menghindari rasa canggung saat bertemu Kartika.


"Oia, kenapa aku lupa." Ujar Bagas menepuk jidatnya.


"Mas, aku kan tadi bawa mobil kemari jadi aku bisa nyetir sendiri." Kata Kartika.


"Tapi kamu sudah tidak pusing?" Tanya Bagas dan Kartika menggelengkan kepalanya.


"Bunda, ayo cepat." Rengek Bagus yang menarik baju Kartika.


"Iya, sayang. Mas, sudah ya aku pulang sendiri. " Kata Kartika langsung masuk lif.


Saat masuk lift Randi menatap punggung Kartika dan seketika mata Kartika dan Randi bertemu. Randi tersenyum tapi Kartika langsung membuang pandangannya dan pintu lift tertutup.


Bagas masih menatap Randi yang tersenyum pada istrinya. Bagas sengaja menyuruh Randi mengantar Kartika pulang, ingin tahu bagaimana reaksi Randi pada Kartika.


"Har, gue bisa bicara berdua sama lo dulu sebelum meeting?" Tanya Bagas yang menepuk bahu Hary.


"Ada apa sih lo, tumben mau ngobrol berdua sama gue." Kata Hary yang kemudian berjalan beriringan dengan Bagas masuk ke dalam ruangan Bagas


"Har, gue menangkap sinyal aneh sama Randi." Kata Bagas yang berdiri di jendela sambil melihat kearah bawah.


"Sinyal aneh apa maksudnya?" Tanya Hary tidak mengerti.


"Randi sepertinya suka sama bini gue." Kata Bagas.


"Gila, gak mungkin Randi suka sama Kartika." Ujar Hary.


"Buktinya dia liatin Kartika terus, pandangan matanya gue ngerti kalau dia menyimpan rasa suka pada bini gue." Kata Bagas.


"Ah, lo aja yang lebay. Namanya ngeliatin terus lo nebak dia suka sama Kartika? Dasar bucin lo, posesif." Kata Hary.


"Tapi gue sebagai cowok tahu pandangan dan tatapan Randi ke Kartika, Har." Kata Bagas meyakinkan Hary tentang instingnya sebagai suami.


"Lah, tadi kenapa lo nyuruh Randi antar Kartika pulang?" Tanya Hary.


"Gue cuma ngetes Randi apa dia nerima atau tidak." Jawab Bagas.


"Nyatanya tidakkan, sudah jangan parno lo." Ucap Hary. Bagas hanya diam.


*Hai.. Reader terimakasih masih setia dengan abang Bagas dan adek Bagus juga bunda Kartika.


*InsyaAlloh weekend ini author mau up 2 bab.


sebelumnya like dan komen juga hadiah dan votenya ya agar author makin semangat menulis.


*Salam cinta author seladang padi untuk para reader


Love 'ByYou'