
Bagus termenung di depan balkon kamarnya sambil menyeruput teh hangat yang sudah disediakan oleh sang bunda. Kartika dan Bagas juga Karina belum kembali ke tanah air, mereka masih menemani Bagus yang kondisinya masih lemah dan masih dalam pengobatan. Bagus menelepon Sherin, mungkin di tanah air sudah malam karena perbedaan waktu yang panjang membuat Bagus kesulitan untuk menghubungi Sherin.
Kring...Kring... Kring...
Suara ponsel Sherin yang diletakkan di meja belajarnya yang tak jauh dari tempat tidur Sherin. Sherin yang sedang berbaring untuk memejamkan matanya langsung bangkit dan berlari duduk di meja belajarnya.
Sherin tersenyum ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya nama Bagus. Sherin langsung menggeser tombol hijau ke atas dan tampak wajah Bagus yang tersenyum menatap sang kekasih hati.
"Assalamu'alaikum," sapa Bagus dengan senyuman yang membuat Sherin meleleh.
"Wa'alaikumsalam, bagaimana kondisimu?" tanya Sherin yang tampak malu karena wajahnya tanpa makeup.
"Alhamdulillah, aku sudah sehat dan mungkin lusa sudah bisa bekerja," jawab Bagus.
"Bunda dan Karin masih disana?" tanya Sherin. kembali.
"Iya, mereka akan pulang jika keadaanku benar-benar pulih," jawab Bagus.
"Gus, kapan kamu akan selesai kontrak kerjamu disana?" tanya Sherin yang memasang wajah kesal.
"Kenapa, kamu bertanya seperti itu?"
"Aku rindu," jawab Sherin dengan sendu menatap wajah Bagas di layar ponselnya.
"Aku juga, Sayang," ucap Bagus yang tersenyum.
"Kapan kita akan bertemu, aku ingin selalu di sampingmu," kata Sherin.
"Aku juga ingin segera menjadikanmu milikku,"
"Gus, apakah kamu mencintaiku?" tanya Sherin menatap bola mata Bagus yang berwarna biru di ponselnya.
"Sherin, kenapa kamu bertanya seperti itu? Sudah jelas aku sangat mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu masuk ke kelas 3A," jawab Bagus.
Sherin terdiam teringat saat pertama kali dia pindah ke kota J dan masuk sekolah sebagai murid baru dan dia duduk di samping Bagus. Bagus yang langsung jatuh hati pada Sherin dan tersenyum melihat Sherin yang begitu cantik dengan kepang dua dan kulit putih bersih.
"Aku juga menyukaimu kala itu, hanya saja aku malu untuk mengungkapkannya. Sekarang aku ingin menyatakan bahwa aku sangat mencintaimu Bagus Wirayudha," kata Sherin dengan tersipu malu.
"Jadi kamu lebih dulu menyukaiku?" tanya Bagus yang menggoda Sherin.
"Jujur iya, aku tuh terpesona dengan ketampanan kamu," jawab Sherin tersenyum.
"Oohh, pantas saja kamu dulu suka mencari perhatian aku," kata Bagus.
"Diihhh, siapa yang cari perhatian kamu," ujar Sherin. Bagus tertawa dan kemudian kembali menatap wajah Sherin yang malu.
Sherin yang kesal dengan Bagus dan kemudian Sherin memasang wajah yang cemberut dan Bagus tersenyum melihat Sherin dengan tingkah Sherin yang membuatnya tak ingin jauh dari Sherin.
"Sherin, aku mencintaimu," ucap Bagus dan Sherin tersipu malu dengan menundukkan kepalanya.
Bagus menyatakan rasa cinta kepada Sherin wanita yang sudah lama mengisi relung hatinya. Bagus jatuh cinta sejak pandangan pertama ketika Sherin datang menjadi anak baru di kelasnya.
"Nanti setelah kamu lulus kuliah aku ingin menikah denganmu dan kamu aku izinkan kamu bekerja di memimpin perusahaan ayahmu," kata Bagus dengan penuh cinta.
Bagus dan Sherin saling menatap satu sama lain, walaupun hanya dengan bervideo call namun tak membuat mereka menjauh justru mereka saling merindu dan menahan kerinduan yang sangat dalam.
"Bagus.." panggil Kartika yang menongolkan kepalanya di pintu kamar Bagus.
"Itu suara bunda?" tanya Sherin dan Bagus menganggukkan kepalanya.
"Sayang, kamu sedang apa?Ayo makan sudah siap," ujar Kartika.
"Iya, Bun. Sebentar lagi Bagus menyusul," jawab Bagus dan Kartika segera keluar meninggalkan Bagus.
"Kamu tidur ya sudah malam," kata Bagus dan Sherin mengangguk dengan senyuman.
"Daah, Sayang," ucap Bagus melambaikan tangannya begitu juga Sherin yang melambaikan tangannya.
Bagus menutup ponselnya dan langsung keluar dan menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarganya.
"Ayah sama bunda kapan kembali ke tanah air?" tanya Bagus yang mengambil nasi berserta lauk pauknya.
"Rencananya minggu depan, kebetulan ayah ingin melihat proyek yang ada di LA jadi sekalian mumpung ada disini ayah ingin meninjaunya langsung," jawab Bagas.
"Karin tidak sekolah?" tanya Bagus lagi.
"Karin masih libur, Kak," jawab Karin yang mengunyah makanan.
"Libur? Memangnya libur apa?" tanya Bagus yang ingin tahu kenapa adiknya libur.
"Libur sendiri, hehehehe," jawab Karin yang tertawa.
"Jadi kamu bolos sekolah?" tanya Bagus yang menatap adiknya dengan kesal.
"Aku izin, Kak," jawab Karin.
"Bunda, kok di izinkan Karin bolos sekolah," kata Bagus.
"Bunda sudah minta izin ke sekolah Karin meminta izin selama dua minggu," ucap Kartika.
"Kenapa, harus izin?" tanya Bagus.
"Dirumah tak ada orang, nanti Karin dengan siapa?" tanya Karin dengan cemberut.
"Kamu kan sudah dewasa, dirumah kan ada bisa Ina juga mang Didin," kata Bagus.
"Iihh, kakak pelit aku ikut aja gak boleh. Aku juga kan ingin melihat dan jalan-jalan ke sini," kata Karin.
"Sudah-sudah tak baik sedang makan malah bertengkar," ujar Bagus.
"Kakak tuh, Yah," adu Karin pada sang ayah sambil menjulurkan lidahnya.
"Itu kenapa Bagus tidak suka adik perempuan, manja dan gak suka nurut," kata Bagus membuat Karin kesal lalu melempar kota tissue dan hampir mengenai wajah Bagus.
"Karin!" seru Bagus menatap tajam Karin.
"Apa!" sahut Karin yang menjulurkan lidahnya lalu kembali mengunyah makanannya.
Kartika dan Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya sedang ribut dan Karin masih cemberut melihat Bagus yang melotot matanya ke arah dirinya.
"Apa? Mau Karin colok pakai garpu matanya?" tanya Karin yang memegang garpu dan menghadapkan ke arah mata Bagus.
"Eekkhmmmm..." Bagas berdehem dan Bagus juga Karin langsung terdiam menundukkan kepalanya.
"Kalian bisa makan dalam keadaan diam tidak?" tanya Bagas.
"Bisa, Ayah," jawab keduanya dan langsung diam makan dengan tenang.
Semuanya makan dengan diam dan hanya terdengar suara dentuman sendok dan garpu. Karin menatap Bagus dan menjulurkan lidahnya lalu Bagus juga menjulurkan lidahnya mengejek Karin.
"Bagus..." panggil Bagas dan Bagus kemudian langsung diam.
"Syukurin," kata Karin yang hanya bibirnya bergerak tapi Bagus tahu Karin berkata apa