
Bagas masih merasa terbakar cemburu karena Randi dekat dengan Kartika. Walaupun Bagas tahu Kartika tidak begitu peduli, Bagas hanya ingin Kartika tahu rasa cintanya yang begitu besar pada Kartika.
"Mas, aku tuh juga risih kalau Randi terus menatap aku dengan pandangan dan tatapan yang berbeda." Kata Kartika yang mendekati Bagas lalu duduk di pangkuannya.
"Mau apa kamu naik dipangkuanku?" Tanya Bagas menyeringai. Kartika menggigit bibirnya dan tersenyum manja.
"Kamu menggodaku?" Tanya Bagas dan Kartika menganggukkan kepalanya.
"Hanya cara ini agar kamu gak marah padaku." Kata Kartika.
"Ooh.. Kamu merayuku?" Tanya Bagas memeluk pinggang Kartika.
"Tak ada cara lain hanya ini yang ampuh." Ujar Kartika tersenyum sambil membuka satu persatu bajunya.
Sewaktu mereka sedang menikmati indahnya surga di sofa ruang tamu, tiba-tiba Bagus datang dan mengetuk pintu dengan keras. Karena pintu sengaja Kartika kunci agar jika ada yang datang biar ketuk pintu dulu.
"Bunda, ayah.. " Teriak Bagus yang mengetuk-ngetuk pintu dengan keras.
"Mas, Bagus datang." Kata Kartika yang menjauhkan dada suaminya.
"Tanggung, sayang aku belum pelepasan." Ucap Bagas.
"Ayah, bunda. Kalian kemana, buka pintunya." Bagus makin kencang mengetuk pintu.
"Mas, nanti kita lanjut lagi. Kasihan Bagus, dia akan semakin kencang mengetuk pintunya." Kata Kartika.
Bagas melepaskan tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Kartika memakai pakaian yang tercecer di lantai dan merapikannya. Bagas pun langsung memakai dan merapikan kemejanya.
Kartika membuka pintu, dan melihat Randi dan Sherrin berdiri didepan pintu.Randi tersenyum dengan lebar, namun senyumnya hilang ketika melihat Bagas muncul lalu memeluk Kartika dari belakang.
"Ayah sama bunda lama buka pintunya, tangan Bagus sampai sakit ketuk-ketuk pintu." Kata Bagas yang masuk melewati kedua orang tuanya.
"Maaf bunda ketiduran karena lelah, sayang." Kata Kartika berbohong.
"Sorry, gue antar Bagus pulang terlambat. Tadi Bagus minta naik rollercoaster." Ucap Randi cengengesan.
"Senang lo ya jalan-jalan sama bini gue." Kata Bagas yang duduk di sofa lalu Randi mengikutinya. Sementara Sherrin sudah diantar kerumah neneknya.
"Sorry, Gas. Elo jangan cembokur gitu dong." Ucap Randi.
"Ets.. Siapa yang cemburu, cuma gue gak suka lo terus liatin bini gue. Lo mau saham perusahaan lo gue tarik lagi. Hah..!" Kata Bagas dengan emosi.
"Wah.. Jangan dong, bro. Jahat amat sih lo sama gue." Kata Randi.
"Jujur lo suka kan sama bini gue?" Tanya Bagas yang langsung menembak Randi untuk mengakui perasaannya pada Kartika.
"Ngaco, lo mah. Gue gak berani suka sama bini lo, apalagi ngerebut dari lo. Gue gak mau jadi pebinor, Gas." Kata Randi terkekeh.
"Terus kenapa lo? Gue sering ngeliat lo curi-curi pandang natap bini gue." Ujar Bagas yang menaikan kakinya dan menyedekapkan kedua tangannya didada.
"Tenang, bro. Gue jelasin jangan emosi dulu, lo." Kata Randi yang duduk dengan santai.
"Apa yang mau lo jelasin, hah.. " Bagas makin emosi.
"Jujur gue memang suka dan kagum sama bini lo, tapi sumpah gue gak ada niat untuk merebut atau mengambilnya dari, lo. Sumpah, Gas." Ungkap Randi yang jarinya membentuk huruf V
"Tuh kan bener gue, emang gue udah curiga dari awal sama lo. Batal urusan kita, Ran." Kata Bagas.
"Wah.. Tega lo sama gue, lo gak kasihan ama Sherrin? Kasihanlah, anak gue nanti bagaimana?" Tanya Randi yang mencoba bernegosiasi.
"Ah.. Lo mah bawa-bawa anak." Ujar Bagas yang menarik nafas.
"Please, itu perusahaan milik Sherrin." Kata Randi dengan menundukkan kepalanya.
"Okelah, gue gak akan menarik saham gue ke perusahaan lo. Tapi ingat jangan coba-coba lo ambil milik gue." Ujar Bagas.
"Thanks, Gas." Randi tersenyum.
"Udah makan belum, lo?" Tanya Bagas pada Randi.
Sebenarnya Bagas tidak tega dengan sahabatnya yang satu ini. Dari SMA sampe kuliah hidupnya lurus, belajar dan belajar. Tak sekalipun dia one night dengan wanita-wanita sewaktu di LN. Randi memang tipe laki-laki setia, hingga saat ini dia masih sendiri dan mengurus putri semata wayangnya.
"Jangan lupa besok lo mulai pembukaan pabrik baru jadi harus tepat waktu." Kata Bagas yang tersenyum.
"Siap pak direktur." Ujar Randi menunjukkan jarinya membentuk huruf O.
Randi kemudian pergi menjalankan mobilnya dan lalu Bagas masuk kedalam. Bagas melihat Bagus sedang bermain dengan Dannis robot kesayangannya. Bagus berlari-lari dan Dennis mengejarnya. Bagas tersenyum dan berpikiran dia ingin memiliki anak lagi.
"Kenapa tertawa?" Tanya Kartika yang membawa kopi untuk suaminya.
"Lihat Bagus sedang asyik main dengan Dennis. Adik robotnya itu, sepertinya lucu kalau kita punya anak lagi." Kata Bagas menyeringai sambil menatap Kartika.
"Aku kan sudah sering bilang, kita punya anak lagi untuk Bagus." Ucap Kartika.
"Kalau begitu ayo." Ajak Bagas yang menarik tangan Kartika.
"Mau kemana? " Tanya Kartika yang mengerutkan dahinya.
"Kita bikin anak yang banyak." Kata Bagas dan Kartika tertawa mendengarnya.
"Hahahhaha.. " Tawa Kartika menggema di ruang makan itu.
"Kok kamu ketawa, sayang? " Tanya Bagas heran.
"Habisnya kamu itu aneh-aneh aja, sayang. Emangnya aku mau bikin dessert gitu." Kata Kartika menahan ketawa.
"Sudahlah, nanti malam aku akan membuatmu tertawa enak." Ucap Bagas tersenyum mengembang.
Sementara Randi dalam perjalanan pulang untuk menjemput Sherrin. Randi masih menyimpan perasaannya pada Kartika istri sahabatnya.
"Sorry, Gas. Gue gak bisa menghilangkan rasa suka gue pada bini lo, gue benar-benar menyukai bini lo, Gas." Gumam Randi yang tidak fokus menyetir.
Malam hari yang sangat indah untuk Bagas dan Kartika yang telah selesai melakukan hubungan yang mendapatkan pahala bagi keduanya. Bagas yang bersemangat ingin memiliki anak banyak, dia bekerja ekstra lembur. Malam yang dingin tak membuat suatu sejoli ini kedinginan malah mereka mengeluarkan keringat yang membasahi tubuh mereka.
Kartika selesai membersihkan diri dikamar mandi begitu juga Bagas yang dengan alasan mandi, alih-alih mandi tapi mereka melakukan ritual suami istri hingga menjelang dini hari.
"Mas, aku lelah mau tidur." Ujar Kartika yang menarik selimutnya hingga ke leher.
"Tidurlah, sini akun peluk." Bagas menarik Kartika kedalam pelukannya. Dan mereka tidur mengistirahatkan badan mereka yang lelah karena ingin mendapatkan pahala.
Pagi hari, Randi beralasan ingin meminta saran pada Bagas bagaimana cara menyampaikan sambutan. Randi hanya ingin melihat Kartika yang biasanya jika pagi begitu cantik menggunakan daster rumahan.
"Pagi amat, lo. Gue kira lo gak kesini dan langsung kelokasi dengan Hary dan Wina? " Tanya Bagas.
"Gue mau minta saran lo, Gas. Sebagai dewan pimpinan tertinggi." Ujar Randi terkekeh.
"Bukan karena lo mau liat bini gue kan." Sindir Bagas membuat Randi berhenti tersenyum.
"Ah.. Lo, Gas. Masih bahas itu aja, kalau pun gue suka sama bini lo, gue gak akan jadi pebinor. Pegang kata-kata gue, Gas." Kata Randi merasa menohok dengan kata-kata Bagas.
"Siapa tau, lo kesini ada maksud tersembunyi. Mengagumi bini orang itu terlarang, Ran." Ujar Bagas menepuk bahu Randi sambil tersenyum.
"Dasar lo bucin akut, Gas." Ucap Randi terkekeh.
"Daripada lo jomblo akut." Ledek Bagas lalu mereka tertawa bersama.
Tak lama kemudian Kartika keluar dengan balutan dress 7/8 warna magenta dan dipadu blazer senada, rambutnya di biarkan tergerai karena menutupi kissmark di leher ulah suaminya. Randi menatap kagum, namun dia berusaha tidak menatap Kartika karet ada Bagas yang memperhatikan dirinya.
*Hai... Reader... Abang Randi makin nekat aja nih..
*Jangan lupa like, komen dan hadiah juga votenya..
*Happy Reading salam 'ByYou'