
"Sherin," panggil Bagus.
Sherin melirik ke arah Bagus dan kemudian tersenyum dengan sangat manis dan membuat Bagus makin menyukai Sherin. Sherin memang perempuan yang cantik di usia yang masih 10 tahun banyak teman laki-lakinya yang terpesona dengan kecantikan dan juga kepintarannya. Kecantikan Sherin menurun dari mendiang ibunya yang keturunan Indo-Jerman, ayahnya yang asli orang Indonesia yang dimana dia memiliki perusahaan turun temurun keluarga. Hari ini Bagus mengantar Sherin pulang dan rencananya Bagus akan main di rumah Sherin hingga sore nanti, dia ingin belajar mengerjakan pr bersama.
"Hai, jadi kan kita belajar bersama?" tanya Sherin dengan senyuman manisnya.
"Jadi dong, 4 bulan lagi kita akan Jepang untuk lomba. Bagaimana sudah siap ikutin lomba?" Bagus balik bertanya dan Sherin mengangguk pelan. Bagus tersenyum dia menatap kagum akan kecantikan Sherin.
"Kita di Jepang berapa minggu? Katanya kita yang ikut lomba naik pesawat pribadi milik om Bagas?" tanya Sherin yang penasaran.
"Iya, ayah dan bundaku juga akan ikut. Makanya memakai jet pribadi milik ayah," jawab Bagus dengan gaya yang cool.
"Waah, pasti seru. Dan sebentar lagi adikmu akan lahir, pasti kamu senang karena adikmu akan lahir sebentar lagi," kata Sherin.
"Iya, aku sangat senang. Aku ingin adikku laki-laki agar aku bisa bermain bersama," ujar Bagus.
"Memangnya kalau perempuan tidak bisa di ajak main?" tanya Sherin yang mengerucutkan bibirnya.
"Bisa, tapi kan mainnya beda. Kalau laki-laki bisa di ajak main bola, tapi kalau perempuan kan gak bisa main bola," kata Bagus.
"Tapi perempuan bisa main bola, buktinya ada pemain bola perempuan," jawab Sherin.
"Tapi tetap aku gak suka punya adik perempuan, manja dan aku gak perempuan yang manja," kata Bagus.
" Jadi kamu gak suka aku kan anaknya manja?" tanya Sherin.
"Oh, kamu beda. Manja kamu itu sangat menggemaskan dan aku suka jika kamu manja," kata Bagus.
"Tapi, tadi kamu bilang tidak suka dengan anak perempuan yang manja terus tidak bisa di ajak main bola," kata Sherin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tapi kamu beda, kamu itu spesial buat aku. Walaupun kamu manja aku tetap suka dan gak mungkin gak suka sama kamu," ujar Bagus.
"Kamu bisa aja, Gus," kata Sherin yang tersipu malu mendengar ucapan Bagus.
"Benar, kamu sangat spesial buat aku. Jika dewasa aku akan menikah denganmu," kata Bagus.
"Aku tahu kamu sudah berapa kali mengatakan itu," ujar Sherin tersenyum.
"Aku hanya ingin kamu tahu saja, bahwa ketika sudah dewasa kamu hanya milik Bagus Wirayudha," ucap Bagus.
Sherin tersenyum melihat Bagus yang menatap wajahnya dan mereka tertawa bersama. Sungguh bahagia saat masih usia mereka yang masih belia tapi Bagus sudah menyukai Sherin yang cantik dan pintar. Dirumah Sherin duduk di sofa sambil membuka dan membaca buku pelajaran tentang cara membuat rangkaian robot. Dari jauh Freya menatap putri sambungnya dengan senyum dan dengan perut yang sedikit buncit karena Freya sedang hamil dan usia kandungannya yang menginjak 4 bulan dan mereka baru saja mengadakan syukuran empat bulanan.
"Bagus, ini diminum," kata Freya yang meletakkan segelas sirup di meja.
"Terimakasih, Tante," jawab Bagus lalu kembali menatap laptop dan mulai membuat merangkai robot yang akan diikutsertakan dalam lomba di Jepang.
"Sherin, lebih baik kita pelan-pelan untuk melakukan ini. Karena jika kita menekan bagian ini maka itu tidak akan berfungsi," kata Bagus yang menjelaskan tentang teori pembuatan robot.
"Ya, aku mengerti," jawab Sherin yang paham.
Bagus dan Sherin sangat serius belajar untuk lomba yang akan di adakan di Jepang 4 bulan lagi. Bagus yang antusias mengikuti lomba ini sangat ingin menang membawa nama harum dan bangga sekolah juga negara Indonesia.
Sementara di rumah, Kartika sedang basil menonton televisi dan makan cemilan yang selalu ada di depan meja. Kartika hanya di temani dengan art yang dia bawa di vila sewaktu liburan disana. Kemudian Kartika merasakan seperti sakit di perutnya.
"Sssstttt," rintih Kartika yang memegang perutnya.
"Kenapa, Bu?" tanya Sari yang membawa potongan mangga matang untuk Kartika.
"Gak tau nih, rasanya sakit sekali. Tapi kadang hilang dan kadang muncul," jawab Kartika.
"Itu namanya kontraksi palsu, Bu," kata Sari.
"Iya, Bi. Memangnya bibi pernah merasakan seperti ini?" tanya Kartika yang sudah tak merasakan sakit.
"Dulu sewaktu bibi hamil anak pertama, kadang sering mengalami kontraksi seperti ini. Katanya sih si dede lagi cari jalan buat keluar, Bu," kata bibi.
"Sssstttt, bi sakit banget. Mungkin aku mau melahirkan," kata Kartika. " Aduh, bi sakit," ucapnya yang mengusap perutnya.
"Aduh, Bu. Bagaimana ini, bibi telepon bapak ya Bu," kata si bibi.Tak lama kemudian Bagas dan Hary datang dan langsung membawa Kartika kerumah sakit.
"Sabar, Sayang," ujar Bagas yang mencoba menenangkan Kartika.
Tak lama kemudian mobil Hary sudah sampai di depan rumah sakit, Bagas lalu mengangkat Kartika dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Suster tolong istri saya mau melahirkan!" teriak Bagas kemudian para suster membantu Bagas.
Kartika di letakkan di bankar lalu di dorong menuju ruang persalinan. Bagas mengusap wajah dengan kasar, dia duduk dan berdiri gelisah dan tak menentu.
"Ayah!" teriak Bagus yang berlari dan di belakang ada Sherin dan juga Rendi.
"Kamu tau bunda ada disini?" tanya Bagas yang memeluk Bagus.
"Tadi bibi bilang katanya bunda di akan melahirkan, jadi Bagus dan om Rendi langsung ke sini," kata Bagus yang memeluk ayahnya.
"Iya, Sayang. Do'akan bunda biar selamat dan dede bayinya," kata Bagas mencium pucuk kepala anaknya.
"Om, Sherin juga do'akan semoga dede bayinya sehat tante Kartika juga," ujar Sherin dan Bagas tersenyum mengangguk. Bagus yang melihat ayahnya tersenyum pada Sherin membuat Bagus merasa cemburu dan memasang wajah tak suka dan cemberut.
"Permisi, keluarga ibu Kartika?" tanya seorang wanita yang menggunakan pakaian putih.
"Saya suaminya, Dok," jawab Bagas.
"Anda boleh masuk menemani istri Anda," kata sang dokter.
"Baik, Dok," jawab Bagas yang langsung mengikuti langkah kaki dokter itu masuk keruang persalinan.
Bagas melihat istrinya sedang meringis merasakan sakit membuat dirinya tak tega. Bagas tak pernah melihat sewaktu Kartika berjuang melahirkan Bagus, air mata Bagas menetes di pipinya melihat perjuangan istrinya melahirkan anak keduanya. Sungguh seandainya waktu bisa terulang kembali dia ingin melihat perjuangan istrinya saat melahirkan Bagus.
"Sudah siap, Bu?" tanya seorang perawat.
"InsyaAlloh, sus," jawab Kartika.
"Dorong, Bu," perintah suster.
Kartika mengedan dengan kuat, keringat bercucuran di keningnya. Bagas terus menggenggam tangan istrinya dan memberikan support penuh agar istrinya kuat.
"Ayo, Sayang. Kamu bisa, kuat terus dorong," kata Bagas memberikan support pada istrinya.
Eaaa...Eaaa
"Selamat pak, bu. Bayinya sudah keluar, sehat dan cantik lagi persis ibunya," kata suster yang menggendong bayi mungil.
Lalu suster meletakkan bayi itu di dada untuk di dekap Kartika, Bagas bersujud syukur atas anugerah yang sudah Tuhan berikan padanya. Dia tak menyangka hidupnya akan sempurna memiliki anak sepasang. Bagas mencium kening istrinya dan bayinya, suster pun mengambil bayi cantik itu untuk di bersihkan.
"Sayang, terimakasih kamu telah berjuang melahirkan Bagus dan bayi mungil yang melengkapi kebahagiaan kita berdua," kata Bagas yang memeluk istrinya lalu mencium keningnya.
*TAMAT*
*****
Hai... Reader...Maaf author baru up... Kesibukan Real Life Author membuat tak bisa meneruskan kisah Abang Bagas dan Bunda Kartika.
Maaf ya Reader...Kisah Abang Bagas dan Bunda Kartika harus Tamat. Tapi jangan khawatir akan ada bonus chapter InsyaAlloh Setiap hari Selasa dan Jumat akan author up bonus chapter nya .
Terimakasih untuk semua Reader yang selalu memberikan support untuk karya author yang satu ini dari awal hingga akhir.
Perjalanan author dalam membuat novel ini memang sangat berat.. revisi dari bab 1 hingga bab 24 dan ternyata respon reader semua baik banyak yang support dari para author senior..
Terimakasih untuk author yang selalu memberikan support sejak awal penulisan karya ini...
Maafkan jika ada penulisan author yang kurang baik.. Gomawo...Ah..jadi Baper nih Author 😢
Sekali lagi terimakasih banyak reader...
love sekebon...😘😘😘🤩🤩🤩🤗🤗