Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Biar Aku Gantikan


Usia kandungan Kartika masih 12 minggu, dan setiap hari Bagas mengalami morning sickness. Bagas akan mengeluarkan makanan yang dia makan sampai tengah hari, mual dan pusing yang Bagas alami saat ini.


Pagi ini Bagas terlihat lemas, karena dia harus bolak-balik kamar mandi karena merasa mual ketika mencium bau nasi. Bagas akan muntah jika mencium bau nasi.


"Singkirkan itu dari hadapanku, sayang." Pinta Bagas yang menutupi hidungnya dan perutnya kembali mengocok ingin muntah.


Hoeeek.. Hoeeek..


Bagas kembali keluar dari kamar mandi dan memgelap mulutnya dengan sapu tangan yang di berikan oleh Kartika.


"Sampai kapan aku seperti ini?" tanya Bagas yang duduk bersandar di ujung ranjang.


"Sampai 2-3 bulan, sayang," kata Kartika tersenyum.


"Dulu waktu hamil Bagus, dan kamu jauh entah kemana aku tidak seperti ini," ujarnya.


"Baby yang sekarang ingin ayahnya juga merasakan dulu sewaktu bundanya hamil si kakak," kata Kartika.


Bagas memeluk dan mencium perut Kartika yang masih rata lalu mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Kartika. Bagas menenggelamkan kepalanya di perut Kartika, dan dia merasa tenang jika Kartika menyisir rambut pirang Bagas.


"Sayang, ayah rela gantikan bundamu yang ngidam dan mengalami mual seperti ini," ucap Bagas yang seolah berbicara dengan bayi yang ada di perut Kartika.


"Terimakasih, ayah." Jawab Kartika yang meniru seperti anak kecil. Bagas tersenyum lalu mencium dan memeluk kembali Kartika.


Selama Bagas mengalami morning sickness, dia tidak berangkat ke kantor. Hary yang menggantikan semuanya urusan kantor Bagas serahkan pada Hary. Siang ini Bagas makan buah yang Kartini siapkan untuk suaminya, sedangkan Kartika makan mangga muda dengan sambal yang di buat sendiri.


"Itu asam, sayang.Aku gak suka," kata Bagas.


"Mas, makan buah ini saja. Aku kepingin makan yang asam-asam," ujar Kartika yang menyerahkan potongan buah yang sudah Kartika siapkan.


Bagas memakan buah yang sudah di potong Kartika dengan lahap, biasanya sehari Bagas akan memakan buah satu kilo sendiri. Dan jika habis Kartika menyuruh si bibik membelinya. Anehnya Bagas tidak ingin beli buah di supermarket, tapi maunya di pasar tradisional.


"Mau coba yang ini?" tanya Kartika yang menyodorkan mangga muda miliknya.


"Rasanya?"


"Enak, coba satu saja." Bagas menggelengkan kepala tapi hatinya ingin mencobanya terlihat sangat menggiurkan dan membuat air liurnya menetes.


"Ini, aaaa." Kartika menyuruh Bagas membuka mulutnya dan menyuapi suaminya itu.


Bagas pun akhirnya menurut dan membuka mulutnya, Bagas merasakan sensasi mangga muda dan sambal buatan istrinya. Bagas lalu tersenyum menatap wajah sang istri yang sedang menunggu jawaban dari suaminya.


"Enak banget, sayang. Mau lagi," kata Bagas dengan mata berbinar.


Bagas memakan semua mangga muda milik Kartika tak tersisa, Kartika hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suami.


Tak lama kemudian Bagus datang dari sekolah, Bagus di jemput oleh supir dari kantor Bagas. Bagus masuk dan mencium kedua tangan ayah dan bundanya.


"Halo, adik kamu lagi apa?" tanya Bagus yang mengusap perut Kartika.


"Lagi makan buah kakak, kakak baru pulang ya." Kartika yang menjawab pertanyaan Bagus dengan meniru suara anak kecil.


"Bunda, adik makan buah. Bagus juga mau dong," kata Bagus.


"Boleh, tapi ganti baju seragammu dulu nanti kotor," ular Kartika dan Bagus langsung pergi kekamarnya untuk mengganti bajunya.


Setelah selesai mengganti baju, Bagus duduk di samping ayahnya yang sedang makan buah yang sudah Kartika potong untuk suami dan anaknya.


"Bagaimana di sekolah, kak?" tanya Kartika.


"Bagus mendapatkan nilai 100,bunda." Jawab Bagus dengan mulut yang penuh dengan buah.


"Waaahh, anak ayah sama bunda hebat," Kata Bagas yang memeluk anaknya dari samping.


"Iya, dong. Siapa dulu ayahnya," ujar Bagus dengan membusungkan dadanya.


"Kapan ada lomba lagi, sayang?" tanya Kartika lagi.


"Bulan depan di kota Bandung, bunda. Lomba matematika," jawab Bagus.


"Bagus ikut lomba tidak?" tanya Bagas.


"Ikut, yah. Dan sudah daftar," jawab Bagus.


"Pintar, nanti ayah dan bunda akan ikut ke Bandung untuk menonton perlombaan Bagus," Kata Bagas.


"Sekarang habiskan buahnya," kata Kartika.


Bagas dan Bagus sama-sama menghabisi buah yang sudah di potong oleh Kartika. Bagas merasa sudah tidak mual jika disiang hari, namun jika malam hari Bagas kembali merasakan mual.


Seperti malam ini Bagas merasa mual dan terus bolak-balik ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya makin, walaupun yang keluar hanya air liur. Tapi rasa mual tak bisa di tahan lagi.


"Sayang, ini air hangat biar tidak merasa mual lagi," kata Kartika. Bagas meminum segelas air hangat dari Kartika.


"Aku gak bisa bayangkan jika kamu yang mengalami seperti ini, sayang. Jadi biarlah aku yang gantikan kamu seperti ini," ujar Bagas.


"Uuuhhh, so sweet sekali suamiku." Kartika tersenyum dan mencium bibir Bagas sekilas.


"Kok, cuma sebentar."


"Ingat kata dokter, janinnya belum kuat untuk di tengok ayahnya," ujar Kartika tersenyum.


"Sampai kapan, sayang aku harus puasa?"


"Sampai janinnya kuat,sampai 3 bulan," jawab Kartika mengusap rambut Bagas.


"Haah.. Satu hari saja aku tak kuat apalagi 3bulan," gumam Bagas yang terdengar Kartika.


"Sabar, nanti juga pasti babynya minta ditengok ayahnya setiap hari."


Kartika tersenyum dan langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Bagas pun sama dia merebahkan tubuhnya yang terasa lemas di samping istrinya. Sebelum tidur Bagas meminum vitamin dan obat mual dari dokter kandungan. Bagas memeluk Kartika dari samping agar tidak menyakiti hati yang ada di perut Kartika


Pagi hari, matahari mulai masuk kedalam celah-celah jendela kamar Kartika dan Bagas yang masih terlelap, karena ini weekend jadi pasangan pasutri masih bermalas-malasan.


Randi yang sudah satu jam menunggu di ruang tamu menunggu pemilik rumah yang masih di dalam kamar. Kemudian tak lama Bagas keluar dan menemui Randi di ruang tamu.


"Gila, lo. Gue udah lama tunggu lo disini, lo malah masih tidur. Gue mau weekend dengan Freya dan Sherrin," kata Randi yang melihat Bagas duduk di dekat Randi.


"Freya gadis tomboy yang lo cerita ke gue tempo hari itu?" tanya Bagas.


"Iya,gue udah jadian dengannya. Dan sebentar lagi gue mau nikahin dia," ujar Randi.


"Masih bocah tuh cewek, lo mau ngerusak masa depannya," kata Bagas yang meledek Randi.


"Biar enak bro, gue suka yang masih bocah." Kata Randi sedikit menyeringai.


"Emang fedofilia, lo."


"Hahahha... " Randi dan Bagas tertawa bersama.


"Akhirnya lo gak jomblo lagi dan gak memperhatikan bini gue lagi," ujar Bagas menyindir Randi.


"Gue gak mau ngerebut bini orang, apalagi bini pemilik saham terbesar di perusahaan gue. Bisa bangkrut perusahaan gue," kata Randi.


"S***l lo," umpat Bagas yang melemparkan bantal sofa. "Sekarang ada perlu apa lo?"


"Ini gue butuh tanda tangan lo," jawab Randi.


"Kenapa gak dikantor saja, sih."


"Kata Hary lo lagi ngidam, jadi sekalian gue bawakan ini buat lo dan bini lo," kata Randi yang menyerahkan keranjang buah-buahan yang dia beli di pasar tradisional.


"Iya nih, bini gue yang hamil gue yang mual dan muntah juga pusing. Tapi gue rela gantikan dia selama 3 bulan," ucap Bagas.


"Selamat, bro. Semoga bayinya sehat juga ibunya," ujar Randi.


"Nanti kalau lo udah nikah lo pasti akan merasakan seperti gue," kata Bagas.


"Gue sudah merasakan, bro. Waktu Jenni hamil Sherrin gue seperi lo, mual dan muntah. Jadi nikmati saja ya," kata Randi tersenyum.


*Hai.. readers maaf baru up..


*Kesibukan Author yang tak ada waktu untuk mengetik..


*Selamat hari minggu, InsyaAlloh author bisa Up lagi nanti siang, karena minggu ini author mager dan hanya mau ngetik..


*Salam 'ByYou'