Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Masa Lalu Masalahku


"Bagas," panggil seorang perempuan dengan pakaian yang sangat minim.


"Mariana, hai. Apa kabarnya?" sapa Bagas lalu tanpa di suruh Mariana langsung berhambur kepelukan Bagas dan mencium kedua pipi Bagas.


"Long time no see, Gas. Kamu makin tampan, kata Mariana yang mengusap wajah Bagas.


"Sorry, gue udah nikah dan sudah punya anak," ujar Bagas yang menepis tangan Mariana.


"Aku tak peduli, biasanya walaupun kamu sudah punya pacar pun, kamu pasti mau one night denganku," kata Mariana.


"Sorry, gue udah lama meninggalkan kebiasaan itu," ujar Bagas.


"Ayolah, Gas. Aku rindu kamu di ranjang," bisik Mariana ditelinga Bagas jadi ketika orang melihat seperti sedang berciuman.


Dari jauh, Kartika melihat suaminya sedang berciuman dengan perempuan yang menurutnya tidak sopan. Kartika yang ingin menyusul suaminya di cafe hotelnya, karena ia takut sendiri. Kartika tampak marah dan dia kemudian kembali ke kamarnya dengan marah, Kartika membereskan bajunya dan memasukkan kedalam koper. Niat Bagas ingin berbulan madu yang kedua bersama istri dan anaknya di hotel yang dia bangun untuk anak dan istrinya.


Kemudian Bagas datang dan masuk, melihat Kartika memasukkan kedalam koper. Bagas segera bergegas menghampiri dan menahan tangan Kartika memasukkan bajunya.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Bagas dengan raut wajah yang bingung.


"Pulang!" seru Kartika, Bagas kaget nada bicara Kartika seperti sedang marah. Bagas masih belum menyadari apa kesalahannya.


"Pulang?Malam-malam begini? Dengan siapa?" tanya Bagas kembali.


"Dengan Bagus dan naik taksi online," jawab Kartika yang masih cemberut.


"Kita kan disini masih lama, dua minggu. Kenapa kamu mendadak ingin pulang?"


"Aku tidak ingin lama-lama disini, kalau mas mau silahkan mas saja sendiri disini. Biar bebas berduaan dengan perempuan dan bermesraan juga tidur berdua sekalian." Kata Kartika dengan emosi dan Bagas baru sadar istrinya mengetahui dirinya dengan Mariana yang dimana Mariana sedang berbisik dengan dekat dan di mengira sedang berciuman.


"Ya ampun, sayang. Kamu salah paham, tadi kamu lihat aku dengan Mariana," kata Bagas sambil menepuk keningnya.


"Sayang, dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan semuanya," ujar Bagas.


"Apa yang harus dengar dan apa yang aku liat itu sudah merupakan bukti, mas. Ingat, mas itu akan punya anak dan malu dengan umur, masih aja mau selingkuh," kata Kartika yang duduk di tepi ranjang.


"Sayang, itu masa lalu," ujar Bagas yang berjongkok sambil memegang kedua tangan Kartika.


"Sayang, please jangan marah. " Kartika masih dengan wajah yang di tekuk.


"Aku mau pulang, dan maaf sudah mengganggu ketenangan kamu," kata Kartika yang berdiri lalu menarik kopernya. Kemudian Kartika membuka pintu kamar Bagas dan menguncinya.


"Sayang, come on. Arrrggghhh!!" Bagas kesal dan emosi.


"Kenapa Mariana ada disini?" tanya Bagas. "Atau jangan-jangan Harry mengundangnya? B*g* banget sih gue. ****," gumam Bagas.


Mariana adalah mantan pacar Bagas sewaktu kuliah di LA, Bagas dan Mariana satu tahun menjalani hubungan yang hanya sekedar kebutuhan s** saja. Bagas laki-laki yang tentu tidak tahan jika tidak menyalurkan hasrat laki-lakinya, Mariana sengaja datang ke Indonesia karena dia ada pekerjaan yang harus dia yang menghadirkan.


Bagas seperti orang gila yang terus berbicara sendiri sambil mondar-mandir, Kartika tidur di kamar Bagus yang kebetulan kamarnya berdampingan. Bagas mencoba mengetuk pintu namun tak di respon, Kartika masih duduk diam sambil menangis. Bagas terus mengetuk sambil memanggilnya, namun Kartika tetap diam lalu dia merebahkan tubuh yang disamping ranjang.


"Ssshhh... " Kartika merasakan perutnya sakit, "kenapa perutku sakit sekali,"


Kartika mencoba bangun dari ranjang, namun kondisinya tak kuat dia sempoyongan dan tiba langsung saja ia terjatuh dan memecahkan gelas yang ada di nakas. Bagas kaget mendengar ada yang pecah, dan berpikir Kartika marah. Lalu terdengar Bagus berteriak memanggil bundanya, dan Bagas makin panik di ketuk pintu itu dengan keras memanggil nama anaknya.


"Bagus, buka pintunya!" teriak Bagas dari luar.


Bagus langsung berlari menuju pintu dan membukanya, Bagas terkejut melihat istrinya terbaring di lantai dan melihat ada darah di paha istrinya. Segera dia menelepon tim medis yang ada di hotelnya, lalu Bagas mengangkat Kartika dan membawanya keluar. Bagas segera membawa Kartika ke tempat perawatan, tak lama tim medis segera mengambil alih Bagas yang meletakkan Kartika di ranjang yang sudah disiapkan. Bagus merangkul lengan ayahnya dan menangis melihat bundanya.


"Apa bunda dan adek bayi akan selamt, yah?" tanya Bagus sambil menangis.


"Iya, sayang. Kamu jangan menangis ya," ujar Bagas menenangkan putranya.


Kemudian Harry dan Wina datang, mereka langsung turun dari lantai kamar mereka ketika Bagas menelepon. Sebenarnya Bagas tidak ingin menelepon pengantin yang sedang malam pertama, tapi Bagas sangat panik dan akhirnya menelepon Harry.


"Kartika, kenapa?" tanya Harry.


"Har, gue mau tanya. Apa lo mengundang Mariana?" tanyanya.


"Mariana?Mantan lo dulu?"


"Iya, tadi gue ketemu dia di cafe dekat lobby. Dan Kartika melihat gue sama dia lalu syok seperti ini," jawab Bagas.


"Tidak, gue tidak mengundang Mariana. Gue juga tidak tahu dia ada disini," ujar Harry.


"Masa lalu yang membuat semua jadi masalahku," kata Bagas meremas rambutnya.


"Memangnya Kartika melihat lo sama Mariana sedang apa?" tanya Harry.


"Kartika menduga gue sedang berciuman dengan Mariana, padahal saat itu Mariana sedang berbisik di telinga gue. Jadi dia mengira gue dan Mariana sedang berciuman, aaarrgh," Bagas mengusap wajahnya dengan kasar.


"Elo, kenapa pake acara ketemu segala dengan Mariana?" tanya Harry.


"Lo kira gue seperti dulu yang suka main cewek. Nggaklah, gue ketemu sama Mariana itu gak sengaja, cungkring. Kalo ngomong itu pake logika," ujar Bagas menatap Harry dengan tajam.


"Ya, kali aja lo sengaja ketemu sama Mariana," kata Harry dengan pelan.


"Jangan bikin kompor deh lo!" seru Bagas.


Tak lama dokter yang memeriksa Kartika pun keluar, dan dia tampak tersenyum dengan perdebatan kedua saudara sekaligus sahabat. Dokter Fian, adalah dokter keluarga Bagas, beliau adalah sahabat papi Bagas yang diam-diam menaruh hati pada mami Ammar.


"Om, bagaimana istri Bagas?" tanya Bagas.


"Istrimu, tidak apa-apa hanya syok saja. Oia, Om bisa ngobrol dengan mu, Gas," kata dokter Fian.


"Bisa, om. Dimana?" tanya Bagas.


"Bagaimana kalau kita kekamar om saja, itu disana kamarnya," jawab dokter Fian.


"Baik, om. Wina, aku titip Kartika dan Bagus ya," kata Bagus lalu di angguki oleh Wina. Bagus sudah tidur di pangkuan Wina. Kemudian Bagas mengikuti langkah kaki dokter Fian.


Jantung Bagas tak berhenti berdetak, dia sangat takut dengan apa yang dokter Fian katakan. Apakah ini menyangkut dengan istrinya atau tentang apa, Bagas hanya memikirkan tentang istri dan apa yang ingin dokter Fian katakan.


Dokter Fian membuka pintu kamarnya dan menyuruh Bagas masuk lalu duduk di sofa. Kamar sweet room yang Bagas berikan untuk dokter Fian sebagai kepala tim medis hotel. Hotel Bagas juga tersedia klinik yang khusus tamu yang menginap di hotelnya, karena perjalanan kerumah sakit cukup jauh.


"Maaf, om. Ada apa jangan bikin Bagas penasaran, om?" tanya Bagas.


"Heehe,oke om langsung saja mengatakan padamu," jawab dokter Fian.


Dokter Fian duduk di hadapan Bagas dan sambil tersenyum melihat wajah Bagas yang tegang menatap dirinya. Dokter Fian terkekeh melihatnya.


"Santai, Bagas Wirayudha," ujar dokter Fian terkekeh.


"Om, please. Jangan membuat aku makin penasaran," kata Bagas.


"Oke.. Oke.. Kamu ada masalah apa dengan istrimu? Sampai dia tidak mau menemuimu?" tanya dokter Fian.


"Kartika sudah sadar, Om?" Bagas bertanya balik.


"Di tanya malah balik nanya," ujar dokter Fian.


"Hehehh, om tidak tahu betapa khawatir Bagas malam ini. Karena om tidak pernah merasakan, om kan jomblo," kata Bagas tersenyum meledek dokter Fian.


"Ya itukan dulu om, sekarang,"


"Kenapa jadi bahas om, sih. Sekarang katakan pada om ada masalah apa kamu dan istrimu?"


"Kartika salah paham, om," jawab Bagas.


"Salah paham kenapa?"


"Dia melihat Bagas sedang ngobrol dengan mantan pacar, om," kata Bagas tersenyum.


"Oh, cemburu?"


"Lalu kenapa istriku tidak mengizinkan aku melihatnya, om?"


"Om, tidak tahu. Ketika dia sadar lalu meminta pada om, untuk tidak menyuruh Bagas masuk melihat dirinya dan anaknya," ujar dokter Fian.


Bagas terdiam dan ternyata pertemuannya dengan Mariana membuat masalah dalam hubungannya dengan Kartika, Bagas tak tau harus bagaimana. Benar-benar masa lalu yang membuat masalah bagi Bagas.


"Om, sarankan jangan temui dulu istrimu. Biarkan dia tenangkan diri terlebih dahulu, jangan membuat syok lagi."


"Bagas titip istri dan anak Bagas ya, om,"


"Tenang, serahkan semua pada om. Lebih baik kamu juga istirahat,"


"Tidak, om. Bagas mau tunggu Kartika di luar saja,"


"Terserah kamu, kalau begitu disini saja temani om ngobrol. Bagaimana, Gas?"


"Hmmm.. Bagas ingin bertemu Harry dulu, om,"


"Oke,sabar. Wanita hamil itu sensitif," kata dokter Fian tersenyum.


"Bagas permisi ya, om. Selamat malam dan selamat istirahat,"


"Oke, good luck ya, son,"


Bagas keluar dari kamar dokter Fian dengan gontai dan rak bersemangat, karena Kartika tidak mengizinkan dirinya masuk untuk melihatnya. Khawatir, jelas Bagas khawatir dengan istrinya yang tadi mengeluarkan darah dan pingsan. Namun kesalahan pahaman yang membuat dia jadi tak bisa mendekati istrinya. Harry kemudian keluar dari kamar Kartika dan melihat duduk di kursi tunggu, Harry duduk disampingnya menatap saudaranya yang terlihat kusut dan dengan wajah yang khawatir.


"Masuk sana," kata Harry.


"Kartika tidak ingin bertemu dengan gue, Har," ujar Bagas.


"Gue udah jelaskan sama Kartika, kalo itu adalah kesalah pahaman," kata Harry.


"Sekarang, apa dia masih mau gue temui?" tanya Bagas.


"Sudah sana, kasihan bini lo," kata Harry.


"Thanks ya Har, lo emang sodara gue yang paling baik," kata Bagas memeluk Harry dengan senyum sumringah dan meneteskan air mata.


"Udah sana, kaya emak-emak lo cengeng," ujar Harry. Bagas tersenyum menampilkan giginya.


Lalu Bagas masuk kedalam kamar, dia melihat Bagus tidur di sofa dan Wina yang sedang menyuapi Kartika makan. Bagas berdiri sambil menatap istrinya yang sedang makan.


"Kak, Wina keluar ya. Mas Bagas sudah datang," kata Wina yang menyimpan piring di nakas.


"Terimakasih, Win. Maaf udah ganggu malam pertamamu," ujar Bagas yang menggoda Wina, sehingga pipi Wina merona karena malu.


Wina keluar dari kamar Kartika dan kembali bersama Harry ke kamarnya. Bagas mendekati Kartika memegang tangannya dan mencium punggung tangan istrinya dengan penuh cinta.


"Maafkan aku, sayang. Sungguh, aku sudah tidak ada rasa padanya, dan tadi aku tidak sedang berciuman tapi aku mencoba menghindari dia berbisik di telingaku. Dan kamu mengira kita sedang berciuman," jelas Bagas.


" Maafkan, Kartika juga yang tidak bertanya terlebih dahulu,"ujar Kartika.


"Aku sebenarnya ingin sekali masuk, tapi dokter Fian mengatakan bahwa kamu tidak ingin bertemu denganku dan aku tak diizinkan masuk olehmu, aku merasa sedih ketika harus berjauhan dengan kalian," kata Bagas yang memeluk tubuh istrinya.


"Aku tadi marah dan memang tidak ingin bertemu denganmu, mas. Tapi, mas Harry menjelaskan semuanya padaku, maafkan aku ya" ujar Kartika yang mengusap wajah suaminya dan begitu juga Bagas yang mengambil tangan istrinya lalu di ciumnya.


"Bagus tidur di sofa, kasihan sekali dia. Aku akan mengajak dia kembali ke kamarnya saja," kata Bagas.


"Tidak usah, mas. Biarkan saja, dia disini aku tidak akan tenang jika dia di tinggal sendiri di kamarnya." Kata Kartika.


"Baiklah, sayang. Mau aku peluk tidurnya?" tanya Bagas tersenyum.


"Mau, mas. Aku ingin sekali tidur dipelukanmu," jawab Kartika.


Kemudian Bagas naik ke ranjang dan memiringkan badannya lalu memeluk Kartika dari belakang dan mereka tampak terpejam.


"Mas," panggil Kartika.


"Hmmm," jawab Bagas dengan deheman.


"Besok, kita pulang saja." kata Kartika.


"Kenapa? " tanya Bagas.


"Aku pengen baby moonnya di anyer mas," kata Kartika.


"Baiklah, terserah saja. Yang penting kamu dan anak kita senang," ujar Bagas.


"Mas, makasih ya," ucap Kartika.


"Hmm, sudah tidur. Tapi, sebentar aku mau pindahkan Bagus dulu. Masa kita tidur di ranjang, Bagus harus tidur di sofa," ujar Bagas.


"Iya, sayang. Kasihan, pindahkan dia di kasur itu saja," kata Kartika.


Bagas mengangkat Bagus yang tidur di sofa, dia pindahkan di ranjang yang berukuran sedang. Kemudian Bagas kembali tidur disamping Kartika sambil memeluk perutnya yang sudah agak bulat. Bagas tersenyum akhirnya kesalah pahaman antara dirinya dan Kartika sudah terselesaikan. Bagas tak bisa bayangkan jika ia akan tidur sendiri dan tidak bisa bertemu dengan istri dan anaknya. Padahal istri dan anaknya itu adalah moodboster baginya.


Pagi, mulai menyapa pasangan suami istri itu masih tidur sambil berpelukan seakan tak ingin lepas dan dipisahkan. Bagus terbangun mengerjapkan mata dan melihat atau dan bundanya masih tertidur sambil berpelukan.


"Ayah, bunda. Bangun, sudah siang," Bagus menggoyang-goyangkan tubuh kedua orang tuanya.


Kartika membuka matanya dan tersenyum melihat jagoannya sudah bangun terlebih dahulu. Kartika melepaskan tangan Bagas yang memeluk tubuhnya.


"Sayang, sudah bangun?" tanya Kartika tersenyum menatap Bagus.


*****


Hai... Reader's.. Maaf kan author karena baru up, karena author sedang merasakan tidak enak badan.


Semoga up kali mengobati rasa rindu kalian pada keluarga Bagas.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya...


Semoga di penghujung tahun ini kita semakin diberikan kesehatan dan kekuatan.


Salam ByYou