
Weekend ini Bagas mengajak keluarganya menghabiskan waktu berjalan-jalan ke mall. Gayatri tidak ikut karena harus pulang dan mengenalkan Dewa pada keluarganya. Sedangkan Hary masih berjuang untuk kembali pada Wina, namun sepertinya Wina tak ingin kembali pada Hary.
Bagas dan keluarga masuk ke dalam sebuah mall yang besar, disana banyak pengunjung menikmati weekend. Bagas menggandeng tangan Bagus dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya menggandeng tangan istrinya.
"Ayah, lihat itu Bagus mau naik rollercoaster. " Kata Bagus yang menunjukkan sebuah arena bermain rollercoaster.
"Bunda gak berani naik, Yah. Ngeri lihatnya, takut jatuh. " Ujar Kartika yang menutup matanya seakan takut dengan permainan itu.
"Ck.. Bunda cemen gak berani naik rollercoaster. Ayah kita naik yuk. " Ajak Bagus yang menarik tangan ayahnya.
Tangan Bagas yang ditarik Bagus pun akhirnya sampai di loket pembelian tiket. Bagas membeli dua tiket dan langsung naik bersama Bagus anaknya. Bagus tampak senang menaiki rollercoaster, dia terus berteriak dan tertawa. Sedangkan Bagas sesekali memejamkan matanya, sebenarnya dia sangat takut tapi karena permintaan putra nya. Bagas hanya memejamkan matanya menahan rasa takutnya.
Setelah selesai bermain, Bagas menghampiri istrinya yang duduk sendiri menunggu dirinya dan Bagus menaiki rollercoaster. Kartika memberikan minuman pada Bagas, Bagas pun mendudukkan dirinya di samping Kartika.
"Bagus, mana? " Tanya Kartika.
"Bagus? Tadi dia di belakangku, Sayang. " Jawab Bagas yang matanya mencari dong sekeliling area permainan rollercoaster.
"Mas, kenapa tidak menggandeng tangan Bagus? " Tanya Kartika yang memukul bahu Bagas.
"Awww.. Sayang kok, Mas. Yang salah. " Kata Bagas yang mengusap bahunya.
"Kebiasaan, Mas. Selalu seperti itu, makanya aku gak mau naik itu. " Kata Kartika yang panik.
"Kita cari bersama, mungkin dia sedang bermain di tempat biasa. " Kata Bagas.
"Mas, nanti lain kali tangan Bagus itu di gandeng. Anak itu kan rasa ingin tahunya tinggi. " Ujar Kartika.
"Kita lihat di area bermain robot, biasanya anak itu suka bermain di situ. " Kata Bagas.
"Bagus... Bagus... Kenapa sih selalu menghilang? " Tanya Kartika sambil berjalan dengan langkah kaki yang cepat.
Bagas dan Kartika mencari Bagus di area bermain anak membuat robot namun tidak ada. Kartika mencoba masuk ke area bermain itu sambil melihat satu persatu anak-anak yang sedang bermain merakit robot.
"Kamu, kemana Bagus? " Gumam Kartika yang mulai berkaca-kaca
Bagas pun masuk ke area bermain yang lain, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah di area itu. Bagas menarik nafanya karena tak menemukan anaknya, rasa lelah, pusing yang ada di kepala Bagas.
Bagas duduk di kursi tunggu pengunjung area bermain di pinggir pintu masuk. Kemudian matanya menatap seorang anak laki-laki sedang asik bermain memukul kepala buaya. Bagas langsung menghampiri anak tersebut dan langsung berdiri di depannya. Seketika anak tersebut mendongak ke atas tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ayah ayo kita main memukul kepala buaya. " Kata Bagus dengan menampilkan giginya tanpa rasa bersalah.
"Bagus, kalau Bagus mau bermain harusnya bilang, Nak. Jangan sendiri di tempat keramaian, ayah dan bunda mencari kamu dan khawatir. " Kata Bagas memandang anaknya, ingin rasanya Bagas memarahi anaknya tapi mulutnya terasa kelu.
Kartika yang melihat Bagas sudah menemukan Bagus, langsung berjalan menghampiri merasa dengan rasa kesal, marah, dan lelah. Kartika lalu menjewer telinga Bagus dengan kesal.
"Aduh, Bunda sakit. " Kata Bagus yang mengusap telinganya.
"Siapa suruh pergi tidak bilang ayah dan bunda. Kamu tidak tau betapa khawatirnya bunda sama kamu? " Tanya Kartika menatap bola mata anaknya itu.
"Bagus, sudah besar bisa jalan sendiri, Bun. " Kata Bagus yang merasa tak perlu pengawasan kedua orang tuanya.
"Kata siapa kamu sudah besar. Hah...? " Tanya Kartika dengan sedikit keras.
"Bun, maaf jangan marah. " Jawab Bagus yang takut bila Kartika marah. Bagus langsung menarik lengan Bagas dan menggeser tubuhnya di belakang Bagas.
"Sudahlah, Bun. Sekarang Bagus sudah ketemu jadi gak usah marah. " Kata Bagas yang membuat Bagus tersenyum karena ayahnya membelanya.
"Ayah, selalu membelanya. Lihat kan karena ayah terlalu memanjakan Bagus. " Kata Kartika dengan ketus, kedua tangannya di silangkan di dadanya.
"Bunda, malu di lihat orang. " Kata Bagas yang merangkul pundak istrinya.
"Bagus, lapar. Ayah kita makan yuk. " Ajak Bagus yang memegang perutnya.
"Janji dulu sama kamu tidak lagi pergi sendiri dan menghilang seperti tadi. " Kata Bagas dengan tegas.
"Iya, Yah. Bagus janji tidak akan menghilang lagi. " Kata Bagus.
"Sekarang minta maaf sama bunda, lihat bunda sampai menangis melihat kamu tidak ada. " Kata Bagas.
Bagus mendekati Kartika yang duduk di bangku pengunjung dan dengan menangis. Bagus berjongkok di hadapan Kartika lalu kemudian Bagus memeluk Kartika perempuan yang sudah melahirkannya, diciuminya wajah sangat bunda dengan penuh kasih sayang.
"Jangan membuat bunda takut lagi ya, Nak. Bunda masih trauma dengan kehilangan Bagus waktu dulu, bunda masih takut kejadian dulu terulang lagi. " Kata Kartika sambil menangis.
"Bagus janji tidak akan pergi tanpa izin dari bunda lagi. Bagus juga janji tidak akan jauh dari bunda. " Kata Bagus yang menunjukkan dua jarinya.
Kemudian Bagus mengusap airmata yang menetes di pipi Kartika, lalu Bagus memeluk Kartika dan Kartika membalasnya. Bagas yang menyaksikan itu hanya tersenyum karena anaknya begitu pintar dan dewasa sebelum waktunya.
"Sudah menangisnya? " Tanya Bagas yang meledek Kartika dengan senyuman.
"Sudah, Yah. Bunda makin cantik kalau tidak menangis. " Goda Bagus yang tersenyum.
"Ck.. Kalian anak sama ayah sama saja suka menggombal. " Kata Kartika yang tersenyum malu.
"Setelah makan, Bagus beli mainan ya yah. Bagus mau beli mainan seperti milik Ervan, Yah. " Kata Bagus yang menggandeng tangan ayah dan bundanya.
"Mainan yang bagaimana? " Tanya Bagas sambil berjalan dengan santai.
"Itu loh, Yah. Mainan yang kita rakit sendiri. " Kata Bagus.
"Siap, tuan raja. " Kata Bagas yang membungkukkan badannya.
Bagas dan keluarga makan si sebuah restoran yang hanya sedikit pengunjung, karena Bagas tidak mau anak dan istrinya merasa tidak nyaman. Bagas memang begitu menyayangi anak dan istrinya, sehingga apapun keinginan mereka selalu dituruti. Bagas memilih tempat duduk di dekat jendela dengan pemandangan yang luar biasa.
"Suka duduk disini? " Bisik Bagas di telinga Kartika.
"Suka, Mas. " Jawab Kartika dengan senyum.
"Nanti malam bayar ya. " Kata Bagas yang menyeringai.
"Bayar? Harus ya, Mas. " Tanya Kartika yang tahu bayaran yang diminta suaminya.
"Harus dong. " Jawab Bagas yang membolak-balikan buku menu.
"Huft.. " Kartika menarik nafas panjang dan menulis pesanan di kertas pesan menu.
"Bagus, mau makan apa? " Tanya Kartika yang melihat Bagus masih membolak-balikan buku menunya.
"Ayam bakar madu, minumnya es jeruk. " Jawab Bagus.
"Ayah, mau makan apa? " Tanya Kartika yang melirik ke arah Bagas.
" Makan kamu sepertinya enak, Sayang. "Bisik Bagas dan langsung Kartika mencubit pahanya.
" Awwww... Sakit, Bun. "Kata Bagas yang meringis mengusap pahanya.
" Biarin, habisnya godain melulu. " Ujar Kartika.
"Ayah, kenapa? " Tanya Bagus.
"Bunda nakal ayah di cubit. " Adu Bagas yang seolah-olah tersakiti.
"Bunda, kasihan ayah kesakitan, Bun. " Kata Bagus membela sang ayah.
"Habis, ayah nakal juga. " Kartika tak mau kalah.
"Ayah juga jangan suka jahil sama bunda. " Kata Bagus yang membuat Bagas tersenyum.
*Hai... Readers... Maafkan author yang telat untuk up karena kesibukan author di dunia nyata.
*Maafkan author belum bisa double up ya..
*Kalau tugas author sudah selesai author pasti akan double up.
*Terimakasih masih setia bersama Author
*Silahkan like, komen dan hadiahnya ya author tunggu.
*By You*