
"Mas," panggil Kartika membuat Bagas terbangun.
"Ada apa, sayang?" tanya Bagas.
"Ini, foto siapa?" Kartika yang bertanya saat melihat ada foto di ranjang setelah mereka melakukan aktifitas suami istri.
"Aku gak tau," jawab Bagas yang masih bertelanjang dada.
"Ini pasti foto mantan kamu, ya?" tanya Kartika.
"Mantan, apa sih," kata Bagas dengan ketus.
"Harry bilang kamu mantannya banyak, terus kenapa masih di simpan fotonya. Mau balik lagi?"
"Apa sih, sayang. Siapa yang mau balik lagi," ujar Bagas dengan kesal.
"Terus ini apa, kenapa masih simpan ni foto?" tanya Kartika.
"Aduh, sayang. Ini bukan foto mantan aku," jawab Bagas bingung.
"Terus foto siapa? Udah deh, kamu bilang saja kangen sama mantan?" tanya Kartika yang benar-benar kesal.
"Apa sih, ini foto aku juga gak kenal. Kamu itu jangan aneh deh,lagian ini foto aku tidak tau foto siapa," ungkap Bagas.
"Bunda" panggil Bagas yang terbangun lalu menggedor-gedor pintu kamar ayah bundanya.
"Ada apa, sayang?" tanya Kartika yang membuka pintu.
"Ayah, bunda. Tadi oma cari foto oma," ujar Bagus.
"Foto?" Kartika tampak bingung dan dia sempat marah-marah karena foto itu.
"Memangnya itu foto siapa?" tanya Bagas yang terdengar cukup jelas di telinga Kartika.
"Foto, oma yah. Sewaktu masih muda katanya," jawab Bagus.
"Kenapa bisa ada di kamar, ayah?" tanya Bagas.
"Bukan, Bagus. Beneran, tadi oma yang simpan dikamar ayah," jawab Bagus dengan sedikit takut sudah berbohong.
"Bagus, sayang. Bagus gak bohongkan, anak ayah?" tanya Bagas pelan.
"Maafkan Bagus yah, itu di suruh Om Harry. Katanya simpan foto ini di kamar ayah bunda," kata Bagus tersenyum.
.
"Oh.. Anak barongsai yang menyuruhnya," ujar Bagas kesal dengan bergumam saja.
"Ayah gak marahkan sama Bagus?" tanya Bagus dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak, ayah tidak marah. Tapi lain kali Bagus jangan bohong lagi ya, hampir saja ayah tidur di luar karena bunda marah," kata Bagas.
"Bunda, maafkan Bagus ya. Janji Bagus tidak akan bohong lagi," ujar Bagus.
"Iya, sayang. Bunda sudah maafkan ko, sekarang kembali ke kamar," kata Kartika mencium pucuk kepala Bagus. Bagus lalu berlari menuju kamarnya.
Bagas menatap Kartika, tapi Kartika seperti merasa tak bersalah. Kartika langsung masuk dan merebahkan diri di ranjang, Bagas yang melihat istrinya berbaring langsung ikut berbaring.
"Sepertinya ada yang harus di hukum, karena menuduh sembarangan," kata Bagas menyandarkan kepalanya di tembok.
"Siapa yang di hukum?" tanya Kartika pura-pura tak mengerti.
"Hmmm.." Bagas hanya menyeringai dan menaik turunkan alisnya.
"Eh, mas.Tadi jam 9 kan Bagus sudah tidur ya, tapi kenapa sebentar sekali dia tidur jam 10 sudah bangun. Apa dia ingat dengan foto mami ya," kata Kartika mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin karena dia merasa berbohong dan sudah melakukan kesalahan jadi mungkin dia ingat. Oia, kamu mencoba mengalihkan pembicaraan ya agar tidak di hukum," kata Bagas dan Kartika hanya tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Aaahh, mas. Iih, tangannya nakal," teriak Kartika yang memukul tangan Bagas yang sudah tak menentu.
"Tiga ronde, untuk hukumanmu," ujar Bagas.
"Ish, nyebelin. Dasar mesum, sudah tua masih saja mesum,nakal," kata Kartika yang memonyongkan bibirnya.
Dan tak lama kemudian Bagas membungkam bibir Kartika dengan bibirnya. Bagas pun langsung m*******u Kartika dengan penuh gairah dan hasrat tak terbendung lagi. Mereka pun kembali melakukan hubungan yang halal dan berpahala. Bagas memang tak pernah puas sekali berhubungan, hingga waktu pagi Bagas baru selesai bergumul dengan Kartika.
Pagi menjelang matahari mulai menyinari masuk ke celah-celah kamar Bagas. Kartika masih tidur sambil dipeluk Bagas, Kartika merasa lelah semalaman melayani suaminya yang terus memintanya lagi. Kartika pun senang sudah melayani sang suami dengan ikhlas.
"Pagi, semuanya," sapa mami Ammar yang melihat Bagas dan Kartika turun dari tangga.
"Harry mana, mam?" tanya Bagas yang duduk di samping maminya. Dan Kartika mulai menyiapkan sarapan.
"Belum bangun mungkin, semalam mami lihat dia pulang larut malam sekali." jawab mami Ammar.
"Selamat pagi," sapa Harry yang mengenakan celana pendek selutut dan kaos polos, karena hari ini adalah hari weekend jadi Bagas dan Harry sedikit santai.
"Heh, anak barongsai. Semalam lo nyuruh anak gue buat bohong ya," kata Bagas menatap tajam Harry.
"Apa sih lo pagi-pagi nuduh gue sembarangan, lagian siapa yang nyuruh anak lo?" tanya Harry dengan santai.
"Kalian kenapa?Pagi-pagi udah ribut, di meja makan kita tidak boleh sambil bicara," ujar mami.
"Tau tuh Bagas, mi. Semalam Harry kan pulang malam, tanya sama mami. Mana gue tahu Bagus bohong sama lo," kata Harry.
"Lo kan yang nyuruh simpan foto mami sewaktu masih abege?" tanya Bagas.
"Foto mami yang mana?" mami Ammar ikut bertanya.
"Itu loh, mi. Foto pas zaman mami pake dress selutut di kucir rambutnya," jelas Kartika.
"Hmmm,, Oh, iya mami ingat sekarang. Itu foto mami sama papi masih pacaran waktu itu papi ajak mami ikut ke Swiss." kata mami mengingat masa pacaran dengan alm suaminya.
"Tapi, kenapa ada di kamar kamu?" tanya mami.
"Nih, si anak barongsai. Dia nyuruh Bagus nyimpan foto mami masih abege, dan Kartika tidak tau kalau itu foto mami. Jadi Bagas terancam tidur di luar," ucap Bagas.
"Eits.. Kalau ngomong itu pakai saringan, bro. Seenaknya saja nuduh gue," kata Harry yang tak mau kalah.
"Alah, ngaku aja lo. Sebelum gue tanya sama anak gue," ujar Bagas.
"Kalian itu selalu saja ribut, sudah masalah sepele saja. Kapan kita makannya?" tanya mami dengan kesal.
Kemudian Bagus datang dan langsung duduk di samping ayahnya, Bagus menatap Harry yang berpura-pura tidak melihat Bagus duduk di kursi samping ayahnya. Bagus juga menatap Bagas yang wajahnya Bagus tau kalau sang ayah sedang marah, Bagus diam dan menundukkan kepalanya.
"Bagus, semalam kamu tau itu foto oma. Dari siapa, sayang?" tanya mami Ammar.
"Bagus, jangan takut ada ayah. Kalau om Harry marah nanti ayah balik marahin lagi," kata Bagas yang melindungi anaknya.
"Sebelum makan malam tadi malam, om Harry masuk ke kamar Bagus lalu om Harry suruh simpan foto di tempat tidur ayah dan bunda. Bagus tanya sama om Harry, ini foto siapa. Terus kata om Harry itu foto oma," jawab Bagus.
"Tuh, lo dengerin anak gue itu gak pernah bohong," ujar Bagas.
"Maaf ya om, Bagus gak mau jadi anak yang tukang bohong," kata Bagus.
"Eh, anak barongsai. Denger gak sih lo, anak gue bilang apa!" seru Bagas makin emosi.
"Iya, rese lo. Sorry deh, gue emang sengaja pengen jahilin lo, Gas."
"Kampret, lo. Lo pikir enak tidur di luar, nanti kalau lo udah nikah, gue bikin lo tidur di luar bahkan perlu gak ada malam pengantin," kata Bagas melempar gulungan tissue ke wajah Harry namun tak kena.
"Sudah.. Sudah.. Ayo kita lanjut makannya," kata mami.
Setelah selesai sarapan pagi, Bagas dan Harry ke ruang kerja dan mereka kembali akur karena sebuah pekerjaan. Mereka adalah team yang solid untuk urusan pekerjaan dan Harry orang kepercayaan Bagas di kantor.
"Pabrik milik Randi bagaimana, Har?" tanya Bagas yang sudah lama tidak mendengar perkembangan pabrik sahabatnya itu.
"Cukup bagus dan berkembang sangat pesat, katanya Randi akan membuka cabang di kota Bandung. Sepertinya semenjak menikah, Randi melejit dan melebarkan sayapnya." kata Harry.
"Lo, bagaimana?" tanya Bagas lagi.
"Apanya," jawab Harry mengerutkan keningnya.
"Apa lo mau bangun cabang perusahaan di LA, kebetulan cabang perusahaan papi disana kurang bagus dan tertinggal jauh dengan perusahaan lainnya. Bagaimana, minat lo kesana?"
"Boleh, kalau lo sudah putuskan kabarin ke gue. Nanti gu hubungi leader disana," kata Bagas.
"Thanks ya, bro. Walaupun kita bukan sodara kandung tapi lo udah kaya kakak gue," kata Harry.
"It's okay, kita kan sodara yang walaupun gue gak suka dengan lo dari kecil," ujar Bagas.
"S***l, lo. Gue juga gak suka sama lo dari kecil, lo suka nindas gue, Gas," ujar Harry tersenyum.
"Lo dulu cungkring, nyebelin dan suka ambil mainan gue," kata Bagas tersenyum.
"Hehehe... Habis lo pelit banget, pinjam mainan aja kagak boleh. Ya sudah gue ambil aja mainannya." ujar Harry terkekeh.
"Terus elo ngadu ke papi kalau gue yang udah ambil mainan gue sendiri," kata Bagas. Dan mereka pun tertawa mengingat masa kecil yang sangat mereka rindukan.
Hari berganti hari dan minggu berganti minggu. Tiba saatnya pernikahan Harry dan Wina yang di adakan di hotel milik Bagas dan Harry, hotel yang mereka bangun untuk mereka yang berharap mempunyai keluarga yang sangat mereka cinta. Bagas membangun hotel saat dirinya jatuh cinta kepada Kartika.
"Mas, Wina cantik sekali," ucap Kartika yang duduk di kursi untuk keluarga pengantin.
"Tapi lebih cantik kamu, sayang," ucap Bagas memegang tangan Kartika.
"Kamu juga ganteng, lihat anak kita sama persis ayahnya ganteng dan tampan," kata Kartika tersenyum menatap suaminya.
"Ngerayu, pasti ada maunya?" tanya Bagas.
"Iih, di bilang ganteng malah mikirnya begitu," jawab Kartika memonyongkan mulutnya.
"HahHAhAh, aku suka jika lihat kamu seperti itu gemas rasanya dan mau aku makan biar bibirnya tidak seperti itu," kata Bagas tertawa dan Kartika menatap Bagas dengan ce'mberut.
"Mas, ini hotel milikmu?" tanya Kartika.
"Iya, sayang. Kamu itu inspirasi aku buat membangun hotel ini," kata Bagas.
"Aku inspirasi kamu?" tanya Kartika bingung.
"Iya, kamu yang membuat aku ingin bangun hotel ini dengan mantan terindah kamu," kata Bagas.
"Mantan terindah? Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Dewa,"
"Ish, masih aja cemburu. Lagian kak Dewa sudah menikah, mas,"
"Tapi masih jadi mantan terindah, kan," ujar Bagas.
"Kenapa jadi cerita kak Dewa sih?Katanya mau cerita kenapa bisa aku jadi inspirasi kamu bangun ini hotel?"
"Maaf, sayang.Dulu awal aku jatuh cinta sama kamu aku berjanji jika aku bisa mendapatkanmu dan menikah denganmu, aku akan membangun sebuah hotel untuk resepsi pernikahan aku dengan kamu, dan akhirnya Tuhan mengabulkannya dan waktu itu aku menikah denganmu di hotel yang aku buat, dan janji aku terpenuhi." ungkap Bagas.
"Uuh... so sweet sekali suamiku," ujar Kartika.
"Itu bukti kalau aku sangat mencintaimu, sayang," kata Bagas kemudian Kartika memeluk Bagas.
"Aku juga sangat mencintaimu, sayang,"
"Bunda," panggil Bagus yang berjalan menghampiri ayah bundanya.
"Hai, anak ayah sama bunda ganteng sekali," puji Bagas yang memeluk Bagus.
"Bagus, dapat juara tadi lomba disana," ujarnya.
"Lomba apa, sayang?"tanya Kartika.
" Itu lomba menyusun puzzle foto om Harry dan tante Wina,"kata Bagus.
"Hebat, sekali anak ayah dan bunda."
"Siapa dulu ayahnya," kata Bagus tersenyum.
"Bagas Wirayudha," ucap Bagas dengan membusungkan dadanya.
"Aku anakmu ayah," ujar Bagus.
"Kami memang anakku, dan akan mewarisi semua kekayaan keluarga Wirayudha, " kata Bagas.
Bagas memeluk Bagus dan menciumnya dengan bangga dan bahagia, Kartika tersenyum melihat anak dan ayah sangat begini dekat..
"Bunda, gak dipeluk, yah?" tanya Bagus.
"Bunda, nanti malam saja ya peluknya," ujar Bagas dengan mengedipkan matanya.
"Ayah, nakal deh," jawab Kartika memukul lengan Bagas.
"Kita nginep disini, yah? Di hotel ini?" tanya Bagus melonggarkan pelukannya.
"Iya, nanti Bagus tidur di samping kamar ayah dan bunda," ujar Bagas.
"Nanti tidur sendiri, yah?"
"Iya, sayang. Bagus itu sudah besar jadi belajar tidur sendiri. Masa mau ditemani oleh bunda."
"Tapi Bagus mau ditemani sama bunda tidurnya, yah."
"Sayang, dengarkan ayah. Kamar Bagus sebelahan sama ayah bunda, terus ada pintu yang menghubungkan kamar Bagus dan juga kamar ayah. Jadi nanti gak usah takut, ya."
"Masa jagoan ayah sama bunda penakut,"
"Hmmm.. Iya deh, tapi pintunya jangan dikunci ya. Biar nanti kalau Bagus malam-malam bangun kan langsung ke kamar ayah," ujar Bagus.
"Aduh, nanti pas lagi enak-enaknya nih bocah ganggu kesenangan aku," guman Bagas.
"Iya, nanti bunda gak akan kunci pintunya," kata Kartika.
"Nanti bagaimana?" bisik Bagas.
"Bagaimana, apa?" tanya Kartika.
"Kalau tiba-tiba Bagus nongol pas kita lagi tanggung, bagaimana?" tanya Bagas.
"Ish, kami ya bukannya nyenengin anak dulu. Malah mikirin begitu," ujar Kartika kesal.
"Hehheh.. " Bagas tersenyum.
"Ayah, kenapa?" tanya Bagus.
"Tidak apa-apa.Ayo kita kesana, sepertinya mami menyuruh kita untuk ke atas pelaminan," kata Bagas yang menggandeng anak dan istrinya.
Suasana pesta pernikahan Harry dan Wina sangat meriah dan banyak kolega, rekan bisnis juga teman dan sahabat yang hadir disana. Bagas dan Kartika juga Bagus berfoto keluarga, karena Bagas tidak memiliki foto keluarga. Malam semakin larut, pasangan pengantin sudah masuk kedalam kamar. Begitu juga mami Ammar yang sudah beristirahat karena seharian mendampingi Harry. Bagus sudah masuk dulu ke kamar bersama Kartika dan Bagas menunggu di kamarnya.
"Sayang, aku ke cafe hotel sebentar ya," kata Bagas.
"Mau apa?" tanya Kartika yang meninggalkan kamar Bagus.
"Mau, kopi. Kamu pesan apa?"
"Hmm.. Tidak, aku tidak ingin makan apa-apa," ujar Kartika.
Bagas pun pergi ke cafe di lantai dasar hotel, disana dia duduk memesan kopi susu dan cemilan untuk menemani dia malam yang terasa membosankan.
"Bagas," panggil seorang wanita cantik dengan pakaian yang minim.
****
Hai... Reader... Maaf author baru up
Silahkan like, komen, hadiah dan votenya.
Aduh.. Abang Bagas ketemu siapa nih??
Salam ByYou