Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Panik


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Bagas yang melihat Kartika memegang perutnya menahan sakit.


"Perut aku sakit, mas," ujar Kartika sambil memegang perutnya.


"Perutmu kenapa?" tanya Bagas yang panik melihat istrinya mengeluh sakit perutnya. Kemudian Bagas memanggil art untuk membantunya memanggil dokter dekat dengan villanya.


"Cepat carikan dokter, istriku kesakitan!" seru Bagas pada para artnya yang ikut panik melihat majikannya memberikan perintah.


"Baik, tuan," ucap Sani art yang bertugas memberantas villa.


Sani berlari mencari mang Didin untuk membantunya untuk turun ke bawah ke tempat pemukiman warga, mang Didin yang seorang penjaga villa pun ikut panik langsung menyalakan motor honda RX kingnya dan langsung Sani duduk di belakang mang Didin lalu segera berangkat ke pemukiman warga.


Sementara di dalam Nani art yang sudah membuat air hangat untuk mengompres Kartika. Bagas yang panik terus mondar-mandir di depan pintu menunggu dokter datang, Bagus yang melihat ayahnya terus mondar-mandir merasa bingung ada apa sebenarnya.


"Ayah, kenapa ayah mondar-mandir di depan pintu?" tanya Bagus.


"Ayah, sedang menunggu dokter. Bunda, sakit, sayang," kata Bagas.


"Bunda sakit, yah?" tanya Bagus yang langsung berlari menuju kamar Kartika.


"Bunda," panggil Bagus yang langsung memeluk Kartika.


"Tuan muda jangan keras-keras peluknya, kasihan dede bayinya," kata Nani art yang sedang mengompres perut Kartika.


"Iya, sayang. Yang dikatakan Nani benar, jangan terlalu keras peluk bundanya ya," ujar Bagas.


"Nani, bunda sakit apa?" tanya Bagus memegang tangan Kartika yang sedang tidur.


"Tidak apa-apa mungkin kelelahan, tadi kan tuan muda dan ayah juga bunda berfoto bersama," kata Nani menenangkan Bagus.


Tak lama kemudian bidan datang bersama Sani dan mang Didin mengantarnya masuk kedalam kamar majikannya, Bagas langsung membuka pintu ketika mendengar suara pintu diketuk.


"Tuan, maaf di sini hanya ada bidan. Dan ini bidan Nur dia bidan terkenal di kampung," kata Sani yang menunjuk jempolnya pada bidan Nur.


Bidan Nur yang tersenyum dengan manis dan begitu cantik membuat Bagas kagum dan masih muda, Bagas langsung menyuruhnya masuk dan langsung menyuruh bidan Nur memeriksakan istrinya.


"Ada dengan istri saya, bu bidan?" tanya Bagas yang duduk di samping Kartika yang sudah membuka matanya.


"Sepertinya istri Anda kelelahan, Tuan," ujar bidan Nur yang menuliskan beberapa resep dan menyuruh Bagas menebusnya.


"Apakah janinnya tidak apa-apa?" tanya Bagas lagi mengusap perut rata istrinya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Nanti di minum vitamin dan obat penguat kandungannya ya, Nyonya," kata bidan Nur.


"Terimakasih, bu bidan," ucap Kartika.


"Dokter, bunda dan dede bayi tidak apa-apa?" tanya Bagus yang duduk di sofa mendengar obrolan ketiga orang dewasa itu.


"Iya, sayang. Bunda dan adek bayi tidak apa-apa," jawab bidan Nur dengan senyuman manisnya.


Bagas yang menatap kagum membuat Kartika cemburu, dan memukul lengan suaminya sambil cemberut memanyunkan bibirnya.


"Seneng banget lihatnya, bidannya cantik ya," ujar Kartika yang cemberut.


"Kamu cemburu ya, sayang," Bagas terkekeh gemas melihat istrinya itu.


"Siapa yang cemburu?" tanya Kartika dengan gengsi. Bagas tertawa dan mencium pucuk kepala Kartika.


"Baik saya permisi dulu, Tuan dan Nyonya," kata bidan Nur yang sudah membereskan peralatannya.


"Sani!" teriak Bagas memanggil Sani dan Sani langsung masuk kedalam kamar Bagas.


"Iya, Tuan. Ada apa?" tanya Sani dengan gemetar jika Bagas berteriak. Bidan Nur menutup telinganya karena Bagas begitu kencang memanggil Sani.


"Maaf, bu bidan kekencangan ya," ujar Bagas terkekeh dengan tingkahnya. " Antarkan, bidan Nur kembali," kata Bagas.


"Terimakasih, Tuan. Nyonya semoga lekas pulih, dan jangan lupa obat dan vitaminnya diminum," kata bidan Nur kemudian keluar dari kamar Kartika.


Bagas mengantar bidan Nur sampai pintu depan villanya dan memberikan amplop atas pengobatan pada istrinya.


"Sama-sama, bu bidan. Oh ya, berapa usia Anda?" tanya Bagas.


"Saya masih usia 25 tahun, Tuan," jawab bidan Nur.


"Apakah Anda tidak ingin bekerja di rumah sakit di kota? Saya bisa memasukkan Anda di rumah sakit elit di kota," kata Bagas yang menawarkan pekerjaan pada bidan Nur.


"Tidak terimakasih, Tuan. Saya ingin mengabdi di kampung ini, karena saya lebih di hargai disini," ucap bidan Nur.


"Baiklah sungguh mulia keinginan Anda. Jika suatu hari Anda ingin pindah tempat ini saya berikan kartu nama saya dan hubungi saya jika Anda berubah pikiran," kata Bagas.


"Terimakasih, Tuan. Saya permisi," ujar bidan Nur membungkukkan badannya dan keluar di antar Sani.


Bagas kembali ke kamar dan kemudian melihat Kartika cemberut dengan wajah yang di tekuk dan bibir yang manyun. Bagas terkekeh melihat sikap istrinya, Bagas sangat gemas dan ingin melahap bibir istrinya.


"Lama sekali ngobrol dengan bidannya, cantik ya bidan Nur," kata Kartika dengan memonyongkan bibirnya.


"Kamu memang cemburu, sayang," ucap Bagas terkekeh dan duduk di sisi ranjang.


"Benarkan bidan Nur sangat cantik apalagi senyumnya manis sekali, mas terus menatap kagum padanya," ujar Kartika dengan marah.


"Kalau tidak ada Bagus di kamar ini, aku akan makan bibirmu itu agar tidak menuduhku sembarangan," ucap Bagas yang sontak membuat Kartika menutup mulutnya.


"Ayah, apa bunda sudah sembuh?" tanya Bagus yang naik keatas ranjang dan lalu memijat tangan Kartika.


"Belum, sayang. Bagus khawatir ya sama bunda," kata Kartika mengusap rambut Bagus.


"Aku sudah bilang kita tidak usah ikut Harry praweding karena kamu sedang hamil muda, tapi bukan kamu yang suka memaksa," kata Bagas sedikit kesal dengan istrinya.


"Maaf, mas. Aku hanya menuruti kemauan anakmu ini," kata Kartika yang mengusap perutnya.


"Ayah, bunda sedang sakit jangan dimarahin," kata Bagus yang melotot pada Bagas.


"Oh, malaikat bunda. Terimakasih, sayang," ucap Kartika mencium tangan Bagus.


"Ayah tidak memarahi bunda, sayang. Ayah hanya menasehati bunda karena bunda itu susah untuk dinasehati," ujar Bagas.


"Iya, tapi nanti saja kalau bunda sudah sehat," kata Bagus.


"Baiklah, anak ganteng Ayah akan menuruti keinginanmu," ujar Bagas. "Sekarang kamu bebas hukuman, sayang. Nanti sampai rumah tunggu hukumanmu," bisik Bagas lalu mencium keningnya.


Kartika bergidik ngeri mendengar Bagas berbicara tentang hukuman, karena Kartika tahu hukuman apa yang akan di berikan Bagas. Hukuman Bagas yang tak biarkan Kartika tidur semalam karena pasti Bagas akan terus menempel padanya sampai pagi.


Bagas keluar sambil menyeringai menatap istrinya yang dengan wajah takut menatap Bagas, Bagus dengan telaten memijat Kartika dan mengusap perutnya yang masih rata. Menciumi perut bundanya, membuat Kartika tersenyum melihat kelakuan anaknya.


"Bagus, sayang ya sama adek?" tanya Kartika.


"Iya, bunda sayang sekali. Bunda, Kalau Ayah marahi bunda bilang sama Bagus ya," kata Bagus.


"Ayah tidak memarahi bunda, sayang. Ayah itu hanya khawatir sama bunda dan dede bayi," ujar Kartika agar Bagus tidak salah paham.


"Bagus juga khawatir dengan dede bayi," jawab Bagus memeluk Kartika.


"Sayang, sudah makan?" tanya Kartika.


"Sudah, bunda mau makan?" Bagus balik tanya pada Kartika.


"Bunda, mau makan jagung bakar. Tapi ayah yang harus membakarnya sendiri," kata Kartika.


"Membakar apa?" suara bariton yang muncul di kamar membuat Kartika dan Bagus menutup mulut mereka.


****


*Hai... Reader maaf author baru up, author sibuk di dunyat sibuk mencari receh..😂


*Jangan lupa like, koment dan Hadiah juga vote nya ya...


*Salam 'ByYou'