Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Amarah Bagas


Bagus memenangkan lomba, dengan rasa bahagia Bagus berdiri di podium menerima medali dan piala. Bagus melihat ke arah kedua orang tuanya yang mengangkat jempolnya sambil tersenyum.


"Bagus, menang. " Kata Bagus yang menghamburkan pelukan ke arah Kartika dan Bagas.


"Selamat, Sayang. " Ucap Kartika mencium pucuk kepala Bagus.


"Ayah dan bunda bangga kepadamu. " Kata Bagas.


"Terimakasih, Ayah, Bunda. " Ucap Bagus tersenyum.


Kemudian mereka pulang ke rumah dan sesampainya di rumah Kartika melihat Dewa yang duduk di teras. Bagas merasa tak suka jika mantan istrinya itu datang, meskipun datang untuk Gayatri.


Kartika turun dan berjalan bersama Bagus masuk kedalam. Kartika tersenyum pada Dewa dan Dewa pun menyambut senyuman Kartika.


Namun merasa tak menyadari bahwa ada yang marah melihat keakraban mereka. Bagas menahan emosinya melihat sang istri tersenyum manis pada mantannya.


"Hai, Bagus. Selamat ya sudah menang lomba. " Kata Dewa mengulurkan tangannya pada Bagus.


"Terimakasih, Om. Bagus masuk ya, Om. " Ujar Bagus yang masuk kedalam dan diangguki Dewa.


"Sudah lama, Kak? " Tanya Kartika yang duduk di samping Dewa dengan tersenyum.


"Kami baru sampai dari Bandung, Tika. " Jawab Dewa yang membalas senyuman Kartika.


"Kenapa duduk disini? Ayo masuk! " Bentak Bagas yang membuat Kartika kaget. Karena baru pertama kali melihat Bagas dengan nada keras.


"Eh.. Pak.. " Dewa hendak mengulurkan tangannya untuk salaman dengan Bagas namun perkataannya berhenti melihat Bagas yang marah dan menepis tangan Dewa.


"Masuk!! " Bagas menarik tangan Kartika dan Kartika berjalan sedikit terseok-seok karena langkah kaki Bagas yang cepat.


Kartika hanya diam tak mengerti melihat suaminya yang tiba-tiba marah. Sesampainya di kamar, Bagas melepaskan tangannya dan lalu duduk di sofa. Kartika pun duduk di samping Bagas yang wajahnya masih terlihat marah.


"Apa kamu masih menyimpan rasa pada Dewa? " Tanya Bagas pada Kartika yang menatapnya dengan tajam.


"Hah.. Kok ngomongnya begitu, Mas? " Tanya Kartika tak mengerti.


"Iya, kamu masih ada rasa sama Dewa? Sehingga tersenyum dengan begitu manis. " Kata Bagas yang tengah di landa cemburu.


"Sayang, kamu itu hanya cemburu. " Ujar Kartika yang tersenyum dan memandang intens suaminya.


"Aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka kamu berbicara padanya. Apalagi dia adalah mantanmu. " Kata Bagas.


" Sama saja, Sayang. "Kata Kartika yang tersenyum.


" Aku tanya apakah kamu masih ada rasa pada Dewa? " Tanya Bagas yang masih dengan wajah emosi.


"Sayang, aku sudah tidak ada rasa pada kak Dewa, dia sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Lagian dia kesini ingin bertemu dengan Gayatri, bukan aku. " Kata Kartika yang geli melihat kecemburuan Bagas.


Amarah Bagas memang sulit di redam, Kartika hanya menarik nafasny melihat Bagas diam dan masuk ke kamar mandi dengan wajah yang masih marah dan emosi juga cemburu.


Mungkin perdebatan ini akan panjang, Kartika keluar menyiapkan makanan untuk suaminya. Lalu Gayatri melintasi Kartika yang sedang menyiapkan makan untuk makan malam.


"Kak Bagas kenapa, Kak? " Tanya Gayatri yang sedang membuat kopi untuk Dewa.


"Dia marah dengan calon suamimu. " Jawab Kartika tersenyum. Gayatri pun hanya melongo tak pecaya mendengar cerita Kartika.


"Dia masih cemburu dengan kak Dewa. Padahal aku sudah tak ada rasa, kak Dewa juga sudah menjadi calon suamimu. " Kata Kartika yang mengulum senyum di bibirnya.


Gayatri pun hanya tertawa kecil, melihat kelakuan suami sang kakak angkatnya. Gayatri lalu keluar untuk memberikan kopi pada calon suaminya yang sedang menunggu di teras.


Kartika masih memasak di dapur kemudian melihat Bagas keluar dari kamar dan menuju ke ruang kerja. Ketika hendak melangkahkan kakinya ke ruang kerjanya Bagas berpapasan dengan Bagus yang keluar dari kamar.


"Bagus, mau kemana? " Tanya Bagas yang mengusap rambut anaknya.


"Bagus, lapar. " Jawab Bagus.


"Mau makan apa? Nanti ayah pesan makanan online. " Kata Bagas.


Bagas yang masih memendam amarah tak menjawab perkataan Kartika, dia langsung melangkahkan kakinya masuk ke ruang kerjanya. Sementara Kartika hanya memandangi punggung suaminya yang sudah hilang.


"Ayah, kenapa? " Tanya Bagus yang merasa bingung dengan kelakuan ayahnya.


"Tidak ada, ayah hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya. " Jawab Kartika.


"Ooh.. " Bagus hanya ber oh saja.


"Bagus Bagas makan? " Tanya Kartika yang mengalihkan sedikit untuk menghindari anaknya bertanya tentang ayahnya.


"Iya, Bun. Bagus lapar. " Jawabnya dengan memegang perutnya.


"Ayo, Bunda sudah masak makanan kesukaan Bagus. " Ajak Kartika yang merangkul pundak Bagus berjalan menuju meja makan.


Setelah menemani Bagus makan, Kartika mencoba menyelesaikan masalahnya dengan Bagas. Dia berjalan ke ruang kerja Bagas dengan membawa kopi. Kartika memegang handle pintu dan ketika ingin memutarnya, ternyata Bagas menguncinya.


Kartika hanya menarik nafasnya, Kartika lalu meletakkan kopi untuk suaminya itu di nakas dekat pintu ruang kerja Bagas. Kemudian Kartika melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sebenarnya sifat inilah yang Kartika tidak sukai dari Bagas yang terlalu cemburu dan posesif.


Kartika mengganti bajunya dengan daster yang berbahan lembut dan nyaman. Lalu dia berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Dari dulu aku tidak suka dengan sifatmu yang satu ini, Mas. " Kata Kartika yang berbicara dengan dirinya sendiri.


Tak terasa Kartika mata Kartika sudah terpejam karena lelah. Kemungkinan Bagas keluar dari ruangannya dan dia duduk di meja makan. Dia melihat makanan yang masih tertata rapi, lalu Bagas mengambil piring kemudian dia mengisi dengan beberapa lauk.


Bagas makan sendiri sambil memandang pintu kamarnya, Bagas merasa sikapnya keterlaluan pada sang istri, namun rasa egoisme dan cemburu mengalahkan segala-galanya. Selesai makan Bagas kembali ke dalam ruangannya. Malam ini suami istri itu saling berjalan untuk pertama kalinya.


Keesokan harinya Kartika sudah menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Kartika semalam tidur sendiri dikamarnya dan Bagas tidur di ruang kerjanya. Kartika melihat Bagus yang sudah rapi dengan pakaian seragam sekolahnya. Kartika tersenyum melihat anaknya sudah besar, hanya Bagus kekuatannya.


"Kak Bagas masih marah? " Tanya Gayatri yang berbisik di telinga Kartika yang sedang menyiapkan sarapan untuk Bagus.


"Iya, semalam dia tidur di ruang kerjanya. " Jawab Kartika yang menyerahkan piring pada Bagus.


"Semalam kak Bagas keluar dan makan sendiri, Gayatri ingin menyapa tapi wajahnya menakutkan. " Kata Gayatri yang duduk dikursi samping Bagus.


"Bagus, sudah selesai makannya? " Tanya Bagas dengan suara keras yang dingin dan Bagus menengok kebelakang.


"Sedikit lagi, Yah. " Jawab Bagus.


"Ayah, tunggu di teras ya. " Kata Bagas yang berjalan.


"Ayah, tidak mau sarapan? " Tanya Kartika yang melihat suaminya berjalan keluar. Bagas mengacuhkan.


Lalu Kartika menyusul suaminya kedepan melihat suaminya duduk sambil membaca koran pagi. Kartika duduk lalu meletakkan kopi di meja samping Bagas.


"Mas, maafkan aku. " Kata Kartika yang melihat suaminya serius membaca koran.


"Mas... " Panggil Kartika dengan manja.


"Hmmm. " Jawab Bagas datar.


"Maafkan aku, aku tau aku salah tapi tidak seperti ini hubungan kita, Mas. " Kata Kartika dan Bagas hanya diam.


Sebenarnya Bagas sudah memaafkan istrinya, namun sifat egois dan keras kepalanya membuat Bagas enggan mengakui dirinya pun bersalah terlalu posesif dan berlebihan pada Kartika.


*Haii... Abang Bagas marah nih... Dia cemburu sama Dewa..


*Hmmm... Reader bayangkan sendiri wajah abang Dewa yang ganteng bagaimana.. 😁


*Maaf author masih bisa up 1bab dulu ya.. karena otak masih belum lancar..


*Silahkan like, komen dan hadiah juga votenya ya...


*Salam 'ByYou'