
Satu minggu kemudian…
Kartika sudah diizinkan pulang dari rumah sakit bersama putrinya yang cantik, Bagas sangat senang kini dia memiliki sepasang anak yang tampan dan cantik. Mami Ammar pun datang ketika Bagas menelepon memberitahu bahwa istrinya sudah melahirkan. Kedua orang tua Kartika pun sudah ada di rumah menyambut kedatangan cucu keduanya.
"Bagus, kenapa?" tanya ibu Rita ibu Kartika yang melihat cucunya Bagus melamun.
"Bagus itu inginnya adik laki-laki tapi kenapa keluarnya perempuan," ujar Bagus yang cemberut.
"Sayang, laki-laki atau perempuan itu sama saja yang penting adik dan bunda Bagus sehat," kata ibu Rita nenek Bagus.
"Ya tapi nanti gak bisa Bagus ajak main," jawabnya.
"Bagus bisa ajarin adik Bagus membuat robot dan yang lainnya," kata ibu Rita.
"Oia, nanti Bagus akan mengajarkan adik Bagus membuat bayi robot," celetuknya.
"Nah, itu lebih baik," ujar ibu Rita tersenyum mengelus rambut Bagus.
Kartika yang baru selesai menyusui bayinya mengulas senyum saat dia melihat suaminya sedang membereskan box untuk putri kecilnya tidur. Bagas adalah suami yang sangat perhatian semenjak dirinya hamil dia banyak membantu Kartika dalam hal pekerjaan rumah. Bagas sengaja menyimpan box tempat putrinya tidur dikamarnya, karena putri kecilnya masih menyusui.
"Sayang, kita belum kasih nama untuk putri kita," kata Bagas yang duduk di samping istrinya dan mengusap pipi putrinya yang sedang terlelap.
"Kira-kira kita akan beri nama siapa, Mas?" tanya Kartika.
"Hmmmmm... Bagaimana kalau Karina Putri Wirayudha?" kata Bagas.
"Boleh juga, Mas. Aku suka kok namanya Karina," ujar Kartika yang mencium pipi Karina.
Tok Tok
Suara pintu yang di ketuk dan Bagas membuka pintu dan ternyata maminya yang pamit pulang lalu mami Ammar masuk dan mencium cucu perempuannya lalu memeluk Kartika.
"Selamat ya, Sayang. Semoga menjadi anak yang sholehah dan membanggakan kedua orangtuanya," kata mami Ammar mencium kening Kartika.
"Terimakasih, Mi. Jadi mami langsung pulang? Gak nginep saja disini, Mi,"ujar Bagas merangkul pundak maminya.
"Mami masih banyak yang harus di kerjakan, disini sudah ada mertuamu dan sekali selamat ya, Sayang," kata mami memeluk Bagas dan menciumnya.
"Oia, mami belum tau nama cucu cantik mami ini," ujar mami Ammar menoel pipi Karina.
"Namanya Karina Putri Wirayudha, Mi. Bagus tidak?" tanya Bagas.
"Cantik sekali namanya," jawab mami Ammar mencium pipi Karina yang sedang di gendong Kartika.
"Mami pulangnya Bagas antar ya," kata Bagas.
"Tidak, ada Didin yang jemput mami. Tadi mami sudah bilang sama Didin untuk jemput mami dirumahmu," kata mami Ammar.
"Baiklah, Bagas antar kedepan ya," kata Bagas.
"Sayang, mami pulang ya. Nanti mami akan kemari lagi," ujar mami Ammar.
"Terimakasih, Mi. Sampaikan salam Kartika untuk Wina dan Harry," kata Kartika yang mencium tangan mami Ammar.
"Sayang aku antar mami kedepan dulu, ya," ujar Bagas.
Sesampainya di teras rumah, Bagas melihat Bagus sedang merajuk dan sedang di bujuk oleh kakek dan neneknya, Bagas menghampiri putra sulungnya dan ingin bertanya apa yang terjadi.
"Bagus, kenapa Bu?" tanya Bagas pada ibu mertuanya.
"Bagus, katanya kecewa tidak ingin punya adik perempuan," kata ibu Rita.
"Sayang, kenapa? Adik Perempuan atau laki-laki itu sama saja yang penting bayi dan bundanya sehat, Bagus bisa main kok dengan adek bayi perempuan," kata Bagas.
"Tapi, Yah. Adek perempuan lebih rewel nantinya kalo sudah besar," jawab Bagus.
"Nanti kalau sudah besar Bagus bisa menasehati dia jangan rewel, Bagus juga bisa marah kalau adek bayi sudah besar tidak nurut sama abangnya," kata Bagas.
"Nanti bisa di ajak main bola tidak, Yah?" tanya Bagus.
"Bisa, Sayang," jawab Bagas mengelus rambut putranya.
"Bener, Yah?" tanya Bagus dan Bagas tersenyum sambil mengangguk.
" Bagus tidak ingin melihat bunda dan adek Karina? Bagus kan belum melihat mereka semenjak di rumah sakit," kata Bagas.
"Ayah sudah maafkan, sekarang lihat bunda kasihan bunda ingin bertemu Bagus," kata Bagas.
"Baik, Ayah."
Kemudian Bagus berlari masuk kedalam menuju kamar bundanya untuk melihat adik yang dia abaikan hingga satu minggu, sejak di rumah sakit Bagus tidak ingin melihat adik bayinya. Karena sebenarnya dia ingin adik laki-laki, tapi yang keluar adalah perempuan. Namun Bagus sadar bahwa kesehatan bundanya lebih baik.
"Bunda," panggil Bagus yang menongolkan kepalanya di pintu.
"Hey, Bang. Sini masuk kenapa berdiri saja," kata Kartika yang sedang membereskan tempat tidurnya.
"Adek bayi tidur, Bun?" tanya Bagus yang melihat di box Karina.
"Iya, Sayang. Bunda kok baru lihat abang ya," ujar Kartika.
"Maafkan Bagus ya, Bunda," kata Bagus yang memeluk Kartika. Dan Kartika tersenyum mengusap rambut dan punggung putranya yang tingginya sudah sedada Kartika.
"Bagus kenapa minta maaf?" tanya Kartika.
"Bagus baru melihat, Bunda," kata Bagus.
"Bunda juga minta maaf, gak pernah mengurusi abang," ujar Kartika.
"Bunda tidak salah, Bagus kecewa karena bunda melahirkan adek bayi perempuan bukan laki-laki," kata Bagus.
"Loh kok gitu, Bang. Perempuan ataupun laki-laki itu sama saja yang penting dia sehat dan sempurna," jawab Kartika.
"Iya, Bun. Maafkan Bagus."
"Bunda maafkan abang, bunda ingin kelak ketika ayah dan bunda tidak ada kalian bisa saling menyayangi, menjaga dan melindungi," ujar Kartika.
"Pasti Bagus akan menyayangi dan menjaga adek bayi, Bun," jawab Bagus.
Kartika mencium pucuk kepala anaknya, Bagas yang melihat ibu dan anak saling berpelukan pun tersenyum bisa membuat putranya menerima adik kecilnya itu.
"Ayah gak dipeluk?" tanya Bagas yang menghampiri keduanya lalu Bagas memeluk istri dan anaknya.
Sungguh nikmat yang tak bisa Bagas dustakan, kebahagiaan keluarga kecilnya itu sudah lengkap dengan sepasang putra dan putri. Bagas mencium kening mereka berdua dan memeluk erat mereka dengan cinta dan kasih sayang.
Oee...Oee.
Baby Karina menangis dan Bagus langsung mendekati baby Karina dan mengusap pipinya. Kartika menggendongnya lalu memberikan ASI, Bagus yang duduk di samping bunda terus melihat adiknya menyusu.
"Baby Karina cantik ya, Bun," kata Bagus mengusap pipi Karina.
"Iya, Sayang. Dan kamu tampan, lengkap sudah anak bunda cantik dan tampan," jawab Kartika tersenyum pada Bagus.
"Hey, baby Karina. Aku abangmu, nanti kalau sudah besar abang akan menjagamu, " kata Bagus yang mengajak ngobrol baby Karina.
"Iya, Bang," jawab Kartika dengan suara seperti anak kecil.
"Maafkan, abang ya. Abang ingin kamu sehat," kata Bagus mencium kening baby Karina.
"Makasih, Abang," ujar Kartika.
"Bagus sayang sama bunda dan baby Karina," katanya.
"Bunda juga sayang abang dan baby Karina," ujar Kartika.
"Kalian tidak sayang ayah?" sahut Bagas yang berdiri di belakang Kartika.
"Kami juga sayang ayah," kata Bagus.
****
Hai…. Reader semoga suka dengan extra part Abang Bagas dan Abang Bagus.
InsyaAlloh setiap Selasa dan Jumat author up extra part nya
Silahkan like, komen hadiah dan votenya.
Salam ByYou