Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
EXTRA PART 4 " Bagus Wirayudha "


Sepuluh tahun kemudian


Bagas remaja yang duduk di kelas tiga SMA, dia selalu juara dalam lomba sains dan lomba robotik seluruh Asia. Bulan depan dia akan mengikuti lomba robotik ajang dunia di Amerika serikat. Karina menatap wajah kakaknya yang serius belajar dan terkadang sifat Karina mengikuti Bagas yang suka jahil dan Bagas menurun sifat Kartika yang serius dan sangat berhati-hati.


"Kakak, Karin mau minta tolong," kata Karina yang berpura-pura.


"Kamu diam kakak sedang sibuk," kata Bagus dengan datar.


"Ck. Bunda!" teriak Karin di telinga Bagus.


"Karin! Apa sih, teriak di telinga kakak?" tanya Bagus dengan kesal.


"Ada apa?" Kartika yang keluar dari dapur menghampiri teriakan putrinya.


"Kak Bagus membentak Karin," jawab Karin dengan mengerucutkan bibirnya.


"Bagus, kenapa?"


"Bunda, Bagus kan sedang mengerjakan tugas. Karin gangguin Bagus terus," jawab Bagus.


"Karin, kamu jangan ganggu kakakmu," ujar Kartika lalu Karin tersenyum menampilkan jejeran giginya.


"Karin kan ingin bermain dengan kak Bagus, Bun," jawab Karin.


"Tapi kakakmu sedang mengerjakan tugas, jadi kamu main sendiri dulu saja," kata Kartika mengusap rambut Karin yang panjang.


Karina Putri Wirayudha putri Bagas Wirayudha terlihat sangat cantik di usianya yang masih sepuluh tahun, rambutnya yang panjang dan kulit yang putih juga hidung yang mancung. Karin memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kartika, mereka seperti bercermin jika keduanya bersama.


Suara deru mobil memasuki halaman rumah, Kartika bergegas menghampirinya. Dilihatnya Bagas datang dengan terlihat sangat melelahkan, Kartika tersenyum saat Bagas menghampirinya.


"Hai, Sayang. Apakah hari ini sangat melelahkan?" tanya Kartika yang mencium punggung tangan suaminya dan Bagas mencium keningnya.


"Aku ingin kamu, Sayang," bisik Bagas di telinga Kartika.


"Sayang, ada anak-anak yang masih bermain," jawab Kartika.


"Ayah!" teriak gadis kecil yang berlari lalu menabrak tubuh Bagas.


"Hup," Bagas menggendong Karin yang sudah sangat berat dan besar.


"Ayah, kak Bagus tidak mau main dengan Karin," adu Karin pada ayahnya.


"Oh ya, kenapa?" tanya Bagas yang berjalan menuju ruang tengah dimana Bagus sedang mengerjakan tugasnya.


"Karin, kamu bisanya mengadu saja. Kamu lihat kakak sedang mengerjakan tugas," ucap Bagus yang menatap tajam Karin dan Karin bersembunyi di ceruk leher ayahnya.


"Kakak Bagus sedang menyelesaikan tugas untuk lomba lusa dan bukannya tidak ingin bermain denganmu," ujar Kartika menengahi kedua anaknya.


Bagas menatap wajah putrinya dan Karin tersenyum lalu mencium pipi ayah ya dan turun dari gendongan Bagas kemudian berlari menuju kamarnya. Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.


"Sayang, ayo kita ke kamar," ajak Bagas yang sudah tidak sabar ingin bermanja dengan istrinya.


"Ayah sama bunda mau ngapain sore-sore masuk ke kamar?" tanya Bagus melihat ayahnya yang memeluk pinggang Kartika.


"Sayang, bunda ingin siapkan air hangat untuk ayah mandi," jawab Kartika.


"Jangan bilang kalian ingin membuat adik buat Bagus. Cukup, ya. Bagus tidak ingin punya adik lagi, Karin saja membuat Bagus pusing. Dari dulu Bagus tidak ingin mempunyai adik perempuan karena bawel dan cerewet," kata Bagus yang membuat Bagas tertawa.


"Ayah, kok ketawa?" tanya Kartika yang memukul lengan Bagas.


"Ayaaaaah!" seru Bagus dan Bagas makin meledek anaknya.


Bagus Wirayudha, di usianya yang masih remaja dia sudah banyak memenangkan lomba sains dan lomba robotik. Bagas mewarisi sikap Kartika yang serius jika sedang melakukan sesuatu dan wajah yang tampan mirip dengan Bagas yang kaku dan dingin. Hanya kepada adiknya dan Sherin hatinya melunak.


Hari ini Bagus akan mengikuti lomba robotik si sekolahnya, Kartika dan Karin ikut menghadiri lomba itu dan memberi dukungan pada Bagus.


Sherin pun hadir bersama adiknya Abigail yang usianya tak jauh beda dengan Karin hanya beda lima bulan. Sherin terlihat cantik dengan kemeja flanel dan rok selutut juga sepatu cats warna putih, rambutnya yang panjang dia ikat asal dengan jepit.


"Kak Sherin!" teriak Karin yang membuat semua ruangan meliriknya.


"Karin, jangan teriak-teriak. Malu semua orang melihatnya," kata Kartika yang memperingatkan agar Karin mengecilkan suaranya. Karin hanya menampilkan jejeran giginya saja.


Sherin yang mendengar ada yang memanggilnya itu langsung menengok ke arah sumber suara. Sherin melihat Karin melambaikan tangan dan lalu menghampirinya.


"Hai, Karin? Bunda, apa kabar?" sapa Sherin mencium punggung tangan Kartika begitu juga Abigail.


"Bunda baik, ibu Freya apa kabar," ujar Kartika.


"Baik, ibu baik. Sherin dan Abigail juga baik," jawab Sherin.


"Hai, Abigail," sapa Karin yang menyapa Abigail dengan senyum.


"Hai, Karin. Kita kesana yuk," ajak Abigail yang menarik tangan Karin.


"Eh, kalian mau kemana?" tanya Sherin.


"Nanti kita balik lagi, kak!" seru Abigail membuat Sherin mendengus kesal.


"Sudah, biarkan saja. Mereka kan masih anak-anak, sebentar lagi lombanya dimulai. Sini duduk dekat bunda, Sherin," kata Kartika yang bergeser untuk memberikan tempat untuk Sherin.


"Om Bagas gak ke sini, Bunda?" tanya Sherin yang sejak kecil mengagumi Bagas.


"Dia sedang keluar kota sedang mengecek pabrik yang baru di buka," jawab Kartika.


"Eh, bunda itu Bagus. Sepertinya lombanya akan dimulai, Bagus mirip banget sih sama om Bagas,"


"Iya kan anaknya, Sherin," jawab Kartika terkekeh.


"Bagus!! Semangat!!" teriak Sherin sambil mengepalkan tangannya. Bagus yang melihat Sherin langsung tersenyum dan melambaikan tangannya lalu memberikan ciuman lewat udara dan membuat Sherin tersipu malu karena semua orang menatapnya.


Sherin tampak malu, lalu menundukkan kepalanya lalu dia menatap Kartika yang tersenyum pada nya. Sherin pun tersenyum dengan sangat lebat hingga giginya terlihat. Sherin memang sangat menyukai Bagus sejak kecil karena Bagus mampu membuat dirinya selalu tersipu malu ketika mereka bertemu.


Bagus Wirayudha anak pertama yang begitu tampan dan membuat semua mata para wanita remaja menatap kagum dan ingin menjadi kekasihnya, namun hati Bagus sudah terisolasi oleh Sherin putri dari Rendi Alvaro sahabat Bagas.


Hampir tiga jam, perlombaan itu di mulai. Bagus yang sedikit lagi menyelesaikan tugas robotiknya. Beberapa menit kemudian Bagus telah selesai deh robotiknya dan dia melirik ke arah Sherin dan Kartika juga Karin yang melambaikan tangan pada kakaknya yang terlihat semangat.


"Kakak semangat sekali, Bun," kata Karin.


"Jelas dong, kan semangatnya ada di sini," goda Kartika sambil memicingkan matanya ke arah Sherin.


Sherin tampak malu dan tersenyum sambil menundukkan kepalanya ketika Kartika menggodanya. Kartika terkekeh melihat sikap Sherin yang malu-malu.


"Bunda, pengumuman lomba akan langsung dimulai," kata Karin ketika mendengar pembawa acara mulai berbicara.


"Pemenang lomba robotik tahun ini, dimenangkan oleh...."