Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Bagus Yang Manja


Kartika dan Bagas sudah kembali kerumahnya dan Kartika tidak sendiri dirumah ada Sani yang ikut ke rumah Kartika untuk membantu pekerjaan Kartika. Hari ini Bagus libur semester disekolahnya, rencana Bagas akan mengajak keluarganya ke Bali. Namun Kartika menolak karena dia masih bedrest, kejadian di villa puncak Bogor membuat Kartika harus bedrest dan belum boleh berpergian jauh. Bagus yang bosan bermain dengan Dennis akhirnya merasa lelas dan dia masuk kedalam kamar Kartika.


"Bunda, boleh tidak malam ini Bagus tidur dengan bunda?" tanya Bagus.


"Boleh, sayang," jawab Kartika dengan senyum.


"Ayah, nanti tidur dimana?" tanya Bagus lagi.


"Dikamar Bagus atau di kamar tamu," jawab Kartika lagi.


"Asik, Bagus mau peluk dede bayinya," kata Bagus yang memeluk perut Kartika yang masih rata.


Tak lama kemudian Bagas datang sambil membawa beberapa pesanan Kartika yaitu cumi asam manis yang dia beli di restoran milik sahabatnya Diena. Bagas masuk kedalam kamar dan melihat Bagus sedang memeluk Kartika, Bagas yang merasa cemburu melihat putranya itu sedang memeluk tubuh istrinya langsung protes.


"Bagus, peluk bundanya jangan kencang-kencang nanti dede bayinya sakit," ujar Bagas.


"Bagus gak kencang-kencang kok ayah meluk bundanya," jawab Bagus yang mendongakkan kepalanya menghadap Bagas.


"Iya, yah. Biarkan Bagus sedang ingin melukai adiknya," sahut Kartika yang membela Bagus.


"Tapi, kan kasihan kamunya nanti sakit perutnya," kata Bagas yang begitu posesif.


"Tidak apa-apa, mas. Aku senang melihat Bagus dekat dengan adiknya," ucap Kartika.


"Bagus, tidak main dengan Dennis?" tanya Bagas pada anaknya yang mendominasi Kartika. Padahal niat Bagas ketika pulang ingin bermanja-manja dengan istrinya dan berakhir dengan hubungan intim,tapi Bagus masih di dalam kamar bersama istrinya.


"Ayah, Bagus ingin tidur di sini dengan bunda," kata Bagus yang kemudian naik ke atas ranjang.


"Apa?No.. No.. Bagus sudah besar tidak boleh tidur dengan bunda," kata Bagas yang kaget mendengar anaknya akan tidur malam ini dengan istrinya. Bagaimana nasib dirinya yang sudah lama tidak dapat jatah.


"Bunda, ayah tidak mengizinkan Bagus tidur disini dengan bubda," rengek Bagus dengan manja,


"Ayah, biarkan Bagus tidur di sini dengan bunda," kata Kartika.


"Tapi kan Bagus sudah besar udah berapa tahun usianya," kata Bagas.


"Bunda," Bagus kembali merengek.


"Ayah, malam ini saja. Sudah deh, jangan di permasalahkan," kata Kartika.


"Jatah ayah bagaimana, bunda?" tanya Bagas yang membuat Kartika ambigu.


"Jatah apa?" tanya Kartika balik.


"Sudah lama ayah tidak dapat jatah malam, hampir satu dua minggu, bunda," kata Bagas.


"Ayah, kalau ngomong di saring napa," ujar Kartika. " Sudah tau disini ada anak kecil, ngomong gak pake saringan," kata Kartika yang kesal karena Bagus asal ngomong.


"Memangnya jatah apa, bunda?" tanya Bagus yang tak mengerti pembicaraan ayah bundanya.


"Ayah, minta jatah makan malam," jawab Kartika yang langsung menatap tajam suaminya itu.


"Oh, ayah minta sama mba Sani di dapur kalau mau jatah makan malam. Bagus, gak mau makan malam di luar. Bagus mau makan di kamar bunda sambil lihat televisi," kata Bagus.


"Ck, bunda gak kasihan sama aku," ucap Bagas yang keluar kamar dengan cemberut.


"Bagus, tunggu disini ya. Bunda mau nyiapin teh hangat buat ayah, nanti ayah marah terus Bagus gak boleh tidur sama bunda," kata Kartika yang merayu Bagus yang tak mau lepas pelukannya.


"Iya, bunda. Tapi jangan lama-lama ya, kalau lama-lama Bagus susulin bunda," sahutnya.


"Iya, sayang. Anak bunda memang pintar," kata Kartika yang mencium pucuk kepala Bagus.


Kartika keluar kamar menyusul suaminya ke ruangan kerjanya, Kartika membuka pintu yang memang tidak di kunci. Kartika melihat Bagas yang sedang fokus menatap layar laptopnya dan melihat sekilas istrinya datang membawa teh hangat dan cemilan.


"Mau nyogok?" tanya Bagas yang merajuk.


"Iya, lihat suamiku marah, cemberut buat aku makin gemas deh," jawab Kartika yang langsung duduk di pangkuan Bagas.


"Gak mempan ngerayunya," sahut Bagas yang mengeratkan tangannya di pinggang Kartika.


"Terus biar rayuannya mempan pake apa?" tanya Kartika yang mengalungkan kedua tangannya di leher Bagas.


Bagas menaik turunkan kedua alisnya dengan senyuman yang menyeringai, Bagas langsung menyerang bibir Kartika. Dan tak lama kemudian mereka berhubungan intim, karena Kartika juga tidak ingin suaminya kecewa karena dia tidak mendapatkan jatah sebagai seorang suami. Entah berapa lama mereka bergumul di sofa yang lebar dan empuk keduanya memadu kasih. Keringat dan nafas yang menderu juga ********* yang membuat keduanya merasa puas. Terakhir Bagas akan pelepasan tiba-tiba suara ketukan pintu yang sangat kencang membuat mereka tersadar.


"Aduh, penggangu kesenangan saja," kata Bagas yang sebentar lagi pelepasan.


"Sayang, Bagus pangil kita," ujar Kartika.


"Tanggung, sayang," kata Bagas. Dan kemudian Bagas ********** untuk pelepasan.


Kemudian Bagas duduk disofa dengan nafas yang tersengal-sengal seperti dia habis lomba lari maraton. Kartika mengambil pakaian yang tergeletak di lantai lalu memakainya, begitu juga Bagas. Kartika berjalan membuka pintu dan melihat Bagus berdiri sambil bersedekap dan mata yang tajam menatap Bagas.


"Ada apa?" tanya Bagas saat matanya menangkap Bagus sedang menatap dirinya.


"Ayah dan bunda sedang apa, buka pintunya lama sekali?" tanya Bagus dengan wajah yang cemberut.


"Bunda sama ayah sedang tidak apa-apa, ini pintunya rusak gak bisa dibuka jadi lama," jawab Kartika bohong.


"Jangan ngajarin anak suka bohong, bunda," kata Bagas.


"Ayah, apa sih," ujar Kartika.


"Memangnya bunda bohong ya?" tanya Bagus.


"Ayah, habis nengok dede bayi," kata Bagas.


"Memang bisa, yah?" tanya Bagus yang langsung mendekati Bagas.


"Ayah, kebiasaan kalau ngomong. Nanti anaknya tanya bagaimana kita menjawabnya," ujar Kartika.


"Ayah, bagaimana bisa nengok dede bayi yang masih di dalam perut bunda?" tanya Bagus.


"Ayah, nengok dede bayinya dengan cara memeluk bunda," jawab Bagas.


"Tadi Bagus peluk bunda, gak bisa lihat dede bayinya," ujar Bagus.


"Coba bunda sini duduk dekat ayah," kata Bagas yang meminta Kartika duduk di sampingnya.


Kartika pun duduk di samping Bagas, lalu Bagas memeluk perutnya dan mencium perutnya Kartika dan menempelkan telinganya di perut Kartika. Bagas tersenyum melihat wajah Kartika yang tegang karena pertanyaan Bagus, Bagus yang terlalu pintar banyak sekali pertanyaan yang membuatnya penasaran. Maklum Bagus itu memiliki IQ yang tinggi dan anak yang jenius.


"Mana, yah. Gak bisa melihat kan?" tanya Bagus yang melihat sang ayah menempelkan telinganya di perut Kartika.


"Makanya kasih jawaban sama anak itu yang benar, sulitkan untuk menjelaskannya," bisik Kartika sambil mencubit pinggang Bagas.


"Aduh," pekik Bagas.


"Kenapa, yah?" tanya Bagus.


"Bunda, cubit pinggang ayah," jawab Bagas cengengesan.


"Bagus, besok bunda mau periksa dede bayi. Nanti Bagus ikut ya biar bisa lihat dede bayi sama bu dokter," kata Kartika.


"Asik, beneran Bagus bisa lihat dede bayi, bun," ujar Bagus.


"Iya, sekarang kita makan malam dulu. Mba Sani sudah siapkan makanan," kata Kartika.


"Aku nanti menyusul, sayang," sahut Bagas yang melihat anak dan istrinya berjalan keluar dari ruangan kerjanya. Bagas mengulas senyum yang lebar. Dia tak menyangka putranya begitu antusias ingin melihat calon adiknya itu.


"Bunda, memangnya dokter bisa lihat dede bayi ya?" tanya Bagus yang ingin memasukkan makanannya ke mulutnya.


"Karena dokter punya alat yang canggih untuk bisa melihat dede bayi, sayang. Sudah kalau makan itu jangan banyak bicara," kata Kartika.


Bagus terdiam dia makan tanpa ada suara, begitu juga Kartika yang makan dalam diam. Kemudian Bagas datang lalu duduk di samping Kartika, dan Kartika melayani suaminya itu dengan telaten. Bagas beruntung memiliki istri seperti Kartika yang cantik, pintar dan baik juga sangat penurut. Bagas tersenyum kala istrinya sedang mengomeli dirinya karena pertanyaanny konyol.


"Bunda, belum mandi ya. Nanti sebelum tidur mandi besar dulu, bun,?" kata Bagas.


"Mandi besar?" Bagus kembali mendengar pertanyaan sang ayah.


"Ayah, bicaranya itu selalu gak di saring dulu," kata Kartika lalu mencubit paha Bagas.


"Awww," Bagas meringis mengusap pahanya yang dicubit Kartika.


"Bunda kan tadi sore sudah mandi masaandi lagi?" tanya Bagus yang mulai bertanya.


"Ayah, kan gak tau kalau bunda sudah mandi. Emang bunda sudah mandi?" tanya Bagas yang senang menggoda Kartika.


"Sudah!" sahut Kartika dengan mengerucutkan bibirnya.


"Bibirnya biasa saja, mau aku cium di depan Bagus," kata Bagas yang berbisik di telinga Kartika. Kartika lalu memukul bahu Bagas.


"Awwww, sayang ini namanya kekerasan dalam rumah tangga," kata Bagas yang tersenyum karena senang menggoda istrinya itu.


"Bunda, jangan pukuli ayah terus kasihan ayah sakit," kata Bagus yang membela sang ayah.


Bagas menyeringai mendengar pembelaan dari sang anak. "Bagus, memang anak ayah," kata Bagas.


"Ayahnya nakal jadi bunda pukul saja, biar ayah gak nakal lagi," kata Kartika yang menatap kesal pada Bagas.


"Ayah, jangan nakal jadi dipukul sama bunda," kata Bagus yang menasehati ayahnya.


"Baik, ayah Bagus," kata Bagas menangkupkan kedua tangannya.


"Sudah, bunda pusing mau ke kamar," kata Kartika yang berdiri dan berjalan melewati Bagas. Lalu Bagas menepuk b*****g Kartika.


"Ayaaaaahhh!" teriak Kartika yang membuat Bagas dan Bagus menutup telinganya.


Bagas hanya tertawa karena senang menggoda istrinya. Sungguh hidup Bagas sangat bahagia memiliki istri dan anak yang pintar, apalagi akan ada suara tangis bayi setiap pagi dan malam harinya. Bagas bersyukur, dulu hidupnya yang selalu one night dengan pacarnya dan sekarang hidupnya berubah. Bagas di juluki hot daddy di sekolah Bagus karena tampang Bagas yang keren dan tubuh yang berotot membuat banyak ibu-ibu muda jatuh cinta pada penampilan Bagas yang sungguh keren. Kartika pun sama di sekolah Bagus di juluki hot mommy, selain pintar, cantik Kartika juga supel dan ramah pada semua orang. Walaupun dirinya istri sultan tapi dia tidak pernah sombong dan selalu berbicara dengan siapa saja.


****


Aduh.. Ayah Bagas ngomongnya gak pake saringan ya reader, author sampai bingung harus jawab apa sama Bagus.


Semakin bahagia ya reader keluarga abang Bagas dan bunda. Semoga gak akan ada yang ganggu kebahagiaan mereka ya reader.


Silahkan like, komen, hadiah dan votenya ya..


Gomawo...


Salam ByYou


😘😘😘😘


Visual Kartika