
Weekend ini Bagas akan mengajak keluarga kecilnya berjalan-jalan ke daerah puncak, dan akan menginap di villa miliknya. Bagas ingin memberikan hadiah karena Bagus berhasil memenangkan tender proyek besar.
"Bun, aku tidak tahu kalo Bagus sepintar itu? " Kata Bagas memanggil Kartika dengan sebutan
bunda ketika ada Bagus, tapi ketika berdua mereka memanggil dengan sebutan sayang.
"Oh, iya. Memangnya Bagus kenapa? " Tanya Kartika yang menengok ke belakang.
"Bagus, bikin perusahaan ayah menjadi berkembang. " Kata Bagus dengan percaya diri.
"Memangnya perusahaan ayah kenapa? " Tanya Kartika yang melirik Bagas.
"Gini loh, bun. Tadi kemarin siang ayah sama Hary sedang ada bisnis proyek besar dan banyak saingan, ayah sama Hary bikin desain untuk dikirimkan lewat email perusahaan yang sedang mencari kerangka yang pas. Bagus datang lalu dia mengutak-atik laptop bikin desain yang perusahaan itu langsung menerima desain buatan Bagus. Ayah gak nyangka Bagus memiliki kepintaran yang luar biasa. " Kata Bagas tersenyum menatap Bagus di kaca spion.
"Waah.. Anak bunda hebat. " Kata Kartika yang tersenyum melihat Bagas yang dengan gaya cool. Kartika pun terkekeh melihat tingkah Bagus.
"Ayah, kemarin bunda liat album foto ayah waktu kecil. Mirip banget sama Bagus, apalagi lihat ayah waktu usia 8 tahun itu mirip sekali dengan Bagus. " Kata Kartika yang menggeserkan duduknya lebih dekat dengan Bagas.
"Masa, sih bun? " Tanya Bagas yang tak percaya.
"Berarti Bagus itu anak ayah, kan. " Celetuk Bagus yang menongolkan kepalanya di tengah-tengah kedua orang tuanya.
"Memang, kemarin Hary bilang sikap Bagus lebih mirip sekali dengan ayah. " Kata Bagas.
"Sifat kamu, dingin kaya kulkas. " Ledek Kartika tertawa.
"Bunda, jangan kamu, kamu panggil ayah. " Kata Bagus yang menatap cemberut
"Oh iya, maaf bunda lupa. Maaf ya ayah. " Kata Kartika sambil menepuk jidatnya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah villa yang sangat sejuk dan asri di tengah pegunungan yang membuat Kartika merentangkan tangannya untuk menghirup udara yang sangat sejuk.
Bagas memasukkan barang-barang yang dia bawa dan kemudian setelah selesai Bagas melihat Kartika asik dengan kegiatan di dapur untuk membuat kue dan makan siang, dengan bahan yang dia bawa dari rumah.
Bagas mendekati Kartika yang sibuk dengan bahan-bahan yang dia bawa. Bagas melingkari tangannya pada pinggang ramping Kartika. Menciumi leher Kartika dan Kartika menengadahkan kepalanya ke atas agar suaminya lebih leluasa.
"Ayah. " Panggil Bagus membuat Bagas berhenti melakukan aktifitas.
"Ah.. Pengganggu. " Ucap Bagas yang kesal dengan Bagus yang merusak moodnya yang sedang ingin berc*****u dengan istrinya.
"Ishh.. Kamu tuh ya. " Kata Kartika yang memukul lengan Bagas.
"Ayah, kita main yuk. " Ajak Bagus yang membawa mobil besar dengan remote di tangannya.
"Sama kak Gayatri saja mainnya, sayang. " Kata Bagas yang mencoba membujuk anak sambungnya.
"Ah.. Ayah, kak Gayatri kan perempuan mana bisa main mobil-mobilan " Kata Bagus yang cemberut.
"Sudah, ayah temani Bagus main sebentar. " Kata Kartika yang mendekati Bagus.
"Sayang, aku kan ingin menikmati cuaca dingin denganmu. " Bisik Bagas di telinga Kartika.
"Nanti, aku temani. Sekarang temani jagoan ayah dulu, Nanti bunda kasih yang spesial ya ayah. " Kata Kartika yang mengedipkan matanya.
"Awas ya, ayah tunggu nih. " Kata Bagas menyeringai.
"Bunda mau kasih hadiah apa sih buat ayah? " Tanya Bagus sedikit bingung.
"Tau tuh bunda, ayo kita main disana. " Ajak Bagas yang membawa mobil-mobilan ke depan garasi. Kartika hanya tersenyum melihat Bagas yang sedang menahan hasratnya.
Bagus begitu senang bermain mobil-mobilan di depan garasi mobil villa Bagas. Dia menekan remote sehingga mobil dengan cepat maju mundur dan belok kanan kiri.
Dret.. Dret...
Ponsel Bagas berbunyi dan dengan terpaksa dia mengangkat telepon menjauh dari Bagus. Tak lama dia menerima telepon, dia melihat ada mobil yang sangat kencang meluncur ke arah Bagus. Bagas yang berlari mengejar Bagus berhenti melihat Bagus sudah tergeletak di jalan dengan bercucuran darah di kepalanya.
"Baguuuusssss... " Teriak Bagas yang langsung mengangkat kepala Bagus dan diletakkan di pahanya. Kartika yang kaget dengan teriakan Bagas langsung keluar dan melihat Bagas menggendong Bagus yang bersimbah darah.
"Kartika.. " Teriak Bagas lagi dan menyadarkan Kartika.
"Gayatri.. Tolong ambilkan kunci mobil mas Bagas. " Kata Kartika yang membuka celemek di tubuhnya.
"Ini, kak. Ada apa kak? " Tanya Gayatri yang bingung melihat Kartika yang sedang kebingungan.
"Cepat ikut aku dan mas Bagas. " Titah Kartika pada Gayatri.
Kartika dan Gayatri melangkah dengan cepat, dan mereka masuk ke dalam mobil. Lalu Bagas menyalakan mesin mobil dan mobil melaju dengan cepat.
"Mas, apa yang terjadi? " Tanya Kartika yang melihat Bagas yang terlihat pucat. Bagus di pangku oleh Gayatri yang masih berlumuran darah.
"Sabar, ya Bagus. " Kata Gayatri yang melihat Bagus dengan darah yang terus mengalir di dahinya.
Sesampainya di rumah sakit, Bagas langsung menggendong Bagus dan membawanya ke ruang IGD. Semua perawat menolong Bagas yang membawa Bagus sendiri.
"Maaf anda tunggu disini. " Kata seorang laki-laki yang memakai pakaian putih-putih.
Bagas duduk di kursi tunggu bersama Kartika dan Gayatri. Bagas menyandarkan tubuhnya di tembok sambil memejamkan matanya. Kartika yang tak tahu kronologisnya hanya diam sambil berdo'a, begitu juga Gayatri yang terus berdo'a agar di beri keselamatan pada Bagus yang sudah dia anggap sebagai keponakannya sendiri.
"Maafkan aku, sayang. " Ucap Bagas yang langsung memeluk Kartika.
"Apa yang terjadi, mas? " Tanya Kartika yang mengusap rambut Bagas.
"Aku tak bisa menjaganya dengan baik, aku lebih mementingkan pekerjaanku. " Kata Bagas yang menangis.
"Hei.. Bagas Wirayudha menangis? " Ledek Kartika yang menangkup wajah Bagas.
"Bagus tertabrak mobil itu salahku. Seharusnya aku jaga dia dengan baik. Tak seharusnya aku tinggalkan dia. " Bagas masih meracau sambil menangis.
"Sudahlah, sayang. Ini bukan kesalahanmu, ini takdir. " Kata Kartika memcoba menenangkan Bagas. Kemudian seorang paruh baya dengan setelan putih-putih keluar dari ruangan IGD.
Ceklek.
Bagas dan Kartika langsung berlari menghampiri dokter.
"Bagaimana anak saya, dok? " Tanya Bagas.
"Anak bapak dan ibu, hanya mengalami luka dan tidak ada yang serius, Jadi bapak dan ibu tak usah khawatir. Dia anak hebat masih bisa tersenyum ketika saya sedang menjahit lukanya. " Kata dokter yang terkekeh saat menjahit luka Bagus, Bagus sadar dan membuka matanya.
"Ah... Bagus dia masih saja bercandaan. " Kata Bagas yang sedikit lega mendengar Bagus tak apa-apa.
"Nanti akan di pindhkan di ruang perawatan. Silahkan tunggu sebentar. " Kata dokter yang meninggalkan Bagas dan Kartika.
Bagus akhirnya pindahkan ke ruangan perawatan tipe VvIP, Bagas melalui Bagus tersenyum menatap wajah Ayahnya.
"Bagus jagoan, ayah jangan sedih. " Kata Bagus tersenyum.
"Bagus jagoan ayah sama bunda. " Kata Bagas yang mencium kening Bagus.
"Jangan bikin ayahmu nangis lagi. " Kata Kartika membuat Bagas merasa malu.
"Ayah nangis? Kenapa, bun? " Tanya Bagus yang ingin tertawa mendengar ayahnya menangis.
*Maaf ya author revisi babnya satu persatu.
*Ini sudah ngebut untuk merevisi tapi realnya author sibuk.
*Semoga kalian suka dengan cerita baru yang author berikan.
*Jangan lupa like yang banyak, komen yang baik serta hadiah yang banyak untuk author..
*Selamat membaca... ☺☺