Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 97 Stempel Cinta


Sesuai dengan apa yang Dave inginkan, pagi-pagi sekali Harry sudah tiba di rumah Dave dengan begitu banyak oleh-oleh yang dibawanya dari kampung Sevia. Meskipun matanya masih mengantuk karena dia tiba di ibu kota sudah larut malam, tetapi Harry mengikuti apa yang diinginkan oleh bosnya.


"Lho Harry pagi sekali sudah sampai sini. Pasti kangen sama Gavin. Dia masih tidur setelah tadi perawat mengganti popoknya," ucap Sevia saat dia bertemu dengan Harry di ruang keluarga.


Suami kamu yang minta aku datang pagi-pagi sekali, sungut Harry dalam hati.


"Kamu benar aku kangen Gavin. Apa Dave masih tidur?" tanya Harry.


"Iya, dia masih tidur bersama dengan Devanya," jawab Sevia.


"Boleh aku membangunkannya? Katanya hari ini ada meeting pagi," tanya Harry meminta ijin pada Sevia.


"Boleh, asal jangan membangunkan Devanya. Dia masih tidur bersama dengan Dave," ucap Sevia.


"Tenang saja, gak akan kho!" Harry langsung berlalu pergi meninggalkan Sevia yang mematung di tempatnya.


Kenapa dia begitu bersemangat ingin membangunkan Dave? Apa yang akan dilakukannya?


Sevia langsung menuju dapur dengan menghendikan bahunya tidak peduli dengan apa yang terjadi pada suaminya. Dia kembali melanjutkan rencana semula untuk pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuknya dan Dave.


Sementara Harry sudah menyusun rencana untuk mengerjai sahabatnya. Sesampainya di kamar Dave, dia langsung menggelitik kaki Dave. Namun, sepertinya Dave tidak merasa terganggu. Kemudian dia mengibaskan ikat rambut Sevia ke hidung Dave, tetapi dia hanya bangun sebentar lalu tidur lagi. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah ide yang menurutnya mustahil.


"Dave, Sevia dibawa kabur oleh Andika," bisik Harry


Sontak saja Dave terbangun dan celingukan mencari istrinya. Merasa tidak bisa menemukan Sevia, dia pun bergegas mencari Sevia ke lantai bawah. Sementara Harry tersenyum penuh kemenangan karena dia berhasil mengerjai sahabatnya.


"Via, Sevia!" teriak Dave.


"Ada apa Dave? Kenapa teriak-teriak?" tanya Sevia yang langsung bergegas menemui suaminya.


Melihat Sevia yang keluar dari arah dapur, Dave pun Setengah berlari menuruni anak tangga. Dia tidak peduli dengan tatapan para perawat yang keluar dari kamar bayi. Tanpa bicara lagi, Dave langsung memeluk Sevia erat.


"Via, kamu gak boleh pergi sendirian. Andika masih mencari kamu," panik Dave.


"Dave sadar! Apa kamu sedang bermimpi? Kenapa tiba-tiba ingat dengan Andika?" tanya Sevia heran.


Dave langsung mengurai pelukannya dan berbalik melihat ke arah lantai dua. Terlihat jelas di matanya Harry sedang tertawa kecil. Dave pun segera berlari menghampiri sahabatnya. Perawat yang melihat Dave yang bertelanjang dada dengan celana pendek selutut hanya bisa berbisik-bisik dengan temannya.


"Ganas sekali Mbak Via! Lihat dada Mr. Dave banyak sekali tanda merah," bisik Lusi perawat Devanya.


"Aku penasaran sekali ingin memegang roti sobeknya," bisik Noni perawat Gavin.


Namun, mereka langsung dikagetkan dengan suara menggelegar yang berasal dari orang yang sedang mereka bicarakan. "Apa yang kalian? Cepat kembali menjaga anakku!" sentak Dave.


Lusi dan Noni pun langsung kembali masuk ke dalam kamar bayi. Mereka tidak berani melihat lagi ke arah bosnya. Setelah memastikan perawat itu masuk ke dalam kamar, Dave langsung menghampiri Harry yang masih menertawakannya. Dia langsung mengapit kepala assistennya itu dengan keteknya.


"Assisten kurang ajar! Sudah datang terlambat, datang-datang ngerjain aku. Mau aku potong gaji kamu?" geram Dave.


Dave yang menyadari kalau dia tidur tidak memakai baju dan hanya memakai celana kolor langsung menarik Harry menuju ke kamarnya. "Tunggu di ruang kerjaku! Bereskan semua berkas untuk meeting pagi ini! Aku mau mandi dulu."


Pantas saja mereka berbisik melihatku, Ternyata melihat tanda cinta dari Sevia di dadaku, batin Dave.


Papa muda itu terus tersenyum dengan sesekali melihat ke arah dadanya. Tidak puas karena tidak terlalu jelas, Dave pun melihatnya lewat kaca besar di kamarnya. Lagi-lagi dia tersenyum bangga dengan tanda kepemilikan yang distempel oleh istrinya.


Ternyata kamu begitu mencintai aku, Via. Sampai menandai aku sebagai milikmu seorang. Tapi ini begitu banyak tanda yang kamu buat di dadaku. Ah ... Aku makin cinta sama kamu," batin Dave.


Senyum mengembang tak surut dari bibirnya. Sampai dia selesai mandi dan berpakaian, Dave masih saja tersenyum dengan sesekali bersiul senang. Sevia yang melihat suaminya bahagia seperti habis menang lotre pun dibuat keheranan.


"Dave, sepertinya sedang bahagia. Apa harga sahamnya naik?" tanya Sevia yang sudah tahu kalau suaminya suka bermain di bursa saham.


"Lebih dari itu, Sayang. Aku senang karena istrinya begitu liar tadi malam. Sampai begitu banyak tanda cinta di tubuhku," bisik Dave yang sukses membuat wajah Sevia seperti kepiting rebus.


"Dave, jangan dibahas!" Sevia memalingkan mukanya.


"Kenapa tidak boleh! Aku menyukainya, nanti setiap kali kita melakukannya, kamu harus membuat stempel seperti aku yang selalu membuat stempel cinta di tubuhmu," suruh Dave.


Ya ampun, brondong aku ini! Kenapa jadi ketagihan aku beri tanda merah? Aku kan tidak sengaja karena dia terlalu membuaiku, sungut Sevia dalam hati.


Dave semakin mengikis jarak dengan istrinya. Dia ingin sekali meraup bibir tipis itu yang sekarang sedang Sevia gigit seraya pikirannya berkelana. Hingga saat bibir keduanya sudah menempel satu sama lain, terdengar suara ketukan pintu di kamarnya.


Tok tok tok


"Dave sudah siap belum? Om Andrea menelpon, meeting-nya dimajukan karena dia akan ke Korea siang ini," teriak Harry di depan pintu.


Sialan! Baru juga aku akan bermain-main dengan istriku. Assisten yang akhlaknya ketinggalan di kampung malah mengganggu aku, gerutu Dave dalam hati.


"Sayang, kita lanjut nanti malam saja. Aku harus meeting dulu," ucap Dave.


"Iya gak apa-apa! Bekerja yang rajin biar anak dan istrimu bisa shopping," pesan Sevia.


Dave hanya tersenyum mendengar apa yang istrinya katakan. Tangannnya mengacak-acak rambut Sevia. Karena pada kenyataannya, Sevia tidak pernah membeli barang-barang mewah hanya untuk memuaskan hasrat belanjanya. Meskipun dia diberi kartu sakti berwarna hitam oleh Dave.


"Aku pasti Bekerja keras untuk membahagiakan kalian berdua. Kalaupun aku sedang malas bekerja, aku tinggal membobol bank," canda Dave.


"Aku tidak mau makan uang yang tidak halal," tolak Sevia.


"Iya, sayangnya aku. Suami kamu ini tidak perlu melakukan hal itu karena istriku tidak suka menghabiskan uang," ucap Dave dengan mencubit hidung Sevia. "Ayo, ke depan! Harry pasti sudah menunggu."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...