
Selama meeting, perasaan Orion tidak karuan, dia terus teringat dengan apa yang Devanya katakan pada papanya. Dia juag terus teringat ucapan Dave yang akan melarangnya berteman dengan Devanya ditambah lagi kata Gavin tempo hari. Membuat pemuda tampan itu tidak fokus dengan meeting yang sedang berlangsung.
"Bagaimana Pak Orion? Apakah ada yg kurang dengan rancangan saya?" tanya seseorang yang sedang presentasi.
Orion hanya diam dengan tatapan kosong. Meski raganya berada di sana, tetapi hatinya jauh melanglang buana ke rumah Devanya. Melihat Orion yang sedang asyik melamun, Arfaaz langsung menepuk pundak keponakannya itu.
"Iya, Vanya minta maaf!" ucap Orion yang terkejut mendapat tepukan di pundaknya.
Semua peserta meeting hanya mengulum senyum mendengar apa yang bosnya itu katakan. Mereka mengerti, di usia Orion yang masih muda pasti sedang asyik-asyiknya bermain cinta-cintaan yang terkadang membuat lupa makan.
"Ion, Vanya ada di rumah Om Andrea sedang bermain dengan Keano," bisik Arfaaz sekalian mengerjai keponakannya
Orion langsung mendelik tidak suka mendengar apa yang Arfaaz katakan. Dia pun langsung bicara sebelum pergi dari ruangan meeting.
"Meeting-nya akan dilanjutkan oleh Pak Arfaaz. Nanti soft copy-nya kirimkan ke e-mail saja. Saya permisi!" Orion segera beranjak pergi dengan tak lupa melihat tajam ke arah om-nya dulu. Hatinya terbakar cemburu mendengar apa yang dikatakan oleh Arfaaz.
Bisa-bisanya aku gak fokus saat meeting hanya karena Vanya. Sial! Kenapa aku jadi seperti ini? gerutu Orion dalam hati.
Orion langsung melajukan mobilnya menuju kampus. Dia yakin kalau Devanya pasti akan kuliah. Dia berencana akan bicara baik-baik pada gadis itu agar tidak jadi pindah ke luar negeri.
Mobil Orion memasuki halaman kampus bersamaan dengan mobil Dave yang memasuki area kampus. Orion pun memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan mobil Dave.
"Om, tumben mengantar ke kampus?" tanya Orion saat keduanya sudah sama-sama turun dari mobil.
"Iya, katanya motor Deva ketinggalan di kampus," jawab Dave.
"Papa, aku ke kelas dulu. Lima belas menit lagi masuk," pamit Devanya.
Orion hanya menatap kepergian Devanya tanpa berniat menyusulnya, kemudian dia pun berbalik menghadap ke arah Dave yang akan pergi menuju ke ruang administrasi.
"Om, tunggu sebentar!" Orion langsung mencekal tangan Dave.
"Ada apa, Ion? Bukannya kamu juga ada kuis?" tanya Dave heran.
"Om, tolong jangan pindahkan Vanya ke kampus lain. Kalau aku yang jadi penyebabnya, aku janji tidak akan menjahilinya lagi. Tapi tolong, Om! Jangan pindahkan Vanya. Aku mohon!" pinta Orion dengan memelas
Ya ampun bocah tengil ini sedang memohon padaku. Ternyata dia sangat ketakutan akan ditinggalkan oleh putriku. Rasain kamu, Boy. Akan aku kerjain balik nih bocah, batin Dave.
"Maaf, Ion. Tapi itu sudah keputusan Deva. Lagipula, di sana dia akan bersama calon suaminya." Bohong Dave.
"Dia ingin ada yang menjaganya dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab," jawab Dave enteng.
Kena kamu, Ion. Takut kan putriku dilamar oleh orang lain. Makanya jangan sok iseng tapi sebenarnya suka, batin Dave.
"Aku ke kelas dulu, Om. Lima menit lagi mau kuis," pamit Orion dengan lunglai.
Dave melihat kepergian Orion dengan menahan tawanya. Dia senang melihat Orion yang merasa terpukul mendengar Devanya akan jadi milik orang lain. Dave pun langsung berlalu pergi menuju ke ruangan direktur universitas karena ada perlu dengannya.
Sementara itu Orion berlari menuju ke kelasnya karena terlihat Pak Ferri sudah berjalan menuju ke kelas. Setelah sampai di dekat Pak Ferri, Orion pun menepuk tangan dosennya pelan. Pak Ferri pun langsung menoleh melihat siapa yang sudah menepuknya.
"Pak, maaf ya! Saya duluan masuk kelasnya," ujar Orion langsung berlari sekencang mungkin menuju ke kursi yang kosong.
Daripada gak boleh masuk karena telat satu menit, mending aku kerjain, batin Orion.
Sementara Pak Ferri hanya menggelengkan kepalanya dengan apa yang Orion lakukan. Dia selalu merasa takjub dengan putra Keluarga Pratama yang satu ini. Karena seingatnya, anak-anak keturunan Keluarga Pratama orangnya kalem, serius dan pintar. Meskipun Orion pintar tapi iseng dan tengilnya entah dia dapat dari mana.
Orion sangat berbeda jauh dengan papa dan kakek nya. Apa mungkin dia ikut dari keluarga mamanya? Tapi setahuku, Pak Aldrich juga orangnya kalem gak banyak omong. Kalau soal pintar, memang Orion tidak bisa diragukan. Meskipun dia belajar seperti sedang bercanda tapi nilainya selalu A, batin Pak Ferri.
Saat sampai di kelas, nampak semua mahasiswanya sudah siap duduk dengan rapi. Hanya dua orang yang terlihat sedang senggol-senggolan kaki. Siapa lagi kalau bukan Orion yang sedari tadi menyenggol kaki Devanya karena ingin mengajaknya berbicara.
"Vanya, nanti pulang kuis ikut sama aku! Aku mau ajak kamu ke rumah Kakek. Kamu mau kan? Nenek pasti sudah merindukan kamu. Tadi aku sudah minta nenek untuk buatkan brownies coklat keju kesuakaan kamu," ucap Orion.
"Aku mau pulang sama papa," jawab Devanya.
"Gak bisa! Kamu harus pulang sama aku, titik gak pake koma apalagi kutip cukup titik saja."
"Orion, sudah cukup belum ngobrolnya? Kuisnya mau Bapak mulai," tanya Pak Ferri yang sudah berdiri di depan kelas.
"Eh, Bapak. Sudah kho Pak," jawab Orion.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...