Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 1 Perjanjian


Hai Kak readers,


Kita mulai memasuki season dua, semoga ceritanya berkenan di hati Kak readers semua.


Devanya Sky Putri harus terjebak dalam sebuah perjanjian konyol dengan lelaki yang paling menyebalkan di dunianya, Orion Pratama Putra.


Namun, saat bunga-bunga cinta mulai bermekaran seiring kebersamaan mereka, keluarga besar sudah memutuskan untuk menjodohkan Devanya dengan seorang lelaki tampan yang menjadi pangeran berkuda putihnya Devanya.


Di sisi lain, Diandra begitu bingung menghadapi adik sahabatnya yang terus memaksanya untuk menjadi kekasihnya.


Siapakah yang akan Devanya pilih? Lelaki menyebalkan yang mulai dia sukai? Atau pangeran berkuda putih yang selalu dingin padanya, namun diam-diam selalu membantunya?


Bagaimana pula kisah Diandra yang harus terjebak dengan adik sahabatnya? Mungkinkah perasaan sayang pada seorang adik bisa berubah menjadi cinta?


Yuk ikuti terus ceritanya!


...***...


Sore itu, saat semburat jingga membias di langit barat. Matahari seolah melambai sebelum tenggelam. Nampak di sebuah roof top universitas ternama di negeri ini, dua anak manusia yang sedang bersitegang.


Ya, Devanya Sky Putri, seorang gadis cantik berusia dua puluh tahun sedang menahan kekesalannya pada teman kecilnya yang tidak pernah bosan untuk mengganggunya, Orion Pratama Putra. Seorang pemuda tampan dengan kekayaan yang berlimpah, membuat dia selalu berbuat semaunya. Namun, satu orang yang paling dia takuti, Mommy Zee. Pasalnya, Orion sudah terdoktrin dengan cerita Malin Kundang yang berubah menjadi batu karena durhaka pada ibunya.


"Ada apa kamu menyuruhku datang ke sini? Apa ingin mengerjai aku lagi?" tanya Devanya ketus.


"Slow dong jelek! Aku hanya ingin memperlihatkan sebuah video padamu. Pasti kamu menyukainya," ucap Orion dengan gaya tengilnya.


"Video apa? Apa kamu koleksi video mantap-mantap? Lalu kamu mau meracuni aku dengan video itu?" tanya Devanya dengan mata membulat sempurna.


"Kondisikan matamu! Aku tidak suka melihat matamu melotot padaku." Orion langsung mengusap kasar wajah cantik Devanya.


"Hey bocah! Tidak usah menyentuhku!" sentak Devanya.


"Apa katamu? Aku bocah? Yang benar saja Vanya, umur kita hanya beda satu tahun. Tapi kita sekolah selalu di kelas yang sama. Sungguh membosankan setiap hari harus bertemu denganmu."


"Lalu, kenapa kamu tidak memilih kuliah di luar negeri bersama dengan orang tuamu?"


"Bukan urusanmu! Nih lihat videonya!" Orion langsung mengalihkan pembicaraan karena dia pun tidak tahu jawabannya. Yang dia tahu, setiap bisa mengerjai Devanya dan membuatnya kesal, itu kebahagiaan yang tidak ingin dia lewatkan.


Devanya langsung mengambil ponsel yang Orion berikan. Nampak di sana, dia sedang mengikuti balapan liar dan menabrak seseorang yang akan menyeberang jalan. Namun setelahnya dia meninggal korban tabrak lari itu begitu saja.


Devanya melotot tidak percaya, kenapa Orion bisa memiliki video kejadian kemarin saat dia ikut balap liar bersama dengan Gavin. Meskipun kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang ada dalam video, namun di sana terlihat Devanya lah yang telah menabrak korban kecelakaan itu.


"Bukan seperti ini kejadiannya, Ion! Aku datang saat dia sudah tertabrak dan aku pergi saat dia berguling-guling karena ingin mengejar si penabrak lari itu untuk meminta pertanggungjawaban dia," jelas Devanya.


"Tidak akan ada yang percaya dengan apa yang kamu katakan. Di sana terlihat jelas kalau kamu yang menabraknya kemudian kamu pergi begitu saja," elak Orion.


Tidak ingin video itu sampai ke papanya atau pun ke polisi, Devanya pun langsung menghapusnya. Namun, Orion hanya tertawa remeh dengan apa yang Devanya lakukan.


Sialan! Orion benar-benar keterlaluan. Padahal waktu itu, aku hanya ingin mengejar si penabrak lari karena tidak bertanggung jawab. Malah sekarang aku yang kena getahnya, batin Devanya.


"Apa mau kamu?!" tanya Devanya ketus.


"Kamu ingin melobi aku? Pintar sekali Nona Muda Sky. Baiklah, aku punya penawaran yang bagus untukmu," ucap Orion dengan tersenyum miring


Ah ... Tidak! Devanya sudah menangkap sinyal buruk dengan melihat seringai di bibir Orion. Namun, dia pun tidak punya pilihan jika harus menentang ancaman laki-laki menyebalkan ini. Karena Devanya tahu Orion pasti melakukan hal di luar batas padanya.


"Cepat katakan, apa mau kamu?!"


"Aku mau, kamu jadi simpanan aku. Bagaimana?Sungguh menggiurkan bukan penawaran-ku?" tanya Orion dengan menaik turunkan alisnya.


"Gila kamu!!! Kamu mau ngajak aku mantap-mantap sebelum kita nikah?" tanya Devanya dengan menjeda ucapannya. "Jangan harap!"


Pletak


Satu sentilan sukses mendarat di kening Devanya, membuat gadis cantik itu meringis kesakitan. Namun, bukan Orion jika dia peduli pada Devanya yang kesakitan seraya mengelus keningnya yang memerah.


"Kotor sekali pikiran kamu, jelek! Aku tidak mungkin mau melakukan hal itu pada gadis jelek sepertimu. Kamu cukup membersihkan apartemenku, menyiapkan sarapan dan makan malam aku serta menyiapkan baju yang akan aku pakai dan yang terakhir mengerjakan tugas kuliahku," jawab Orion dengan entengnya.


"Kamu sudah benar-benar gila Orion! Kamu mau jadikan aku pembantu kamu atau budak kamu?" tanya Devanya.


"Simpanan aku, karena sewaktu-waktu kamu harus melayani aku di tempat tidur."


"Aku menolaknya!"


"Tidak masalah! Aku akan memberikan video ini pada Kakek Arjuna. Dia pasti cepat mengusutnya. Bukan hanya kamu yang akan terkena dampaknya jika video ini tersebar tapi Om Dave juga pasti hilang kepercayaan dari kliennya." Lagi-lagi Orion tersenyum miring pada Devanya membuat gadis cantik itu berada di posisi yang sulit.


Devanya terdiam mendengar apa yang Orion katakan. Hatinya membenarkan jika video itu tersebar, maka nama baik papanya akan tercemar. Jika dia ingin meminta kesaksian pada korban, itu tidak mungkin karena korban sudah meninggal.


Saat dia kembali untuk memastikan keadaannya, korban tabrak lari itu sudah ada yang membawa ke rumah sakit. Devanya tidak tahu siapa yang sudah membawanya, Dia hanya tahu dari warga sekitar kalau korban sudah meninggal satu hari setelah kejadian.


"Oke, aku menyetujui, tapi tidak ada kontak fisik selama aku menjadi pembantu kamu. Kapan aku mulai kerja?" tanya Devanya.


"Bisa mulai malam ini, kebetulan aku lapar. Kamu harus memasak makan malam untukku," ucap Orion seraya beranjak pergi karena langit sudah mulai gelap.


Devanya hanya tersenyum samar melihat kepergian Orion. Sungguh dia tidak mengerti, kenapa laki-laki itu senang sekali mengerjainya. Meskipun sudah beberapa kali dia mengadu pada enin-nya Orion dan sudah beberapa kali Orion ditegur oleh orang tuanya, tapi lelaki itu seperti menulikan telinganya, tidak peduli dengan apa yang mereka katakan.


Mau kamu apa, Ion? Kenapa kamu tidak pernah puas mengerjai aku? Tunggu batas kesabaran aku habis, maka aku akan pergi tanpa kamu tahu aku pergi ke mana.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...