
Setelah puas bermain di timezone, Devanya dan yang lainnya memutuskan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan karena lelah bermain. Orion terus saja menempel pada Devanya seolah takut gadis itu mendadak hilang dari jangkauannya.
"Ion, kamu tahu gak, hari ini kamu mirip apa?" tanya Devan saat mereka sedang menunggu pesanan makanan.
"Mirip apa? Mirip artis mungkin," tanya Orion dengan cueknya. Tangannya terus saja memegang tangan Devanya dan menulis abstrak di tangan gadis itu.
"Boro-boro mirip artis. Kamu tuh seperti anak ayam yang kehilangan induknya," jawab Devan.
"Ck! Orang setampan ini kamu bilang anak ayam, yang benar saja." Orion pun memasang muka masam.
"Ion, hari ini kamu kenapa? Rasanya aneh sekali, mendadak bersikap seperti itu," tanya Diandra yang juga merasakan keanehan pada Orion.
"Tidak apa. Aku iseng, kalian gak suka. Aku bersikap manis, kalian heran," ketus Orion.
Tidak lama kemudian pesanan makanan pun datang. Ke lima anak muda itu pun langsung melahap makanannya setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan yang membawakan makanan. Orion terus saja menyuapi Devanya, membuat si kembar menggelengkan kepala.
Tubuh Orion memang sedang berada di restoran tetapi pikirannya masih tertinggal di kantor. Dia terus saja terngiang-ngiang pembicaraan Andrea dan Keano yang membahas tentang perjodohan Keano dan Devanya.
Setelah dia menyelesaikan makannya, Orion pun mengajak Devanya pergi ke suatu tempat. Dia ingin menghabiskan malam ini dengan mengukir kenangan bersama gadis yang dicintainya. Tidak butuh waktu lama, kini Orion dan Devanya sudah berada di roof top perusahaan Pratama Group yang terdapat penthouse dia atas gedung bertingkat itu.
"Ion, kenapa kamu mengajak aku ke sini?" tanya Devanya saat keduanya baru saja sampai di atas.
"Aku selalu datang ke sini kalau lagi kangen sama Mommy dan Papi. Ayo kita lihat bintang, mumpung langitnya cerah." Orion langsung menarik Devanya masuk ke dalam kamarnya.
Saat sampai kamar, Orion pun melepaskan tangan Devanya. Dia kemudian membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Lalu membuka kain yang menutup sebuah teleskop. Dia pun mulai memposisikan teleskop itu pada rasi bintang yang ingin dilihatnya.
"Vanya, sini!" ajak Orion.
Devanya yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, dia langsung melihat ke arah Orion dan menghampirinya. Meskipun ada yang ingin dia tanyakan, tapi Devanya mengurungkannya.
"Boleh aku mencobanya?" tanya Devanya.
"Tentu saja boleh Tuan Putri," Orion pun langsung berpindah ke samping teleskop dan memberi ruang untuk Devanya melihat bintang di langit.
"Ion bintangnya cantik sekali," puji Devanya.
"Kamu lihat kumpulan bintang yang seperti seorang laki-laki mengacungkan perisai dan pedang?" tanya Orion.
"Iya aku melihatnya."
"Itu rasi bintang Orion. Bentuk rasi bintang ini memang mirip dengan pemburu yang sedang memegang busur panah," jelas Orion.
"Itu kan nama kamu."
"Iya, Mommy memberikan nama itu padaku karena saat hamil, mommy selalu melihat rasi bintang Orion setiap kali merindukan kampung halamannya." Orion menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Vanya, kalau nanti aku pergi dari sini, apa kamu akan merindukan aku?" tanya Orion.
"Memang kamu mau pergi ke mana? Apa mau ikut Tante Zee dan Om Malvin tinggal di luar negeri?" tanya Devanya dengan menatap lekat Orion.
"Mungkin, tapi setelah kuliah aku selesai di sini."
"Jangan jadi pecundang deh! Setelah kamu membuat aku jatuh cinta sama kamu, lalu kamu akan meninggalkan aku begitu saja?" Devanya memandang Orion dengan tatapan yang menusuk langsung ke jantung.
Mendapat tatapan yang seperti itu dari kekasihnya, Orion hanya menghela napas sebelum dia bicara. "Oh, si jelek udah jatuh cinta sama pangeran kah?"
Orion langsung mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau berdebat dengan Devanya karena masalah yang belum tentu terjadi. 'Sepertinya bersikap tengil sangat ampuh untuk menyembunyikan perasaan,' pikir Orion.
"Orion, serius!!!" sentak Devanya.
"Aku mau pulang!" Devanya langsung menuju ke pintu. Namun secepatnya Orion menangkap tangan gadis itu dan menariknya.
"Aku hanya bercanda, aku janji tidak akan iya-iya sebelum kita jadi suami istri." Orion langsung memeluk Devanya seraya memejamkan matanya.
Ingin sekali dia mempertahankan gadisnya dan berebut dengan sepupunya sendiri tapi saat teringat dengan ucapan Opa Andrea, keyakinannya seakan-akan runtuh.
Flashback on
"Ano, bagaimana pun Opa tetap menginginkan kamu menikah dengan Devanya. Apa kamu lupa. kalau kamu tidak bisa dekat dengan anak perempuan selain Devanya dan keluarga kita. Kalau tidak mau menikah dengan Devanya, lalu mau menikah dengan siapa? Kecuali, kamu bisa menghilangkan rasa takut dan kecemasan kamu itu."
"Tapi Opa, Deva sudah memiliki kekasih," lirih Keano.
"Bukankah hanya kekasih? Kenapa harus dipusingkan? Dave juga sudah setuju dengan rencana Opa. Dia tidak keberatan, malah sangat setuju jika Devanya menikah dengan kamu. Opa juga yakin, kalau Devanya juga menyukai kamu."
"Opa, apa tidak bisa ditunda rencana pertunangan itu. Mungkin, sampai Devanya lulus kuliah." sanggah Keano.
"Tidak bisa! Setelah Devanya Wisuda, kalian akan menikah. Ano, Opa sudah tua. Umur Opa mungkin tidak akan lama lagi. Apa kamu lupa kalau setiap bulan Opa harus cuci darah. Opa ingin melihat kamu menikah sebelum dipanggil sama Yang Maha Kuasa."
Flashback off
"Vanya, aku mencintaimu ...." lirih Orion.
Orion mengurai pelukannya lalu menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Devanya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Devanya pun langsung menutup matanya. Hingga bibir mereka pun saling menempel.
Perlahan keduanya saling menghisap dan menyesap menyalurkan segala rasa yang membuncah di dadanya. Sampai saat keduanya sudah sama-sama terbuai, Orion pun segera melepaskan pagutannya. Dia tidak ingin terjadi hal di luar batas jika pagutannya itu terus dilanjutkan.
"Ayo kita pulang!" ajak Orion.
Orion langsung menarik tangan Devanya setelah dia menutup kembali jendela kamarnya. Namun, baru saja mereka keluar dari kamarnya. Orion mendapati opanya ada di ruang tengah seperti sedang menunggunya.
"Apa sudah urusannya? Opa mau bicara dengan kalian," ucap Zidan
"Opa, sudah lama?" tanya Orion kaget.
"Belum lama, baru tiga puluh menit Opa di sini. Duduklah!" suruh Zidan.
Orion dan Devanya pun langsung duduk di sofa berhadapan dengan Zidan. Mereka seperti maling yang tertangkap oleh hansip. Dengan mata elangnya, Zidan menelisik satu persatu anak muda di hadapannya.
"Ion, apa kamu tahu, kenapa penthouse ini dibangun?" tanya Zidan.
"Untuk keluarga Pratama beristirahat jika lelah bekerja," ucap Orion seraya menundukkan kepalanya.
"Penthouse ini khusus untuk keluarga kita, sementara gadis yang kamu bawa itu orang lain. Apa dia berhak datang ke sini?"
"Maaf Opa, tapi Vanya bukan orang lain."
"Maaf, Tuan! Saya memang lancang sudah datang ke sini. Saya minta maaf!" Devanya yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Saya sedang bicara dengan cucu saya. Sebaiknya Anda tidak ikut campur."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...