
Di sini lah sekarang, tiga orang tua saling berdiam diri di ruang tamu rumah mendiang Nenek Sevia. Bu Yati nampak ragu untuk memulai berbicara. Sehingga Sevia pun berinisiatif untuk bertanya terlebih dahulu.
"Maaf, Mah. Tadi katanya ada yang ingin dibicarakan."
"Iya, Via. Sebenarnya, Mama mau minta tolong sama kamu. Apa kamu masih ingat dengan putrinya Andika?"
"Iya, ingat! Anaknya Andika dengan Ines," sahut Sevia.
"Kemarin Mama habis menjenguk dia di dalam rutan. Dia bilang, karena suami kamu dan sahabatnya, makanya dia masuk ke dalam tahanan. Padahal dia sudah dinodai oleh sahabat suami kamu," tutur Yati.
"Maaf, Bu. Siapa nama cucu ibu?" sela Dave.
"Desyane Putri, Panggilannya Anne" jawab Yati.
Mendengar nama yang disebutkan oleh Yati, Sevia dan Dave saling berpandangan. Mereka kaget, ternyata gadis yang sudah menggoda Harry adalah putri dari mantan pacar Sevia. Mereka tidak habis pikir, kenapa putri Andika menjadi seorang penggoda.
"Oh, Anne. Yang perawat gadungan itu, kan? Apa ibu sudah bertanya pada polisi kasus dia seperti apa?" tanya Dave sinis.
"Ka-katanya terlibat kasus pembunuhan berencana," ucap Yati pelan
"Ibu pintar. Apa ibu tahu siapa yang menjadi korban kejahatannya?" tanya Dave lagi dengan aura yang mengintimidasi seperti seorang jaksa.
"Ibu tidak tahu. Tapi Ibu tahu, dia melakukan itu karena disuruh dan dituntut oleh ibu tirinya untuk membiayai kuliah adiknya."
"Selalu saja faktor ekonomi yang dijadikan alasan oleh seseorang untuk melakukan kejahatan. Apa itu tidak cukup klasik? Dulu istriku banting tulang bekerja menjadi kuli pabrik untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan membantu almarhum putra ibu membiayai kuliahnya." Dave bicara panjang lebar seperti kereta api.
"Maksud kamu? Ibu tidak pernah menyuruh putra ibu untuk meminta Sevia membantu biaya kuliahnya," tanya Yati kaget mendengar kenyataan yang sudah dua puluh tahun lebih tidak diketahuinya.
"Tentu saja dia tidak akan memberitahu Ibu."
"Sudah, Dave. Tidak membicarakan orang yang sudah tiada. Untuk masalah Anne, sepertinya Via tidak bisa membantu. Dia sudah sangat keterlaluan. Selain mencoba membuat Rani mati perlahan, dia juga berusaha untuk merebut suaminya."
"Maksud kamu, Rani? Rani sahabat kamu yang putrinya Pak Iwan?" tanya Yati kaget.
"Iya, Bu. Dia telah membuat Rani mengalami kelumpuhan total. Jika waktu itu Rani tidak terjatuh di kamar mandi, mungkin semuanya tidak akan terungkap kalau perawatnya sendiri yang menyebabkan sakitnya Rani semakin parah."
"Tapi, Via. Kasian Anne, dia yatim piatu. Seharusnya seusia dia menikah dan punya anak bukan mendekam di balik jeruji besi."
"Maaf Bu, untuk masalah cucu Ibu, kami tidak bisa membantu. Karena jika dibiarkan, akan berbahaya untuk yang lainnya juga. Biarkan dia mengambil pelajaran di dalam rutan. Agar hidupnya lebih baik lagi dari sekarang," sela Dave.
"Apa kalian benar-benar tidak bisa bermurah hati pada Anne? Via, apa tidak cukup baik Ibu pada kamu sehingga tidak mau membantu Ibu?" tanya Yati melas.
Lagi-lagi Sevia dan Dave saling berpandangan. Pria bermata biru itu menggelengkan kepalanya pelan untuk memberi kode pada istrinya. Mendapatkan kode seperti itu, Sevia menghela napas dalam sebelum membuka suaranya.
"Mah, Via tahu Mama orang baik. Via juga ngerti kalau Anne mungkin saja khilaf. Tapi maaf sekali lagi, Via tidak bisa membantu. Mama bisa mendoakan Anne agar secepatnya keluar dari tahanan, karena biasanya jika napi berkelakuan baik, dia akan mendapatkan remisi."
"Baiklah, Via. Kalau kalian tidak bisa membantu tapi Mama ingin bertemu dengan orang yang telah menodai Anne dan meminta pertanggungjawaban dari dia."
Setidaknya saat Anne keluar dari tahanan, dia tidak perlu risau memikirkan jodohnya. Jika laki-laki itu mau bertanggung jawab dan menikahi dia, batin Yati.
"Sayangnya Ibu tidak bisa bertemu dengan dia, karena pria itu sudah di deportasi ke negaranya."
Untung saja Harry dikirim Om Andrea untuk membantu Joen sementara sampai masalah di sana selesai, batin Dave.
Yati menghela napas berat. Harapannya seperti pupus untuk bisa membuat Anne memiliki seorang pendamping. Dia merasa sangsi akan ada seorang laki-laki yang mau menikahi cucunya yang mantan napi saat sudah bebas nanti.
"Iya, Mah. Makasih! Semoga Anne juga bertemu jodohnya setelah dia bebas nanti." Sevia pun mencium punggung tangan Yati dan mengantarnya sampai ke gerbang. Sementara Dave hanya melihat interaksi kedua wanita beda generasi itu.
"Mah, ibu-ibu tadi siapa?" tanya Devan saat Sevia kembali ke rumah.
"Mantan mertua mama yang gak jadi," Bukan Sevia yang menjawab tetapi Dave yang baru keluar rumah asal nyeletuk.
"Memang mama dulunya punya pacar selain papa," tanya Devan kepo.
"Papa gak pernah jadi pacar mama kamu tapi langsung jadi suami mama kamu. Untuk apa pacaran kalau hanya jagain jodoh orang. Hanya menguras hati dan emosi saja," cetus Dave cuek. Tanpa sadar ada orang yang merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan olehnya.
"Berarti Ion hanya menantu Papa yang gak jadi. Hahaha ... Kamu hanya jagain jodoh orang, Ion." Devan tertawa terbahak-bahak sehingga Orion langsung membekap mulut sahabatnya yang terkadang tidak difilter.
"Sekali lagi bilang kayak gitu, gak akan aku kasih royalti kamu," ancam Orion.
"Sudah-sudah, ayo masuk ke dalam. Bu Ijah pasti sudah selesai masak. Ayo kita makan dulu!" ajak Sevia melerai pertikaian putranya.
Dia sudah tidak aneh lagi dengan kelakuan dua sahabat itu. Mereka tak segan saling meledek tapi ujung-ujungnya main bersama lagi. Meskipun keduanya terkadang tidak mau mengalah tetapi Devan dan Orion selalu berbaikan setiap kali mereka berselisih.
...***...
Malam yang dingin di kaki Gunung Ciremai, membuat Keano dan Devanya tertidur lebih cepat dari biasa. Apalagi, tadi paginya mereka habis bermain snorkeling. Ditambah lagi olahraga ranjang yang menjadi rutinitas di pagi hari. Membuat pengantin baru itu memilih beristirahat di saat mereka berada di tengah-tengah keluarganya.
Berbeda dengan Dave dan Sevia. Kedua paruh baya itu masih setia menunggu kedatangan putranya. Mereka nampak cemas karena jam sudah menunjukkan angka sembilan tetapi Davin dan Diandra belum memperlihatkan batang hidungnya.
"Pah, mereka mampir ke mana dulu? Harusnya kan lewat ke rumah ini dulu sebelum ke rumah Rani," tanya Sevia cemas.
"Sabar saja. Lebih baik kita menunggu di kamar saja. Di sini udaranya dingin. Pasti Ano sama Deva sedang membuat cucu untuk kita," tebak Dave.
"Ya biarkan saja. Namanya juga pengantin baru," ucap Sevia.
"Tapi di sini dingin, Mah. Papa butuh Mama," ucap Dave melas.
Hasratnya sebagai seorang lelaki mampu mengalahkan kecemasannya sebagai seorang ayah. Bukan apa-apa, Dave sudah mengecek lokasi putranya. Dia melihat kalau Davin dan Diandra sedang beristirahat di rest area yang ada di jalan tol.
"Pah, Davin belum datang."
"Dia sedang istirahat di rest area dulu. Lebih baik kita manfaatkan waktu dulu. Ayo mah, Papa kedinginan!" Dave langsung menarik istrinya ke kamar.
Setibanya di sana, Dave tak lupa mengunci pintu sebelum menyerang Sevia. Namun, baru saja dia menikmati bibir ranum sang istri. Terdengar suara yang sudah tidak asing di telinganya.
"Mama, Papa, kenapa ciuman di kamarku? Kalian mau pamer sama aku dan Ion yang masih jomblo ya!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Brondong Tajir S2 update, yuk kepoin karya keren yang satu ini.