
"Lanjutkan pekerjaanmu!" suruh Keano saat Devanya melihat ke arahnya
Devanya pun langsung kembali fokus pada pekerjaannya. Dia dan Diandra tidak saling berbisik lagi. Mereka tidak mau terciduk lagi sedang mengobrol di saat jam kerja.
Sementara Keano langsung kembali ke ruangannya. Tadi dia sedang ada perlu dengan direktur marketing. Namun saat akan kembali ke ruangannya, tanpa sengaja matanya melihat Devanya dan Diandra sedang berbisik. Keano pun memutuskan untuk mengawasi cara kerja anak marketing.
Saking fokusnya karena takut terciduk sedang mengobrol, tanpa terasa jam istirahat man siang pun sudah tiba. Kedua gadis itu memutuskan untuk makan di luar. Mereka lupa kalau tadi pagi Hayden memintanya untuk makan siang bersama.
Saat ini mereka memilih makan di sebuah warung makan sederhana yang ada di belakang perusahaan JS Group. Meski menu makanannya memang sederhana dan harga yang sangat terjangkau, tetapi tempatnya bersih dan asri dengan pohon mangga yang rindang di depan warung itu.
"Deva, enak ya makanan di sini. Kenapa kita tidak makan di sini saja setiap hari. Kadang aku bosan dengan makanan di restoran," ucap Diandra.
"Kamu benar. Besok kita ke sini lagi yuk! BIar aku bebas dari Ion dan Bang Ano. Aku pusing menghadapi mereka berdua," keluh Devanya.
"Kalau kamu pusing, biar Bang Ano buat aku saja. kamu sama Ion. Gimana, setuju gak?" seloroh Diandra.
Saat mereka sedang asyik berbincang, datang pemilik warung dengan membawakan teh tawar untuk mereka berdua. " Neng cantik kerja di JS ya?"
"Iya, Bu. Ibu sudah lama buka warung di sini?" tanya Devanya.
"Lumayan lama, Neng. Warung ini turun temurun. Dulu kan sebelum JS Group dibangun, kakek ibu membuat kesepakatan dengan pemilik pertama JS. Mereka boleh membeli tanah Kakek tapi tidak boleh menggusur rumah yang kami tempati. Jadinya warung ibu dikelilingi perusahaan besar," terang Ibu warung.
"Begitu ya Bu. Pintar juga kakek ibu. Sekarang warung ibu malah jadi tempat karyawan makan," ucap Diandra.
"Silakan dilanjut makannya! Ibu mau melayani pembeli," pamit Ibu warung.
"Iya, Bu!" sahut Devanya dan Diandra.
Mereka pun kembali asyik menikmati santapan makan siang. Sampai makanan yang di piring habis, barulah mereka kembali ke perusahaan. Dua sahabat itu begitu senang karena bisa makan masakan rumahan yang dijual oleh ibu warung itu. Sehingga sepanjang jalan menuju ke perusahaan tempatnya bekerja, Devanya dan Diandra asyik berceloteh.
"Bagus ya, makan siang berdua saja." Orion berdiri dengan melipat tangan di dada depan lobby perusahaan.
Duh Orion kayaknya kesal lagi. Baru juga merasa bebas sebentar, malah ada masalah baru, gerutu hati Devanya.
"Eh, Ion. Sudah makan siang?" tanya Devanya kikuk.
"Deva, aku masuk duluan ya!" Diandra langsung mengambil langkah seribu saat melihat raut tidak bersahabat dari Orion. Dia tidak mau berurusan dengan lelaki itu yang terkadang menjadi raja tega.
"Dian tungguin, dong!"
"Kamu temani aku makan! Apa kamu mau lepas dari tanggung jawab?" tanya Orion. Dia langsung merangkul leher Devanya dan membawa gadis itu menuju kafe yang ada di seberang perusahaan.
Orion sangat kesal karena sedari tadi dia mencari keberadaan Devanya dan Diandra. Namun dia tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu karena ponsel keduanya dimatikan. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di depan lobby perusahaan.
"Ion, lepasin ikh. Malu tahu diliatin karyawan," gerutu Devanya.
"Aku tidak suka kamu menghindar dari aku. Ingat! Kita masih terikat perjanjian. Hanya aku yang berhak memutuskan kita lanjut atau udahan," ketus Orion.
"Iya aku ingat, tapi cepat lepaskan!" pinta Devanya.
Orion pun segera memindahkan tangannya dengan merangkul pinggang Devanya. Dia tidak peduli dengan anggapan orang lain. Yang penting baginya, bisa bersama dan gadis bermata biru itu.
"Kita di meja sana aja," tunjuk Orion pada sebuah meja yang berada di pinggir jendela.
"Iya," jawab Devanya singkat.
Setelah Orion memesan makanan untuknya dan minuman untuk Devanya, barulah dia bicara. "Kamu cemburu melihat Bang Ano dengan cewek itu?"
"Apaan sih Ion? Kamu makan, makan aja."
"Makanannya kan belum ada. Coba katakan kalau kamu disuruh pilih, mau pilih aku atau Bang Ano?"
"Kenapa aku harus memilih? Apa kamu ingin aku bersama dengan Bang Ano?" elak Devanya dengan memutar balikan pertanyaan.
"Tidak! Aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Tidak mau berbagi dengan orang lain baik raga atau jiwanya."
"Ion ...."
Devanya tidak melanjutkan ucapannya saat seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa pesanan. Pelayan itu pun tersenyum ramah sebelum menyimpan makanan di meja.
"Silakan Mas, Mbak!" ujar pelayan itu.
"Terima kasih, Mbak."
Setelah kepergian pelayan itu, Orion pun langsung memakan makanannya. Sesekali dia menyuapi Devanya, yang sedari tadi mengaduk-aduk minuman yang ada di depannya.
Keano yang sedari tadi melihat kedekatan mereka, dia terus saja menahan diri untuk tidak menghampiri Orion. Rasanya tidak mungkin dia harus memperlihatkan kecemburuannya dengan membuat keributan di tempat umum. Keano pun langsung mengakhiri meeting-nya dengan model yang akan dipakai untuk iklan perusahaannya.
"Maaf Luna, kalau ada kontrak yang tidak kamu mengerti. Bisa hubungi Hayden. Permisi, aku duluan!" pamit Keano.
"Den urus ya!" pinta Keano dengan menepuk pundak assisten-nya.
Keano langsung keluar dari kafe dan menuju ke rumah keluarga Putra. Dia langsung masuk ke kamar papanya yang diyakini oleh orang-orang sudah meninggal. Keano pun membanting tubuhnya di atas kasur yang selalu membuatnya tenang jika sedang banyak pikiran.
Papa, apa yang harus aku lakukan? Aku sangat menginginkan gadis itu, tapi Ion juga ingin memilikinya. Aku tidak ingin berselisih dengan Orion tapi aku tidak bisa melepaskan perasaanku. Apa yang harus aku lakukan? batin Keano.
Dia terus berbicara dalam hatinya dengan mata yang memandang lurus ke langit-langit kamar. Sampai akhirnya, ada yang membuka pintu kamar dari luar. Nampak Icha masuk ke dalam kamar almarhum putranya. Wanita paruh baya itu baru pulang dari arisan ibu-ibu saat pembantu di rumahnya memberitahu kalau Keano datang.
"Ano, kamu tidak apa-apa?" tanya Icha seraya mendudukan bokongnya di tepi tempat tidur.
"Aku gak apa-apa, Nek! Aku hanya kangen sama papa. Nenek habis dari mana?" tanya Keano.
"Habis arisan. Tadi Mimin bilang kamu datang dan langsung masuk ke sini. Apa ada masalah dengan perusahaan atau dengan yang lainnya?" tanya Icha dengan mengelus lembut rambut cucunya.
"Perusahaan baik-baik saja. Aku hanya ingin menenangkan pikiran."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....