
Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi , untung saja jalan tol cukup lengang sehingga dia bisa membawa mobil sport-nya sudah seperti berada di dalam sebuah sirkuit. Bukan tanpa sebab brondong tampan itu membawa mobil seperti orang kesetanan. hal itu terjadi karena dia merasa marah dengan apa yang dilihatnya. Ditambah lagi, istrinya terus saja menangis.
Flashback on
Saat Sevia sudah berada di dalam mobil setelah dia ditarik oleh Dave dengan kasar, gadis itu terus saja menangis. Hatinya sakit menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Apalagi, tadi Andika menangis seraya memeluknya, membuat dia semakin terasa berat untuk melepaskan perasaannya.
"Via, kenapa kamu harus menangisi laki-laki itu terus. Bukankah kamu sudah tidak mengharapkannya lagi?" Hati Dave bertambah kesal mendapati istrinya yang menangisi mantan kekasihnya.
"Jangan melarang aku Dave! Ini terakhir aku menangisinya, biarkan aku melepaskan semua beban dan perasaanku lewat air mata, hiks ... hiks!" Sevia mengambil tissue yang tersimpan di dashboard mobil, lalu dia pun langsung membersihkan ingus yang menutup jalan napasnya.
Tak ingin mendengar apapun, Dave langsung menjalankan mobilnya menuju arah jalan tol tanpa Sevia tahu ke mana suaminya itu akan membawa dia. Sampai akhirnya Sevia tertidur setelah lelah menangis.
Flashback off
Saat mobil sudah sampai ke dermaga, Dave langsung menggendong istrinya dan memindahkannya ke sebuah speed boat yang akan membawanya ke pulau Cinta. Harry sudah siap pada kemudi, sehingga tanpa menunggu yang lain, mereka pun segera menuju ke resort milik Putra Group.
Tidak butuh waktu lama, Boat yang Dave tumpangi sudah sampai ke pulau Cinta. Dia menuju ke resort yang sudah dia booking di aplikasi. Dave sengaja tidak ke villa milik keluarganya, agar tidak ada yang mengetahui kedatangannya ke pulau Cinta bersama dengan Sevia.
Ya ampun! Semenjak dari tol sampai resort, kenapa dia gak bangun juga?
Merasa lelah karena sedari tadi menggendong Sevia, akhirnya dia pun ikut menyusul istrinya menuju dunia mimpi. Begitupun dengan Harry yang langsung tertidur di kamar sebelah. Namun, baru beberapa saat Dave memejamkan matanya, Sevia sudah bangun dari tidurnya.
Ditatapnya pahatan sempurna wajah suami brondongnya. Ada desiran aneh yang Sevia rasakan saat dia bersentuhan dengan Dave. Desiran yang selalu membuatnya begitu menikmati apapun yang Dave lalukan padanya. Perlahan dia mendekat ke arah bibir sensual Dave. Tanpa permisi, dia langsung mengecup singkat bibir suaminya. Namun, Dave langsung menahan tengkuk Sevia dan memperdalam ciumannya.
Awalnya hanya sekedar ingin mengecup untuk menyalurkan rasa senang karena di saat dia terpuruk, masih ada Dave yang setia bersamanya. Akan tetapi, hal itu justru sukses membangunkan raja python yang akan tertidur lelap. Tanpa ampun, Dave langsung menyerang Sevia dengan beringas. Menyalurkan semua rasa yang tersimpan di hatinya dalam penyatuan yang tidak mengenal kata lelah. Sampai suara decakan dan lenguhan panjang terdengar setiap kali Dave dan Sevia mendapatkan pelepasan.
Setelah olah raga siang itu mereka lakukan sebanyak tiga kali pelepasan. Dave pun membawa istrinya menuju kamar mandi dan melanjutkan menggali sumur Sevia di bawah guyuran air shower. Sampai akhirnya, dua anak manusia itu mandi yang sebenarnya setelah mendapatkan pelepasan.
"Via, diamlah! Biar aku yang menggosok punggungmu," suruh Dave seraya membalikkan badan istrinya agar membelakanginya.
Seperti sudah biasa memandikan bayi besar, Dave begitu teliti menggosok punggung istrinya. Sampai terdengar Sevia memanggil namanya, dia pun menghentikan kegiatannya sejenak.
"Dave," lirih Sevia.
"Kenapa? Jangan menangis lagi! Apalagi kamu menangisinya sampai tertidur, aku tidak suka melihatnya!" cetus Dave.
"Tidak! Aku tidak akan menangis karena dia lagi. Aku hanya minta, kamu jangan membuatku menangis!" sahut Sevia.
"Iya," jawab Dave datar.
Dave kalau sikapmu selalu baik padaku, jangan salahkan aku jika nanti aku benar-benar jatuh cinta padamu, batin Sevia.
"Dave, jangan terlalu baik padaku! Aku takut salah paham dengan semua kebaikanmu," ucap Sevia sendu.
"Kamu istriku, sudah seharusnya aku baik padamu. Aku bukan cowok brengsekk yang hanya ingin memanfaatkan kamu seperti dia. Kamu jangan banyak berpikir! Badanmu sedikit lagi bersih, nanti gantian gosok punggungku," ucap Dave.
Akhirnya acara mandi pun menjadi acara bermain busa sepasang suami istri itu. Sudah seperti anak kecil yang bahagia hanya karena bisa membuat gelembung yang besar dari busa sabun. Begitu pula dengan Sevia dan Dave, wajah Sevia yang tadinya sendu dan tersirat raut kemarahan di wajah Dave, kini telah berubah menjadi canda tawa sepasang insan yang sedang di mabuk asmara.
Selesai dengan acara mandi yang tidak biasa itu, kini Dave dan Sevia sudah rapi dengan baju santai yang sudah disiapkan oleh Harry. Sebenarnya bukan Harry yang menyiapkan, tetapi Dave yang diam-diam menyiapkan baju Sevia ke dalam koper. Saat malam sebelum berangkat ke kondangan. Dave yakin, Sevia pasti akan terpuruk melihat pernikahan mantan kekasihnya itu. Makanya dia langsung merencanakan liburan dadakan ke pulau Cinta dan meminta Harry untuk menyiapkan semuanya.
"Dave, aku lapar!" keluh Sevia.
"Aku kira kalau lagi patah hati gak akan lapar, Nyonya." Dave mencibir istrinya yang sedang mengelus perut ratanya.
"Gimana gak lapar, kamu terus menggempur aku tanpa jeda." Cebik Sevia sebal dengan ledekan suaminya.
Saat pasangan suami istri sedang saling meledek, terdengar suara pintu ada yang mengetuk dari luar. Dave pun segera beranjak untuk membukakan pintu. Saat pintu sudah terbuka, terlihat di sana wajah panik Harry.
"Dave gawat Dave, keluargamu sedang berlibur di sini. Mereka baru sampai tadi." Harry celingukan melihat ke arah dalam kamar yang Dave tempati.
"Apa? Om dan Tante ke sini? Bagaimana ini Harry?" Dave tak kalah panik dari asistennya.
"Kalau nanti kita sampai kepergok, bagaimana kalau Sevia pura-pura jadi pacarku," usul Harry.
"Aku gak setuju!"
"Ya sudah! Kamu tinggal terus terang saja sama mereka," ucap Harry.
"Mana bisa, nanti aku diinterogasi oleh Om dan Tante."
Bukan aku takut ketahuan oleh mereka, tapi aku takut mengecewakan orang telah berjasa banyak dalam hidupku. Meski kakek sudah berbuat jahat pada mereka, tapi mereka menyayangiku dengan ketulusan hatinya. Apalagi, Om Al ingin aku bersama dengan salah satu putri sahabatnya, batin Dave.
Melihat kedua orang yang sedang panik di ambang pintu, Sevia pun langsung mendekatinya. Perutnya sudah sangat lapar, cacing-cacingnya sudah sedari tadi berdemo meminta jatah untuk di isi. "Dave, ayo kita cari makan! Aku lapar sekali."
...~Bersambung~...
...Hai! Jangan bosan dukung Author ya! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...