
Cuplikan bab 1
"Shelo, kenapa kamu jadi cantik begini? Biasanya juga rambut asal-asalan gak pake dandan," tanya Audy sahabat Shelo.
"Aku memang cantik, hanya saja orang-orang banyak yang tidak menyadarinya," jawab Shelo asal.
Tidak berapa lama kemudian, rombongan dari pengantin laki-laki sudah datang, sehingga Shelo pun diajak keluar untuk menyambut kedatangan mereka dengan upacara adat. Shelo tersenyum manis saat melihat calon suaminya yang memiliki wajah lumayan tampan.
Meskipun belum ada cinta di hatinya untuk laki-laki itu, tetapi Shelo menyukai pribadi calon suaminya yang sopan dan hangat. Sehingga dia tidak menolak saat ayahnya menjodohkan dia dengan laki-laki itu.
Selesai upacara adat dan ucapan serah terima di antara keluarga kedua mempelai. Penghulu pun segera memulai acara ijab kabul. Terlihat kedua calon pengantin itu duduk berhadapan dengan penghulu.
"Pak Praditya apa sudah siap?" tanya penghulu pada ayahnya Shelo.
"In-sya Allah sudah, Pak," jawab ayahnya Shelo.
"Nak Galih, apa sudah siap?" tanya penghulu lagi.
"In-sya Allah siap, Pak."
Penghulu pun mulai membimbing Galih dan Pak Ditya untuk mengucapkan ijab dan kabul. Setelah dirasa semuanya tidak ada kesalahan. Barulah Pak Ditya dan Galih mengucapkan dengan lantang ijab dan kabul.
"Saya nikah dan kawinkan engkau, ananda Galih Permana dengan putri saya Shelomita Praditya binti Praditya dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dengan berat tiga puluh gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Shelomita Praditya binti Praditya dengan maskawin tersebut dibayar tunai," ucap Galih dalam satu kali tarikan napas dengan lantang.
"Sah ...." kompak semua yang hadir.
"Alhamdulillah." Penghulu pun membacakan doa pernikahan.
Namun, baru saja orang-orang akan mengucapkan aamiin, datang seorang laki-laki tampan dengan sebuah amplop putih di tangannya. Juki datang tergesa seraya berteriak.
"Pernikahan ini tidak sah, Pak. Shelo sedang mengandung anakku. Kalau kalian tidak percaya, ini buktinya." Juki memberikan amplop putih itu pada Galih.
Membuat rahang laki-laki itu mengeras melihat laporan kesehatan Shelo yang mengatakan kalau gadis itu sedang hamil lima minggu. Dia merasa sangat terhina dengan kebohongan keluarga Shelo. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak dia ucapkan sebelum terbukti kebenarannya.
"Jadi kalian telah membohongi aku. pantas saja kamu langsung setuju menikah denganku. Ternyata kamu hanya mencari ayah untuk anakmu. Shelo, detik ini juga aku talak kamu dengan talak tiga. Aku tidak sudi berhubungan lagi dengan keluarga pembohong," tegas Galih.
Duarr!
Terasa disambar petir di siang bolong, pernikahan yang diharapkan akan menjadi awal kebahagiaannya, ternyata hanya menjadikan dia seorang janda yang tidak pernah disentuh oleh suaminya. Shelo hanya tersenyum kecut mendengar apa yang Galih katakan.
"Mas, semua ini tidak benar, aku tidak hamil oleh laki-laki gila itu. Ini hanya fitnah! Tapi Mas Galih terlalu terburu-buru percaya pada bukti palsu tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu padaku," sanggah Shelo tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Memalukan, aku menyesal menyetujui keinginan anakku untuk menikah denganmu. Bagaimana kamu bisa mengelak kalau bukti kamu hamil sudah ada di tangan. Cap rumah sakitnya saja asli," tuduh calon ibu mertua Shelo yang melihat hasil laboratorium dengan nama Shelomita. "Sudah Galih, ayo kita pulang. Memalukan!"
"Sebenarnya saya ingin membela diri kalau putri saya tidak hamil. Tapi Nak Galih sudah terlanjur menjatuhkan talak tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu. Saya tidak akan melarang kalian, jika kalian ingin pergi dari sini," ucap Pak Praditya yang sedari tadi diam seraya memegang sebelah dadanya karena terasa sakit mendengar ucapan Galih.